Midlife Crisis pada Gen Z

Midlife Crisis pada Gen Z

Semua persoalan yang sedang dihadapi generasi Z saat ini berupa midlife crisis membutuhkan sistem yang mampu memberikan solusi yang tuntas hingga ke akar-akarnya berupa sistem Islam.

Oleh. Wanti Ummu Nazba
(Kontributor Narasiliterasi.id)

Narasiliterasi.id-Dilansir dari Kompas.com yang tayang pada 17 Januari 2025, telah geger penemuan jasad yang sudah membusuk pada Rabu (25-1-2025). Warga yang menemukan mayat tersebut berasal dari Perumahan Made Great Residence, Desa Made, Lamongan, di sebuah warung kopi yang konon sudah lama tutup.

Pada saat ditemukan, jasad korban dalam kondisi mengenaskan. Pada akhirnya peristiwa ini terungkap sebagai kasus pembunuhan. Lebih lanjut setelah dilakukan penelusuran, diketahui bahwa pelaku pembunuhan itu adalah teman korban sendiri. Kali ini bukan lagi istilahnya cinta ditolak dukun bertindak, tapi sekarang sudah pada cinta ditolak berujung pada pembunuhan. Jadi motifnya adalah karena ditolak cinta. Sungguh miris dan sangat menakutkan perilaku remaja zaman sekarang.

Penemuan jasad tersebut berawal saat seorang penyewa warung Zamroni yang hendak membersihkan warungnya karena sudah lebih dari sebulan tutup. Sebagaimana penuturan Zamroni kepada wartawan, "Awalnya saya ke warung untuk membersihkan warung saya yang sudah lama tutup," ujarnya.

Midlife Crisis Buah Kapitalisme

Dalam hal ini generasi Z (gen Z) tampak mengalami krisis paruh baya (midlife crisis) lebih awal dari yang seharusnya. Di mana fakta yang mengejutkan ini baru terungkap belum lama ini. Akibat tekanan finansial yang luar biasa, sebanyak 38% dari mereka mengalami midlife crisis. Begitu pun akhir-akhir ini terungkap fakta baru di mana didapati beragam fakta yang menunjukkan bahwa sesungguhnya gen Z banyak berhadapan dengan persoalan hidup.

Begitu banyaknya persoalan hidup yang dialami dan dihadapi oleh gen Z sesungguhnya adalah dampak dari penerapan sistem kapitalisme yang fasad. Di mana sistem ini memisahkan agama dari kehidupan (sekuler). Hal ini tecermin pada sistem politik demokrasi, sistem ekonomi kapitalistik, sistem sosial liberal dan materialistik, sistem pendidikan yang mahal, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Akibat sistem yang rusak, berbagai persoalan menjerat generasi Z. Banyak sekali yang menjadi faktor penyebab gen Z melakukan tindakan melampaui batas. Salah satunya mereka bisa jadi meniru perilaku kekerasan yang dipertontonkan atau dipublikasikan di sosial media. Maka dari itu, kita harus menyadarkan gen Z dari realitas rusak saat ini sekaligus akar masalahnya.

Baca juga: Gen Z sebagai Agen Perubahan Hakiki

Membangun Pemahaman Hakikat Kehidupan

Dalam kasus di atas betapa penolakan cinta telah menjadi motif pemicu pelaku melakukan kekerasan hingga menghilangkan nyawa korban. Banyak sekali faktor yang menjadi pemicu terjadinya hal ini, minimnya pendidikan moral, lemahnya kontrol emosional, dan pengabaian terhadap kesehatan mental pada kalangan remaja. Dan semua ini adalah hasil dari penerapan sistem yang rusak saat ini.

Sistem sekuler adalah sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Wajarlah jika saat ini masyarakat, bahkan generasi muda banyak yang lalai terhadap hukum halal dan haram. Apa yang menjadi tolok ukur kebahagiaannya sekadar dari pencapaian materi dan terpenuhinya keinginan seseorang. Akhirnya untuk mendapatkan itu semua, mereka menghalalkan segala cara dan melampiaskan segala sesuatunya sesuai hawa nafsu.

Untuk mengurai persoalan di atas, gen Z semestinya dibangun pemahaman tentang hakikat kehidupan di dalam benaknya. Agar mereka sadar tentang realitas kehidupan yang benar. Mereka juga harus diajarkan akan kewajiban penerapan syariat Allah secara menyeluruh atau kaffah. Pemahaman tentang begitu mulianya orang-orang yang berjuang menegakkan syariat Allah itu butuh juga ditransfer ke dalam benak gen Z. Tentu mereka terdorong hatinya untuk menjadi bagian dari pejuang untuk penerapan aturan Allah.

Makadari itu, gen Z wajib kita ajak agar bersedia berjuang dalam kondisi saat ini dengan landasan keimanan. Motivasi pun butuh terus digencarkan agar mereka bisa berperan dalam menyelesaikan permasalah umat dengan menegakkan aturan Allah secara kaffah melalui tegaknya Khilafah. Generasi muda juga harus bisa menjadi generasi yang melek politik. Politik yang hakiki sebagai upaya agar kelak dapat memimpin umat menuju perubahan yang hakiki sesuai dengan tuntunan Nabi dan mengambil peluang menjadi seorang pejuang kemuliaan Islam.

Midlife Crisis, Butuh Solusi Tuntas

Semua persoalan yang sedang dihadapi generasi Z saat ini berupa midlife crisis membutuhkan sistem yang mampu memberikan solusi yang tuntas hingga ke akar-akarnya. Sistem tersebut adalah sistem Islam.

Islam tidak hanya menjadikan pendidikan berfokus pada aspek akademik semata, tetapi juga pada pembentukan akhlak yang mulia. Sistem Islam membentuk kepribadian Islam supaya generasi taat terhadap hukum syariat.

Islam juga mengatur bagaimana aturan pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Mereka tidak boleh berkhalwat atau bercampur baur antara laki-laki dan perempuan di tempat-tempat tertentu. Sebelum menikah, mereka dilarang berpacaran karena itu salah satu perbuatan yang mendekatkan pada perzinaan.

Sistem Islam akan menjaga dan mengatur pergaulan sesuai tuntunan syarak. Dengan aturan ini, hubungan remaja laki-laki dan perempuan bisa dalam batas yang wajar, juga bisa mengatur hubungan yang dapat memicu konflik yang berujung pada merusak moral dan emosionalnya. Dengan diterapkannya syariat Islam di berbagai bidang, pelajar dapat mengoptimalkan potensi yang dimilikinya untuk kebaikan dalam beramal saleh sehingga mereka menjadi generasi yang hebat, taat terhadap syariat, dan memahami ilmu yang dipelajarinya. Wallahualam bissawab.[]

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Narasiliterasi.id
Wanti Ummu Nazba Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
Ijazah Bermasalah Sinyal Buruk Dunia Pendidikan
Next
Gerakan 4B, Ide Feminisme yang Berbahaya
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram