Menjadi Negara Mandiri Tanpa Utang dengan Ideologi Islam

Utang

Kepemimpinan dalam Islam bukanlah soal kuasa, melainkan tentang utang amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan. Ketika seseorang menggunakan ideologi Islam, ia sadar bahwa menjadi pemimpin cemerlang berarti memikul tanggung jawab atas seluruh rakyatnya dan melayani mereka dengan ketulusan.

Oleh. Ummi Fatih
(Kontributor NarasiLiterasi.Id)

NarasiLiterasi.Id-Di tengah kondisi bencana alam yang semakin ganas, gelombang laut yang tinggi juga turut mengepung Indonesia dengan keras.

Angin tidak hanya bertiup kencang, tetapi juga menyembur kuat hingga membuat ombak menakuti para nelayan untuk berangkat mencari ikan. Apalagi ketika kapal tradisional yang mayoritas menjadi alat transportasinya, nelayan pun semakin mundur ketakutan.

Menurut sebuah ulasan berita Tribunnews.com pada 16 Januari 2026, hanya untuk wilayah Indramayu saja kecepatan angin lautnya sudah mencapai 30 knot. Akibatnya, 30 ribu nelayan dengan alat transportasi kapal kecil pun sudah tidak bisa melaut. Kini, mereka lebih memilih melakukan aktivitas perbaikan kapal dan alat penangkapan ikan. Jika cuaca sudah membaik, maka mereka berharap dapat kembali melaut.

Jika kondisi ekstrem alam yang memang tidak bisa manusia kendalikan ini terus berlanjut, perekonomian masyarakat menjadi kian terjepit. Pemenuhan kebutuhan pangan pun akan terasa sulit.

Baca juga: utang luar negeri dan kedaulatan bangsa

Tak heran, pemerintah Indonesia memutuskan untuk segera menjalin hubungan ekonomi dengan Inggris yang dianggap mampu menghasilkan kapal modern. Dengan begitu, nelayan akan aman dari bahaya saat berlayar. Bahkan, kebutuhan pengoperasian setiap kapal modern melalui 8 orang warga, dinyatakan akan mampu mengurangi jumlah pengangguran.

Anehnya, jalinan ekonomi untuk membeli 1000 kapal laut pada Inggris ternyata justru akan Indonesia lakukan dengan teknik utang. Sebagaimana pernyataan seorang Direktur Kapal Perikanan dan Alat Penangkapan Ikan yang diwawancarai oleh tim media detikFinance pada 15 Desember 2025. Menurutnya, dana modernisasi kapal yang dijalin antara Indonesia dan Inggris diolah melalui aliran dana pinjaman luar negeri yang sudah di ditulis dalam buku catatan khusus Bappenas.

Jika demikian, Bukankah semua itu justru akan membuat rakyat semakin tertekan? Makanan bergizinya menjadi mahal di samping tagihan-tagihan pembayaran utang negara yang semakin menguras kantong keuangan mereka.

Solusi Utang dalam Islam

Jika ditelaah lebih dalam, sebenarnya pemimpin Indonesia tersebut tidak perlu mengambil langkah utang luar negeri yang sudah jelas sangat merugikan. Sebab, ada unsur riba atau tambahan nilai pembayaran utang yang lebih dari nominal aslinya.

Namun, karena sistem kapitalisme yang dijadikannya sebagai pedoman, pemimpin negara tidak bisa berpikir jernih dan matang terlebih dahulu. Status buruk yang sudah tersebar lebih dituruti secara emosional. Akibatnya, berbagai macam status buruk negara seolah-olah tidak bisa diubah menjadi kebaikan.

Dari masalah utang, sang pemimpin negara mungkin melakukannya karena merasa negara berkembangnya belum mampu membuat sendiri kapal modern itu. Sebab, kualitas masyarakatnya masih dianggap kurang cerdas. Lalu, alat dan bahan pembuatan yang diperlukan pun masih tidak dimiliki.

Padahal, ketika ia menggunakan ideologi Islam, ia akan sadar untuk menjadi seorang pemimpin cemerlang yang bertanggung jawab terhadap semua rakyatnya. Ia akan tulus melayani rakyatnya karena ia tahu bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

“Setiap pemimpin yang menangani urusan kaum Muslimin, tetapi tidak berusaha semaksimal mungkin untuk mengurusi mereka dan memberikan arahan kepada mereka, maka dia tidak akan bisa masuk surga bersama kaum Muslimin itu. (HR. Muslim)

Dari hadis di atas, seorang pemimpin Muslim bertakwa akan mengendalikan pendidikan negara dengan konsep kebenaran yang berkualitas. Generasi-generasi cerdas akan terbentuk sehingga mereka dapat membuat sendiri alat-alat kebutuhan hidup yang diperlukan, termasuk kapal kelautan modern.

Selanjutnya, dari masalah kebutuhan pangan bergizi yang harus dipenuhi setiap hari, pemerintah mungkin merasa hubungan dengan Inggris akan membuat masalah cepat teratasi. Sebab, Inggris bersedia memberi utang kapal dalam jumlah yang besar.

Namun, tidakkah dipikirkan kembali bahwa cuaca ekstrem laut tidak serentak berlaku di seluruh daerah Indonesia dalam sehari. Ketika misalnya, di daerah Jawa Timur, para nelayan tidak dapat melaut. Nelayan dari daerah lain yang dapat melaut masih dapat memberi stok makanan lautnya.

Selain itu, nilai gizi tidak hanya berasal dari makanan laut, tetapi juga dapat melalui makanan daratan. Oleh karena itu, daratan juga harus diperhatikan agar tidak mudah rusak saat cuaca ekstrem datang. Kawasan liar dijaga bukan diubah. Adapun kawasan perkebunan juga harus tetap dijaga dan dikembangkan dengan ilmu pengetahuan agar hasilnya meningkat.

Dengan demikian, masalah pengangguran pun lekas teratasi. Lowongan kerja tidak hanya dibuka bagi para nelayan operasional kapal modern. Namun, proyek pengembangan perkebunan dan merakit sendiri kapal tersebut akan membuat para warga dalam negerinya diterima menjadi tenaga kerja yang layak digaji.

Intinya, pemikiran kapitalisme dibuang dan diganti dengan pemikiran Islam. Dengan itu, kebutuhan pokok masyarakat Indonesia akan semakin terjamin. Harapan untuk mengubah Indonesia dari status negara berkembang menjadi negara maju akan mudah diwujudkan.

Lantas, ketika tata kelola negara yang dijalankan oleh sang pemimpin ternyata sekarang masih terjebak dalam lubang kapitalisme, apakah kita akan diam? Padahal, efek negatifnya sudah kita rasakan sejak lama. Wallahu a'lam bishawab.[]

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor Narasiliterasi.id
Ummi Fatih Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
Child Grooming: Lemahnya Perlindungan Negara
Next
Pembangunan Kapitalistik Mengubah Berkah Jadi Musibah
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram