Sistem Sekuler Tak Melahirkan Aparat Bermartabat

Sistem sekuler tak melahirkan aparat bermartabat

Sistem yang menjauhkan agama dari kehidupan ini tidak akan mampu melahirkan sosok aparat yang berkepribadian Islam.

Oleh. Setyorini
(Kontributor Narasiliterasi.id & Komunitas Ibu Peduli Negeri)

Narasiliterasi.id-Sikap berani ditunjukkan oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Tiyo Ardianto dengan kritik tajamnya terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang menurutnya tidak menyentuh akar permasalahan bangsa ini, sungguh patut diapresiasi.

Kritiknya juga ditujukan pada sikap masif pemerintah terhadap berbagai upaya intimidasi yang ada di tengah-tengah masyarakat. Ia menganggap bahwa rezim saat ini kurang tegas, terutama dalam kasus-kasus teror pada orang-orang kritis.

Diamnya Aparat dan Teror pada Aktivis

Ia menyebutkan telah menerima serangkaian teror usai mengirim surat kepada UNICEF terkait masalah pendidikan. Hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan mudah telah ternodai dengan adanya kasus meninggalnya anak SD usia 10 tahun yang melakukan bunuh diri hanya karena tidak mampu membeli alat tulis seharga Rp10.000 di Nusa Tenggara Timur. (Tempo.co, 17-02-2026)

Peristiwa intimidasi atau teror ini pun terjadi pada sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam BEM Universitas Indonesia saat menjelang pelaksanaan pemilihan Ketua BEM Universitas Indonesia pada akhir Januari 2026. Teror yang mereka dapatkan pun beragam, mulai pencemaran nama baik, praktik doxing, hingga pengiriman paket misterius.

Selain intimidasi, penangkapan pada aktivis mahasiswa yang kritis terhadap kebijakan nyeleneh pemerintah terjadi pula di berbagai kampus seluruh Indonesia.

Ketidakadilan mereka terima dan rasakan. Padahal sejatinya mereka hanya berharap di setiap kritik yang mereka sampaikan akan dipertimbangkan agar Indonesia berbenah dan memperbaiki kondisi terpuruk ini.

BEM Seluruh Indonesia (BEM SI Kerakyatan) bergerak dan menyelenggarakan konsolidasi nasional yang di antaranya menyampaikan hal tentang darurat polisi pembunuh, stop brutalitas aparat, ACAB 1312, dan reformasi Polri.

Sistem Sekuler Akar Masalah

Dalam sistem sekuler, keberadaan aparat yang bertindak sewenang-wenang menjadi sebuah keniscayaan. Sistem yang menjauhkan agama dari kehidupan ini tidak akan mampu melahirkan sosok aparat yang berkepribadian Islam.

Maka dengan hanya tuntutan reformasi dalam tubuh Polri saja tidak cukup, tanpa merenovasi sistem yang rusak ini kembali kepada aturan Allah Swt. Bahkan merupakan sebuah ilusi lahirnya polisi yang bermartabat (berkepribadian Islam) dalam menjalankan seluruh tugasnya sebagai penjamin keamanan dalam negeri.

Banyak contoh kasus korban tewas di tangan oknum polisi hingga saat ini menguap, menghilang, dan tidak memberikan keadilan sama sekali. Ini karena penguasa sistem sekuler tidak benar-benar hadir untuk menjadi pembela bagi rakyatnya.

Berbeda dengan sistem Islam yang berdiri atas dasar Al-Qur’an dan sunah, kekuasaan merupakan amanah dan akan dipertanggungjawabkan di hari akhirat kelak.

Baja juga: Dualisme Nilai Demokrasi, Kritis Dilabeli Anarkis

Kepolisian dalam Islam

Dalam sistem Islam, kepolisian berada di bawah Departeman Keamanan Dalam Negeri, yang dipimpin oleh Direktur Keamanan Dalam Negeri. Kepolisian adalah alat utama negara dalam menjaga keamanan dalam negeri. Semua tugas dan fungsinya diatur dalam UU khusus yang sesuai dengan ketentuan hukum syara'.

Dalam menjalankan tugasnya, aparat kepolisian harus mempunyai karakter yang unik. Seperti, keikhlasan, mempunyai akhlak yang baik, sikap tawadu, tidak arogan, punya rasa kasih sayang yang tinggi. Tindak tanduknya pun baik, seperti murah senyum, menjauhi perkara syubhat, bijak, menjaga lisan, berani, jujur, amanah, taat, tegas, dan berwibawa.

Dalam menyelesaikan tugas dalam rangka mencegah dan menindak beberapa kejahatan, bisa dilakukan dengan pengawasan dan penyadaran. Kemudian untuk eksekusi keputusan dilakukan oleh hakim terhadap setiap pelaku tindak kejahatan.

Hukum Islam hadir untuk menghadirkan rasa jera hingga meminimalisasi kejahatan serupa terulang. Di dalam Islam setiap korban pembunuhan akan mendapatkan keadilan yang sama. Penguasa Islam akan menetapkan diat 100 ekor unta bagi setiap penghilangan jiwa dan bagi pemilik emas diatnya 1000 dinar karena Islam menghargai setiap jiwa manusia.

Sebagaimana hadis nabi yang mengatakan, ”Sesungguhnya pada jiwa diatnya 100 ekor unta dan bagi pemilik emas diatnya 1000 dinar. (HR. An-Nasai)

Kejadian ini pernah dipraktikkan oleh Nabi ketika seorang laki-laki dari Bani 'Adiy telah terbunuh dengan memberikan kepada diat yang merupakan kewajiban bagi pembunuh sebesar 12.000 dirham perak.

Oleh karena itu, jika berharap akan mendapatkan perubahan ke arah lebih baik bagi negeri tercinta ini, bagi para aktivis dakwah hendaknya belajar Islam. Islam dimengerti dan dipahami secara menyeluruh, kemudian tugas mereka menyuarakan kembali penerapan Islam secara menyeluruh dalam segala kehidupan .
Wallahualam bissawab. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Rini
Rini Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
Pelonggaran Sertifikasi Halal, Lemahnya Kedaulatan Syariat
Next
Ramadan: Menyatukan Al-Qur’an dan As-Sulthan
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram