Gen Z sebagai Agen Perubahan Hakiki

Gen Z sebagai Agen Perubahan Hakiki

Kita harus beritikad membangun kesadaran gen Z akan hakikat hidup sehingga dapat memahami realitas kehidupan dengan tepat.

Oleh. Mardiyah
(Kontributor Narasiliterasi.id)

Narasiliterasi.id-Gen Z makin stres dalam sistem kapitalisme. Terungkap fakta yang sangat mengejutkan bahwa gen Z sedang menghadapi krisis paruh baya (midlife crisis) lebih awal dari semestinya. Sejumlah 38% dari mereka mengalami krisis paruh baya akibat tekanan finansial yang sangat berat. (okezone.com, 18-1-2025)

Di antara penyebab stres gen Z adalah masalah teknologi dan media sosial, tekanan karier dan akademis, politik ekonomi tidak stabil, perubahan sosial dan kultural, serta kurangnya dukungan kesehatan mental. Persoalan yang dihadapi gen Z saat ini adalah buah busuk penerapan kapitalisme yang kedaluwarsa dan rusak. Hal ini terlihat dari diterapkannya sistem ekonomi kapitalis, sistem politik demokrasi, sistem sosial liberal dan materialistik, juga sistem pendidikan mahal, dan lain-lain.

Padahal Indonesia adalah negeri subur dengan kekayaan alam yang melimpah ruah. Sayangnya pengelolaan SDA negeri ini menggunakan sistem ekonomi kapitalis yang membuat ketimpangan sosial yang sangat tajam. Kekayaan alam hanya dinikmati oleh perusahaan atau segelintir oligarki.

Sementara rakyat termasuk gen Z tidak mendapatkan apa-apa dari kekayaan alam tersebut. Untuk mendapatkan pekerjaan pun sangat tidak mudah. Banyak lowongan kerja mensyaratkan S1, tetapi kuliah (dianggap) tidak wajib?

Melejitkan Potensi Gen Z

Masalah kesehatan mental gen Z juga jadi sorotan pengusaha muda Raymond Chin yang karyawannya semuanya dari kalangan gen Z. Pertama, sikap terlalu sensitif terhadap lingkungan professional. Kedua, cenderung menelan mentah-mentah apa kata media. Ketiga, perlu belajar memproses kritik secara profesional dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Namun demikian, masih menurut Raymond Chin kelebihan anak-anak muda tersebut adalah generasi terpintar dan memiliki potensi luar biasa dari generasi-generasi sebelumnya.

Masalah-masalah inilah yang membuat gen Z cenderung rentan stres, akibat sistem yang kapitalis diterapkan hari ini. Maka dari itu, tentu perlu kita upayakan agar gen Z menyadari realitas hari ini dan akar masalahnya.

Kita harus beritikad membangun kesadaran gen Z akan hakikat kehidupan sehingga dapat memahami realitas kehidupan dengan tepat. Di samping itu, dengan ini diharapkan gen Z juga menyadari potensi dirinya.

Generasi muda tersebut harus terus dimotivasi agar mereka menyadari posisinya sebagai hamba Allah dan khalifatullah. Di pundak merekalah tersimpan misi mengelola bumi sesuai syariat-Nya. Hal ini memunculkan kesadaran berupa mengelola bumi dengan meninggalkan syariat-Nya, maka kehidupan di bumi jadi kacau.

Sebagai generasi yang akan mengisi kehidupan di masa depan, mereka harus melek politik Islam agar bisa memimpin umat ke arah perubahan yang benar. Mereka harus mengikuti pembinaan Islam kaffah agar mereka memiliki syaksiyah islamiah. Keimanan dan ketakwaan mereka harus ditumbuhkan.

Gen Z harus 'kenal' dengan Nabi Muhammad dan perjuangannya menegakkan syariat dan Daulah Islam, dan orang-orang yang mengikutinya. Sirah nabawiyah harus mereka kuasai. Karena dengan menguasai sejarah Islam, mereka bisa menduplikasi perjuangan Rasulullah.

Baca juga: Gen Z Berpolitik, Memang Harus?

Belajar dari Sultan Muhammad al-Fatih

Potensi mereka juga harus dilejitkan agar sekualitas Shalahudin Al-ayyubi juga Muhammad al-Fatih. Gen Z juga harus disadarkan akan kemuliaan orang-orang yang memperjuangkan tegaknya syariat Islam kaffah. Kondisi ini akan menjadikan mereka terdorong untuk ikut menjadi bagian barisan pejuang Islam.

Muhammad al-Fatih dilahirkan dari keluarga pejuang. Ayahnya adalah Sultan Murad II, Khalifah ke-6 dari kekhilafahan Turki Usmani. Muhammad al-Fatih adalah seorang sultan penakluk Konstantinopel (sekarang Istanbul) pada tahun 1453.

Pendidikan yang diterimanya sungguh luar biasa. Ayahnya yakni Sultan Murad II percaya bahwa anaknya adalah penakluk Konstantinopel. Ia meyakini hal itu karena ada hadis Nabi yang berbunyi, "Konstantinopel akan ditaklukkan. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin, dan tentara yang menaklukkannya adalah sebaik-baik tentara." (HR. Ahmad dan Muslim)

Setiap pagi Muhammad al-Fatih dibawa ayahnya memperhatikan benteng Konstantinopel dan diyakinkan bahwa dialah penakluknya. Hal itu dilakukan selama bertahun-tahun sehingga terbentuk keyakinan dalam dirinya bahwa dialah penakluknya.

Selain itu, para pendidik yang membimbingnya adalah orang-orang luar biasa. Di antaranya adalah Syekh Aq Syamsuddin seorang ulama besar dan penasihat spiritual Sultan Muhammad al-Fatih. Syekh Mullah Gurami juga salah satu ulama besar yang menjadi pendidik Sultan Muhammad al-Fatih. Muhammad al-Fatih hafal Al-Qur'an 30 juz sejak dini, menguasai lima bahasa, memahami hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang.

Hasil pendidikan ayahnya dan pengajar-pengajarnya akhirnya terbukti nyata. Tahun 1453 M pasukan kaum muslimin di bawah pimpinan Sultan Muhammad al-Fatih yang berusia 21 tahun mampu menaklukkan benteng Konstantinopel, benteng terkuat yang saat itu milik kerajaan Romawi.

Khatimah

Ketika Gen z mulai mengidolakan tokoh-tokoh yang benar semisal Muhammad al-Fatih., maka mereka akan mudah untuk dituntun ke mana arah perubahan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, para pemuda ini wajib didorong untuk terus berjuang, survive dalam situasi hari ini dengan landasan keimanan dan ketakwaan. Gen Z mesti dimotivasi agar mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan umat dengan menegakkan aturan Allah secara kaffah melalui tegaknya Khilafah.

Mereka juga perlu dipahamkan pentingnya pemuda melek politik agar dapat memimpin umat menuju perubahan hakiki sesuai tuntunan Nabi. Pada gilirannya, mereka akan mengambil peluang yang tersedia dengan menjadi pejuang kemuliaan Islam. Wallahualam bissawab.[]

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor Narasiliterasi.id
Mardiyah Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
Kenakalan Remaja Berujung Malapetaka
Next
Lansia Jepang Memilih Tinggal di Penjara
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

3 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Mahyra senja
Mahyra senja
2 months ago

Sayangnya gen Z malah mengidolakan artis dan selebritis luar ya ketimpangan zaman terjadi semoga Allah jaga anak anak kita

trackback

[…] Baca juga: Gen Z sebagai Agen Perubahan Hakiki […]

bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram