
Perubahan sejati selalu dimulai dari perubahan cara berpikir, lalu berlanjut pada perubahan sistem.
Oleh. Dhini Sri Widia Mulyani
Kontributor NarasiLiterasi.Id
NarasiLiterasi.Id-Generasi Z hidup di zaman yang belum pernah dialami generasi sebelumnya. Sejak bangun tidur hingga kembali memejamkan mata, kehidupan mereka nyaris tak lepas dari layar. Media sosial menjadi ruang belajar, ruang berekspresi, sekaligus ruang perjuangan. Tak heran jika Gen Z dikenal vokal, kritis, dan berani menyuarakan isu-isu besar seperti kemanusiaan, keadilan sosial, lingkungan, hingga penindasan global. (detik.com)
Namun di balik semua itu, Gen Z juga sering dicap sebagai generasi yang rapuh secara mental, mudah cemas, cepat lelah, dan mudah kehilangan semangat. Aktivisme mereka terlihat ramai, tetapi sering kali cepat padam. Hari ini lantang membela suatu isu, esok hari berganti isu lain, lalu perlahan menghilang tanpa jejak perubahan yang nyata.
Fenomena ini bukan karena Gen Z tidak peduli. Justru sebaliknya, mereka sangat peduli. Masalahnya terletak pada arah. Banyak anak muda bergerak dengan semangat besar, tetapi tanpa kerangka berpikir yang kokoh. Aktivisme hadir, tetapi tidak berpijak pada ideologi yang jelas. Akibatnya, perjuangan menjadi reaktif, emosional, dan mudah dikendalikan arus.
Dunia Digital Tidak Pernah Netral
Banyak orang masih memandang media sosial sekadar sebagai alat komunikasi yang netral. Padahal, dunia digital hari ini dibangun di atas fondasi nilai dan ideologi tertentu. Media sosial, algoritma, dan arus informasi global tidak bekerja di ruang hampa, melainkan dikendalikan oleh sistem sekularisme dan kapitalisme yang secara aktif membentuk cara manusia berpikir, menilai, dan bersikap.
Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan publik. Dalam kerangka ini, Islam dipersempit maknanya menjadi urusan ibadah personal, akhlak individual, dan ritual semata, tanpa peran mengatur kehidupan sosial, politik, dan ekonomi.
Di saat yang sama, kapitalisme menjadikan segala hal bernilai jual termasuk opini, empati, bahkan penderitaan manusia. Kepedulian tidak lagi diukur dari kebenaran dan keberpihakan pada keadilan, melainkan dari seberapa viral sebuah isu. Keadilan pun direduksi menjadi apa yang ramai dibicarakan, bukan apa yang benar secara hakiki.
Kapitalisme Membentuk Cara Pandang Generasi
Kondisi ini perlahan membentuk cara pandang generasi muda. Banyak anak muda tanpa sadar menilai benar dan salah berdasarkan jumlah like, views, dan komentar. Standar hidup dibangun dari apa yang trending, bukan dari prinsip yang kokoh.
Kebenaran menjadi relatif, agama dianggap usang, dan aturan Islam kerap dipertanyakan bukan untuk dipahami secara mendalam, melainkan karena dianggap tidak sesuai zaman. Inilah bentuk penjajahan modern, bukan dengan senjata atau penjajahan fisik, tetapi melalui ide, narasi, dan gaya hidup yang terus diulang hingga tampak wajar.
Dalam kondisi seperti ini, aktivisme generasi muda terutama Gen Z tumbuh dengan pesat. Banyak dari mereka menunjukkan kepedulian terhadap isu kemanusiaan, membela kelompok tertindas, dan lantang mengkritik ketidakadilan. Pada dasarnya, semangat ini sejalan dengan ajaran Islam yang memerintahkan umatnya untuk peduli, membela yang lemah, dan melawan kezaliman.
Namun, persoalan muncul ketika aktivisme tersebut hanya berhenti di permukaan. Di bawah sistem digital yang serba cepat dan dangkal, banyak gerakan terjebak pada simbol dan sensasi, seperti unggahan, story, tagar, dan petisi daring.
Isu datang silih berganti mengikuti arus tren. Ketika sorotan media berpindah, kepedulian pun ikut memudar. Aktivisme menjadi ramai, tetapi kehilangan kedalaman, lantang di permukaan. Namun, lemah dalam akar pemikiran dan solusi.
Islam Kaffah Jalan Keluar dari Krisis Arah
Di sinilah tampak jelas bagaimana sistem sekular-kapitalistik tidak hanya membentuk ruang digital, tetapi juga membatasi arah perjuangan. Kepedulian dikerdilkan menjadi reaksi sesaat, bukan kesadaran ideologis yang mendorong perubahan mendasar. Tanpa memahami akar masalah dan sistem yang melahirkannya, aktivisme berisiko menjadi bagian dari siklus yang sama. Ramai sebentar, lalu hilang tanpa meninggalkan perubahan nyata.
Islam menawarkan jalan keluar yang berbeda. Bukan tambalan sesaat, melainkan perubahan mendasar melalui Islam kaffah. Islam bukan sekadar agama ritual yang mengatur hubungan individu dengan Tuhannya, tetapi ideologi yang memiliki pandangan hidup utuh tentang manusia, tujuan hidup, dan bagaimana kehidupan seharusnya diatur. Islam menjawab pertanyaan paling mendasar, untuk apa manusia hidup dan dengan aturan apa dunia ini seharusnya berjalan.
Allah Swt., menegaskan :
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh)…” (QS. Al-Baqarah: 208).
Ayat ini menolak pemahaman Islam yang parsial. Mengambil ibadahnya, tetapi menolak aturannya dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik, bukanlah bentuk keimanan yang utuh. Islam kaffah berarti menjadikan wahyu sebagai standar berpikir dan bertindak baik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, hingga bernegara.
Aktivisme Dibangun Berdasarkan Akidah
Ketika Islam hanya ditempatkan sebagai pelengkap moral, umat akan terus hidup di bawah sistem buatan manusia yang cacat. Ketidakadilan global, eksploitasi, dan penindasan struktural bukan sekadar kesalahan individu, melainkan konsekuensi logis dari sistem yang tidak tunduk pada aturan Allah. Selama sistem itu dipertahankan, penderitaan hanya akan berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain.
Karena itu, aktivisme dalam Islam tidak dibangun di atas emosi sesaat, melainkan di atas akidah yang kokoh. Aktivisme Islam memiliki arah yang jelas, menghadirkan perubahan yang benar, bukan sekadar meredakan kegelisahan. Rasulullah saw., tidak hanya menyeru masyarakat Quraisy untuk berbuat baik secara individual, tetapi membongkar sistem jahiliah dan menggantinya dengan sistem Islam yang adil dan bermartabat.
Di sinilah pelajaran penting bagi Gen Z. Perubahan sejati selalu dimulai dari perubahan cara berpikir, lalu berlanjut pada perubahan sistem. Aktivisme tanpa ideologi akan mudah diarahkan, dimanfaatkan, bahkan dipadamkan ketika tidak lagi menguntungkan kekuasaan.
Sebaliknya, aktivisme yang dibangun di atas akidah Islam akan memiliki keteguhan, konsistensi, dan daya tahan. Ukuran perjuangannya bukan popularitas, tetapi kebenaran. Tujuannya bukan pengakuan manusia, melainkan rida Allah. Dengan paradigma ini, Gen Z tidak mudah lelah dan tidak mudah terombang-ambing oleh tren.
Peran Negara, Keluarga, dan Lingkungan
Islam juga tidak membebankan perubahan hanya pada individu. Negara memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga akidah dan cara berpikir generasi. Pendidikan, media, dan ruang digital seharusnya tidak dibiarkan dikuasai ideologi sekular dan kapitalistik yang menjauhkan manusia dari nilai ilahiah.
Ketika negara bersikap “netral” terhadap sekularisme dan kapitalisme, sejatinya negara sedang membiarkan generasi mudanya dibentuk sepenuhnya oleh kepentingan global. Akibatnya, Gen Z berisiko kehilangan identitas dan arah hidupnya sebagai Muslim.
Di sisi lain, keluarga dan lingkungan harus menjadi ruang aman bagi anak muda untuk mengenal Islam secara rasional, mendalam, dan membumi. Islam tidak boleh hadir hanya sebagai daftar larangan, tetapi sebagai sistem solusi yang menjawab kegelisahan hidup dan problem nyata masyarakat.
Gen Z sesungguhnya memiliki modal besar berupa energi, kreativitas, dan keberanian. Era digital bukan musuh, melainkan alat. Media sosial bisa menjadi sarana dakwah, edukasi, dan perubahan jika digunakan dengan paradigma Islam. Sudah saatnya Gen Z tidak hanya menjadi generasi yang ramai di linimasa, tetapi juga kokoh dalam akidah dan jernih dalam pemikiran.
Aktivisme harus berangkat dari Islam dan kembali kepada Islam. Dengan arah yang jelas, perjuangan tidak akan habis dimakan tren, tetapi menjadi bagian dari misi hidup sebagai hamba Allah dan agen perubahan. Jangan sampai Gen Z hanya dikenal sebagai generasi yang bersuara keras, tetapi kehilangan arah. Islam hadir untuk memberi arah itu jelas, tegas, dan menyelamatkan. Wallahualam bissawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com



















Barakallah Teh Dhini
izin share yaa
[…] Baca juga: Gen Z Jangan Sampai Kehilangan Arah […]