
Makna Islam secara bahasa adalah tunduk, patuh, dan berserah diri. Dengan demikian seorang muslim haruslah taat hanya kepada Allah saja.
Oleh. Arda Sya'roni
(Kontributor Narasiliterasi.id)
Narasiliterasi.id-“Cinta sejati yang bisa. Memberi tanpa harus menerima. Dia membawa damai dan bahagiakan jiwa. 'Tuk semua manusia. Hanya cinta sejati yang bisa. Bertahan tanpa mengenal waktu. Takkan pernah sirna bagaikan karang di samudra. "Kan abadi "tuk selamanya....”
Cuplikan lirik "Cinta Sejati" yang dibawakan oleh grup band Element ini mendeskripsikan bagaimana cinta sejati itu. Cinta sejati senantiasa memberi, merelakan segala sesuatu untuk orang terkasih, hingga rela memperjuangkannya meski nyawa taruhannya. Hanya cinta sejati pula yang mampu membuat bertahan tanpa mengenal waktu, takkan pernah sirna, abadi untuk selamanya.
Nah, begitu pula cinta sejati seorang muslim kepada Rabb-nya, tak mengenal waktu, takkan pernah sirna dan abadi selamanya. Cinta sejati bagi seorang muslim adalah refleksi keimanan yang sesungguhnya bagi umat Islam.
Makna Islam sendiri secara bahasa adalah tunduk, patuh, dan berserah diri. Dengan demikian seorang muslim haruslah tunduk, patuh, dan berserah diri hanya kepada Allah saja. Sedangkan makna Islam secara istilah adalah agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dirinya sendiri, dan sesama manusia. Oleh karena itu, cinta sejati hanya ada pada diri seorang hamba yang taat pada Allah semata sehingga senantiasa menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.
Baca juga: Sahabat Taat Dunia Akhirat
Seorang muslim sejati akan memiliki suatu kepribadian khas yang tidak dimiliki oleh umat lainnya. Hal ini karena Islam terbentuk bukan atas doktrin, melainkan melalui proses berpikir. Oleh sebab itu, apa pun syariat yang diterapkan dalam Islam dapat dibuktikan secara logika dan sesuai fitrah manusia, yaitu memuaskan akal dan menenteramkan hati.
Kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyah) ini terbentuk dari adanya pola pikir Islam (aqliyah Islamiyah) yang diwujudkan dalam pola sikap Islam (nafsiyah Islamiyah). Kepribadian Islam adalah unik dan berbeda dari umat lainnya sehingga mudah dikenali.
Islam Agama Paripurna
Islam adalah agama yang paripurna. Tak hanya mengatur masalah ibadah ritual, tetapi Islam juga mengatur di segala lini kehidupan. Hal ini karena Islam bukan sekadar agama, melainkan juga sebuah ideologi atau mabda.
Aturan dalam Islam tak hanya berupa aturan yang mengikat hubungan manusia dengan Tuhannya saja (hablum minallah), melainkan juga mengatur hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri (hablum minafsi), dan hubungan antara manusia dengan yang lainnya (hablum minannaas). Dalam hablum minallah, aturan tersebut berkaitan dengan ibadah seperti salat, puasa, dan haji. Sedang hablum minafsi berkaitan dengan akhlak, pakaian, makanan, dan minuman.
Dibanding dengan hablum minallah dan hablum minafsi, hablum minannaas ini mendominasi dalam kehidupan manusia karena sebagian besar aktivitas kehidupan melibatkan hubungan antarmanusia. Adapun aturan dalam hablum minannaas berkaitan dengan muamalah dan uqubat (sanksi) yang mengatur dalam urusan ekonomi, pendidikan, kesehatan, keamanan, sosial, budaya bahkan politik.
Agama yang diridai
Dalam Al-Qur'an surah Al-Maidah: 3 Allah berfirman, ”...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu ....”
Dari kutipan ayat tersebut di atas, dengan jelas Allah menyebutkan bahwa Islam adalah agama yang telah sempurna dan hanya Islam agama yang diridai. Dengan demikian semua aturan syariat yang telah ditetapkan Allah mutlak untuk diterapkan dalam kehidupan di sepanjang masa. Karena aturan yang ditetapkan dalam Islam adalah aturan yang dibuat langsung oleh Sang Pencipta manusia, tentulah aturan ini yang harus diterapkan di dalam kehidupan. Allah sebagai Sang Pencipta manusia tentulah lebih mengetahui apa yang baik bagi manusia dan apa yang buruk bagi manusia. Dengan demikian aturan dari Allah adalah aturan yang paling tepat dalam mengatur urusan manusia, alam semesta, dan kehidupan.
Selain itu Islam juga merupakan satu-satunya agama di sisi Allah dan diridai Allah. Hal ini termaktub dalam QS. Ali-Imran: 85, yaitu, “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
Bersegera Menuju Syariat Allah
Adapun dalam Islam, seorang yang telah bersyahadat dan menyandang status sebagai muslim haruslah tunduk pada akidah dan syariat. Dalam akidah, iman seorang muslim sangatlah penting karena beriman artinya memercayai dengan keteguhan hati, membenarkan dengan lisan, dan mengamalkannya dengan perbuatan.
Bila sebuah keimanan telah menancap sedemikian kokoh pada diri seseorang, maka tentulah akan bersegera dalam melaksanakan ketaatan akan perintah Allah. Ibarat jatuh cinta, hingga rela menjadi budak cinta (bucin) terhadap sang kekasih. Seorang kekasih akan rela melakukan apa pun demi yang terkasih, meski mungkin nyawa menjadi taruhannya.
Demikian pula bila cinta Allah telah mengkristal dalam diri, segala perintah akan berusaha dilakukan, segala larangan akan berusaha ditinggalkan. Cinta sejati seorang muslim diwujudkan dengan bersegera melaksanakan syariat dengan sami'na wa atho'na (kami dengar, kami taat), bukan sami'na wa ashaina (kami dengar, kami membangkang). Perintah syariat akan langsung diaplikasikan dengan penuh ketaatan dan mengharapkan rida Allah semata, tanpa tapi, tanpa nanti.
Taat ketika Perintah Tutup Aurat Diturunkan
Pada masa jahiliah sebelum perintah hijab diturunkan, wanita Arab pada saat itu hanya diperkenankan buang hajat pada malam hari. Suatu ketika Saudah binti Zam'an, salah satu istri nabi pergi buang hajat bertepatan dengan waktu salat Isya. Kala itu Umar bin Khattab ra. mengenali Saudah karena perawakannya yang tinggi.
Sejak saat itulah perintah berhijab bagi muslimah diturunkan oleh Allah Swt. kepada Rasulullah saw. Begitu mendengar turunnya ayat menutup aurat ini, maka seketika kaum muslimah pada saat itu mengambil kain apa pun untuk menutup tubuhnya. Mereka tidak menunggu nanti ataupun mencari alasan ini itu. Hal ini karena mereka sadar bahwa semua perintah yang Allah turunkan adalah demi kebaikan manusia sendiri.
Taat ketika Khamar Diharamkan
Begitu pula saat pengharaman khamar diturunkan, umat muslim pada saat itu bersegera mematuhinya. Adapun pengharaman khamar dilakukan secara bertahap, yaitu tahap pertama hanya sebatas menegaskan bahwa khamar lebih besar mudaratnya daripada manfaatnya, QS. Al-Baqarah: 219. Tahap kedua adalah larangan salat dalam keadaan mabuk terdapat pada QS. An Nisa: 43. Kemudian tahap akhir adalah pengharaman secara total terdapat dalam QS. Al Maidah: 90-91.
Ketika umat pada saat itu mendengar berita pengharaman khamar secara total, maka serentak mereka menumpahkan semua khamar yang mereka punyai, bahkan ketika mereka sedang meneguk khamar langsung ditumpahkan, tanpa tapi tanpa nanti. Alhasil, pada saat itu Madinah bagaikan banjir khamar akibat banyaknya khamar yang dibuang.
Taat ketika Arah Kiblat Dipindahkan
Tak hanya itu, ketundukan umat juga terlihat saat perpindahan arah kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram. Saat itu Rasulullah saw. beserta sahabat dan umat salat Zuhur berjemaah di sebuah masjid di Madinah yang kini dikenal sebagai Masjid Qiblatain. Pada rakaat kedua wahyu pemindahan kiblat diturunkan, saat itu pula arah salat Rasulullah berubah tanpa membatalkan salatnya. Sahabat dan umat pun mengikutinya tanpa ragu seketika itu juga.
Taat ketika Seruan Jihad Dikumandangkan
Ketaatan yang sungguh-sungguh yang hanya menhgharap ampunan dan rida Allah, juga tampak saat seruan jihad dikumandangkan. Dikisahkan ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah saw. pada perang Uhud, di manakah dia akan ditempatkan bila dia mati terbunuh saat perang. Rasulullah saw. kemudian menjawabnya bahwa dia akan ditempatkan di surga. Seketika lelaki itu melemparkan kurma di tangannya untuk segera maju ke medan perang hingga akhirnya syahid.
Khatimah
Demikianlah cinta sejati seorang muslim yang memegang teguh syahadatnya. Bila iman telah tertancap begitu dalam, maka setiap syariat yang diturunkan laksana panggilan jiwa yang harus segera dilaksanakan. Tiada lagi alasan untuk berdalih. Setiap syariat akan dilaksanakan, apa pun kondisinya.
Kepribadian Islam yang terbentuk dari pola pikir Islam dan pola sikap Islam inilah yang menjadikan Islam mampu membawa umat menjadi umat terbaik serta melahirkan peradaban gemilang. Tentu saja, peradaban gemilang ini haruslah didukung dengan adanya negara Islam yang menyatukan umat Islam dalam satu bendera, satu negara, dan satu kepemimpinan.
Wallahu a'lam bis-sawab.[]
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com


















