Ambil Peran Perubahan VS #KaburAjaDulu

Ambil Peran Perubahan VS #KaburAjaDulu

Apakah dengan #KaburAjaDulu keluar negeri akan mendapatkan solusi tuntas, sementara bumi yang dipijak masih menggunakan sistem kapitalisme?

Oleh. Tari Ummu Hamzah
(Kontributor Narasiliterasi.id)

Tagar #KaburAjaDulu viral di sejumlah media sosial, bahkan sempat menjadi topik tren unggahan di Indonesia dalam media sosial X. Jika kita mencari kata kunci tagar tersebut di fitur pencari X, Anda akan menemukan beragam unggahan tentang ajakan pindah ke negara lain. Entah dalam bentuk beasiswa pendidikan, lowongan pekerjaan, dan hal lainnya. (Cnnindonesia.com, 07-02-2025 )

Makna di Balik #KaburAjaDulu

Bukan tanpa sebab jika tagar #KaburAjaDulu mencuat di media sosial. Karena masyarakat Indonesia sudah jengah dengan kondisi negeri ini. Di mana jika kita bandingkan soal kesejahteraan antara masyarakat di luar negeri dengan masyarakat kita, jelas masih jauh. Dari sisi penghasilan saja, upah minimum pekerja di luar negeri sudah mampu menyejahterakan rakyatnya.

Di sisi lain, para pekerja profesi lebih dihargai di sana daripada di Indonesia. Mereka bisa mengumpulkan kekayaan dengan bekerja sebagai tenaga profesi, contoh pendidik. Rata-rata para pendidik di Eropa mendapatkan gaji per tahunnya bisa mencapai angka satu miliar rupiah. Itu bagi mereka yang masih awal dan minim pengalaman. (Detikedu.com, 02-05-2024)

Ya, memang pajak di sana sangat tinggi, tetapi masyarakatnya bisa merasakan hasil dari pajak yang mereka setorkan. Misalnya dalam hal pendidikan, kesehatan, pangan, keamanan, masa pensiun, semua dijamin oleh negara. Meskipun sama-sama menerapkan sistem kapitalisme, regulasi di negara-negara maju itu mampu meminimalisasi adanya korupsi, pungutan liar, dan praktik suap. Masyarakatnya lebih terdidik dalam hal mengatur keuangan. Adapun pejabatnya adalah orang-orang yang mampu di bidangnya.

Baca juga: Tren #KaburAjaDulu, Antara Kekecewaan dan Cita-cita

Di balik itu, kita tidak bisa memungkiri kalau negara-negara maju yang menerapkan sistem kapitalisme juga mempunyai polemik mereka sendiri. Baik itu dari sisi moral dan sosial masyarakat, kejahatan dengan senjata api, legalisasi obat-obatan terlarang, dll.

#KaburAjaDulu Indikasi Gagalnya Negara

Banyaknya polemik multidimensi di negeri ini membuat rakyat makin tidak percaya kepada pemerintah, bahkan banyak yang geram akan kebijakan yang semakin menindas rakyat. Dari kebijakan berupa dicabutnya banyak subsidi hingga minimalisasi akses masyarakat dalam hal kesehatan. Contohnya seperti mengurangi jenis-jenis penyakit yang bisa ditanggung oleh BPJS.

Namun apakah dengan #KaburAjaDulu keluar negeri akan mendapatkan solusi tuntas? Mungkin bagi masyarakat yang sudah merasa sulit memenuhi kebutuhan pokoknya di dalam negeri, lantas di luar negeri mereka bisa memenuhinya dengan baik. Namun, kabur dari negeri kapitalis menuju ke negeri kapitalis yang lain tentu bukanlah solusi tuntas akan masalah manusia. Karena di mana pun berada, jika bumi yang dipijak masih menggunakan sistem kapitalisme, tetap saja akan menemui masalah yang sama seperti di Indonesia. Solusi yang ditawarkan sistem ini pun juga sama, yaitu tambal sulam.

