
Hari ini kita hidup dalam sebuah sistem yang tak lagi memanusiakan manusia. Kita hidup dalam sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem ini disebut kapitalisme-sekularisme.
Oleh. Ulfiatul Khomariah, S.S
(Kontributor Narasiliterasi.id)
Narasiliterasi.id-Sesak! Ya, dada terasa sesak melihat kondisi generasi hari ini. Seorang anak yang seharusnya menjadi generasi harapan bangsa, kini berubah menjadi monster yang menakutkan. Bagaimana tidak? Seorang anak kini tega membunuh ibu kandungnya sendiri. Ini fakta! Bukan cerita rekayasa dalam film anime Detektif Conan.
Beberapa hari yang lalu, aparat Polrestabes Medan mengungkap fakta yang mengejutkan. Salah satunya kasus pembunuhan tragis yang dilakukan seorang anak berinisial AL (12) terhadap ibunya, F (42). AL menusuk ibunya sebanyak 26 kali menggunakan pisau dapur saat ibunya tertidur di rumah mereka Rabu, (10-12-2025) sekitar pukul 04.00 WIB. (Tribunnews.com, 17-12-2025)
Ini bukan kasus pertama yang terjadi, ternyata di tahun 2025 banyak sekali kasus pembunuhan yang melibatkan antara orang tua dan anak. Berikut beberapa kasus anak bunuh orang tua yang sudah dirangkum oleh Tribunnews :
1) Seorang anak S (48) bunuh ibu kandungnya sendiri berinisial SM (76) di Kabupaten Sleman, DIY (12-01-2025); 2) Imam Ghozali (36) bunuh ibunya di Semarang, Jawa Tengah (18-02-2025); 3) Pada bulan Juni 2025, Samsuden alias Aziz (30) bunuh ibu kandungnya Ratna (48) di Desa Bukit Jaya, Kecamatan Bulik Timur, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. (Tribunnews, 17-12-2025).
Dulu, seorang anak begitu takzim kepada orang tuanya. Jangankan membunuh, berbicara dengan nada keras pun takut. Sedurhaka-durhakanya Malin Kundang juga tidak sampai membunuh orang tuanya. Entah apa yang terjadi dengan generasi hari ini, Mengapa generasi hari ini begitu menakutkan? Layaknya air susu dibalas air tuba.
Hasil Penerapan Sistem Kapitalisme
Ya, hari ini kita hidup dalam sebuah sistem yang tak lagi memanusiakan manusia. Kita hidup di dalam suatu sistem yang menganut hukum rimba. Kita hidup dalam sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem ini disebut kapitalisme-sekularisme.
Sistem kapitalisme-sekularisme membuat keluarga kehilangan fungsinya. Anak dibesarkan dengan cara yang kasar tanpa tuntunan akhlak yang baik. Seperti kisah pilu yang menimpa AL (12) di Medan. Tak disangka tindakannya dipengaruhi oleh aktivitasnya yang sering menonton Detektif Conan. Sang anak merasa dendam kepada sang ibu karena sering dicubit, dipukul, dan melakukan tindak kekerasan. Alhasil, AL berani membunuh ibunya dengan pisau layaknya aksi dalam film yang sering ditontonnya.
Keluarga yang seharusnya menjadi tempat yang aman, kini berubah menjadi neraka yang siap membakar penghuninya satu per satu. Sistem ini berhasil menggeser tujuan dalam keluarga. Anak tidak lagi dianggap amanah yang mulia, melainkan sebagai aset masa depan orang tua. Dalam artian, seorang anak akan dianggap beban jika tidak tumbuh sesuai ekspektasi orang tua.
Baca juga: Gen Z Jangan Sampai Kehilangan Arah
Sistem ini pula yang menciptakan lingkungan tidak sehat. Banyak sekali konten kekerasan yang berkeliaran di berbagai media seperti dalam film, komik, dan yang lainnya. Hal ini disebabkan karena negara dalam sistem kapitalisme akan tetap memberikan izin penayangan konten, apabila tayangan tersebut menguntungkan bagi negara. Negara akan abai sekalipun konten itu merusak dan akan menciptakan kerusakan. Lantas, masihkah kita bertahan dalam sistem yang demikian?
Saatnya Kembali pada Islam
Islam adalah agama sekaligus sistem yang Allah turunkan untuk mengatur kehidupan. Sistem yang senantiasa memanusiakan manusia dan menjadikan manusia sesuai fitrahnya. Sistem ini tidak hanya mengatur perkara ibadah saja, namun juga mengatur segala urusan dunia-akhirat, mulai dari bangun tidur hingga bangun negara.
Dalam Islam, keluarga adalah tempat untuk berlindung dan mencurahkan kasih sayang. Setiap anggota keluarga harus merasa aman, nyaman, dan saling mendukung satu sama lain. Keluarga bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga sumber pendidikan karena keluarga adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Orang tua yang paham agama akan melahirkan generasi Islam yang tangguh dan berakhlak mulia.
Dalam sistem Islam, negara juga wajib menyaring setiap konten yang akan ditayangkan. Hanya konten yang mendidik dan mengandung kebaikan saja yang akan diberikan izin untuk ditayangkan. Sedangkan konten-konten yang berbau maksiat dan kerusakan akan dilarang secara tegas. Dengan demikian, seorang anak tidak akan pernah terinspirasi untuk berbuat kekerasan. Wallahu a’lam bish-shawwab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com


















