
Perubahan mutlak dibutuhkan Indonesia dan dunia saat ini. Kesadaran politik yang benar harus dimiliki setiap insan perubahan terutama mahasiswa, agar tidak mudah disetir oleh kekuatan yang bertujuan untuk kepentingan perutnya sendiri.
Oleh. Maftucha
(Kontributor NarasiLiterasi.Id)
NarasiLiterasi.Id-Perubahan, satu kata yang saat ini menjadi dambaan rakyat Indonesia. Rakyat jengah dengan berbagai persoalan yang mendera negeri ini.
Ribuan "Arjuna" (mahasiswa) turun ke jalan menyuarakan dan menuntut ketidakbecusan penguasa dalam menjalankan amanat rakyat. Aksi mahasiswa dari berbagai kampus ini menilai bahwa Presiden Prabowo belum bisa membawa angin segar bagi rakyat Indonesia. Sebaliknya justru berbagai kebijakan yang dikeluarkan semakin membelit rakyat.
Perguruan Tinggi dan Perubahan
Mahasiswa atau pemuda adalah sosok ideal yang diharapkan bisa membawa perubahan. Sikap kritisnya seringkali mampu membekukan kebijakan yang dirasa tidak berpihak kepada rakyat.
Mahasiswa dikenal memiliki idealisme yang tinggi karena mereka sedang dalam fase matang dalam berpikir. Sebagai agen perubahan mahasiswa memiliki peran strategis dalam masyarakat. Mereka mampu menciptakan masyarakat yang lebih baik karena mereka memiliki akses yang lebih mudah dalam pengetahuan dan informasi. Mahasiswa dipandang sebagai insan yang cerdas di hati masyarakat. Oleh karena itu mereka bisa memobilisasi masyarakat ke arah yang lebih baik.
Maka tak heran jika mahasiswa selalu diidentikkan dengan perubahan. Mereka dianggap bisa mewakili aspirasi masyarakat. Mahasiswa juga sebagai pengawas dalam setiap kebijakan penguasa yang tidak berpihak kepada rakyat.
Aksi mahasiswa dalam mengkritik kebijakan penguasa akhir-akhir ini tentu membawa angin segar bagi masyarakat. Sebagaimana yang telah kita ketahui, mahasiswa saat ini telah banyak mengalami pergeseran orientasi, suara lantang mereka dibungkam dengan berbagai kebijakan dari kampus.
Akibatnya setiap kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat tidak ada lagi yang mengkritiknya. Penguasa melenggang bebas mengeluarkan undang-undang yang dalam sekejap mata siap tersaji akibat tuntutan para kapital.
Pendidikan yang Tersandera
Kebijakan Presiden Prabowo yang melakukan efisiensi anggaran termasuk pendidikan tentu akan membawa dampak yang signifikan di dunia pendidikan. Selain berkurangnya anggaran untuk penelitian, efisiensi ini juga akan menjadikan biaya kuliah semakin tinggi dan hilangnya beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dan kurang mampu.
Kondisi ini bisa menimbulkan banyaknya mahasiswa yang gagal mendapatkan kesempatan pendidikan tinggi. Jika hal itu terjadi maka potensi pemuda untuk meneruskan estafet kepemimpinan negeri ini menjadi pupus. Harapan mewujudkan indonesia emas hanya tinggal angan-angan. Hak akses pendidikan hanya akan dimiliki oleh mereka yang berduit saja.
Permasalahan dunia pendidikan bukan hanya terkait anggaran yang minim. Namun, juga berkaitan dengan arah pendidikan ini akan dibawa? Kebijakan pendidikan kita selalu tersandera dengan kepentingan industri kapitalis, lulusan mahasiswa hanya menjadi tenaga industri atau buruh, bukan menghasilkan para pakar yang bisa menyelesaikan persoalan negeri ini.
Mahasiswa berprestasi tidak pernah diapresiasi, riset mereka tidak didukung dengan dana yang cukup hingga akhirnya para mahasiswa lebih memilih perusahaan swasta sebagi sponsor. Akibatnya riset mereka menjadi hak pengusaha dan tidak pernah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Pendidikan di negeri ini hanya menghasilkan manusia cerdas secara akademik. Namun, tidak memiliki visioner akhirat. Ini disebabkan dunia pendidikan kita yang sekular atau memisahkan agama dari kehidupan. Jika kelak dia jadi penguasa maka kebijakannya tidak pernah memberikan kemaslahatan kepada rakyat.
Indonesia Gelap
Sudah sejak lama rakyat mendambakan kehidupan yang sejahtera. Harapan bekerja mendapatkan upah yang layak agar bisa memenuhi kebutuhan hidup yang semakin hari semakin susah untuk dipenuhi. Namun, faktanya mencari pekerjaan di negeri ini bagai mencari jarum di tumpukan jerami. Kalaupun ada proyek yang membutuhkan pekerja, itu hanya lowongan pekerja kasar yang berlaku beberapa bulan saja, setelah proyek selesai dia akan diberhentikan.
Baca: Ambil Peran Perubahan VS #KaburAjaDulu
Rakyat bukan tidak mau sekolah sehingga bisa mengenyam pendidikan tinggi. Namun, biaya pendidikan yang tidak terjangkau membuat para lulusan sekolah menengah ini lebih memilih bekerja walaupun risiko PHK sewaktu-waktu datang.
Kegelapan juga ditemukan pada maraknya kriminalitas di tengah-tengah masyarakat. Orang tua yang membunuh anaknya atau sebaliknya, kekerasan terhadap anak, pemerkosaan, dan perkelahian senantiasa mewarnai pemandangan setiap hari, sangat memilukan.
Kesusahan yang menimpa rakyat tidak menjadi prioritas yang diselesaikan oleh penguasa, buktinya mereka membuat kebijakan yang semakin kuat mengikat leher rakyat. Kenaikan pajak, minimnya anggaran kesehatan dan pendidikan, naiknya kebutuhan pokok, masalah LPG, dan segudang masalah lain seakan menjadi guyuran hujan yang entah sampai kapan berhenti.
Berbagai persoalan ini membuat rakyat mencari solusi yang mungkin bisa diharapkan hingga muncul tagar #KaburAjaDulu. Sayangnya keresahan masyarakat ini direspon penguasa dengan narasi kebencian sehingga menyakiti hati rakyat, ini menunjukkan bahwa pemimpin saat ini bukan hanya tidak amanah. Akan tetapi tidak memiliki sense atau empati kepada rakyat yang sedang menderita.
Pemimpin baru tidak bisa menjamin adanya perubahan pada negeri ini. Sistem kapitalisme telah rusak sejak lahir karena sistem ini menjadikan manusia sebagai penentu kebenaran, manusia bebas membuat aturan dalam kehidupan ini. Padahal manusia memiliki kekurangan dan keterbatasan.
Mutlak Diperlukan Kesadaran Politik
Munculnya tagar #IndonesiaGelap atau #KaburAjaDulu lahir dari kesadaran masyarakat terhadap berbagi persoalan yang muncul di negeri ini. Persoalan korupsi yang semakin hari semakin menggila dengan angka yang fantastis tentu membuat masyarakat panas. Kenaikan harga kebutuhan pokok yang tidak terbendung membuat masyarakat jenuh dengan kondisi ini.
Masyarakat sadar bahwa penguasa tidak berpihak kepada mereka dan lebih mementingkan pengusaha. Namun, mereka tidak memiliki solusi yang benar untuk menghadapi karut-marut persoalan ini. Namun, sayangnya demokrasi masih menjadi jalan satu-satunya jalan yang mereka ambil.
Bahkan dalam aksi beberapa waktu lalu mahasiswa masih memberikan solusi untuk kembali kepada demokrasi kerakyatan. Padahal seharusnya mereka sudah harus berpikir untuk membuang demokrasi yang rusak ini.
Mereka masih terus berharap pada figur yang telah di-setting untuk menjadi pemimpin mereka, padahal sebagus apapun seseorang, jika masih tetap menerapkan demokrasi kapitalis maka kerusakan itu akan terus berulang.
Solusi yang Sahih
Hendaknya masyarakat terutama mahasiswa menyadari bahwa solusi sahih atas berbagai persoalan negeri ini hanyalah diterapkannya Islam secara sempurna. Islam sebagai sebuah ideologi memiliki berbagai konsep untuk bisa diterapkan dalam kehidupan ini. Penerapan Islam secara sempurna ini membutuhkan sebuah institusi yakni Khilafah Islamiyah.
Islam memiliki konsep sistem ekonomi, pendidikan, kesehatan, politik dalam dan luar negeri, militer, dan seterusnya. Institusi ini sudah pernah teruji sejak awal berdirinya yakni di Madinah, di mana Rasulullah secara langsung yang menjadi pemimpinnya. Kemudian berlanjut masa Khulafaur Rasyidin dan penerusnya hingga berakhir tahun 1924.
Sistem ekonomi Islam akan menghilangkan kesenjangan ekonomi yang terjadi saat ini dengan pengelolaan harta kepemilikan secara benar. Pengusaha baik asing maupun swasta diharamkan mengelola kekayaan alam milik umum. Hal ini sesuai dengan hadis dari Rasulullah saw.
"Kaum Muslimin berserikat dalam tiga hal, yakni air, padang rumput, dan api" (HR. Abu Dawud)
Hasil dari pengelolaan kekayaan alam ini akan dipergunakan seutuhnya untuk kepentingan rakyat seperti pendidikan, kesehatan, BBM, dan seterusnya. Khilafah tidak akan pernah menjadikan pajak dan utang sebagai pemasukan negara, sehingga pemasukan dan pengeluaran Khilafah stabil. Adapun pemasukan utama negara adalah dari kharaj, jizyah, fai, harta yang tidak ada pewarisnya, dan seterusnya.
Khatimah
Telah diketahui bahwa pendidikan di era Khilafah mampu mencetak generasi emas yang merata. Hal ini dikarenakan pendidikan bisa diakses siapa saja dan dengan fasilitas yang mumpuni. Banyak di antara mereka memiliki kecakapan dalam berbagi bidang seperti Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Ibnu Firnas, Khawarizmi, termasuk juga para imam besar seperti Imam AS-Syafii, Imam Hambal, Imam Maliki yang semua karyanya bisa dinikmati hingga hari ini.
Selain dalam bidang penelitian, para pelajar dalam Khilafah juga memiliki kemampuan mengontrol penguasa agar tetap sesuai dengan koridor syariah. Semua ini hanya mungkin terwujud jika kurikulumnya terintegral antara sains, teknologi dan keimanan. Bukan justru memisahkan antara agama dan kehidupan atau sekular.
Wallahu a'lam bishawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Jazakillah khoir tim NarasiLiterasi