Jadi sebenarnya bukan orangnya yang harus keluar dari suatu negeri, tetapi negeri itulah yang harusnya mengubah aturan untuk membuat masyarakatnya betah. Pada gilirannya, mereka akan bisa berkarya di dalam negeri.

Apakah Rasulullah Pernah #KaburAjaDulu ?

Ketika Rasulullah dilahirkan, kondisi yang ada sedang dalam masa kegelapan. Yang artinya banyak kemaksiatan dan kezaliman yang terjadi di Makkah. Saat usianya dua puluh lima tahun, beliau menyadari bahwa di sekitarnya itu telah terjadi kerusakan yang dilakukan oleh masyarakat Arab. Nabi saw. bisa saja kabur ke negeri yang dikehendaki. Sedari remaja beliau kerap diajak pamannya berdagang ke negeri-negeri sekitar jazirah Arab.Tentu yak sulit pula baginya untuk menemukan rute-rute perdagangan. Toh beliau sudah paham kondisi negeri-negeri yang pernah disinggahi.

Namun, apakah beliau memilih kabur? Tentu tidak. Yang beliau lakukan adalah sejenak pergi dari kerumunan masyarakat Makkah waktu itu menuju ke Gua Hiro. Beliau tinggalkan istirnya untuk berdiam diri di Gua Hiro dan melihat masyarakat Makkah dari tempat yang lebih tinggi. Dalam benaknya terpikirkan apa yang harus beliau lakukan berada di tengah kerusakan ini.

Setelah perenungan yang panjang akhirnya Allah turunkan ayat pertama Al-Qur'an surah Al-'Alaq. Pada ayat pertama Allah perintahkan, bacalah! Makna dari "bacalah" ini adalah membaca dan memperhatikan betul-betul apa yang telah dilakukan masyarakat di sekitarnya.

Setelah surat pertama turun, maka Allah turunkan Al-Qur'an secara berangsur-angsur. Rasulullah pun mendapati para sahabatnya yang mau beriman kepada Allah dan kepada kenabian beliau. Maka terkumpulah Ashabiqunal awwalun. Kemudian Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya yang lain untuk dibina. Membangun akidah mereka dan mengubah sikap dan mental mereka.

Setelah pembinaan yang diberlakukan oleh Rasulullah berhasil membentuk keimanan para sahabat, Allah perintahkan Rasulullah untuk berdakwah di tengah-tengah masyarakat. Mengambil peran untuk merubah masyarakat Makkah yang pada saat itu masih jahiliah menuju ke masyarakat yang lebih bermoral.

Khatimah

Manusia memang diciptakan Allah untuk menghindari hal-hal yang sukar. Karena hal deimikian adalah bagian dari naluri mempertahankan diri. Namun, apakah manusia akan terus-menerus kabur dari kesukaran satu lalu menuju kesulitan yang lain? Jawaban jelas tidak. Karena Allah perintahkan kita utk berdakwah di tengah-tengah masyarakat.

Di sisi lain, akar masalah dari semua masalah manusia saat ini adalah diterapkannya sistem yang batil. Maka, untuk menggeser sistem tersebut, diperlukan sistem hakiki yang paham akan fitrah manusia. Sistem itu adalah Islam. Sebab Islam tidak hanya sebagai agama saja, tetapi juga sebagai ideologi yang memancarkan aturan-aturan kehidupan manusia.

Untuk menegakkan institusi negara yang berbasis aturan Islam, dibutuhkan peran para pemuda untuk turut andil dalam proses ini. Untuk itu, para pemuda yang ingin keluar dari lingkungan masyarakat yang rusak, kaburlah sejenak untuk memperhatikan kondisi masyarakat. Nanti akan kita dapati bahwa masyarakat ini perlu diubah dengan Islam.

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Tari Ummu Hamzah
Tari Ummu Hamzah Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
Ramadan: Beban Ganda Perempuan, Benarkah?
Next
Trump, Zelenskyy, dan Konstelasi Politik Internasional
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca: Ambil Peran Perubahan VS #KaburAjaDulu […]

bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram