
Sekolah aman sulit diwujudkan saat ini karena para siswanya jauh dari agama. Padahal, agama adalah alat kontrol yang paling kuat.
Oleh. Erdiya Indrarini
Kontributor NarasiLiterasi.Id
NarasiLiterasi.Id-Sekolah aman adalah harapan bagi siswa, guru, maupun orang tua. Sehubungan dengan itu, Amir Husain selaku Wakil Bupati Wonosobo menyampaikan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, serta membahagiakan bagi anak-anak, agar berkembang menjadi generasi yang berakhlak, beradab, cerdas, dan bahagia, serta terhindar dari rasa takut. Hal itu ia sampaikan pada saat upacara Safari Sekolah Ramah Anak di SMPN 2 Wonosobo.
Safari yang membidik 292 sekolah tingkat SD/MI dan SMP/MTs di Wonosobo ini menekankan agar sekolah terbebas dari tiga dosa besar pendidikan, yakni kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi. Amir juga menyampaikan bahwa agar jangan diam jika terjadi perundungan atau bullying, dan harus berani bersuara ketika diperlakukan secara tidak pantas. (antaranews.com, 8-12-2025)
Harapan Sekolah Aman
Sungguh miris, keadaan siswa sekolah Indonesia ternyata memang masih belum aman alias tidak baik-baik saja. Banyak terjadi kasus bullying maupun kekerasan seksual. Menurut lpmneraca.com, negeri ini bahkan termasuk memiliki kasus bullying tertinggi ke-5 di dunia. Padahal, bullying sangat berpengaruh pada mental setiap generasi.
Kasus perundungan atau bullying saat ini seolah sudah menjadi budaya. Baik dilakukan oleh sesama murid maupun oleh guru atau pembimbing bahkan ada terjadi di pesantren. Di luar sekolah pun ternyata tak bebas dari kasus perundungan. Saat ini bahkan kasus bullying juga terjadi dalam rumah tangga, baik yang bersifat verbal maupun yang nonverbal.
Inilah yang mendasari pemerintah Wonosobo melakukan program Safari Sekolah Ramah Anak di berbagai sekolah agar menjadi lingkungan sekolah aman dan nyaman. Akan tetapi, apakah budaya kekerasan dan bullying ini bisa diatasi dengan pesan-pesan saat melakukan safari ke berbagai sekolah? Untuk menyelesaikan sebuah permasalahan, tentu kita harus tahu apa penyebabnya.
Penyebab Maraknya Perundungan
Maraknya kasus perundungan di sekolah disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya karena kekerasan sudah menjadi budaya, yang berdampak pada seringnya generasi melihat atau mengalami kekerasan. Sesuatu yang sering dialami atau dilihat maka akan menjadi terbiasa atau sebagai sebuah kewajaran.
Pada era sebelumnya, anak bertengkar itu hal biasa, dan setelahnya akan akur kembali. Akan tetapi, saat ini kenakalan anak-anak sekolah tidak lagi memakai hati. Ia akan mudah marah. Ketika ia sudah marah, maka akan dendam kesumat, dan berusaha menghajar lawannya secara bertubi-tubi, bahkan membunuh. Kenakalan generasi pun saat ini telah berubah menjadi kejahatan.
Ditambah lagi, saat ini anak-anak semakin mudah mengakses tayangan yang mengandung perkelahian, pembunuhan, berita pembacokan, caci makian, sikap dendam, tayangan film, atau permainan game action, dan lain-lain.
Seringnya melihat atau mengalami hal tersebut, maka itu adalah racun yang akan memengaruhi cara pandang generasi. Dampaknya bagi mereka, setiap masalah mesti diatasi dengan kekerasan. Itulah yang menimpa generasi saat ini. Melihat fenomena seperti ini, maka betapa pentingnya orang tua, para guru, dan khususnya negara untuk mengondisikan dan mengontrol agar tercipta sekolah aman dan nyaman.
Lemahnya Kontrol
Perundungan ini sejatinya tidak dialami oleh para siswa saja tetapi juga oleh guru, bahkan anggota keluarga di rumah. Hal ini karena budaya kekerasan bisa dilihat tidak hanya dari berita, tetapi juga dari gadget melalui permainan game, taruhan, tayangan kejahatan atau perkelahian, dan sebagainya. Selain dari visual, banyak juga generasi yang mengalami kekerasan secara nyata.
Kenakalan atau kejahatan remaja yang membudaya itu karena lemahnya kontrol baik dari orang tua, Guru, masyarakat, maupun negara. Mirisnya, saat ini ketika ada guru yang akan memberi hukuman atas nakalnya siswa maka justru dituduh melanggar hak asasi manusia (HAM) bahkan diperkarakan.
Di satu sisi, saat anak didik teracuni budaya kekerasan, jumlah siswa dalam satu kelas pun terlalu banyak, sehingga pendidik susah untuk mengontrol semua siswanya. Akhirnya, siswanya semakin beringas, pendidiknya pun merasa stres. Lingkungan yang buruk dan keras tentu sangat memicu dan memengaruhi tercetusnya perundungan.
Faktor agama
Selain dari semua itu, sekolah aman sulit diwujudkan saat ini karena para siswanya jauh dari agama. Padahal, agama adalah alat kontrol yang paling kuat. Agama terutama Islam tentu melarang untuk menyakiti orang lain, apalagi membunuhnya. Inilah pentingnya memberikan pendidikan agama Islam bahkan harus diutamakan dengan porsi yang setidaknya sama, bahkan lebih banyak dibanding dengan pelajaran lainnya.
Akan tetapi, saat ini pendidikan agama Islam malah dipandang sebagai sesuatu yang harus dicurigai, dianggap sebagai sumber radikalisme. Mirisnya, seperti di perguruan tinggi, atau di sebuah masjid, bahkan ada ditugaskan satpam yang mengawasi, yaitu kegiatannya apa, ceramahnya tentang apa, dan sebagainya. Akhirnya, banyak masjid-masjid yang sepi dari kegiatan menggali ilmu Islam dan mengundang para pakar.
Semua itu sejatinya framing jahat dari orang-orang yang punya kuasa. Tujuannya untuk mencitrakan buruk apa-apa yang bersifat Islam. Pelajaran agama di sekolah pun banyak dikurangi, baik intensitas maupun materinya. Hasilnya, generasi jauh dari Islam dan kenakalan bahkan kejahatan merajalela di lingkungan sekolah. Kini, sekolah aman hanya menjadi angan-angan semata.
Akar masalah
Sekolah aman yang susah untuk diwujudkan ini sejatinya mengerucut pada sebuah sistem, yaitu negara meninggalkan aturan Islam, tetapi malah menerapkan aturan dari ideologi kapitalisme sekuler. Hal ini sangat mempengaruhi dalam cara pandang rakyatnya.
Di antaranya karena ideologi kapitalisme melarang penerapan syariat Islam dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Syariat Islam boleh diterapkan hanya dalam ranah individu. Yang demikian itu karena landasan ideologi kapitalisme demokrasi yang sekuler itu adalah memisahkan syariat Islam dengan kehidupan.
Tujuannya agar bisa meraih materi dunia sebanyak-banyaknya. Hal itu karena dalam ideologi kapitalisme demokrasi, standar kesuksesan atau kebahagiaan tertinggi adalah materi. Akibatnya, halal dan haram, terpuji atau tercela, semua itu tidak dipedulikan.
Dalam mendidik generasi pun begitu, kurikulumnya tidak berorientasi pada generasi cemerlang, yang bertakwa dan berakhlak mulia. Sebaliknya kurikulum yang ada malah di-link and match-kan dengan industri. Generasi bangsa hanya diarahkan menjadi pekerja dengan orientasi materi.
Sistem pendidikan yang berorientasi pada materi ini mengakibatkan sulitnya mengarahkan anak-anak untuk memiliki kepribadian yang mulia sebagaimana kepribadian Islam. Memang, bisa jadi mereka akan menjadi siswa yang pandai, tetapi minim moral dan akhlak. Mereka sulit menerima kebaikan dan kebenaran Islam. Sebaliknya, emosi mereka mudah tersulut, memiliki ego yang tinggi, dan cenderung hedonis.
Baca juga: Di Balik Narasi Gap Generasi
Paradigma Islam
Dalam sistem Islam, tujuan utama pendidikan adalah membentuk karakter atau kepribadian Islam. Oleh karena itu, output pendidikan dalam sistem Islam yaitu siswa yang berpola pikir berdasarkan Islam, dan berpola sikap selalu sesuai dengan syariat Islam.
Siswa yang berkarakter Islam akan memiliki ketakwaan yang tinggi pada Allah Swt.. Setiap sikapnya akan dipikirkan dulu, apakah boleh atau tidak, baik atau buruk, terpuji atau tercela, juga halal atau haram. Segala yang haram, buruk, atau tercela senantiasa akan dihindari, sehingga selalu terjaga moral dan akhlaknya, serta ketakwaan pada Tuhannya. Allah Swt. berfirman,
هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
"Dialah (Allah) yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang (bertugas) membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (TQS. Al-Jumuah: 2)
Dalam ayat tersebut Allah Swt. mengutus Rasulullah agar membacakan Al-Qur'an kepada umat, menyucikan mereka dari akidah yang rusak dan akhlak yang buruk, juga mengajari mereka Al-Qur'an dan As-Sunah. Hal ini karena sebelum diutusnya Rasulullah, mereka berada dalam penyimpangan dari kebenaran.
Demikianlah tujuan utama pendidikan dalam Islam, yaitu bukan sekadar siswa menjadi pintar, bukan untuk mengejar kedudukan, tetapi membentuk akhlak dan ketakwaan pada Allah Swt. Dengan demikian, hanya dengan penerapan sistem Islam secara kaffah oleh negara, maka dunia pendidikan akan bersinar, dan melahirkan generasi yang cemerlang, bertakwa dan berakhlak mulia. Merekalah yang nantinya layak menjadi pemimpin bangsa.
Khatimah
Sekolah aman tidak akan pernah terealisasi hanya dengan melakukan Program Safari Sekolah Ramah Anak di berbagai sekolah. Fenomena perundungan atau kejahatan di sekolah disebabkan karena kekerasan dan kejahatan sudah menjadi budaya di negeri ini. Perilaku kekerasan sering disaksikan baik di media maupun di dunia nyata. Inilah yang membentuk jiwa anak-anak hari ini.
Sayangnya, negara abai terhadap hal ini. Wajar karena negeri ini menerapkan ideologi kapitalisme yang diadopsi dari Barat. Oleh sebab itu, tujuan pendidikan bukan lagi tempat untuk mendidik anak agar menjadi generasi takwa dan berakhlak mulia. Akan tetapi, pendidikan dianggap sebagai ladang bisnis untuk meraup cuan sebanyak-banyaknya.
Dengan demikian, selama sistem pemerintahan negeri ini masih mengadopsi ideologi kapitalisme yang tentu sekuler dan liberal, maka tiga dosa besar pendidikan seperti kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi yang dilakukan dan menimpa anak-anak pun tidak bisa dihapus. Walhasil, harapan mewujudkan sekolah aman pun, jauh panggang dari api. Wallahualam bissawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

















