
Peristiwa pemindahan kiblat pada bulan Syakban merupakan momentum penting dalam sejarah Islam yang mengandung pesan mendalam tentang ketaatan, identitas, dan persatuan umat.
Oleh. Susi Rahma S.
(Kontributor NarasiLiterasi.Id)
NarasiLiterasi.Id-Awal Februari ini Majelis Taklim Lentera Quran kembali digelar di Mesjid Raya Bandung pada 1 Februari 2026. Mengangkat tema Syakban dengan pembicara Ustazah Hasya Salsabila S.E.
Bulan Syakban merupakan salah satu bulan yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Selain menjadi bulan persiapan menjelang Ramadan, Syakban juga menyimpan peristiwa sejarah penting yang memiliki makna mendalam bagi perjalanan umat Islam.
Salah satu peristiwa monumental yang terjadi pada bulan ini adalah turunnya wahyu tentang pemindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis menuju Ka'bah di Makkah sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 144. Peristiwa ini bukan sekadar perubahan arah dalam ibadah, tetapi mengandung pesan besar tentang ketaatan, identitas umat, dan persatuan kaum Muslimin.
Syakban sebagai Bulan Mulia
Dalam berbagai riwayat, Rasulullah ï·º dikenal memperbanyak amalan pada bulan Syakban. Hal ini menunjukkan bahwa Syakban memiliki kemuliaan tersendiri sebagai momentum peningkatan kualitas keimanan dan ketakwaan. Selain menjadi pengantar menuju Ramadan, Syaban juga menjadi saksi turunnya wahyu yang menguatkan identitas umat Islam melalui pemindahan arah kiblat. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Syakban bukan hanya bulan biasa, tetapi bulan yang mengandung pelajaran penting bagi perjalanan spiritual dan sejarah umat Islam.
Turunnya Wahyu Pemindahan Kiblat
Pada masa awal Islam, kaum Muslimin melaksanakan salat dengan menghadap Baitul Maqdis di Palestina. Hal ini berlangsung selama beberapa waktu setelah hijrah ke Madinah. Rasulullah ﷺ sangat berharap agar arah kiblat dipindahkan menuju Ka’bah, yang merupakan bangunan suci peninggalan Nabi Ibrahim as. dan menjadi simbol tauhid sejak dahulu.
Harapan Rasulullah ï·º tersebut kemudian dikabulkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 144 yang memerintahkan kaum Muslimin untuk menghadap Masjidil Haram. Perintah ini langsung dilaksanakan oleh kaum Muslimin tanpa penundaan, bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa para sahabat langsung mengubah arah salat ketika perintah tersebut turun.
Tafsir QS. Al-Baqarah: 144
Ayat ini mengandung berbagai makna penting yang menjadi pedoman bagi umat Islam.
Pertama, pengabulan permohonan Rasulullah ï·º.
Allah Swt. menunjukkan kasih sayang dan penghormatan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan mengabulkan keinginannya untuk menjadikan Ka’bah sebagai kiblat. Hal ini juga menegaskan kedudukan Rasulullah ﷺ sebagai pembawa risalah terakhir.
Kedua, penegasan bahwa Islam adalah kebenaran.
Pemindahan kiblat menjadi penegasan identitas umat Islam yang berbeda dari tradisi keagamaan sebelumnya. Islam hadir sebagai penyempurna risalah para nabi terdahulu dan membawa ajaran tauhid yang murni.
Ketiga, ujian keimanan bagi kaum Muslimin.
Perubahan arah kiblat menjadi ujian ketaatan. Kaum Muslimin dituntut untuk menerima dan melaksanakan perintah Allah Swt. tanpa ragu. Sikap ini menjadi bukti keimanan yang sejati, yaitu tunduk sepenuhnya kepada ketentuan Allah Swt.
Keempat, munculnya polemik dari kalangan Yahudi dan kaum munafik.
Sebagian pihak mencoba menimbulkan keraguan terhadap syariat Islam dengan mempertanyakan perubahan kiblat. Hal ini menunjukkan bahwa dalam perjalanan dakwah, umat Islam sering menghadapi tantangan berupa keraguan dan propaganda.
Kelima, simbol kesatuan umat.
Menghadap Ka’bah menjadikan umat Islam di seluruh dunia memiliki arah yang sama dalam ibadah. Perbedaan bahasa, suku, dan budaya tidak menghalangi persatuan umat dalam satu tujuan yang sama, yaitu beribadah kepada Allah Swt.
Baca juga: ‎Rajab dan Isra Mikraj: Momentum Membentuk Kesadaran Umat‎
Pelajaran Berharga dari Peristiwa Pemindahan Kiblat
Peristiwa ini memberikan banyak pelajaran penting bagi umat Islam.
Islam sebagai risalah yang sempurna.
Pemindahan kiblat menunjukkan bahwa syariat Islam diturunkan secara bertahap dengan hikmah yang mendalam. Kesempurnaan Islam tampak dari keselarasan antara aspek akidah, ibadah, dan kehidupan sosial.
Perintah datang ketika Mekkah masih dikuasai Quraisy. Saat perintah menghadap Ka’bah turun, Mekkah masih berada dalam penguasaan kaum Quraisy. Hal ini memberikan isyarat bahwa kebenaran tidak bergantung pada kondisi kekuasaan semata. Perintah Allah Swt. tetap harus dilaksanakan meskipun situasi belum ideal.
Isyarat kemenangan Islam. Perintah menjadikan Ka’bah sebagai kiblat mengandung harapan besar bahwa suatu saat Makkah akan kembali berada dalam naungan Islam. Dalam sejarah, hal ini terbukti dengan peristiwa Fathu Makkah yang menjadi tonggak kemenangan dakwah Islam.
Implementasi Ayat dalam Kehidupan
Nilai-nilai dalam QS. Al-Baqarah ayat 144 tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan umat Islam masa kini.
Pertama, menumbuhkan ketaatan kepada Allah Swt.
Keimanan sejati ditunjukkan dengan kesediaan menjalankan perintah Allah Swt. secara menyeluruh. Umat Islam dituntut untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara komprehensif dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Kedua, mengambil pelajaran dari kondisi umat saat ini.
Dalam berbagai bagian dunia, umat Islam menghadapi tantangan berupa ketidakadilan, konflik, dan berbagai krisis moral. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa umat Islam perlu memperkuat persatuan, meningkatkan kualitas pendidikan, serta membangun solidaritas kemanusiaan.
Ketiga, pentingnya persatuan umat.
Pemindahan kiblat mengajarkan bahwa persatuan adalah kekuatan besar bagi umat Islam. Persatuan dapat diwujudkan melalui kerja sama dalam kebaikan, penguatan ukhuwah Islamiyah, dan kontribusi positif bagi masyarakat luas.
Keempat, menyebarkan nilai Islam melalui dakwah yang damai dan bijaksana.
Islam mengajarkan penyampaian kebenaran dengan hikmah, keteladanan, dan akhlak mulia. Upaya menyebarkan nilai-nilai Islam hendaknya dilakukan dengan cara yang membawa kedamaian dan kemaslahatan bagi semua.
Penutup
Peristiwa pemindahan kiblat pada bulan Syakban merupakan momentum penting dalam sejarah Islam yang mengandung pesan mendalam tentang ketaatan, identitas, dan persatuan umat. QS. Al-Baqarah ayat 144 mengajarkan bahwa umat Islam harus memiliki keyakinan yang kuat terhadap ajaran Islam serta berusaha mewujudkan persatuan dalam kehidupan.
Melalui tadabbur ayat ini, umat Islam diharapkan mampu mengambil pelajaran berharga untuk memperkuat keimanan, meningkatkan persatuan, serta berkontribusi dalam menghadirkan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat. Dengan semangat persatuan dan ketaatan kepada Allah Swt., umat Islam diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman serta mewujudkan kehidupan yang lebih adil, damai, dan penuh keberkahan. Wallahualam bissawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com


















