Tujuan Hidup Kaum Muslim Kian Terdistraksi

Tujuan hidup kaum muslim kiat terdistraksi

Mirisnya, generasi masa kini hidup dalam belenggu pemikiran sekuler. Aktivitasnya sibuk mengejar dunia, tetapi tak kunjung sampai pada tujuan.

Oleh. Tari Ummu Hamzah
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-Era digital melahirkan masyarakat yang anti gagap teknologi. Kalau beberapa tahun lalu kita banyak menemukan masyarakat yang tidak paham soal teknologi, di masa kini semua kalangan mahir menggunakan smartphone. Karena aplikasi media sosial dibuat semudah mungkin bagi pengguna baru.

Kemudahan ini memang mampu menciptakan efisiensi dalam berkomunikasi. Namun, di balik itu masyarakat banjir informasi akibat penggunaan media sosial. Menurut data tahun 2024 dari Komdigi, pemakai internet di Indonesia sudah mencapai 221 juta, atau etara dengan 79,5% dari total populasi Indonesia. Ini bukti kalau hampir 80% masyarakat kita jadi pengguna internet terbesar di dunia. (Komdigi.go.id, 27-02-2025)

Media Sosial yang Mendistraksi

Masifnya aktivitas komunikasi lewat daring menjadikan masyarakat sibuk dengan aktivitas digitalnya. Kondisi ini bisa jadi sumber distraksi besar. Fokus masyarakat mudah terpecah karena terlalu sering menggeser layar handphone-nya. Mudah tergiur dengan berbagai tawaran iklan. Tertipu dengan kehidupan publik figur.

Sungguh! Fenomena ini jika dibiarkan akan menciptakan generasi yang tidak memahami tujuan hidup. Bingung mencari jati diri akibat kebanjiran informasi tanpa sandaran yang hakiki. Haus akan validasi serta apresiasi.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Qari'ah 101: Ayat 4.
"Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan,"

Konteks ayat di atas sebenarnya ditujukan pada kondisi manusia ketika hari kiamat nanti. Namun, yang ingin saya bahas di sini manusia diibaratkan seperti laron. Mengapa laron? Perilaku laron yang tertarik pada cahaya juga berkaitan dengan insting kawin mereka. Saat laron dewasa terbang mencari pasangan, mereka cenderung mengikuti cahaya alami, seperti cahaya bulan atau bintang, yang bisa menjadi panduan arah dalam penerbangan mereka.

Namun, cahaya buatan seperti lampu jalan atau lampu rumah juga mengganggu pola ini dan sering kali menarik laron berkerumun di sekitar sumber cahaya. Hal ini bisa disebabkan oleh kebingungan mereka, karena cahaya buatan ini mengganggu orientasi alami mereka.(Gramedia.com)

Lampu buatan diibaratkan seperti sosial media. Terlihat indah, tetapi penuh tipuan. Cahaya alami dari bulan diibaratkan seperti cahaya kebenaran dari Allah, yaitu Al-Qur'an. Sejatinya, fitrah manusia itu selalu ingin mengikuti kebaikan, tetapi karena era digital masa kini, menjadi daya tarik luar biasa. Hingga umat lupa akan arah kehidupannya ke mana? Tak sadar bahwa mereka telah teperdaya.

Redupnya Potensi Generasi Muda Muslim

Lalu apa penyebab umat manusia kehilangan tujuan hidup? Tidak lain dan tidak bukan karena sistem kapitalis yang berasaskan sekularisme. Memisahkan agama dari kehidupan, sehingga penganutnya pun hidup serba bebas, tak punya kompas moral hingga hilang arah, bingung tujuan hidup, dan krisis jati diri.

Mirisnya, generasi masa kini hidup dalam belenggu pemikiran sekuler. Aktivitasnya sibuk mengejar dunia, tetapi tak kunjung sampai pada tujuan dan terus mengejar kesenangan tanpa ada satu pun yang ia dapatkan. Ia pun menghadapi hidupnya dengan pesimis, penuh keluh kesah, risau, gelisah, dan penyesalan. Ini kondisi mayoritas mereka yang meyakini kenikmatan ragawi sebagai tujuan hidup dan simbol kebahagiaan.

Akibatnya potensi generasi muda muslim dikerdilkan oleh ide sekularisme, liberalisme, dan materialisme yang menjadikan mereka egois dan pincang kehidupannya. Mereka diaruskan untuk menjadi kelompok pembebek yang rentan oleh kerakusan kelompok kuat, yaitu para kapitalis raksasa dunia.

Baca juga: Hidup Bukan Hanya Mencari Kesenangan

Islam Memberikan Identitas dan Tujuan Hidup

Allah Taala berfirman, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat di atas merupakan jawaban atas eksistensi kita di dunia ini. Allah Ta'ala tidak menciptakan manusia, alam semesta, dan kehidupan, tanpa tujuan yang jelas. Semua sudah ada dalam kendali dan kekuasaan Allah. Identitas kita sebagai muslim haruslah sadar akan arah dan tujuan hidup.

Untuk itu kesadaran ini harus dibarengi dengan tindakan nyata sebagai generasi muslim kita harus melejitkan segala potensi kita. Mengoptimalkan kekuatan alamiah para muda dengan pemikiran-pemikiran yang cemerlang serta kekutan fisik yang masih prima.

Lalu mengambil peran dalam membangun dan memimpin peradaban Islam yang telah runtuh. Hingga kaum muslim berhasil mengangkat seorang imam untuk menjadi perisai kaum muslimin. Serta melaksanakan hukum syarak.

Kini saatnya generasi muslim dipeluk kembali dalam asuhan ideologi Islam sehingga menjadi pelopor perubahan tatanan dunia, menuju penerapan kembali Islam secara kafah. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Tari Ummu Hamzah
Tari Ummu Hamzah Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
Mahasiswa Hukum pun Terjerat Hukum
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram