Tujuan Hidup Kaum Muslim Kian Terdistraksi

Mirisnya, generasi masa kini hidup dalam belenggu pemikiran sekuler. Aktivitasnya sibuk mengejar dunia, tetapi tak kunjung sampai pada tujuan.

Oleh. Tari Ummu Hamzah
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-Era digital melahirkan masyarakat yang anti gagap teknologi. Kalau beberapa tahun lalu kita banyak menemukan masyarakat yang tidak paham soal teknologi, di masa kini semua kalangan mahir menggunakan smartphone. Karena aplikasi media sosial dibuat semudah mungkin bagi pengguna baru.

Kemudahan ini memang mampu menciptakan efisiensi dalam berkomunikasi. Namun, di balik itu masyarakat banjir informasi akibat penggunaan media sosial. Menurut data tahun 2024 dari Komdigi, pemakai internet di Indonesia sudah mencapai 221 juta, atau etara dengan 79,5% dari total populasi Indonesia. Ini bukti kalau hampir 80% masyarakat kita jadi pengguna internet terbesar di dunia. (Komdigi.go.id, 27-02-2025)

Media Sosial yang Mendistraksi

Masifnya aktivitas komunikasi lewat daring menjadikan masyarakat sibuk dengan aktivitas digitalnya. Kondisi ini bisa jadi sumber distraksi besar. Fokus masyarakat mudah terpecah karena terlalu sering menggeser layar handphone-nya. Mudah tergiur dengan berbagai tawaran iklan. Tertipu dengan kehidupan publik figur.

Sungguh! Fenomena ini jika dibiarkan akan menciptakan generasi yang tidak memahami tujuan hidup. Bingung mencari jati diri akibat kebanjiran informasi tanpa sandaran yang hakiki. Haus akan validasi serta apresiasi.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Qari'ah 101: Ayat 4.
"Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan,"

Konteks ayat di atas sebenarnya ditujukan pada kondisi manusia ketika hari kiamat nanti. Namun, yang ingin saya bahas di sini manusia diibaratkan seperti laron. Mengapa laron? Perilaku laron yang tertarik pada cahaya juga berkaitan dengan insting kawin mereka. Saat laron dewasa terbang mencari pasangan, mereka cenderung mengikuti cahaya alami, seperti cahaya bulan atau bintang, yang bisa menjadi panduan arah dalam penerbangan mereka.

Namun, cahaya buatan seperti lampu jalan atau lampu rumah juga mengganggu pola ini dan sering kali menarik laron berkerumun di sekitar sumber cahaya. Hal ini bisa disebabkan oleh kebingungan mereka, karena cahaya buatan ini mengganggu orientasi alami mereka.(Gramedia.com)

Lampu buatan diibaratkan seperti sosial media. Terlihat indah, tetapi penuh tipuan. Cahaya alami dari bulan diibaratkan seperti cahaya kebenaran dari Allah, yaitu Al-Qur'an. Sejatinya, fitrah manusia itu selalu ingin mengikuti kebaikan, tetapi karena era digital masa kini, menjadi daya tarik luar biasa. Hingga umat lupa akan arah kehidupannya ke mana? Tak sadar bahwa mereka telah teperdaya.

Redupnya Potensi Generasi Muda Muslim

Lalu apa penyebab umat manusia kehilangan tujuan hidup? Tidak lain dan tidak bukan karena sistem kapitalis yang berasaskan sekularisme. Memisahkan agama dari kehidupan, sehingga penganutnya pun hidup serba bebas, tak punya kompas moral hingga hilang arah, bingung tujuan hidup, dan krisis jati diri.

Mirisnya, generasi masa kini hidup dalam belenggu pemikiran sekuler. Aktivitasnya sibuk mengejar dunia, tetapi tak kunjung sampai pada tujuan dan terus mengejar kesenangan tanpa ada satu pun yang ia dapatkan. Ia pun menghadapi hidupnya dengan pesimis, penuh keluh kesah, risau, gelisah, dan penyesalan. Ini kondisi mayoritas mereka yang meyakini kenikmatan ragawi sebagai tujuan hidup dan simbol kebahagiaan.

Akibatnya potensi generasi muda muslim dikerdilkan oleh ide sekularisme, liberalisme, dan materialisme yang menjadikan mereka egois dan pincang kehidupannya. Mereka diaruskan untuk menjadi kelompok pembebek yang rentan oleh kerakusan kelompok kuat, yaitu para kapitalis raksasa dunia.

Baca juga: Hidup Bukan Hanya Mencari Kesenangan

Islam Memberikan Identitas dan Tujuan Hidup

Allah Taala berfirman, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat di atas merupakan jawaban atas eksistensi kita di dunia ini. Allah Ta'ala tidak menciptakan manusia, alam semesta, dan kehidupan, tanpa tujuan yang jelas. Semua sudah ada dalam kendali dan kekuasaan Allah. Identitas kita sebagai muslim haruslah sadar akan arah dan tujuan hidup.

Untuk itu kesadaran ini harus dibarengi dengan tindakan nyata sebagai generasi muslim kita harus melejitkan segala potensi kita. Mengoptimalkan kekuatan alamiah para muda dengan pemikiran-pemikiran yang cemerlang serta kekutan fisik yang masih prima.

Lalu mengambil peran dalam membangun dan memimpin peradaban Islam yang telah runtuh. Hingga kaum muslim berhasil mengangkat seorang imam untuk menjadi perisai kaum muslimin. Serta melaksanakan hukum syarak.

Kini saatnya generasi muslim dipeluk kembali dalam asuhan ideologi Islam sehingga menjadi pelopor perubahan tatanan dunia, menuju penerapan kembali Islam secara kafah. []

Mahasiswa Hukum pun Terjerat Hukum

Dalam sistem Kapitalisme, mahasiswa hukum pun yang mengetahui konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan tidak menjadikannya patuh hukum.

Oleh Arda Sya'roni
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-Beberapa hari lalu ramai diberitakan sejumlah mahasiswa hukum Universitas Indonesia terjerat hukum. Dikutip dari bbc.com, 15-04-2026, Sebanyak 16 mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) diduga melakukan pelecehan seksual terhadap puluhan mahasiswi hingga dosen di fakultas itu. Kasus itu terungkap setelah tangkapan layar percakapan para terduga pelaku viral di media sosial. Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, mengungkapkan bahwa kekerasan di dunia pendidikan sudab bukan lagi kasus per kasus, melainkan sudah menjadi pola sistemik.

Mirisnya pelaku kekerasan itu justru banyak dari pihak internal, yaitu dari lembaga pendidikan itu sendiri. Ini merupakan alarm keras bahwa sudah tidak ada ruang aman dalam lingkup pendidikan saat ini. Sekolah dan kampus telah gagal dalam melahirkan generasi bermoral dan bermartabat.

JPPI mencatat terjadi 233 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan sepanjang Januari hingga Maret 2026. Dari jumlah itu, kasus yang paling banyak ditemukan adalah kekerasan seksual (46%), lalu diikuti kekerasan fisik (34%), dan perundungan (19%). Selain kasus mahasiswa Hukum UI, dikutip dari inews.id, 16-04-2026, viral di media sosial video yang menampilkan lagu yang dinyanyikan Orkes Semi Dangdut (OSD) Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) Institut Teknologi Bandung (ITB) yang memuat lirik dianggap melecehkan perempuan. Lagu berjudul 'Erika' tersebut kini menjadi sorotan publik.

Degradasi Moral Generasi

Kasus mahasiswa UI dan ITB ini bukanlah yang pertama, banyak kasus pelecehan seksual, perundungan juga kekerasan fisik terjadi dalam ruang lingkup dunia pendidikan. Dua kasus ini hanyalah yang tampak di permukaan dan sempat viral. Faktanya, masih banyak kasus pelecehan pada perempuan yang tak tercium oleh hukum ataupun sengaja disembunyikan dari khalayak ramai.

Kasus mahasiswa UI ini pun sudah terjadi sejak 2025 dengan korban yang tak sedikit, yaitu 20 orang mahasiswi dan 7 orang dosen. Meskipun merupakan kasus lama, tetapi baru ditanggapi setelah viral di sosial media. Para korban baru berani bersuara setelah kasus terungkap ke permukaan. Terungkap para pelaku bukan mahasiswa biasa, mereka adalah pimpinan organisasi kemahasiswaan, ketua angkatan, dan calon panitia ospek.

Dari sini terlihat bahwa ada yang salah dengan sistem pendidikan saat ini. Pendidikan yang diharapkan mampu melahirkan generasi emas yang bermartabat dan berkualitas justru pada akhirnya melahirkan insan-insan niradab yang tak bermoral, minim etika dan mengalami degradasi moral.

Fakta dunia pendidikan tercoreng oleh tindakan tak pantas ini seakan mewabah makin bertambah dari hari ke hari. Pelakunya pun beragam mulai dari siswa, mahasiswa, guru, dosen juga kyai tersohor tak luput darinya. Bahkan, siswa yang masih duduk di bangku SD pun pernah terlibat kasus perundungan hingga pelecehan.

Kapitalisme Meniscayakan Degradasi Moral Mahasiswa

Generasi yang diharapkan menjadi generasi emas justru menjadi generasi cemas yang semakin tergerus keimanannya. Dalam sistem kapitalis degradasi moral sangat mungkin terjadi. Hal ini karena kapitalisme memberi ruang kepada kebebasan individu dan melindungi HAM. Faktanya HAM dan kebebasan yang diagungkan itu berpijak pada hawa nafsu semata sehingga menjadikan individu jauh dari syariat dan norma.

Tak hanya itu, karena kebebasan pula maka pelecehan dan penyimpangan dinormalisasi oleh masyarakat. Kebebasan dalam kapitalisme turut merusak tatanan sosial, termasuk maraknya kekerasan sosial verbal. Pelecehan verbal ini menjadikan perempuan sebagai objek seksual, baik objek secara fisik langsung maupun melalui kata-kata yang merendahkan. Pelecehan seksual verbal ini telah dianggap biasa di masyarakat dan dinormalisasi. Alhasil, teori yang didapat di sekolah/kampus, tak sesuai dengan fakta yang terdapat di lapangan. Maka, wajar bila meski mahasiswa hukum sekalipun bisa terjerat hukum.

Sistem pendidikan dalam kapitalisme hanya bertujuan untuk mencetak tenaga kerja dan berorientasi pada nilai akademik, bukan pada nilai keimanan ataupun adab. Oleh sebab itu kepemimpinan berpikir yang menjadi landasan perbuatan bukanlah halal haram. Jadi, meski seorang mahasiswa hukum pun yang mengetahui konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan tidak menjadikannya patuh hukum. Hal ini karena hukum dalam kapitalisme dapat diperjualbelikan. Hukum dalam kapitalisme juga bisa ditawar. Para pelindung hukum bisa dibungkam dengan kekuasaan ataupun ancaman. Karena bukan halal haram yang menjadi landasan maka hawa nafsu-lah yang memimpin tindakan.

Baca juga: Pelecehan Verbal: Krisis Akhlak Generasi

Islam Membentuk Karakter Mulia Mahasiswa

Islam bukan hanya sekadar agama ritual, melainkan juga sebuah ideologi yang menjadi landasan kepemimpinan berpikir manusia. Dengan demikian segala perbuatan manusia berpijak pada syariat dan ditimbang dengan halal haram. Tujuan dari segala perbuatan adalah rida Allah. Dalam Islam pendidikan bukan hanya berupa taklim atau transfer ilmu semata, melainkan tasqif atau pembinaan, di mana anak didik didampingi dalam menerapkan ilmu yang telah diberikan dalam kehidupan.

Islam adalah agama yang dipahami melalui proses berpikir, sehingga Islam akan menanamkan pola pikir (Fikriyah Islamiyah) sejak dini. Pola pikir ini kemudian direalisasikan melalui pola sikap (Nafsiyah Islamiyah) dalam kehidupan hingga membentuk suatu kepribadian Islam (Saksiyah Islamiyah) yang unik dan khas yang membedakan umat Islam dengan umat lainnya. Dengan pola pikir Islam yang telah mengkristal dan dibiasakan untuk diterapkan dalam kehidupan, maka dengan kepribadian Islam yang unik ini akan tercipta insan-insan mulia. Insan mulia tentulah akan memperhatikan adab dalam pergaulan, tidak berkata kasar, jorok, mengolok, ataupun melecehkan. Hal ini karena keimanan dan rasa takut akan kehilangan rida Allah telah melekat dalam hati.

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)…" (QS. Al Hujurat : 11)

Dalam Islam semua perbuatan terikat hukum syarak. Lisan termasuk perbuatan sehingga ucapan juga harus terbebas dari maksiat dan mengarah pada kebaikan. Kekerasan seksual verbal jelas haram dan harus dikenai sanksi tegas yang bersifat efek jera sehingga kemaksiatan yang sama tidak akan terulang lagi.

Khatimah

Dengan demikian, kekerasan verbal sangat mungkin terjadi dalam sistem kapitalis karena azas kebebasan menjadikan seseorang bebas berbuat sesuka hati. Kebebasan ini memungkinkan lahirnya insan-insan tak beradab serta melanggengkan kemaksiatan. Maka, wajar bila pelecehan dan kejahatan verbal merajalela. Kebebasan ini juga menjadikan wanita sebagai objek yang sangat sering menjadi korban pelecehan karena kapitalisme tidak mampu memuliakan wanita. Sebaliknya kapitalisme merendahkan wanita dengan menjadikan wanita sebagai objek yang layak 'dijual'.

Berbeda dengan sistem Islam yang menjadikan syariat sebagai pijakan berperilaku. Dengan syariat ini segala tindakan manusia akan diatur sehingga tidak akan menimbulkan perilaku tak beradab. Islam tidak mengenal kebebasan. Namun, syariat tidak dalam rangka mengekang manusia, melainkan untuk menjaga manusia dari berbagai kemaksiatan dan salah arah. Begitupun wanita dalam Islam, sangat dijaga dan dimuliakan. Hukum dalam Islam juga bersifat zawajir sebagai tindakan preventif yang mempunyai efek jera dan jawabir yang bersifat kuratif untuk menebus dosa. Dengan pelaksanaan hukuman yang demikian maka tindakan maksiat termasuk di dalamnya pelecehan dan kekerasan verbal ini tidak akan dinormalisasi oleh masyarakat.

Wallahualam bissawab. []

Pelecehan Verbal: Krisis Akhlak Generasi

Pelecahan seksual verbal mahasiswa bukan hanya kegagalan mencetak generasi berakhlak. Hal ini sekaligus membuka tabir kegagalan secara sistematik yang terjadi dalam negara saat ini.

Oleh. Agus Susanti
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-Terungkapnya kasus pelecahan yang dilakukan oleh 16 mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, menambah panjang deretan kekerasan seksual yang dilakukan dalam dunia pendidikan. Kasus ini terungkap setelah viral di media sosial bukti chat dari sebuah grub yang melibatkan mahasiswi dan dosen sebagai objek (korban).

Wakil Ketua Umum MUI Cholil Nafis menilai kasus tersebut sebagai peringatan serius bahwa dunia pendidikan tinggi tidak cukup hanya menekankan aspek intelektual, tetapi juga harus memperkuat dimensi moral dan spiritual mahasiswa. (Republika.co.id, 16-4-26)

Ketika Kecerdasan tak Dilandasi Iman

Kasus pelecehan di lingkungan pendidikan bukan sebuah tindakan yang bisa dianggap sederhana. Sepanjang Januari hingga Maret 2026 JPPI mencatat sebanyak 233 kasus yang terjadi dalam lingkungan pendidikan. Kekerasan seksual (46%), kekerasan fisik (34%), dan perundangan (19%).

Hal ini jelas menunjukkan bahwa kecerdasan dan intelektual seseorang bukanlah sebuah jaminan aman. Lingkungan pendidikan yang harusnya memberikan rasa aman justru kerap dijadikan sebagai wadah yang menyuburkan tindak kejahatan. Hal ini menjadi evaluasi besar pagi dunia pendidikan dan para pendidik.

Kecerdasan seseorang akan menjadi boomerang apabila dalam diri seseorang tersebut tidak dilandasi dengan dengan iman. Kurikulum pendidikan jangan hanya berfokus pada hal-hal yang bersifat sains, melainkan harus disertakan dengan pendidikan dan pembinaan moral.

Kurikulum pendidikan yang berbasis sekularisme jelas membuktikan kerusakan yang terjadi pada peserta didik. Dalam keseharian mereka terus diisi dengan ilmu dan sains. Namun, dibiarkan abai dan kian jauh dari jati dirinya sebagai hamba Allah.
Maka tak heran jika kecerdasan yang tidak dilandasi iman akan menghantarkan kepada maksiat. Pelecahan seksual secara verbal mahasiswa adalah bukti kegagalan mencetak generasi berakhlak.

Pelecehan Verbal: Kebebasan yang Kebablasan

Sistem Kapitalisme yang menjunjung tinggi kebebasan individu adalah dasar dari rusaknya sistem sosial, termasuk maraknya pelecehan verbal. Kebebasan yang dipupuk dengan faham sekuler, yang memisahkan urusan akhirat di atas kepentingan dunia inilah yang akhirnya membuat manusia terjerumus pada kemaksiatan. Kebebasan yang dianggap sebagai hak asasi manusia nyatanya justru kebablasan hingga membentuk lingkar kemaksiatan.

Pelecehan seksual verbal yang terkait dengan objektivitas perempuan, yaitu tindak pelecehan menggunakan suara, kata-kata, atau komentar bernada seksual yang merendahkan perempuan. Menjadikan perempuan sebagai objek pemuas hasrat ataupun pandangan seksual, manusia tidak dihargai martabatnya dan ini menjadi lumrah.

Pelecahan seksual verbal mahasiswa bukan hanya kegagalan mencetak generasi berakhlak. Hal ini sekaligus membuka tabir kegagalan secara sistematik yang terjadi dalam negara saat ini. Negara dengan penerapan akidah sekular lebih memilih mengambil kurikulum barat untuk pembinaan peserta didik yang hanya berfokus pada sains. Sebaliknya pendidikan Islam dijadikan sekadar sampingan dan menjadi urusan pribadi masing-masing. Generasi yang harusnya dibina menjadi calon pemimpin di masa depan justru terpuruk dalam lembah maksiat yang dikuasai hawa nafsu.

Pelecehan Verbal Subur dalam Sistem Kufur

Umat manusia dahulu hidup dalam kegelapan dan penuh kemaksiatan. Islam datang sebagai agama dan jalan hidup yang membawa manusia pada zaman yang penuh dengan cahaya. Tahun demi tahun umat Islam hidup di zaman yang semakin modern. Namun, sebaliknya bukan hidup dengan cahaya kebaikan, umat Islam kini justru hidup penuh dengan kegelapan. Manusia dipenuhi hawa nafsu dan lupa akan jati dirinya.

Hari ini manusia tidak sadar bahwa dirinya telah dikuasai hawa nafsu dan terbelenggu dengan berbagai maksiat. Sedikit demi sedikit manusia dibuat tak sadar hingga terjatuh pada dosa besar.

Pelecahan seksual verbal yang dilakukan mahasiswa adalah sebuah tindakan maksiat yang justru subur dalam sistem kufur yang diterapkan negara ini. Kufur artinya ingkar terhadap apa yang diperintahkan sang Pencipta. Kapitalis sekulerisme adalah sistem buatan yang berasal dari hawa nafsu manusia, sedangkan manusia sendiri adalah makhluk yang lemah, terbatas, dan serba kurang. Maka wajar jika penerapan sistem kufur ini tidak bisa melindungi manusia, baik diri maupun akidahnya.

Sistem kufur melahirkan kebijakan yang menyesatkan. Dengan meningkatnya kasus pelecehan seksual membuktikan adanya kegagalan sistematik yang gagal mencetak generasi berakhlak.

Di era yang serba bebas saat ini media sosial menjadi sebuah jalan rusaknya generasi. Tontonan yang berbau pornografi acapkali lepas kontrol negara hingga menjadi konsumsi publik tanpa pandang usia. Kecanduan akan pornografi jelas merusak otak, dan berpengaruh terhadap tindakan untuk memuaskan hasrat tanpa penyelesaian yang benar. Pelecahan seksual verbal dan non verbal adalah bukti yang tak terbantahkan, semua lahir dari sistem kufur ini.

Baca juga: Game Sadis Melahirkan Kekerasan

Islam bukan Sekadar Agama Ritual

Pelecahan seksual verbal mahasiswa menunjukkan kegagalan mencetak generasi berakhlak dalam dunia pendidikan dan warning keras terhadap sistem yang ada dalam negara. Alih-alih menjadikan generasi cemerlang sebagai calon pemimpin masa depan, sistem yang diterapkan saat ini justru terbukti melahirkan generasi yang minim adab dan akhlak.

Umat harus sadar bahwa semua ini terjadi akibat memisahkan urusan dunia dengan akhirat dan menjadikan Islam sekadar agama ritual. Sebaliknya Allah Swt. menjadikan Islam sebagai aturan hidup dan pedoman dalam menjalankan aktivitas kehidupan. Islam menjadi akidah sebagai landasan berfikir, halal dan haram menjadi standar perbuatan, serta menjadikan rida Allah sebagai tujuan dalam setiap perbuatan.

Syariat Islam menetapkan bahwa hukum perbuatan adalah terkait dengan hukum syarak. Lisan adalah bagian dari perbuatan, sehingga apa yang keluar dari lisan seseorang tidak boleh mengandung unsur maksiat. Lisan seseorang muslim hanyalah berisi kebaikan yang semakin mendekatkan kepada Allah demi meraih rida-Nya.

Rasulullah bersabda "Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari & Muslim)

Maka pelecehan seksual verbal jelas hal yang diharamkan sehingga harus ada sanksi tegas bagi pelakunya. Sistem pergaulan dalam Islam diatur oleh syariat Islam secara rinci dan hanya bisa diterapkan secara komprehensif dalam sistem Islam, bukan sekularisme.

Wallahualam bissawab. []

Iran Menuju Persatuan Melawan Hegemoni Global

Iran membuktikan bahwa satu negara saja mampu membuat AS dan Israel ketar-ketir, bagaimana jika seluruh kaum muslim bersatu?

Oleh. Ni'matul Afiah Ummu Fatiya
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-Dunia menyaksikan bagaimana Iran, negara satelit yang pernah menjadi pelayan AS, kini menantang hegemoni AS. Muncul pertanyaan, apa rahasia di balik kekuatan mereka?

AS memperkirakan dengan terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei, Iran akan tumbang lalu menyerahkan kedaulatan negaranya kepada AS. Selain itu, Iran telah menanggung beban ekonomi yang luar biasa akibat diembargo oleh AS selama lebih dari dua dekade. Namun, faktanya pemerintahan Iran masih kokoh. Meskipun tanpa bantuan negara muslim lainnya, Iran mampu membalas serangan yang dilakukan oleh AS lebih dari yang diperkirakan.

Bahkan, pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei (putra dari Ali Khamenei) secara terbuka mengumumkan kemenangan negaranya dalam persaingan geopolitik melawan AS dan Israel. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi politik di kawasan Timur Tengah. Hal ini membuktikan bahwa Iran mampu mematahkan dominasi AS dan sekutunya. Sekaligus memperkuat posisi tawar Iran di panggung internasional. Ia juga menegaskan bahwa ketahanan Iran di tengah tekanan internasional telah menjadikan Teheran sebagai sumber inspirasi bagi bangsa-bangsa lain di dunia. (mediaindonesia.com, 10-4-2026).

Berita kemenangan tersebut diperkuat oleh Dubes Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi. Ia menyatakan bahwa negaranya meraih kemenangan setelah terlibat konfrontasi bersenjata selama lebih dari 40 hari melawan AS dan Israel.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump juga mengklaim bahwa AS telah mencapai kemenangan. Ia menegaskan bahwa pengumuman gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran adalah kemenangan bagi Washington. (Kompas.com, 8-4-2026).

Kemenangan Iran: Tamparan bagi dominasi AS

Keberhasilan Iran tetap tegak menahan serangan di tengah tekanan militer dan embargo ekonomi oleh AS selama puluhan tahun, menjadi tamparan keras bagi AS. Narasi dominasi yang selama ini dibangun dengan susah payah oleh AS hancur seketika. Kemenangan Teheran membuktikan bahwa AS dan Israel tidak sekuat yang dibayangkan dunia. Iran membuktikan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak harus diraih dengan restu Amerika.

Iran berhasil memaksa AS untuk menyetujui 10 poin dalam proposal yang diajukan sebagai dasar negosiasi. Di antara 10 poin penting tersebut meliputi: Pengakuan hak Iran untuk memperkaya uranium, pencabutan seluruh sanksi ekonomi dari AS, penarikan pasukan militer AS dari kawasan Timur Tengah, penghentian permusuhan di semua lini, termasuk di Libanon, serta larangan gencatan senjata digunakan sebagai dalih untuk mempersenjatai kembali pihak lawan.

Diamnya Penguasa Muslim

Ironis, di saat Iran berjuang mati-matian mempertahankan harga diri dan kehormatan, mayoritas penguasa negeri-negeri muslim justru bergandengan tangan di meja perundingan. Mereka bukan tidak tahu penderitaan saudaranya sesama muslim. Namun, mereka takut bernasib sama jika berani membangkang titah sang adidaya.

Bahkan, hati nurani mereka sudah dibeli dengan iming-iming investasi dan pertumbuhan ekonomi. Sekat-sekat nasionalisme telah memutuskan tali persaudaraan sesama muslim. Pada akhirnya, tidak ada yang tersisa dari rasa solidaritas kecuali kecaman yang hambar di meja perundingan.

Ikatan Akidah: Ikatan yang Sahih

Dari Iran kita melihat bahwa di panggung internasional tidak ada sekutu yang abadi, yang ada hanya kepentingan terus berganti. Maka jangan bangga menjadi sekutu bagi AS, karena suatu saat ketika kita dianggap sudah tidak berguna, AS tidak akan ragu untuk mencampakkan bahkan menghinakan kita.

Kondisi kaum muslim saat seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah Saw. jumlahnya banyak tetapi lemah. Seperti buih di lautan. Mereka tidak bisa menolong saudara sesama muslim yang tertindas karena berbagai pertimbangan dan ketakutan. Semua terjadi karena mereka telah melupakan satu ikatan yang kuat, yang mampu menyatukan seluruh kaum muslim di mana pun berada. Ikatan itu adalah ikatan akidah.

Maka, sudah selayaknya kita kembali kepada apa yang ditunjukkan oleh syariat, yakni menjadikan ikatan akidah sebagai satu-satunya ikatan yang sahih yang akan menyatukan seluruh kaum muslim di mana saja. Hal ini akan menjadikan kaum muslim memiliki kekuatan global yang bisa mengalahkan musuh-musuh Islam.

Khilafah: Lawan Tanding Adidaya

Lalu muncul pertanyaannya, kekuatan global mana yang dimaksud? Kekuatan yang dimaksud itu tidak lain adalah bersatunya seluruh kaum muslim di bawah satu kepemimpinan, yakni Khilafah. Sebab, hanya Khilafah yang telah terbukti mampu melindungi seluruh rakyatnya di berbagai belahan dunia.

Sejarah mencatat bagaimana Khalifah Al-Mu'tashim Billah dari Dinasti Abbasiyah melakukan tindakan heroik yang mengguncangkan Kekaisaran Romawi. Peristiwa bermula dari dilecehkannya seorang wanita muslimah oleh tentara Romawi di pasar Amuria. Pakaian wanita tersebut dikaitkan ke paku sehingga ketika ia berdiri, tersingkap auratnya. Kemudian wanita tersebut berteriak memanggil Al-Mu'tashim Billah, "Waa Mu'tashimaah!"

Begitu berita itu sampai kepada Khalifah, beliau langsung mengirimkan surat ancaman kepada kaisar Romawi, lalu memimpin sendiri puluhan ribu pasukan menuju Amuria, peristiwa tersebut berakhir dengan ditaklukkannya kota Amuria.

Cepatnya respons Khalifah terhadap penderitaan rakyatnya yang hanya seorang budak, membuktikan bahwa dalam sistem Khilafah, satu nyawa sangat berharga. Hal ini juga menunjukkan bagaimana membangun kewibawaan sebuah negara, sehingga tidak mudah untuk dilecehkan.

Baca juga: Persatuan Umat untuk Melawan Kejahatan Israel

Upaya Penyatuan Umat

Hari ini, kita menyaksikan bahwa ketidakberdayaan kaum muslim bukan karena tidak memiliki kekuatan atau kecanggihan teknologi. Apa yang terjadi di Iran, membuktikan bahwa satu negara saja mampu membuat AS dan Israel ketar-ketir, bagaimana jadinya jika seluruh kaum muslim di dunia ini bersatu?

Maka harus ada kesadaran dari kaum muslim seluruh dunia untuk kembali kepada aturan Allah, bersatu dalam satu ikatan akidah. Ikatan abadi yang mampu memunculkan sikap empati bukan sekadar simpati. Ikatan yang akan mampu mematahkan dominasi kaum kafir yang telah semena-mena menginjak-injak harga diri dan kehormatan kaum muslim.

Kesadaran ini juga yang akan memunculkan semangat untuk berjuang melawan kafir penjajah dengan dakwah dan jihad fisabilillah. Semua ini bisa dilakukan dengan tetap berpegang teguh pada tali agama Allah.

Sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam Qur'an surat Ali-Imran ayat 103:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ

"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali(agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai."

Khatimah

Dari dinamika politik yang terjadi di Iran, mengingatkan kita bahwa kekuatan kaum Muslim bukan terletak pada kecanggihan teknologi dan militer. Iran atau negara Muslim mana pun akan terus kesulitan untuk melepaskan dari hegemoni AS, selama masih bercerai-berai dalam sekat-sekat nasionalisme yang sempit. Meski mampu melakukan perlawanan, dampaknya tidak akan pernah menjangkau luas, sebatas kepentingan domestik saja.

Maka diperlukan kesatuan yang utuh yang menyatukan seluruh kaum Muslim di belahan dunia manapun. Perpecahan kaum Muslim sejak keruntuhan Daulah, telah membuka celah bagi kaum kafir untuk menguasai dan mengendalikan kaum Muslim di bawah kepemimpinannya. Kondisi ini menjadi bukti bahwa mengabaikan seruan Al-Qur'an hanya membawa pada kehinaan dan kebinasaan.

Tanpa adanya institusi pemersatu, yakni Daulah Khilafah, potensi besar umat Islam hanya akan menjadi buih di lautan. Harapan bersatunya umat melawan hegemoni global hanya akan menjadi angan-angan. Maka, satu-satunya jalan adalah kembali kepada aturan Allah, bersatu di bawah naungan Khilafah sebagai rahmatan lil 'alamin.
Wallahu a'lam.[]

‎Ejekan Berujung Kematian, Pendidikan Hilang Arah?

Selama sistem pendidikan berorientasi kapitalistik maka peristiwa serupa akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda.

Oleh. Jannatu Naflah
(Kontributor NarasiLiterasi.Id dan Praktisi Pendidikan)

‎NarasiLiterasi.Id-Kasus perkelahian yang menewaskan seorang siswa SMP di Sragen baru-baru ini menambah duka di dunia pendidikan kita. Peristiwa itu bermula dari hal yang tampak sepele, yakni saling ejek antar teman. Namun, konflik kecil tersebut justru berkembang menjadi perkelahian hingga akhirnya merenggut nyawa salah satu siswa. Mirisnya, peristiwa ini berlangsung di lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi tempat dan ruang aman bagi tumbuh kembang anak.

Ya, akibat saling ejek yang berbuntut perkelahian, WAP (14) harus meregang nyawa di tangan DTP (14), temannya sendiri. Peristiwa tragis ini terjadi di toilet sekolah saat jam pelajaran kosong. Dalam perkelahian tersebut, pelaku melakukan tindakan kekerasan terhadap korban hingga korban tidak sadarkan diri. Korban sempat mendapatkan penanganan di unit kesehatan sekolah sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Namun, kondisi korban tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia. (detik.com, 9 April 2026)

‎Peristiwa ini jelas tidak dapat dipandang sebagai insiden tunggal atau sekadar kenakalan remaja yang “kebablasan”. Namun, mencerminkan kondisi yang lebih luas, yakni rapuhnya kepribadian generasi muda dalam menghadapi konflik. Mengingat, bukan kali ini saja kasus serupa terjadi di tengah generasi muda kita. Fakta ini sekaligus menunjukkan lemahnya sistem yang seharusnya membentuk kepribadian generasi muda bangsa.

Pendidikan ala Kapitalisme

Jika ditelusuri lebih dalam, persoalan ini tidak lepas dari cara pandang sistem yang menaungi pendidikan hari ini. Dalam paradigma kapitalisme, pendidikan cenderung diposisikan sebagai alat untuk menghasilkan sumber daya manusia yang kompetitif secara ekonomi. Fokus utamanya adalah capaian akademik, keterampilan kerja, dan produktivitas.

Aspek moral dan pembentukan kepribadian sering kali menjadi pelengkap, bukan prioritas utama. Akibatnya, sekolah lebih sibuk mengejar nilai, peringkat, dan standar kelulusan, sedangkan pembinaan karakter berjalan seadanya. Pendidikan karakter memang sering digaungkan, tetapi dalam praktiknya tidak terintegrasi secara mendalam dalam seluruh proses pendidikan. Nilai-nilai seperti kesabaran, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap sesama tidak benar-benar ditanamkan sebagai fondasi hidup, melainkan sekadar pengetahuan yang dihafal.

Dalam sistem seperti ini, tidak mengherankan jika generasi muda tumbuh dengan kemampuan akademik yang cukup, tetapi lemah dalam mengelola emosi dan konflik. Ketika dihadapkan pada ejekan atau tekanan sosial, sebagian dari mereka memilih jalan instan, yakni kekerasan. Bukan karena mereka tidak tahu itu salah, melainkan karena tidak memiliki kepribadian yang kokoh untuk menahan diri.

Islam Cetak Generasi Terbaik

Berbeda dengan kapitalisme, Islam memandang pendidikan sebagai proses pembentukan kepribadian islami pada generasi. Tujuan utamanya bukan sekadar mencetak individu cerdas, tetapi membentuk manusia yang beriman, berakhlak, dan mampu mengendalikan diri sesuai tuntunan syariat. Individu yang berpikir dan bersikap dengan tolol ukur syariat. Individu yang benak dan pikirannya senantiasa terpaut pada Sang Pencipta. Sehingga puncak kebahagiaannya adalah rida Allah Swt. semata.

Dalam Islam, adab bukan tambahan, melainkan inti. Seorang muslim dididik untuk menjaga lisan, menghormati sesama, dan menyelesaikan konflik dengan cara yang baik. Nilai-nilai ini tidak hanya diajarkan, tetapi ditanamkan melalui pembiasaan dan keteladanan. Dengan demikian, ketika menghadapi ejekan atau provokasi, seorang individu tidak mudah terpancing, karena ia memiliki standar perilaku yang jelas dan kuat.

Tragedi di Sragen menunjukkan absennya fondasi ini. Ejekan yang seharusnya dapat diabaikan atau diselesaikan secara damai justru berujung pada kekerasan fatal. Ini bukan sekadar kegagalan individu, tetapi kegagalan sistem dalam membentuk kepribadian generasi bangsa.

Sejatinya, solusi yang dibutuhkan tidak hanya sekadar teknis semata, seperti memperketat pengawasan atau memberikan sanksi lebih berat. Langkah-langkah tersebut penting, tetapi tidak menyentuh akar masalah. Yang dibutuhkan adalah perubahan mendasar dalam orientasi pendidikan.

Baca juga: Sistem Sekuler Gagal Menjaga Generasi

Saatnya Kembali pada Islam

Islam menawarkan solusi komprehensif melalui pembentukan kepribadian islami pada generasi muda.

Pertama, menjadikan akidah sebagai landasan berpikir dan bersikap, sehingga setiap tindakan didasarkan pada kesadaran akan tanggung jawab di hadapan Allah. Kedua, menanamkan adab sebagai kebiasaan hidup, bukan sekadar teori. Ketiga, menghadirkan lingkungan pendidikan yang mendukung, baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat, yang secara konsisten menampilkan nilai-nilai kebaikan.

Di sisi lain, peran guru dalam Islam tidak hanya sebagai penyampai ilmu, tetapi sebagai pendidik yang membimbing dan menjadi teladan. Begitu pula orang tua, yang memiliki tanggung jawab utama dalam membentuk karakter anak sejak dini. Masyarakat pun memiliki peran penting dalam mengontrol individu dengan aktivitas amar makruf nahi mungkar.

Ketiga elemen tersebut niscaya dalam berjalan selaras saat peran besar negara berjalan sebagai mestinya, yakni sebagai raa'in (pengurus) dan junnah (perisai) bagi rakyat. Terwujudnya peran negara sebagai raa'in (pengurus) dan junnah (perisai) ini mustahil terwujud dalam sistem kapitalisme sekuler seperti saat ini. Peran ini hanya dapat terwujud saat sistem Islam diterapkan secara komprehensif dalam bingkai negara. Alhasil, penerapan sistem Islam merupakan kebutuhan mendesak bagi generasi muda saat ini.

Sungguh, tragedi di Sragen seharusnya menjadi momentum refleksi. Selama sistem pendidikan berorientasi kapitalistik maka peristiwa serupa akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda. Sudah saatnya kita meninjau kembali arah pendidikan kita, bukan hanya untuk mencerdaskan, tetapi untuk membentuk generasi berkepribadian mulia. Generasi terbaik ini jelas hanya akan lahir dalam naungan sistem yang paripurna, yakni Islam. Wallahualam bissawab. []

Takwa: Bekal Akhirat Lebih Utama

Takwa adalah bahwa kita sebagai manusia wajib untuk mentaati dan menerapkan seluruh aturan-Nya secara sempurna.

Oleh. Dewi Kusuma
(Kontributor Narasi literasi.Id)

NarasiLiterasi.Id-Bismillahirrahmanirrahim, sahabat, tak seorang pun ingin hidup menderita. Kita semua tentu inginkan kebahagiaan. Ukuran bahagia itu bagaimana, sih, Sob?

Punya uang banyak?
Punya fasilitas serba ok?
Selalu hidup dengan banyak tawa?
Dikelilingi orang-orang yang selalu mengiyakan kemauanmu?
Atau …

Nah masing-masing punya standar kebahagiaan yang berbeda. Namun, jika kita kembalikan kepada tujuan Allah Swt. menciptakan kita hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Nah, simpel, kan?

Jadi, apapun aktivitas kehidupan kita yang penting mempunyai nilai ibadah kepada-Nya. Yuk, kita kembali bersama belajar memahami ayat-ayat Al-Qur'an. Ayat-ayat cinta-Nya yang sungguh luar biasa. Senantiasa membimbing kita ke jalan yang benar. Untuk itu kita wajib untuk semangat belajar. Apalagi mempelajari ayat-ayat Al-Qur'an.

Kali ini saya memilih ayat QS. Al-Haysr: 18. Allah Swt berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ۝١٨

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."

Kembali satu ayat dari firman Allah Swt. untuk orang-orang yang beriman. Bahwa kita diwajibkan untuk bertakwa kepada-Nya. Takwa adalah bahwa kita sebagai manusia wajib untuk mentaati dan menerapkan seluruh aturan-Nya secara sempurna. Tidak boleh satupun ayat Al-Qur'an yang kita ingkari. Satu ayat saja kita mengingkari ayat-ayat-Nya maka kita digolongkan sebagai orang kafir.

Kembali kepada tujuan Allah menciptakan manusia hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Untuk itu bekal akhirat itu sangat lah penting untuk kita persiapkan. Sebab kehidupan dunia ini hanya sementara, sedangkan kehidupan akhirat itu selamanya.

Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan di mana kita memperoleh kenikmatan hidup di Jannah-Nya. Untuk itu kehidupan dunia yang sementara ini wajib dipersiapkan untuk mendapatkan Jannah-Nya. Kita wajib taat dan bertakwa hanya kepada Allah Swt. Tidak ada tuhan selain Allah Swt. Yang Mahakuasa.

Baca juga: Saling Memaafkan dalam Tradisi Idulfitri

Seluruh aktivitas kehidupan dunia wajib terikat dengan hukum-hukum Allah. Apapun yang di wajibkan Allah Swt. wajib kita kerjakan. Dan belajar serta berdakwah adalah kewajiban yang dibebankan untuk setiap insan. Maka kita wajib untuk menjalankannya. Kita wajib menjadikan Al-Qur'an sebagai benteng kehidupan. Agar kita bisa menempuh perjalanan kehidupan yang bernilai ibadah. Sehingga keutamaan untuk mempersiapkan bekal akhirat dan terwujud.

Insyaallah, semoga Allah Swt. senantiasa memberikan kemudahan, kelancaran, keberkahan, karunia rahmat dan rida-Nya sehingga kita diberikan surga yang penuh dengan kenikmatan. Aamiin.

Wallahualam bissawab.
Serang Banten, 12 April 2026

Kedelai Mahal Rakyat Jadi Korban

Dalam ranah kepemilikan ini, apabila ada warga pemilik kebun kedelai sedang mengalami masalah permodalan dalam mengelolanya, maka ia berhak meminta bantuan ekonomi pada negara.

Oleh. Ummi Fatih
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-Tahu tempe merupakan makanan khas Indonesia yang sudah terkenal di dunia. Negara-negara maju seperti Jepang, Belanda, dan lain-lain pun telah mengakui dengan mengelolanya sebagai campuran bahan makanan favorit mereka. Dalam link NationalGeographicIndonesia.com saja, tempe sudah dinobatkan sebagai makanan khas Indonesia yang mendunia.

Tak heran, di Indonesia sendiri lauk nabati tersebut pun dipandang sebagai menu wajib yang disuguhkan setiap hari. Sebab, kenikmatan rasa dan murahnya harga kedelai dan olahannya membuat asupan nutrisi masyarakat Indonesia menjadi terpenuhi.

Sayangnya, di tengah kekacauan perang geopolitik antara Amerika-Iran yang mengganggu jalur perdagangan ekonomi internasional, distribusi, dan transaksi berbagai macam bahan pangan mengalami permasalahan. Harga kedelai dan plastik yang merupakan bahan utama pembuatan tahu tempe juga terkena imbas yang kritis.

Kala ini, harga tahu tempe pun turut melejit hingga masyarakat kelas bawahlah yang paling tercekik. Sebab, mereka menjadi semakin sulit membeli makanan hingga mengalami penurunan gizi yang membahayakan.

Lantas, apakah seruan pemerintah yang sekarang ini ramai menyuruh masyarakat untuk semakin hidup hemat sudah cukup bermanfaat? Tentu saja tidak. Sebab ekonomi keuangan masyarakat selama ini saja masih dalam kondisi yang gawat darurat.

Oleh karena itu, tindakan strategis macam apa yang sebaiknya segera pemerintah Indonesia lakukan? Supaya negeri yang dipimpinnya ini memiliki ketahanan pangan kuat dan mandiri.

Salah Kelola Kedelai

Jika diteliti lagi, akar masalah ekonomi dan kelemahan ketahanan pangan Indonesia selama ini sebenarnya akibat dari penerapan sistem kapitalisme. Sebab dalam sistem tersebut, ketidakadilan sudah tampak jelas sekali. Pengusaha diberi singgasana ekonomi. Sedangkan masyarakat umum dibiarkan tertatih-tatih mencari-cari rezeki tanpa bantuan dari negaranya sendiri.

Misalnya, ketika kualitas dan kuantitas kedelai dalam negeri rendah, sementara permintaan masyarakat sangat banyak. Pemerintah bukannya mengulurkan dana bantuan pada para petani negeri sendiri untuk mengelola lahan perkebunan mereka. Malah, pemerintah lebih memilih melepaskan uang transaksi impor kepada para pengusaha asing.

Jika tidak melakukan impor, pemerintah justru juga akan menarik investasi pengusaha asing agar mau menyewa lahan perkebunan negara. Kemudian mempersilahkan mereka untuk menggarap dan mengeduk isi lahan sesuka hatinya atas nama hak persewaan.

Walaupun alasan persewaan lahan itu seringkali dinyatakan untuk mencari dana pemasukan negara, membuka lapangan kerja dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, bukankah lebih baik pemerintah mengelola sendiri lahan miliknya bersama para warga? Sebab hasilnya, kebutuhan pangan pun akan terpenuhi secara mandiri, lapangan kerja masyarakat juga akan terbuka lebar. Selain itu, kekayaan sumber daya alam akan mudah dinikmati oleh semua masyarakatnya yang merupakan tuan rumah dalam tanah airnya sendiri.

Dengan demikian, langkah strategis pertama yang harus pemerintah lakukan adalah membuang sistem ekonomi kapitalisme ini. Lalu, mengubahnya dengan sistem ekonomi Islam yang bersumber langsung dari Allah Swt.

Baca juga: Menjadi Negara Mandiri Tanpa Utang dengan Ideologi Islam

Langkah Strategis Islam

Dalam sistem ekonomi Islam, perjanjian dagang luar negeri memang harus berada di bawah kontrol pemerintah negara secara mutlak. Sebab, perdagangan luar negeri bukan hanya berkaitan dengan komoditas barang yang diperdagangkan, tetapi terdapat faktor pemilik komoditas barang atau negara asal komoditas tersebut.

Apabila barang berasal dari negeri kafir dzimmi mu’ahad (yang terlibat perjanjian dengan Daulah Khilafah), maka segala komoditas ekspor impor akan diizinkan terbuka. Akan tetapi, khusus barang dan persenjataan militer buatan negara Khilafah tetap dilarang untuk diperjualbelikan. Sementara untuk negara kafir harbi fi’lan, hubungan perdagangan masih tetap tertutup dari segala macam produknya.

Hal itu sebagai wujud benteng pertahanan negara yang tidak sembarangan berhubungan keluar. Supaya keamanan negara terjamin tanpa serangan dan ancaman berbahaya.

Teori Kepemilikan dalam Islam

Kemudian, dalam sistem ekonomi Islam pun dikenal teori kepemilikan yang terbagi menjadi tiga. Pertama, kepemilikan pribadi umum yang berkaitan dengan harta masing-masing individu seperti harta tanah pertanian, tanah perkebunan, rumah, pekarangan, hewan ternak dan lain-lain. Dalam ranah kepemilikan ini, apabila ada warga pemilik kebun kedelai sedang mengalami masalah permodalan dalam mengelolanya, maka ia berhak meminta bantuan ekonomi pada negara. Bukan justru mengais pada bank yang penuh dengan unsur riba yang haram dan menyulitkan.

Kedua, kepemilikan umum yang berkaitan dengan kepentingan semua warga dalam memanfaatkan sumber daya negara. Misalnya, seperti hutan, sungai, laut dan lain-lain. Andaikan, komoditas seperti kedelai yang diminta masyarakat berjumlah banyak, maka lahan hutan dapat dibuka dan dikelola sendiri menjadi kebun kedelai oleh negara bersama masyarakat. Dengan begitu, kebutuhan pokok pangan akan senantiasa terpenuhi. Cadangan atau timbunan pangan untuk disebarkan pada semua warga akan selalu tersedia.

Ketiga, kepemilikan negara yang berkaitan dengan campuran harta milik umum dan harta milik individu. Misalnya, seperti harta fa’i (rampasan perang), kharaj (pajak jaminan keamanan bagi non-muslim), dan jizyah (pajak tanah dan hasilnya bagi pemilik lahan negeri yang ditaklukkan). Andaikan negara menjamin keamanan pengelolaan lahan perkebunan kedelai di negeri taklukannya, maka masyarakat dalam negeri itu pun masih akan tetap aman kondisinya. Tak perlu khawatir kelaparan, tertindas, dan kurang gizi selama hidup di bawah naungan negeri Khilafah yang menjalankan semua petunjuk sempurna Allah Swt.

Penutup

Akhirnya, masihkah kita ragu untuk menerapkan sistem ekonomi Islam yang berasal dari Allah Swt.? Padahal, bukankah dalam iman kita sudah percaya bahwa Allah Swt. adalah Sang Maha Pencipta alam semesta yang Maha segalanya? Bahkan, Dia pun juga pasti akan menuntut tanggung jawab kita setelah diizinkan hidup di atas tanah ciptaan-Nya?

Wallahualam bissawab. []

Polemik BBM di Negeri Kaya Minyak

Minyak dan gas bumi (migas) yang diqiyaskan dengan api, merupakan kepemilikan umum (milkiyah 'ammah). Dengan demikian pengelolaannya haruslah dilakukan oleh negara secara mandiri

Oleh. Arda Sya'roni
(Kontributor NarasiLiterasi.Id)

NarasiLiterasi.Id-"Suara dari kemiskinan. Yang tak pernah berujung. Semenjak republik ini berdiri. Tanah kami tanah kaya. Laut kami laut kaya. Kami tidur di atas emas. Berenang di atas minyak. Tapi bukan kami punya. Semua anugerah itu …"

Demikianlah penggalan lirik lagu 'Suara dari Kemiskinan' yang dibawakan oleh Franky Sahilatua pada tahun 2011. Bila menyimak dengan seksama, lirik lagu ini merupakan sebuah sindiran pedas bagi negeri ini. Negeri yang kaya akan tanah, laut, emas, dan juga minyak ini semestinya mampu mewujudkan masyarakat maju yang makmur dan sejahtera. Namun, realita tak seindah lukisan alam yang dilukis sang maestro.

Gambaran berenang di atas minyak tentunya yang terbayangkan adalah stok BBM yang melimpah, harga BBM yang murah serta negara yang makmur karena kedaulatan energi yang mumpuni. Namun, gambaran tersebut hanyalah sebuah khayalan rakyat semata. Fakta yang terjadi justru sebaliknya, rakyat terus dihajar oleh harga BBM yang semakin naik, stok BBM, yang kerap kosong di beberapa wilayah. Begitu juga dengan kelangkaan LPG 3 kg yang sempat terjadi beberapa waktu silam. Sungguh sebuah ironi dalam negara yang kaya akan minyak dan gas alam.

Polemik BBM Sebagai Imbas Gejolak Global

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai buntut dari perang Iran vs AS-Israel secara tidak langsung berdampak pada pasokan BBM di indonesia. Hal ini karena selat Hormuz merupakan jalur maritim vital bagi ekonomi global dimana sekitar 20% atau seperlima konsumsi minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewatinya setiap hari.

Maka, ketika Selat Hormuz ditutup, sebagai titik tumpu (chokepoint) energi utama dunia, tentulah gangguan di selat ini dapat menyebabkan lonjakan harga energi global. Indonesia sebagai salah satu negara yang merasakan dampak tersebut.

Dikutip dari bbc.com, 03-04-2026, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan naik hingga akhir 2026, meski rata-rata harga minyak dunia mencapai US$100/barel di tengah perang antara AS-Israel dan Iran.

Subsidi dan Penghematan

Sebagaimana yang diutarakan oleh Menkeu, Indonesia mengupayakan agar BBM bersubsidi tidak naik, sementara untuk BBM nonsubsidi akan mengalami kenaikan. Namun, penutupan Selat Hormuz ini telah mengakibatkan kepanikan sebagian rakyat hingga terjadi antrean di beberapa tempat guna mengamankan stok BBM sebelum terjadi kenaikan. Antrean berjam-jam ini terjadi akibat adanya kabar yang menyatakan bahwa kapal tanker Pertamina masih tertahan di Selat Hormuz. Selain itu juga karena adanya pernyataan dari Menteri ESDM Bahlil, bahwa stok BBM Indonesia masih aman untuk 20-25 hari ke depan.

Adapun untuk BBM bersubsidi yang rencananya tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun, pemerintah akan menambal subsidinya dari APBN. Namun, dengan naiknya harga minyak global, maka subsidi ini diprediksi tidak akan bertahan lama, maksimal hanya beberapa pekan saja.

Untuk mengantisipasi stok BBM aman, langkah-langkah penghematan pun diambil pemerintah sejak 1 April 2026, yaitu dengan Work From Home (WFH) bagi ASN di hari Jumat, pembatasan penggunaan kendaraan dinas dan disarankan menggunakan kendaraan umum. Selain itu pemangkasan perjalanan dinas dalam negeri hingga 50 persen dan luar negeri hingga 70 persen, penambahan hari, durasi dan cakupan car free day di berbagai wilayah. Ditambah dengan pembatasan pembelian BBM untuk kendaraan roda 4, anjuran WFH pada sektor swasta, hingga pengurangan jumlah hari MBG dari 6 hari menjadi 5 hari.

Problematika Pengelolaan BBM dalam Kapitalisme

Indonesia merupakan negara yang kaya akan minyak meskipun tidak menduduki peringkat 10 besar di dunia, tetapi cukup dominan di kawasan ASEAN. Dikutip dari liputan6.com, 05-04-2026, AS menduduki peringkat pertama negara penghasil minyak dunia dengan 20,9 juta barel/hari sedangkan Iran menduduki peringkat 9 dengan produksi 4,1 juta barel/hari. Lantas apabila Iran bukan negara penghasil minyak terbesar mengapa Iran mempunyai pengaruh besar dalam ekonomi global?

Iran memiliki posisi geografis yang strategis dengan Selat Hormuz merupakan urat nadi perdagangan energi dunia dimana distribusi minyak global melintasi selat ini setiap harinya. Selain itu posisi geopolitik Iran yang beradi di Timur Tengah menjadikan Iran sebagai jembatan antara Asia Tengah, Timur Tengah dan Eropa. Iran juga memiliki cadangan bahan bakar fosil terbesar serta cadangan gas alam terbesar kedua dan cadangan minyak terbesar ketiga.

Sementara itu Indonesia adalah negara net importir, artinya nilai impor lebih besar daripada nilai ekspor. Sebagai negara net importir, meskipun Indonesia juga merupakan negara penghasil minyak, tetapi nilai impor minyaknya lebih besar. Dengan demikian Indonesia mempunyai ketergantungan pada negara lain, yaitu Iran dan AS dalam perolehan BBM.

Dengan adanya gejolak global ini pemerintah mengalami dilema. Jika harga BBM disesuaikan dengan harga minyak global, maka akan terjadi inflasi dan gejolak sosial. Hal ini karena kenaikan harga BBM pasti akan berdampak pada kenaikan harga-harga barang lainnya, termasuk sembako. Namun, jika tidak dinaikkan, defisit APBN semakin besar sehingga memungkinkan untuk menambah jumlah hutang negara.

Beginilah gambaran negeri net importir, selalu bergantung pada impor komoditas strategis (BBM). Akibatnya, ekonomi dan politiknya kerap terguncang ketika ada sentimen global. Padahal andaikata negara mengelola sendiri kandungan minyak dalam negeri, maka ketergantungan pada negara lain tidak akan terjadi. Negara bukannya tidak mampu mengelola, tetapi kapitalisme yang menjadi pijakan pemerintahan menjadikan negara memilih untuk menyerahkan potensi itu pada pihak swasta dan asing.

Agreement of Reciprocal Trade (ART)

Dalam kapitalisme gejolak global semacam ini riskan terjadi karena pijakan yang melandasi pengelolaan sumber daya alam hanya berorientasi pada materi dan manfaat. Oleh sebab, itu demi turunnya tarif dagang, Indonesia menyepakati Agreement of Reciprocal Trade (ART) dengan AS yang mencakup komitmen signifikan terkait minyak dan energi. Dalam ART tersebut Indonesia sepakat untuk meningkatkan impor minyak dan gas dari AS. Kesepakatan ART ini sekilas merupakan solusi di tengah terhambatnya pasokan minyak dari Iran, tetapi dampak di balik itu kedaulatan negara tergadaikan dan terbelenggu dalam cengkeraman AS. Akibatnya, lagi-lagi rakyat yang menjadi korban.

Kapitalisme juga menjadikan negara-negara muslim tersekat dengan batas nasionalisme. Dengan sekat ini bahkan negara-negara muslim yang tergabung dalam OPEC maupun OKI tak mampu bersuara ataupun mengulurkan bantuan. Semua terdiam karena sekat nasionalisme ini. Meskipun negara-negara ini bersatu atas satu kesamaan, yaitu Islam, tetapi ketika dunia bertindak tak sesuai akidah Islam bahkan menzalimi negara muslim lainnya, mereka terdiam. Karena pada dasarnya negara-negara ini bergabung bukan atas dasar syariat, melainkan bisnis. Itulah watak asli kapitalisme, mengabaikan kebenaran, hanya untuk mencari keuntungan semata.

Baca juga: Gejolak BBM di Tengah Perseteruan Global

Pengelolaan BBM dalam Kepemimpinan Islam

Sebuah hadis menyebutkan, "Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api" (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Berdasarkan hadis tersebut maka minyak dan gas bumi (migas) yang diqiyaskan dengan api, merupakan kepemilikan umum (milkiyah 'ammah). Dengan demikian pengelolaannya haruslah dilakukan oleh negara secara mandiri, tidak diserahkan pada pihak swasta maupun asing. Dalam kepemimpinan Daulah Islam, negara menjamin ketersediaan migas bagi seluruh rakyatnya dan dengan harga murah. Dengan pengelolaan secara mandiri negara akan mampu menyediakan lapangan pekerjaan untuk rakyatnya. Hasil pengelolaannya pun diutamakan untuk kebutuhan seluruh rakyatnya.

Dengan kemandirian BBM ini, daulah akan menjadi negara independen, bahkan adidaya. Sehingga, politik dan ekonominya tidak mudah terguncang apabila terjadi gejolak global. Meskipun memiliki kemandirian dalam pengelolaan migas, daulah akan tetap bijaksana dan bertanggung jawab dalam penggunaan BBM. Penghematan yang dilakukan tentulah bukan pada pelayanan umum ataupun jihad. Tak hanya itu, daulah juga akan mendukung perkembangan sumber energi alternatif selain minyak. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin pemenuhan kebutuhan energi sebagai negara adidaya.

Namun, kemandirian ini takkan terwujud sempurna apabila dilakukan oleh satu negara saja. Kemandirian tersebut akan terwujud sempurna bila seluruh negara muslim bersatu dan bergabung dalam satu naungan kepemimpinan yang menjalankan kepemimpinannya dengan pijakan syariat Islam secara kaffah.

Apabila negara-negara muslim telah bergabung dalam satu kepemimpinan, maka terbentuk suatu kekuatan besar dengan potensi kepemilikan migas yang semakin besar pula. Dengan kepemimpinan Islam ini maka khalifah atau pemimpin daulah akan bertindak sebagai raa'in (penggembala) sekaligus junnah (perisai) bagi rakyat.

Khatimah

Kedaulatan energi dan kemandirian BBM tidak akan terwujud dalam negara yang berpijak pada kapitalisme dalam kepemimpinannya. Hal ini karena prioritas negara adalah untung rugi bukan halal haram. Pemimpin dalam negara kapitalisme tidak benar-benar bekerja untuk memberikan jaminan kebutuhan rakyat. Mereka menyelamatkan posisi jabatannya serta bekerja sesuai permintaan kaum kapital.

Hanya dengan negara di bawah kepemimpinan Islam, kedaulatan energi dan kemandirian BBM dapat terwujud. Hal ini karena pemimpin daulah memandang jabatan sebagai sebuah amanah dengan pertanggungjawaban besar dihadapan Allah swt. Karenanya pemimpin dalam daulah tidak menjadikan jabatan untuk meraih kekuasaan ataupun materi. Dengan demikian rakyat akan benar-benar menjadi perhatian khalifah sebagai pemimpin negara. Kebutuhan rakyat akan BBM pun terjamin pemenuhannya dengan harga terjangkau dan tetap berkualitas baik.

Wallahualam bissawab. []

Gejolak BBM di Tengah Perseteruan Global

Inilah pokok masalahnya, harusnya mampu membuat BBM sendiri tanpa mengandalkan negara lain.

Oleh. Mulyaningsih
(Kontributor Narasiliterasi.Id-Pemerhati Masalah Anak & Keluarga)

Narasiliterasi.Id-Dunia saat ini tak baik-baik saja. Perseteruan yang melibatkan negara adidaya dan Iran berdampak ke wilayah lain, termasuk negeri ini. BBM yang diduga akan mengalami kenaikan secara signifikan nyatanya kebijakan yang ada mampu mempertahankan harganya. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan dari Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Beliau memastikan bahwa harga BBM tidak naik hingga akhir 2026 walaupun rata-rata harga minyak dunia mencapai US$100/barel. (bbcnews.com, 06-04-2026)

Namun, fakta membuktikan bahwa antrean BBM terjadi di sejumlah wilayah negeri ini, terutama Pulau Jawa. Bahkan ada wilayah yang sampai mengalami kelangkaan BBM. Tentunya kita tidak bisa menebak sampai kapan perseteruan antara dua negara bisa berhenti. Yang pasti, tentu dampak nyata akan kita rasakan juga. Sebab pasokan BBM terbanyak harus melewati wilayah yang notabenenya menjadi kekuasaan Iran.

Berbicara terkait dengan kondisi perang, maka kita akan dihadapkan dengan beberapa tekanan yang bisa jadi akan berpengaruh pada APBN negeri ini. Sebut saja sebagaimana bahasan di atas, lonjakan harga minyak dunia membuat negara akhirnya harus menambah alokasi subsidi BBM. Hal ini dilakukan agar masyarakat mampu membelinya. Mudahnya, agar daya beli masyarakat tetap terjaga dengan baik.

Namun, kemampuan APBN negara tentu tidak serta merta bisa menopangnya dalam jangka waktu lama. Terburuknya adalah ketahanan tersebut mampu ada mungkin dalam hitungan bulan. Sebagaimana pernyataan dari Menteri Keuangan bahwa harga BBM akan aman hingga akhir tahun. Akan tetapi ini belum bisa dipastikan secara jelas jika perang AS-Iran masih saja berlangsung.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah lantas mengeluarkan langkah mitigasi sebagai usaha untuk menekan penggunaan BBM. Di antaranya adalah penerapan WFH bagi PNS agar mengurangi mobilitas. Termasuk pula saran untuk menggunakan fasilitas umum. Diharapkan dengan kebijakan yang ditetapkan mampu menurunkan konsumsi BBM.

Baca juga: Krisis Menjelang, Saatnya Mewujudkan Kedaulatan Energi

Kebijakan Hanya Jadi Solusi Pemukaan

Jika ditelisik lebih dalam maka akan kita temui bahwa kebijakan yang ada hanya menjadi solusi di permukaan saja. Sementara akar dari persoalan belum didapatkan. Inilah yang menjadi sebab timbulnya persoalan baru. Sebut saja, kebijakan seperti MBG yang sudah berjalan dengan menghabiskan dana negara yang tak sedikit, belum terlihat hasilnya. Belum lagi pada ranah kasus korupsi yang merajalela belum mampu terselesaikan dengan baik. Nah, inilah yang kemudian menjadi cikal bakal masalah baru jika tidak diselesaikan pada akar persoalannya.

Gambaran di atas menunjukkan kepada kita bahwa langkah strategis yang dikeluarkan tentu harus dipikirkan secara serius. Sebagaimana ketika melihat harga BBM yang meroket tajam, maka perlu kita gali bahwa mengapa negeri ini tidak mengoptimalkan pembuatannya di dalam negeri. Padahal Indonesia sendiri begitu kaya akan sumber minyak bumi. Namun, fakta menguak bahwa minyak bumi tersebut justru di ekspor dalam kondisi mentah dan kita membelinya kembali dalam bentuk BBM. Tentu harga yang kita keluarkan akan lebih tinggi. Inilah pokok masalahnya, harusnya mampu membuat BBM sendiri tanpa mengandalkan negara lain.

Persepsi inilah yang kemudian harus dipikirkan dan dicari jalan keluarnya agar kita bisa mandiri dari sisi energi. Jika tidak, maka benar-benar kita pasti akan tergantung dengan negara lain. Dan efeknya pasti akan terasa ketika harganya melonjak naik. Ketika harga naik maka kita tentunya harus lebih banyak mengeluarkan uang untuk membelinya. Dampaknya tentu kas negara akan terkuras hanya untuk membeli BBM tadi. Imbasnya tentu pada sektor lain (subsidinya) akan dikurangi bahkan mungkin akan dihapuskan. Inilah rentetan yang bisa jadi akan nyata adanya di negeri ini. Alhasil, kemungkinan daya beli masyarakat akan menurun.

Pandangan Islam

Pandangan Islam berkaitan dengan posisi energi maka harus dicari tahu terlebih dahulu. Apakah ia merupakan kebutuhan pokok bagi seluruh masyarakat atau tidak? Dan apakah pengelolaan harus dilakukan negara atau swasta?

Islam memandang bahwa energi adalah kebutuhan pokok seluruh masyarakat yang harus dijamin oleh negara. Tak hanya sekadar bagian dari komoditas yang diperjualbelikan. Sehingga negara dalam hal ini pemerintah berkewajiban untuk dapat mengelola dengan sebaik mungkin untuk dikembalikan hasilnya kepada masyarakat. Tidak boleh menyerahkannya kepada pihak swasta baik asing atau dalam negeri. Karena hal tersebut ada dalam hadis Rasulullah saw.

Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud)

Hadis di atas menerangkan bahwa api ini mencakup aspek luas. Salah satunya adalah energi yang berasal dari minyak bumi. Sehingga kepemilikannya jelas yaitu milik seluruh kaum muslim. Tak boleh ada individu atau kelompok yang mengelolanya.

Ditegaskan kembali bahwa negara berkewajiban penuh untuk mengelolanya secara maksimal dan hasilnya dikembalikan kepada masyarakat. Dalam hal ini negara akan serius untuk menerjunkan para pakar untuk dapat mengeksploitasi SDA minyak bumi tersebut. Termasuk pula menyediakan alat-alat untuk usaha tersebut. Hal itu didukung dengan kas negara yang kuat juga.

Baitulmal sebagai kas negara Daulah Islam mempunyai 13 pos pemasukan. Berbekal hal tersebut maka usaha untuk mengelola minyak bumi akan berjalan dengan maksimal. Sehingga negara menjadi mandiri dari sisi energi, artinya mampu mencukupi kebutuhan dalam negerinya sendiri tanpa bergantung kepada negara lain. Inilah konsep yang terus ditancapkan di Daulah Islam. Dan akhirnya ketahanan energi akan dapat tercapai dengan mudah. Tidak seperti sekarang yang terus saja bergantung kepada negara lain karena belum mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri.

Wallahualam bissawab. []

Pelajar Terjerat Peredaran Narkoba

Maka untuk menyelamatkan generasi dari bahaya penyalahgunaan narkoba tidak cukup dengan penyuluhan melainkan diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dengan menggantikan sistem sekuler kapitalis ini dengan sistem Islam.

Oleh Ummu Aidzul
(Kontributor NarasiLiterasi.Id dan Tenaga Pendidik
)

NarasiLiterasi.Id-Berita yang mengejutkan datang dari Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat. Bukan kabar yang baik, justru kabar buruk tentang peredaran narkoba di Desa Mangga, Kecamatan Langgudu. Dua orang warganya digerebek akibat kepemilikan sabu yang hendak diedarkan. Untuk mengelabui warga, sabu tersebut ditanam di dekat rumah nya. Kedua warga itu adalah SH (26) dan KF. Mirisnya status KF adalah seorang pelajar. Polisi pun masih memburu bandar sabu tersebut. Berita ini diungkapkan oleh Kasat Resnarkoba, AKP Jahyadi Dibawain. (DetikBali, 02-04-2026)

Berita yang serupa datang dari Kendari. Di hari pertama masuk sekolah setelah libur lebaran, Tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba Polresta Kendari menyergap seorang pelajar berusia 19 tahun berinisial HS. Dia ditangkap beserta dengan puluhan paket sabu yang tersebar di berbagai tempat.

Meningkatnya Kasus Narkoba di Kalangan Pelajar

Narkoba atau narkotika sama dengan obat terlarang. Narkotika sendiri menurut kamus KBBI adalah obat untuk memenangkan saraf, menghilangkan rasa sakit, menimbulkan rasa kantuk atau merangsang (seperti ganja, opium). Narkoba ketika dikonsumsi konon katanya bisa membuat seseorang berhalusinasi dan menimbulkan sensasi rasa bahagia. Namun, mengkonsumsinya akan menimbulkan ketergantungan dan akhirnya merusak organ vital. Maka narkoba ini merupakan barang yang berbahaya. Selain itu, pecandunya biasanya akan melakukan berbagai cara agar bisa memperoleh obat terlarang ini bahkan tidak jarang bertindak kriminal.

Meskipun berbahaya, kasus pemakaian narkoba terutama di kalangan pelajar terus meningkat. Angka yang dilaporkan cukup fantastis, data dari BNN sebanyak 2,2 juta pelajar terpapar narkoba. Padahal kerusakan yang ditimbulkan dari konsumsi zat adiktif ini tidak hanya kerusakan secara fisik tetapi juga secara mental. Salah satu faktor pelajar yang kecanduan narkoba awalnya dari rasa penasaran, coba-coba karena diajak teman hingga akhirnya kecanduan. Ditambah sekarang ada pelajar yang bahkan menjadi pengedar. Sungguh kondisi generasi kini terancam bahaya narkoba.

Rusaknya Generasi Akibat Sistem Rusak

Kasus narkoba yang kian hari terus bertambah tanpa bisa dihentikan akibat penerapan sistem sekuler kapitalisme. Sistem sekuler kapitalisme yang menjauhkan agama dari aturan kehidupan. Agama hanya mengatur permasalahan ibadah saja. Akibatnya generasi tidak memahami halal dan haram. Suatu yang halal itulah yang diperbolehkan dan sesuatu yang haram haruslah dijauhi.

Generasi muslim saat ini telah teracuni pemahaman liberal dari Barat. Liberal berarti kebebasan. Manusia berhak memilih suatu perbuatan selama itu dirasa menyenangkan dirinya dan tidak merugikan orang lain. Padahal mengkonsumsi zat yang memabukkan dan membuat manusia kehilangan kesadaran nya diharamkan dalam Islam.

Pemerintah telah melakukan banyak upaya untuk mencegah pelajar dari penyalahgunaan narkoba ini. Di antaranya penyuluhan bahaya narkoba oleh BNN dan instansi terkait, pengembangan kader anti narkoba, pengawasan yang ketat dari sekolah, kampanye "say no to drugs", dan rehabilitasi bagi korban. Namun, sayangnya upaya-upaya tersebut belum terlihat hasilnya dalam pencegahan narkoba yang buktinya terus bertambah jumlahnya. Karena langkah tersebut tidak menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya.

Pelajar yang menjadi pengedar menjadi bukti sistem pendidikan sekuler saat ini telah menjauhkan mereka dari agama, penjagaan akal, moral serta perbuatan. Selain gagalnya sistem pendidikan, lemahnya hukum yang diterapkan saat ini mengakibatkan pelajar mudah terperangkap kepada aktivitas kriminal.

Sistem Islam Menjaga Generasi

Islam merupakan sebuah mabda yang memiliki aturan yang komprehensif dalam kehidupan. Di dalamnya terdapat pula sistem pendidikan Islam. Sistem pendidikan Islam akan menguatkan akidah pelajar dan mendorong mereka untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan. Dia akan memahami halal dan haram sehingga bersungguh-sungguh untuk menjauhi perkara haram seperti narkoba. Sistem pendidikan Islam akan menghasilkan seorang pelajar yang saleh, muslih dan berkepribadian Islam.

Selain sistem pendidikan Islam, untuk menjaga generasi juga diperlukan kerja sama dari keluarga, masyarakat dan negara. Dari level keluarga akan menjadi benteng pertahanan utama dalam menjaga generasi. Untuk menjaga generasi dari narkoba, orang tua harus bersungguh-sungguh dalam mendampingi dan membersamai tumbuh kembang anak. Memberikan kasih sayang serta menanamkan nilai-nilai akidah agar tidak melanggar aturan agama.

Selain itu masyarakat yang memahami kewajiban amar makruf nahi mungkar akan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi generasi. Masyarakat yang tidak bersikap apatis atau diam saja ketika ada yang melakukan pelanggaran, untuk mencegah perilaku maksiat beredar.

Dan pihak yang paling mampu untuk mencegah penyalahgunaan narkoba adalah negara. Negara harus memberikan sanksi yang tegas bagi pelaku penyalahgunaan narkoba baik bagi pembuat, pemakai maupun pengedarnya.

Sanksi bagi pelaku penyalahgunaan narkoba dalam Islam tergantung perannya apakah dia sebagai pengguna atau pengedar. Bagi pengguna akan dikenakan sanksi takzir yang kasar hukuman nya ditentukan oleh Qadhi bisa berupa deraan atau cambuk, penjara, denda maupun rehabilitasi. Sedangkan pengedar maupun produsen narkoba sanksinya berupa takzir berat hingga hukuman mati karena mereka telah menyebarluaskan kejahatan hingga merusak generasi muda. Kejahatannya sungguh besar serupa dengan pemberontakan atau pembunuhan.

Baca juga: Sistem Sekuler Gagal Menjaga Generasi

Khatimah

Dalam Islam mengkonsumsi zat yang memabukkan itu diharamkan sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
"Setiap yang memabukkan adalah khamar, dan setiap yang memabukkan adalah haram."
(HR Muslim No. 2003, dari Ibnu Umar)

Maka untuk menyelamatkan generasi dari bahaya penyalahgunaan narkoba tidak cukup dengan penyuluhan melainkan diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dengan menggantikan sistem sekuler kapitalis ini dengan sistem Islam. Karena penerapan aturan Islam secara komprehensif akan menciptakan keteraturan dan ketenangan hidup. Wallahualam bissawab. []

Sistem Sekuler Gagal Menjaga Generasi

Generasi muda akan lepas dari jerat peredaran narkoba secara tuntas dengan mencabut akar permasalahannya yakni kapitalisme sekuler.

Oleh. Adinda Khoirunnisa’
(Kontributor Narasiliterasi.id & Aktivis Muslimah)

Narasiliterasi.id-Seorang pelajar seharusnya menyibukkan dirinya dengan belajar bukan memperjualbelikan barang haram. Ia hendaknya belajar untuk menjadi pribadi baik yang bermanfaat untuk nusa dan bangsa. Bangsa ini akan menjadi bangsa yang hebat bergantung di pundak mereka. Namun, kondisi memprihatinkan terjadi di negeri ini, yakni Tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba Polresta Kendari meringkus pelajar berinisial HS (19) di ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara. Petugas menemukan puluhan paket sabu-sabu yang tersebar di berbagai tempat. (suarasultra.com, 31-3-2026)

Sementara itu, dua warga Desa Kangga, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), berinisial SH (26) dan KF ditangkap polisi saat hendak mengedarkan sabu yang disembunyikan di dalam tanah di samping rumah. SH Adalah seorang pengangguran sementara KF masih berstatus pelajar. (detik.com, 2-4-2026)

Sekularisme Biang Kerusakan

Maraknya kasus pelajar terlibat dalam peredaran narkoba, khususnya sabu, menjadi fenomena yang mengkhawatirkan. Kondisi ini disebabkan karena diterapkan sistem sekuler kapitalisme di negeri ini. Sekularisme merupakan sebuah paham pemisahan antara urusan duniawi dan agama. Jadilah negeri ini dalam bertindak mengabaikan aturan agama.

Ketika agama tidak lagi menjadi kompas dalam kehidupan sehari-hari, maka kebijakan tak lagi disesuaikan dengan tuntunan Ilahi. Kurikulum pendidikan yang diberikan kepada pelajar minus aplikasi agama. Pelajaran agama hanya sebatas teori dan ibadah mahda saja. Akibatnya, hilanglah nilai-nilai ketakwaan dalam diri generasi muda kita.

Perilaku pelajar tidak lagi diukur berdasarkan syariat Islam. Ancaman siksa api neraka tidak lagi ditakuti. Sementara itu, kehidupan hedonis buah penerapan sistem kapitalis memengaruhi pola pikir pelajar. Mereka melihat narkoba sebagai jalan pintas untuk mendapatkan uang dan kesenangan sesaat.

Dalam menyelesaikan kasus hukum peredaran narkoba juga tampak tidak efektif. Publik hanya melihat pengguna kecil yang dihukum, sementara aktor (bandar) sulit ditemukan. Hal ini ibarat menebang ranting tanpa mencabut akar pohon. Maka, kasus peredaran narkoba akan tetap ada selama hukum hanya tebang pilih.

Islam Selamatkan Generasi dari Jerat Narkoba

Penyelamatan generasi muda dari jerat peredaran narkoba akan tuntas dengan mencabut akar permasalahannya yakni kapitalisme sekuler, kemudian menggantinya dengan sistem Islam. Islam adalah agama yang sempurna, tidak hanya mengatur masalah ibadah mahda saja.

Islam adalah agama yang mempunyai seperangkat aturan yang mengatur semua aktivitas kehidupan manusia. Mulai urusan pribadi hingga urusan negara. Semua itu terbukti bahwa penerapan Islam secara kaffah oleh Rasulullah dan khalifah-khalifah setelahnya telah berhasil menyejahterakan.

Sistem Islam juga telah terbukti mampu melahirkan generasi berkualitas yang memiliki kepribadian Islam, pola pikir Islam, dan pola sikap Islam. kurikulum pendidikan yang digunakan berasaskan pada hukum Allah, yakni Al-Qur'an dan hadis. Islam telah berhasil melahirkan banyak ilmuwan dan para ulama seperti Imam Syafi'i, Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Maliki dan masih banyak lagi.

Tiga Pilar Penjaga

Sistem pendidikan Islam memiliki tujuan khas yang berbeda dengan sistem sekuler. Tujuannya bukan hanya menciptakan manusia yang cerdas secara kognitif, tetapi membentuk pribadi generasi sebagai hamba Allah yang berkepribadian Islam. Generasi yang pola pikir dan pola sikapnya disesuaikan dengan Islam.

Ketakwaan terhadap Allah Swt. akan menjadikan pelajar semangat menjadi pribadi yang baik. Rasulullah saw. Bersabda,

”Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: (salah satunya) … pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah …” (HR. Bukhari)

Keluarga juga memiliki tanggung jawab dalam mencetak generasi yang bertakwa. Sebelum anak mengenal sekolah, ia sudah mengenal keluarga. Karena itu Islam menempatkan orang tua sebagai penanggung jawab utama. Allah berfirman:

“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Peran ini menuntut orang tua bersungguh-sungguh dalam mendampingi dan mendidik anak-anaknya. Anak tidak hanya hidup di rumah dan sekolah. Ia tumbuh di tengah masyarakat. Jika lingkungannya rusak, maka pendidikan di rumah dan sekolah bisa runtuh. Karena itu Islam mewajibkan masyarakat berperan aktif menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan generasi.

Baca juga: Generasi Kuat, Negara Bermartabat

Caranya dengan menjaga pergaulan. Masyarakat Islam tidak membiarkan pergaulan bebas, seperti khalwat, ikhtilat, tontonan pornografi, minuman keras, dan narkoba beredar terbuka. Lebih dari itu, masyarakat menjalankan kewajiban amar makruf nahi mungkar. Ketika melihat kemungkaran.

Sanksi hukum yang tegas juga diperlukan dalam mengatasi problematika yang terjadi. Islam juga melarang keras untuk menjual atau membeli minuman khamar. Pemberantasan narkoba akan benar-benar dilakukan karena merupakan bagian dari penjagaan akal.

Penerapan sistem sanksi juga sangat tegas. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau pelanggaran syariat akan ditindak dengan tegas tanpa terkecuali. Sanksi dalam Islam berfungsi sebagai penebus dosa pelaku dan sebagai pencegah munculnya pelaku baru. Jadi kembali kepada Islam dengan diterapkannya syariat Islam secara kaffah adalah solusi untuk menyelamatkan generasi. Wallahualam bissawab. []

Krisis BBM di Tengah Gejolak Global

Dengan penerapan sistem Islam, pengelolaan energi (BBM) tidak hanya berorientasi pada stabilitas jangka pendek, tetapi juga pada kedaulatan dan kesejahteraan umat secara berkelanjutan.

Oleh. A. Mutoharo, S.M
(Kontributor NarasiLiterasi.Id)

NarasiLiterasi.Id-Gejolak global kembali berdampak pada sektor energi nasional. Gangguan distribusi minyak dunia, khususnya di Selat Hormuz, memicu lonjakan harga BBM nonsubsidi di dalam negeri. Di sisi lain, pemerintah memastikan bahwa BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan harga. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan situasi yang tidak sepenuhnya stabil.

Di berbagai daerah, masyarakat harus menghadapi antrean panjang hingga berjam-jam demi mendapatkan BBM. Bahkan, tidak sedikit yang terpaksa membeli BBM secara eceran dengan harga tinggi. Situasi ini diperparah oleh terganggunya distribusi akibat kapal tanker milik Pertamina yang masih tertahan di jalur strategis global. (Kompas.id, 2026)

Dalam merespons kondisi tersebut, pemerintah mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menambal subsidi BBM agar harga tetap terjangkau. Namun, kebijakan ini bukan tanpa batas. Ketika harga minyak dunia terus meningkat, kemampuan APBN untuk menopang subsidi diperkirakan hanya mampu bertahan dalam waktu terbatas, bahkan hanya beberapa minggu. (Sumber: Setkab.go.id, 2026)

Selain itu, pemerintah juga mulai melakukan langkah-langkah penghematan, seperti penerapan work from home (WFH), pembatasan pembelian BBM untuk kendaraan roda empat, serta pengurangan aktivitas tertentu. Kebijakan ini menjadi indikasi bahwa tekanan terhadap sektor energi nasional semakin nyata. (Sumber: Antara News, 2026)

Ketergantungan Pasokan BBM

Kondisi ini menempatkan pemerintah dalam posisi dilematis. Jika harga BBM dinaikkan, maka inflasi berpotensi meningkat dan memicu gejolak sosial. Bahkan, dalam kondisi saat ini saja, ketika harga BBM bersubsidi belum naik, antrean panjang sudah terjadi di berbagai daerah. Namun, jika harga tetap dipertahankan, maka beban subsidi akan semakin membebani APBN dan berisiko memperlebar defisit anggaran negara.

Lebih jauh, situasi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih berada dalam posisi rentan sebagai negara net importir minyak. Ketergantungan pada pasokan BBM dari luar negeri membuat stabilitas energi dalam negeri sangat dipengaruhi oleh dinamika global.

Ketika terjadi gangguan distribusi atau kenaikan harga di pasar internasional, dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat. Akibatnya, gonjang-ganjing harga minyak tidak hanya menyulitkan masyarakat dalam mendapatkan BBM, tetapi juga mempersempit akses terhadap harga yang terjangkau. Dalam jangka yang lebih luas, kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

Situasi ini menjadi gambaran nyata dari sebuah negeri yang masih bergantung pada impor komoditas strategis. Ketika ketergantungan tersebut tidak diselesaikan, maka gejolak global akan terus berulang dan mengguncang stabilitas ekonomi maupun politik dalam negeri.

Baca juga: Gejolak BBM di Tengah Perseteruan Global

Kemandirian dalam Islam

Dalam perspektif Islam, kemandirian energi merupakan sesuatu yang niscaya dan dapat diwujudkan. Hal ini akan tercapai ketika negeri-negeri muslim terintegrasi dalam satu kepemimpinan, yakni Khilafah. Dengan sistem ini, sumber daya minyak yang melimpah di kawasan Timur Tengah, termasuk di negara seperti Iran, dapat didistribusikan secara merata ke seluruh wilayah. Dengan kemandirian tersebut, negara tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar, sehingga mampu berdiri sebagai negara yang independen, bahkan berpotensi menjadi kekuatan adidaya. Stabilitas ekonomi dan politik pun tidak mudah terguncang oleh sentimen global.

Di sisi lain, Islam juga mengatur penggunaan energi secara bertanggung jawab. Pemanfaatan BBM dilakukan sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan, tanpa mengorbankan pelayanan publik maupun kewajiban negara. Selain itu, negara juga tetap mengembangkan sumber energi alternatif, seperti energi nuklir dan sumber lainnya, guna memastikan keberlanjutan pasokan energi.

Karena itu, gonjang-ganjing BBM yang terjadi saat ini bukan sekadar persoalan kenaikan harga atau antrean panjang. Ini adalah cerminan dari rapuhnya sistem energi yang masih bergantung pada pihak luar. Selama ketergantungan ini tidak diatasi, maka krisis serupa akan terus berulang.

Khatimah

Solusi mendasar terletak pada perubahan sistem yang mampu mewujudkan kemandirian energi secara menyeluruh. Dengan penerapan sistem Islam, pengelolaan energi (BBM) tidak hanya berorientasi pada stabilitas jangka pendek, tetapi juga pada kedaulatan dan kesejahteraan umat secara berkelanjutan.

Tak Aman: Sekularisme Gagal Lindungi Anak

Kekerasan terhadap anak terus terjadi setiap hari, bahkan meningkat. Lingkungan kini tak aman untuk anak.

Oleh. BunQii
(Kontributor NarasiLiterasi.Id)

NarasiLiterasi.Id-Berita itu datang lagi. Seorang anak menjadi korban kekerasan. Bukan oleh orang asing, bukan pula oleh musuh yang datang dari luar. Melainkan oleh orang-orang yang seharusnya menjadi benteng perlindungan pertamanya yaitu keluarga sendiri.

Seperti dilansir dari radarkarawang.id, seorang anak perempuan berusia tujuh tahun di Kecamatan Purwasari, kabarnya jadi korban kekerasan ayah tiri sendiri. Anak tersebut mengalami luka lebam di bagian mata dan benjolan di kepala. Pelaku berinisial S (30) telah polisi amankan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kapolres Karawang, AKBP Fiki N. Ardiansyah melalui Kasi Humas Ipda Cep Wildan mengatakan, peristiwa memilukan ini terungkap pada Jumat (27-03) sekitar pukul 17.30 Wib.

Inilah potret yang terus berulang. Bukan kebetulan. Bukan pula sekadar kasus individual yang lahir dari kegilaan sesaat. Ini adalah buah pahit dari sebuah sistem yang telah lama kita rawat, yakni sistem sekularisme yang dengan bangga memisahkan kehidupan dari nilai-nilai agama.

Baca juga: ‎Menelisik SKB Kesehatan Jiwa Anak

Sekularisme dan Keluarga yang Kehilangan Arah

Sekularisme tidak hanya soal pemisahan agama dari negara dalam tataran politik. Ia merasuk jauh lebih dalam, hingga ke ruang-ruang paling privat seperti kamar tidur, meja makan, dan pola asuh orang tua terhadap anak. Ketika agama disingkirkan dari kehidupan keluarga, yang tersisa hanyalah ego, tekanan ekonomi, dan frustasi tanpa arah.

Orang tua yang seharusnya menjadi pelindung berubah menjadi ancaman. Kepala keluarga yang semestinya menjadi pemimpin berubah menjadi penekan. Ini bukan karena mereka manusia jahat sejak lahir. Ini karena sistem telah gagal mendidik mereka tentang apa artinya menjadi orang tua, apa artinya menjadi pelindung, dan apa tanggung jawab mereka di hadapan Sang Pencipta.

Islam tidak pernah membiarkan keluarga berjalan tanpa panduan. Ada aturan yang jelas tentang hak anak, kewajiban ayah, peran ibu, dan tanggung jawab kepala keluarga. Namun, justru nilai-nilai inilah yang paling pertama disingkirkan oleh narasi sekularisme modern yang mengatasnamakan kebebasan.

Negara yang Absen, Hukum yang Mandul

Negara kita memiliki banyak undang-undang perlindungan anak. Lembaga-lembaga perlindungan anak pun tidak sedikit. Namun, kekerasan terhadap anak terus terjadi setiap hari, bahkan meningkat. Mengapa?

Karena negara hadir hanya di hilir, bukan di hulu. Negara sibuk menghukum pelaku setelah kejahatan terjadi, tetapi absen dalam mendidik masyarakat sebelum kejahatan itu lahir. Tidak ada kurikulum serius tentang pola asuh Islami. Tidak ada pembinaan sistematis bagi calon orang tua. Dan tidak ada dorongan negara agar lembaga keluarga dibangun di atas fondasi nilai agama yang kokoh.

Lebih parah lagi, hukum sekuler kapitalis yang berlaku terbukti tidak mampu menimbulkan efek jera. Pelaku kekerasan terhadap anak kerap mendapat hukuman ringan, bahkan kadang bebas dengan berbagai dalih. Sementara anak-anak korban menanggung luka seumur hidup. Sistem hukum yang lahir dari rahim sekularisme ini memang tidak dirancang untuk menegakkan keadilan sejati. Ia lebih sibuk melindungi prosedur daripada melindungi nyawa.

Tambal Sulam Bukan Jawaban

Setiap kali kasus kekerasan anak viral, respons yang muncul selalu sama: buat hotline baru, revisi undang-undang, bentuk satgas baru, atau kampanye kesadaran di media sosial. Semua itu tidak salah, tetapi semua itu hanya menambal lubang pada kapal yang memang sudah bocor dari dasarnya.

Umat ini membutuhkan solusi yang tuntas dan menyeluruh, bukan sekadar respons reaktif yang bersifat parsial. Permasalahan kekerasan terhadap anak bukan sekadar persoalan hukum. Ia adalah persoalan sistem yakni sistem keluarga, sistem pendidikan, sistem sosial, dan sistem hukum yang semuanya harus bekerja dalam satu kerangka nilai yang koheren.

Hanya Islam yang memiliki kerangka menyeluruh itu. Islam mengatur institusi keluarga dari akarnya seperti bagaimana memilih pasangan, bagaimana mendidik anak sejak dalam kandungan, bagaimana membangun rumah tangga yang sakinah, dan bagaimana negara wajib hadir memastikan semua itu berjalan. Islam juga memiliki sistem hukum yang memberikan keadilan nyata, bukan sekadar prosedural, yang memberikan efek jera sesungguhnya bagi para pelaku kejahatan.

Sistem Islam adalah Solusi

Anak-anak kita bukan sekadar statistik dalam laporan tahunan lembaga negara. Mereka adalah amanah, generasi yang akan mewarisi bumi ini. Dan kita, sebagai umat, sebagai masyarakat, dan sebagai bangsa, akan dimintai pertanggungjawaban atas bagaimana kita melindungi mereka.

Sudah saatnya kita jujur, sistem yang ada sekarang telah gagal. Bukan gagal sedikit, melainkan gagal secara fundamental. Dan kejujuran itu menuntut kita untuk berani menyebut solusi yang sesungguhnya, yaitu kembali kepada sistem Islam yang komprehensif, yang memandang perlindungan anak bukan sebagai program, melainkan sebagai kewajiban peradaban.

Karena anak-anak yang menangis hari ini adalah cermin dari pilihan sistem yang kita buat kemarin.

Wallahualam bissawab. []

Koperasi Merah Putih, Mampukah Atasi Pengangguran?

Program koperasi merah putih yang terlihat begitu bagus dan menjanjikan nyatanya bertentangan dengan syariat Islam karena termasuk praktik ribawi. Meski mayoritas penduduknya beragama Islam, tapi kebijakan yang dikeluarkan tidak Islami.

Oleh. Mulyaningsih
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-Kemiskinan dan pengangguran menjadi salah satu persoalan di negeri ini yang belum dapat diselesaikan dengan baik. Bahkan angka pengangguran sendiri kian tahun makin meningkat. Walaupun berbagai upaya terus dilakukan, tetapi ternyata belum mampu memutus rantai persoalan pengangguran.

Salah satu upaya yang kembali dilakukan oleh pemerintah adalah dengan mendorong masyarakat untuk membentuk Koperasi Desa Merah Putih. Dengan adanya koperasi tersebut diharapkan mampu menjadi wadah pemberdayaan ekonomi sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa.

Pemerintah menargetkan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih di berbagai wilayah dengan jumlah ribuan. Diharapkan dengan ada program ini dapat menggerakkan roda ekonomi desa. Dengan aktivitas usaha yang dilakukan seperti layanan keuangan, menjual kebutuhan pokok, serta pengelolaan hasil pertanian. Diharapkan seluruh masyarakat desa terlibat langsung dan aktif dalam kegiatan koperasi tersebut, tak lupa masuk menjadi anggotanya.

Sebagaimana yang telah dilakukan oleh pemerintah Kota Serang dalam memperkuat peran koperasi sebagai penggerak ekonomi rakyat. Pemerintah daerah memfasilitasi kerja sama antara Koperasi Merah Putih dengan berbagai pihak ketiga untuk membuka peluang kerja yang lebih luas bagi masyarakat setempat. Langkah ini adalah bagian strategi untuk menekan pengangguran serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. (bantennews.com, 19-03-2026)

Program Kapitalistik

Sepintas, program koperasi merah putih yang terlihat begitu bagus dan menjanjikan sekaligus menjadi angin segar atas persoalan pengangguran yang membelit masyarakat. Tentunya kita harus melihat serta mendalami kembali terkait dengan koperasi ini, sebab dari yang sudah ada saja masih banyak persoalan yang ditimbulkan. Mulai dari persoalan kurangnya modal, manajemen pengelolaan yang masih rendah, dan rendahnya SDA pengelolanya. Dengan setidaknya tiga persoalan tersebut akhirnya koperasi yang ada hanya mampu berjalan secara administratif saja. Alhasil, tak sedikit yang akhirnya terhenti dan hanya tersisa namanya saja.

Berkaca pada gambaran di atas, maka ada baiknya ketika mengeluarkan kebijakan harus dipikirkan secara mendalam. Jangan sampai sudah berjalan, ternyata justru kebijakan tersebut menjadi persoalan baru bagi masyarakat. Termasuk memikirkan lebih jauh lagi bahwa masyarakat di negeri ini mayoritas beragama Islam, tentunya ini menjadi skala prioritas utama yang seharusnya menjadi pijakan atas segala kebijakan yang ada. Jangan malah berseberangan dengan aturan yang ada di dalam Islam.

Oleh karena itu, pemerintah seharusnya tak berfokus untuk segera menyelesaikan persoalan yang ada tanpa memandang konsep agama (baca: Islam) ketika mengeluarkan suatu kebijakan. Karena pada dasarnya umat juga ingin melaksanakan Islam dalam tanah kehidupan mereka. Tujuannya tak lain agar keberkahan dalam hidup bisa mereka rasakan juga.

Praktik Riba pada Koperasi Merah Putih

Berkaitan dengan sesuatu yang melanggar dari hukum syarak, maka umat sebenarnya ingin menjauh dan tidak bersentuhan lagi dengannya. Sebagaimana perkara riba yang masih diambil untuk menjalankan roda koperasi menjadi sesuatu yang diperhatikan bagi masyarakat. Padahal umat sendiri menginginkan hidup berkah dan jauh dari perkara riba.

Berbicara soal riba, maka itu adalah perkara yang terwujud karena sistem yang ditetapkan saat ini. Kapitalis sekuler menjadikan segala macam cara diperbolehkan dan menjadi sah (baca: halal) saja bagi mereka. Tolok ukur yang mereka mainkan adalah akal pikiran manusia dan menjadikan manfaat serta cuan adalah hal utama.

Nah, kloplah sudah di antara asas manfaat serta tak membawa agama dalam urusan keduniawian manusia. Sehingga amat wajar sekali jika riba menjadi sesuatu yang sah dan diperbolehkan saja. Pandangan tersebut adalah yang dimiliki hampir setiap manusia. Inilah buah dari penerapan sistem kapitalis sekuler. Imbasnya manusia tak lagi memikirkan halal haram serta tak lagi mengacu pada ranah agama.

Paradigma Islam

Islam memandang bahwa persoalan halal haram menjadi satu konsekuensi yang harus dijalankan secara sempurna oleh kaum muslim. Maka ia berkewajiban untuk terikat terhadap Islam (baca: hukum syarak) dalam menjalankan setiap aktivitas dalam kehidupannya. Termasuk jika sebagai seorang yang mempunyai kekuasaan sebagai amanahnya maka ia harus berhati-hati dalam mengeluarkan berbagai kebijakan untuk masyarakat.

Kebijakan yang ada harus sesuai dengan hukum syarak. Artinya harus sesuai dengan perintah dan larangan dari Allah Swt. bukan yang lainnya. Inilah konsep yang harus dimiliki oleh setiap insan yang mengaku muslim, baik ia mempunyai amanah kekuasaan atau tidak. Karena setiap yang dikeluarkan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di yaumil akhir.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam (kepala negara) adalah pemimpin manusia secara umum dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka."
(HR. Bukhari)

Pemimpin yang Amanah

Ketika pemimpin negeri ini mau berkaca pada Islam, maka segala persoalan yang ada dapat diatasi dengan sempurna. Namun, kuncinya adalah keimanan dan ketakwaan harus menjadi nomor satu. Negara, dalam hal ini pemerintah jika ingin mengurai persolan lapangan kerja maka dapat mengelola langsung SDA yang ada di negeri ini. Jangan menyerahkannya kepada pihak swasta, baik asing atau dalam negeri.

Kemudian pemerintah bisa juga mengembangkan berbagai sektor yang ada. Misalnya, sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, industri, atau sektor lainnya yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Baca juga: Air Menjadi Komoditas Bisnis dalam Kapitalisme

Hak Kepemilikan

Pembagian terkait dengan hak kepemilikan juga harus benar dan sesuai dengan hukum syarak. Dengan begitu, maka pengelolaan SDA dengan kepemilikan umum mampu dioptimalkan dengan baik. Pengelolaannya diserahkan secara pasti kepada negara dan dikembalikan hasilnya untuk seluruh masyarakat. Dengan begitu, maka insyaAllah lapangan pekerjaan akan bertambah dan mampu menyerap tenaga kerja yang menganggur.

Hal lainnya adalah, pemerintah dalam hal ini akan memberikan pelatihan-pelatihan untuk para pencari nafkah. Dengan adanya keahlian maka mereka mampu berusaha untuk mendapatkan uang (nafkah) untuk keluarganya. Keahlian tersebut bisa berupa bengkel, servis alat elektronik, menjahit, memijat, dan lainnya. Selain itu, negara juga mempunyai visi bahwa setiap industri yang muncul adalah industri besar yang mampu memperkuat negara. Dalam hal ini tentu mengacu pada industri alat berat serta persenjataan untuk perang. Dengan begitu, banyak tenaga kerja yang terserap untuk menjalankan industri besar yang dimiliki negara.

Khatimah

Alhasil, satu hal yang wajib ada ketika ingin menyelesaikan persoalan hidup manusia yaitu jadikan Islam sebagai pedoman dan aturan hidup. InsyaAllah dengan penerapan Isla secara sempurna membuat keberkahan akan dirasakan oleh semua orang termasuk makhluk Allah lainnya. Dan harus ada institusi yang mau menerapkan Islam secara sempurna dan menyeluruh dalam kehidupan manusia. Ialah Daulah Islam yang akan menjaga umat dari berbagai persoalan kehidupan.

Wallahualam bissawab. []

Nestapa Gaza di Bulan Syawal

Warga Gaza merayakan Idul Fitri di tengah reruntuhan dan tenda darurat. Nestapa mereka terus berlanjut sementara dunia makin abai terhadap Palestina.

Oleh. Hanny N.
(Kontributor NarasiLiterasi.Id
)

NarasiLiterasi.Id-Satu Syawal yang berarti Idulfitri seharusnya menjadi hari kemenangan. Hari ketika umat Islam merayakan berakhirnya puasa sebulan penuh dengan penuh sukacita, berkumpul bersama keluarga, saling memaafkan, dan menyambung tali silaturahmi. Namun, di Gaza Idulfitri kembali dirayakan dalam suasana duka.

Kota yang dahulu hidup kini menjadi hamparan puing dan debu. Rumah-rumah rata dengan tanah, masjid dihancurkan, jalan-jalan berubah menjadi tenda-tenda darurat, dan setiap keluarga kehilangan orang yang mereka cintai. (minanews.net, 20-03-2026)

Sementara umat Islam di berbagai belahan dunia mengenakan pakaian terbaik mereka, warga Gaza menjalani hari raya dengan pakaian yang penuh debu, tubuh lelah karena kurang makan, dan hati yang remuk oleh kehilangan demi kehilangan. Tidak ada takbir yang bergema meriah; yang terdengar justru suara drone, pesawat tempur, dan tangisan anak-anak yang mencari orang tua mereka di antara reruntuhan.

Syawal di Gaza, Idulfitri di tengah kuburan kota. Namun, meski di bawah reruntuhan, mereka tetap bertakbir, sebuah kesaksian bahwa iman tetap hidup saat dunia hampa dari keadilan.

Duka yang Tak Berujung

Setiap musim Idulfitri, berita tentang Gaza selalu sama, kesedihan yang tidak pernah berhenti. Tahun ini, warga Gaza merayakan hari raya di tengah puing gedung-gedung hancur, tenda-tenda darurat yang sesak, minimnya makanan dan air, hilangnya anggota keluarga, dan trauma serangan yang tiada henti.

Untuk sebagian orang, Idulfitri berarti kembali berkumpul. Tetapi bagi rakyat Gaza, Idulfitri berarti menghitung kembali berapa banyak keluarga yang sudah tidak utuh lagi. Dan dunia, terutama dunia Islam, seakan semakin terbiasa dengan berita derita warga Palestina.

Mengapa Penderitaan Gaza Makin Terlupakan?

Belakangan, perhatian Amerika Serikat dan Israel bergeser pada konflik dan ketegangan dengan Iran. Dengan narasi “pertahanan regional” dan “stabilitas Timur Tengah”, kedua negara itu kembali memainkan panggung politik internasional. Gaza, yang sudah lama menjadi korban kolonialisme Zionis, semakin tersisih dari fokus global. Kesengsaraan mereka tidak lagi menjadi sorotan utama, justru tertutup oleh kepentingan geopolitik baru. Padahal luka Gaza tidak pernah berhenti berdarah.

Yang lebih memilukan adalah sikap sebagian negara Arab yang justru menjalin aliansi militer dengan Barat, membuka kerja sama pertahanan dengan AS, bahkan ikut serta dalam operasi yang menargetkan Iran, sembari tetap menjaga hubungan diplomatik dengan Israel.

Sementara itu Gaza dibiarkan sendirian. Alih-alih menjadi tameng bagi rakyat Palestina, sebagian negeri Arab justru ikut memperkuat poros kekuatan yang selama ini melindungi penjajahan Israel. Ini adalah ironi paling menyakitkan bagi umat Islam hari ini.

Gaza Harusnya Menjadi Luka Seluruh Umat Islam

Kesedihan Gaza bukan hanya kesedihan mereka. Dalam Islam, umat ini adalah satu tubuh. Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi dan menyayangi adalah seperti satu tubuh…”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jika satu bagian terluka, seluruh tubuh merasakan sakit. Maka ketika saudara kita di Gaza menangis pada hari raya, seharusnya dunia Islam ikut menangis. Ketika anak-anak Gaza kehilangan keluarga, kita seharusnya merasa kehilangan. Ketika mereka salat Id di atas reruntuhan masjid, kita seharusnya merasa masjid kita pun runtuh.

Namun, hari ini tubuh umat ini seperti mati rasa. Luka Gaza tidak lagi membuat bangsa-bangsa Muslim berguncang.

Dunia sering berbicara tentang “proses perdamaian”, tetapi kenyataannya tidak ada prioritas untuk kemerdekaan Palestina, tidak ada komitmen menghentikan penjajahan, tidak ada upaya menghentikan agresi terhadap warga sipil. Yang ada hanya hegemoni, kontrol wilayah, dan perluasan kekuasaan.

Bagi Israel, Gaza adalah proyek kolonial.
Bagi AS, Palestina hanyalah “isu samping” dalam permainan politik global.

Baca juga: Gaza: Matinya Hukum Internasional

Umat Harus Bersatu

Islam memerintahkan kasih sayang kepada muslim dan keras terhadap penjajah. Allah Ta’ala berfirman, “Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (penjajah), namun berkasih sayang kepada sesama mereka.” (QS. Al-Fath: 29)

Ayat ini menegaskan identitas umat Islam lembut, penuh rahmat, dan melindungi saudara muslim, tetapi tegas, keras, dan tidak tunduk kepada penjajah.

Hari ini, keadaan terbalik. Umat Islam justru lembut kepada penjajah dan keras kepada saudaranya sendiri. Persaudaraan iman bukan slogan spiritual. Ia adalah prinsip politik dan syariat yang mengikat seluruh dunia Islam.

Umat Islam wajib membebaskan penderitaan saudaranya. Tidak boleh ada batas negara, bendera, dan kepentingan nasional sempit yang menghalangi.

Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kalian dan hendaklah mereka mendapati kekerasan dari kalian.” (QS. At-Taubah: 123)

Ayat ini bukan hanya seruan perang, tetapi seruan perlindungan umat. Jika seruan ini ditegakkan, Palestina tidak akan dibiarkan sendirian.

Sepanjang sejarah Islam, Palestina hanya bisa dibebaskan ketika negara Islam bersatu di bawah satu kepemimpinan Umar bin Khaththab membebaskan al-Quds, Salahuddin al-Ayyubi mengembalikan Yerusalem, Utsmani menjaga Palestina berabad-abad. Tidak ada satu pun pembebasan Palestina yang terjadi tanpa kekuatan negara Islam yang bersatu.

Karena itu, jihad yang benar untuk membebaskan Palestina hanya dapat dilakukan oleh Khilafah ‘ala minhāj an-nubuwwah, negara yang menyatukan umat Islam di bawah satu bendera, satu pemimpin, dan satu kekuatan militer.

Selama negeri-negeri Muslim terpecah, Gaza akan terus disayat oleh pedang musuh.

Idulfitri Gaza adalah Cermin Kelemahan Umat Hari Ini

Idulfitri di Gaza adalah hari raya yang dipenuhi air mata. Bukan karena mereka lemah, tetapi karena umat Islam di seluruh dunia belum bangkit menjadi penolong mereka.

Dunia boleh berpaling dari Gaza. Negara-negara Arab boleh lupa dan sibuk dengan aliansi politik. AS dan Israel boleh mengalihkan fokus ke Iran. Namun, penderitaan rakyatnya tetap nyata dan menjadi ujian bagi kita. Sampai kapan umat Islam membiarkan Idulfitri dirayakan di atas reruntuhan?

Sampai kapan anak-anak Gaza salat Id di antara puing dan darah? Dan sampai kapan dunia Islam diam, sementara saudara kita dibunuhi?

Gaza tidak butuh doa saja. Namun, Gaza butuh persatuan dan pasti butuh Khilafah. Jika umat ini kembali bersatu, maka bukan hanya Gaza yang merdeka, dunia pun akan menyaksikan kebangkitan umat yang pernah memimpin dengan keadilan.

Wallahualam bissawab. []