Benarkah Flyover Solusi Kemacetan?

Benarkah Flyover Solusi Kemacetan?

Pembangunan flyover bukanlah solusi untuk mengurai kemacetan. Masyarakat banyak sebenarnya lebih membutuhkan layanan transportasi publik yang murah, nyaman, dan dapat menjangkau semua pemukiman.

Oleh. Eka Mas Supartini
(Kontributor Narasiliterasi.id)

Narasiliterasi.id-Hari-hari ini kemacetan seolah menjadi hal yang lumrah ditemui di Kabupaten Bandung dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Bupati Kabupaten Bandung Dadang Supriatna mengatakan, "Kalau ada flyover Bojongsoang, warga bisa lebih lancar bepergian menuju Ciparay dan Baleendah tanpa terhambat kemacetan." (ayobandung.com, 25-12-2024)

Kemacetan Tidak Pernah Usai, Kenapa?

Kemacetan yang terus terjadi dan dirasa semakin parah hampir di setiap kota besar di Indonesia. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya layanan transportasi publik yang disediakan pemerintah. Banyak masyarakat yang terpaksa menggunakan kendaraan pribadi terutama sepeda motor sehingga menjadikannya begitu banyak memenuhi jalanan. Akibatnya kemacetan tak terelakkan.

Bukan hanya itu, aturan berlalu lintas dan tidak tegas penegakan aturannya juga menjadi faktor lain penyebab terjadinya kemacetan. Hal ini dapat kita lihat dan rasakan setiap hari ketika banyaknya angkutan kota (angkot) yang parkir dan berhenti di sembarang tempat sehingga menambah panjang kemacetan yang terjadi.

Benarkah Kita Membutuhkan Flyover?

Jika dilihat dari fakta yang ada, ketika pemerintah memperbanyak jalanan dengan membangun flayover, tetap tidak akan cukup untuk menyelesaikan masalah kemacetan. Kendaraan pribadi yang ada di jalanan akan tetap banyak. Inilah salah satu penyebab kemacetan tetap terjadi.

Pembangunan flyover juga tidak dapat dirasakan oleh semua kalangan. Namun hanya dapat dirasakan oleh mereka yang memliki kendaraan pribadi saja dikarenakan jangkauan wilayahnya tidak banyak. Bagi masyarakat kecil pengguna angkutan umum (angkot) tetap akan merasakan kemacetan dan kesusahan jika bepergian ke daerah yang tidak terjangkau oleh trayek angkutan umum tersebut.

Pembangunan flyover bukanlah solusi untuk mengurai kemacetan. Masyarakat banyak sebenarnya lebih membutuhkan layanan transportasi publik yang murah, nyaman, dan dapat menjangkau semua pemukiman. Rakyat pun lebih membutuhkan fasilitas infrastruktur publik lainnya yang terjangkau bahkan kalau bisa gratis. Seperti pasar, sekolah, tempat pelayanan kesehatan, dan lain sebagainya.

Baca juga: Jembatan Rusak, Tanggung Jawab Siapa?

Kapitalisme Akar Terjadinya Kemacetan

Pembangunan tidak semestinya dikeluarkan tanpa perhitungan yang matang dan tanpa kajian yang mendalam. Baik dari segi manfaat bagi masyarakat banyak atau pun dampak lingkungan yang akan ditimbulkan.

Namun tak sedikit di saat ini kebijakan pembangunan diambil dan diberlakukan karena dirasa dapat memberikan keuntungan materi yang bayak. Hal ini adalah salah satu ciri khas dari sistem kapitalisme.

Dalam sistem kapitalisme, setiap kebijakan harus dapat memberi keuntungan materi sebanyak-banyaknya bagi para kapitalis atau para pemilik modal. Hal tersebut dilakukan tanpa memerhatikan keburukan dan dampak negatif yang akan ditimbulkan di kemudian hari. Dikarenakan tujuannya adalah mencari keuntungan materi sebanyak-banyaknya maka keamanan dan kenyamanan masyarakat bukan prioritas utama.

Untuk persoalan kemacetan pun dan serampangannya kebijakan pemerintah terjadi akibat dari tata kota dan pengelolaannya yang diserahkan kepada para kapitalis di mana tentu asasnya untung rugi, bukan maslahat rakyat banyak. Sayangnya, dalam hal ini pemerintah seolah abai dengan tugasnya sebagai pelayan rakyat yang salah satu kewajibannya adalah menjamin keamanan dan kenyamanan rakyatnya.

Pandangan Islam Menyelesaikan Kemacetan

Faktanya kemacetan terus-menerus dirasakan dan dikeluhkan oleh masyarakat hampir di setiap kota, bahkan kian hari semakin parah. Lalu pemerintah memberikan solusi untuk membangun flyover, tentu ini tidaklah cukup.

Dalam Islam, pemimpin adalah pengurus urusan umat, pelayan umat. Mereka berkewajiban menjamin keamanan dan kenyamanan rakyatnya. Hal tersebut sesuai dengan terjemah Al-Qur'an surah An-Nisa ayat 58 yaitu, "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Maka dari itu, dalam Islam kewajiban seorang pemimpin adalah mengurusi umat, melayani dengan baik, serta menjalankan amanah dari pemiliknya yaitu Allah Swt. Agar kemacetan tidak terus terjadi, dalam Islam dilakukan kajian mendalam dan tuntas untuk melihat akar masalahnya agar solusi yang diambil tepat.

Islam memandang bahwa keamanan dan kenyamanan masyarakatnya dalam beraktivitas ditujukan guna mendekatkan diri kepada Allah. Baik itu dalam melakukan ritual ibadah atau pun dalam bermuamalah, kebutuhan masyarakat terkait hal ini dijamin oleh pemerintah. Setiap kebijakan yang dikeluarkan akan menjadikan umat sebagai prioritasnya.

Namun, bukan hanya menyelesaikan masalah hingga ke akar masalahnya saja. Islam pun memberi pandangan bahwa ketika mengeluarkan kebijakan selalu memperhatikan aspek preventif, kuratif, dan rehabilitatif agar kejadian tersebut tidak terulang kembali dan meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan di kemudian hari.

Islam mewajibkan negara hadir sebagai pengurus dan pengelola, baik tata kota, segala bentuk kebijakan, dan pembangunan di dalamnya. Rakyat yang hidup di dalamnya pun niscaya akan merasa aman dan nyaman dalam beribadah dan bermuamalah.

Khatimah

Ketika Islam diterapkan dalam institusi negara, kemacetan, polusi udara, susahnya transportasi publik yang aman dan nyaman akan menjadi minim dan akan diusahakan untuk tidak ada lagi karena prioritasnya adalah rakyat. Pemimpin dalam Islam akan senantiasa merasa diawasi oleh pemberi amanahnya yaitu Allah Swt. dan ia sadar bahwa setiap kebijakan yang dikeluarkan akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Para penguasa akan memimpin dengan adil, amanah, dan menjalankan tugasnya sebagai pemimpin yang menjadi pelayan dan pengurus urusan umat.

Dalam sebuah hadis Rasulullah ﷺ bersabda, “Imam adalah raa'in (pengurus) dan ia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya.” (HR. Al-Bukhari)

Wallahualam bissawab.[]

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor Narasiliterasi.id
Eka Mas Supartini Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
Pinjol Ganti Pindar, Sekadar Eufimisme
Next
Qiana, Kakak yang Penuh Kasih Sayang
4.5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram