Pendidikan dan Fungsi Negara

Pendidikan dan fungsi negara

Pentingnya pendidikan dalam Islam. Khilafah akan memudahkan bagi siapa saja yang ingin menuntut ilmu, yakni dengan memberikan pendidikan yang berkualitas dan tanpa biaya.

Oleh. Maftucha S. Pd
(Kontributor NarasiLiterasi.Id)

NarasiLiterasi.Id-"Kasus bunuh diri seorang bocah SD di NTT menunjukkan kepada kita bahwa pendapatan masyarakat tidak bisa mencukupi kebutuhan mereka. Sulitnya mencari pekerjaan yang layak membuat mereka harus hidup dalam keterbatasan."

Beberapa waktu yang lalu Ketua Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana mengatakan bahwa salah satu faktor yang membuat anak Indonesia putus sekolah adalah jajan harian yang tidak terpenuhi. Pernyataan ini menimbulkan pro dan kontra karena faktanya banyak anak-anak yang justru rela uang jajannya sedikit bahkan tidak jajan agar dia tetap bisa sekolah.

Menurut Dadan, jajan memberikan dampak bagi anak ketika di sekolah sehingga program MBG menjadi solusi bagi anak-anak tersebut agar sekolahnya menjadi lebih bersemangat.

Bagi seorang pemimpin tentu pemikiran ini tidak menyentuh persoalan mendasar yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Jika dalam memahami hakikat persoalan saja keliru maka nanti solusi yang akan diterapkan juga tidak akan menyelesaikan masalah hingga ke akarnya.

Masalah Utama

Peristiwa bunuh diri yang dilakukan YBR (10), anak kelas IV SD Negeri di NTT seharusnya menjadi tamparan keras bagi pemerintah. YBR ditemukan meninggal dengan bunuh diri akibat orang tuanya tidak bisa membelikan pensil dan buku. Orang tuanya juga masih mempunyai tunggakan di sekolah. Walaupun statusnya SD Negeri yang katanya gratis. Namun, tetap saja wali murid harus membeli buku, seragam, dan cicilan lainnya. (kompas.id, 3-2-2026)

Hal ini menunjukkan bahwa masalah utama masyarakat Indonesia adalah penghasilan yang tidak mencukupi kebutuhan mereka. Sulitnya mencari pekerjaan yang layak membuat mereka harus hidup dalam keterbatasan.

Sejatinya manusia tidak cuma memenuhi kebutuhan makan mereka, tetapi juga ada kebutuhan berobat ketika mereka sakit, biaya pendidikan, listrik, air, BBM, kebutuhan membeli pakaian yang layak, kebutuhan kemasyarakatan lainnya seperti iuran kampung, dan seterusnya.

Standar kemiskinan yang ditetapkan hanya menjadi angka penggembira bagi pemerintah karena menekan jumlah kemiskinan akut yang terjadi di masyarakat. Namun, menjadi kesengsaraan bagi masyarakat. Kalaupun gaji sudah sebesar UMR masyarakat tetap harus memotong anggaran sana-sini agar bisa memenuhi kebutuhan mendasar lainnya.

Negara Abai

Pemimpin kita abai dengan kondisi masyarakat adalah fakta. Meningkatnya angka pengangguran dan PHK adalah fakta. Sulitnya mencari pekerjaan juga fakta. Inilah alasan kenapa masyarakat susah meraih status pendidikan mereka. Banyak lulusan SMA lebih memilih bekerja seadanya daripada melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Alasannya, bekerja bagi mereka lebih menyelamatkan dibandingkan dengan kuliah yang biayanya setinggi langit.

Padahal untuk menjadi negara yang maju, kualitas pendidikan adalah nomor satu. Jika banyak dari masyarakat mengenyam pendidikan dengan baik maka mereka akan menjadi para pemikir dan peneliti yang bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Karena itu, negara telah abai dalam menjaga dan meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat. Negara juga abai dalam memberikan pendidikan yang bisa diakses oleh seluruh kalangan masyarakat.

Pendidikan Urusan Pribadi

Negara yang menerapkan sistem kapitalisme, urusan sandang, pangan, dan papan adalah menjadi tangguh jawab mereka sendiri. Negara berlepas tangan dari kewajiban mereka sebagai pemimpin.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, negara menyerahkan kepada swasta sebagai pengurusnya. Misalnya listrik. Kita memiliki PLN. Namun, PLN mendapatkan pasokan dari perusahaan listrik swasta. Kemudian BBM. Kita punya PT Pertamina, tetapi kilang-kilang minyak yang punya kebanyakan swasta. Begitu juga dengan air yang seharusnya milik umum menjadi dikuasai oleh swasta. Hasilnya air menjadi barang yang mahal. Kalaupun pemerintah campur tangan dalam berbagai kebijakan yang terkait hajat hidup orang banyak, rakyat harus menebusnya dengan harga yang mahal.

Begitu juga dengan pendidikan di negeri ini. Ada UU BHP yang menjadikan pendidikan bukan lagi ditanggung oleh negara melainkan badan itu sendiri. Sekolah swasta atau perguruan tinggi harus membiayai operasional mereka sendiri sehingga kita bisa merasakan bahwa biaya kuliah menjadi sangat mahal. Inilah buah dari diterapkannya sistem kapitalisme.

Pendidikan dalam Islam

Islam menempatkan ilmu atau pendidikan sebagai hal yang mulia dan menjadi kebutuhan yang fundamental. Hal ini disampaikan secara jelas dalam Al-Qur'an yang artinya:

"Tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam ilmu agama dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali agar mereka dapat menjada dirinya?" QS. At-Taubah ayat 122

Dalam Al-Qur'an surat Al-Mujadilah ayat Allah Swt. juga berfirman yang artinya: "Hai orang-orang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Ada banyak hadis yang menekankan pentingnya seseorang menghiasi dirinya dengan ilmu karena dengan ilmu manusia akan mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Dalam Islam ilmu mendahului perbuatan, artinya apa yang dilakukan orang beriman harus dilandaskan pada ilmu.

Baca juga: Strategi Pendidikan Khilafah

Peran Negara Islam dalam Pendidikan

Karena sedemikian pentingnya pendidikan dalam Islam, maka Negara Islam yakni Khilafah akan memudahkan bagi siapa saja yang ingin menuntut ilmu, yakni dengan memberikan pendidikan yang berkualitas dan tanpa biaya atau gratis.

Pendidikan non biaya ini adalah sesuatu yang bukan mustahil karena Khilafah memiliki pemasukan yang jelas dan pasti. Kekayaan alam juga akan dikembalikan kepada yang punya yakni rakyat, sehingga kekayaan tidak berada pada lingkaran elit tertentu saja.

Dalam sejarahnya Islam telah menorehkan peradaban yang gemilang, cahaya kemilaunya bahkan menyinari hingga ke pelosok Negara Eropa yang pada waktu itu sedang mengalami masa kegelapan.

Islam mencetak para ilmuwan yang bukan hanya paham sains dan teknologi, akan tetapi juga mumpuni dalam ilmu agama. Mereka ahli kedokteran sekaligus ahli tafsir Al-Qur'an, mereka ahli astronomi sekaligus ahli tafsir hadis. Semakin tinggi ilmu mereka maka semakin tunduk pula dihadapan Allah Swt.

Ilmu adalah jembatan bagi manusia untuk mengenal siapa Khaliq-nya. Islam mempersatukan ilmu dan sains dengan agama sehingga menciptakan peradaban yang indah dan mulia. Wallahualam bishawab. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor Narasiliterasi.id
Maftucha Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
Syakban: Pemindahan Kiblat Menuju Kesatuan Umat
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram