Iran Menuju Persatuan Melawan Hegemoni Global

Iran Menuju persatuan melawan hegemoni global

Iran membuktikan bahwa satu negara saja mampu membuat AS dan Israel ketar-ketir, bagaimana jika seluruh kaum muslim bersatu?

Oleh. Ni'matul Afiah Ummu Fatiya
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-Dunia menyaksikan bagaimana Iran, negara satelit yang pernah menjadi pelayan AS, kini menantang hegemoni AS. Muncul pertanyaan, apa rahasia di balik kekuatan mereka?

AS memperkirakan dengan terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei, Iran akan tumbang lalu menyerahkan kedaulatan negaranya kepada AS. Selain itu, Iran telah menanggung beban ekonomi yang luar biasa akibat diembargo oleh AS selama lebih dari dua dekade. Namun, faktanya pemerintahan Iran masih kokoh. Meskipun tanpa bantuan negara muslim lainnya, Iran mampu membalas serangan yang dilakukan oleh AS lebih dari yang diperkirakan.

Bahkan, pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei (putra dari Ali Khamenei) secara terbuka mengumumkan kemenangan negaranya dalam persaingan geopolitik melawan AS dan Israel. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi politik di kawasan Timur Tengah. Hal ini membuktikan bahwa Iran mampu mematahkan dominasi AS dan sekutunya. Sekaligus memperkuat posisi tawar Iran di panggung internasional. Ia juga menegaskan bahwa ketahanan Iran di tengah tekanan internasional telah menjadikan Teheran sebagai sumber inspirasi bagi bangsa-bangsa lain di dunia. (mediaindonesia.com, 10-4-2026).

Berita kemenangan tersebut diperkuat oleh Dubes Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi. Ia menyatakan bahwa negaranya meraih kemenangan setelah terlibat konfrontasi bersenjata selama lebih dari 40 hari melawan AS dan Israel.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump juga mengklaim bahwa AS telah mencapai kemenangan. Ia menegaskan bahwa pengumuman gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran adalah kemenangan bagi Washington. (Kompas.com, 8-4-2026).

Kemenangan Iran: Tamparan bagi dominasi AS

Keberhasilan Iran tetap tegak menahan serangan di tengah tekanan militer dan embargo ekonomi oleh AS selama puluhan tahun, menjadi tamparan keras bagi AS. Narasi dominasi yang selama ini dibangun dengan susah payah oleh AS hancur seketika. Kemenangan Teheran membuktikan bahwa AS dan Israel tidak sekuat yang dibayangkan dunia. Iran membuktikan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak harus diraih dengan restu Amerika.

Iran berhasil memaksa AS untuk menyetujui 10 poin dalam proposal yang diajukan sebagai dasar negosiasi. Di antara 10 poin penting tersebut meliputi: Pengakuan hak Iran untuk memperkaya uranium, pencabutan seluruh sanksi ekonomi dari AS, penarikan pasukan militer AS dari kawasan Timur Tengah, penghentian permusuhan di semua lini, termasuk di Libanon, serta larangan gencatan senjata digunakan sebagai dalih untuk mempersenjatai kembali pihak lawan.

Diamnya Penguasa Muslim

Ironis, di saat Iran berjuang mati-matian mempertahankan harga diri dan kehormatan, mayoritas penguasa negeri-negeri muslim justru bergandengan tangan di meja perundingan. Mereka bukan tidak tahu penderitaan saudaranya sesama muslim. Namun, mereka takut bernasib sama jika berani membangkang titah sang adidaya.

Bahkan, hati nurani mereka sudah dibeli dengan iming-iming investasi dan pertumbuhan ekonomi. Sekat-sekat nasionalisme telah memutuskan tali persaudaraan sesama muslim. Pada akhirnya, tidak ada yang tersisa dari rasa solidaritas kecuali kecaman yang hambar di meja perundingan.

Ikatan Akidah: Ikatan yang Sahih

Dari Iran kita melihat bahwa di panggung internasional tidak ada sekutu yang abadi, yang ada hanya kepentingan terus berganti. Maka jangan bangga menjadi sekutu bagi AS, karena suatu saat ketika kita dianggap sudah tidak berguna, AS tidak akan ragu untuk mencampakkan bahkan menghinakan kita.

Kondisi kaum muslim saat seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah Saw. jumlahnya banyak tetapi lemah. Seperti buih di lautan. Mereka tidak bisa menolong saudara sesama muslim yang tertindas karena berbagai pertimbangan dan ketakutan. Semua terjadi karena mereka telah melupakan satu ikatan yang kuat, yang mampu menyatukan seluruh kaum muslim di mana pun berada. Ikatan itu adalah ikatan akidah.

Maka, sudah selayaknya kita kembali kepada apa yang ditunjukkan oleh syariat, yakni menjadikan ikatan akidah sebagai satu-satunya ikatan yang sahih yang akan menyatukan seluruh kaum muslim di mana saja. Hal ini akan menjadikan kaum muslim memiliki kekuatan global yang bisa mengalahkan musuh-musuh Islam.

Khilafah: Lawan Tanding Adidaya

Lalu muncul pertanyaannya, kekuatan global mana yang dimaksud? Kekuatan yang dimaksud itu tidak lain adalah bersatunya seluruh kaum muslim di bawah satu kepemimpinan, yakni Khilafah. Sebab, hanya Khilafah yang telah terbukti mampu melindungi seluruh rakyatnya di berbagai belahan dunia.

Sejarah mencatat bagaimana Khalifah Al-Mu'tashim Billah dari Dinasti Abbasiyah melakukan tindakan heroik yang mengguncangkan Kekaisaran Romawi. Peristiwa bermula dari dilecehkannya seorang wanita muslimah oleh tentara Romawi di pasar Amuria. Pakaian wanita tersebut dikaitkan ke paku sehingga ketika ia berdiri, tersingkap auratnya. Kemudian wanita tersebut berteriak memanggil Al-Mu'tashim Billah, "Waa Mu'tashimaah!"

Begitu berita itu sampai kepada Khalifah, beliau langsung mengirimkan surat ancaman kepada kaisar Romawi, lalu memimpin sendiri puluhan ribu pasukan menuju Amuria, peristiwa tersebut berakhir dengan ditaklukkannya kota Amuria.

Cepatnya respons Khalifah terhadap penderitaan rakyatnya yang hanya seorang budak, membuktikan bahwa dalam sistem Khilafah, satu nyawa sangat berharga. Hal ini juga menunjukkan bagaimana membangun kewibawaan sebuah negara, sehingga tidak mudah untuk dilecehkan.

Baca juga: Persatuan Umat untuk Melawan Kejahatan Israel

Upaya Penyatuan Umat

Hari ini, kita menyaksikan bahwa ketidakberdayaan kaum muslim bukan karena tidak memiliki kekuatan atau kecanggihan teknologi. Apa yang terjadi di Iran, membuktikan bahwa satu negara saja mampu membuat AS dan Israel ketar-ketir, bagaimana jadinya jika seluruh kaum muslim di dunia ini bersatu?

Maka harus ada kesadaran dari kaum muslim seluruh dunia untuk kembali kepada aturan Allah, bersatu dalam satu ikatan akidah. Ikatan abadi yang mampu memunculkan sikap empati bukan sekadar simpati. Ikatan yang akan mampu mematahkan dominasi kaum kafir yang telah semena-mena menginjak-injak harga diri dan kehormatan kaum muslim.

Kesadaran ini juga yang akan memunculkan semangat untuk berjuang melawan kafir penjajah dengan dakwah dan jihad fisabilillah. Semua ini bisa dilakukan dengan tetap berpegang teguh pada tali agama Allah.

Sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam Qur'an surat Ali-Imran ayat 103:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ

"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali(agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai."

Khatimah

Dari dinamika politik yang terjadi di Iran, mengingatkan kita bahwa kekuatan kaum Muslim bukan terletak pada kecanggihan teknologi dan militer. Iran atau negara Muslim mana pun akan terus kesulitan untuk melepaskan dari hegemoni AS, selama masih bercerai-berai dalam sekat-sekat nasionalisme yang sempit. Meski mampu melakukan perlawanan, dampaknya tidak akan pernah menjangkau luas, sebatas kepentingan domestik saja.

Maka diperlukan kesatuan yang utuh yang menyatukan seluruh kaum Muslim di belahan dunia manapun. Perpecahan kaum Muslim sejak keruntuhan Daulah, telah membuka celah bagi kaum kafir untuk menguasai dan mengendalikan kaum Muslim di bawah kepemimpinannya. Kondisi ini menjadi bukti bahwa mengabaikan seruan Al-Qur'an hanya membawa pada kehinaan dan kebinasaan.

Tanpa adanya institusi pemersatu, yakni Daulah Khilafah, potensi besar umat Islam hanya akan menjadi buih di lautan. Harapan bersatunya umat melawan hegemoni global hanya akan menjadi angan-angan. Maka, satu-satunya jalan adalah kembali kepada aturan Allah, bersatu di bawah naungan Khilafah sebagai rahmatan lil 'alamin.
Wallahu a'lam.[]

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor Narasiliterasi.id
Ni'matul Afiah Ummu Fatiya Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
‎Ejekan Berujung Kematian, Pendidikan Hilang Arah?
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram