Hutan Terbakar, Rakyat Terkapar

Hutan terbakar rakyat terkapar

Hutan yang berfungsi sebagai paru-paru dunia sekaligus sebagai habitat beberapa satwa liar, akan dikelola dengan sangat serius oleh Khilafah.

Oleh. Arda Sya'roni
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-Saat rakyat disibukkan oleh pernak-pernik kemerdekaan, sebagian rakyat ditimpa kabar duka. Sebuah ironi memang. Kala sebagian masyarakat bersorak memekikkan kata merdeka, di sisi lain sebagian rakyat bercucuran air mata menahan duka nestapa. Bagaimana tidak, Aceh dan Sumatra masih belum benar-benar pulih paska banjir bandang yang dialami di akhir tahun lalu. Kemudian disusul kabar gempa di Nusa Tenggara Timur yang tak kunjung usai serta memporakporandakan wilayah sekitarnya. Kini, muncul berita kebakaran hutan di berbagai wilayah Kalimantan. Parahnya, asap akibat kebakaran hutan ini hingga mencemari langit Malaysia dan Singapura.

Dikutip dari bbc.com, 21-8-2026, diberitakan bahwa banyak keluhan warga yang diunggah di media sosial, di antaranya seorang ibu yang mengunggah foto kedua anaknya saat akan berangkat sekolah dengan kabut asap pekat mengelilingi mereka. Ada pula warga yang menceritakan kerugian puluhan juta rupiah yang dialami sebab kandang ayamnya turut terbakar, sementara istrinya yang sedang hamil mengalami sesak nafas akibat asap.

Kisah lain diceritakan oleh seorang pemuda yang seumur hidupnya selalu berhadapan dengan kabut asap. Adapun para petugas yang berjuang memadamkan api pun turut berkeluh kesah karena tingkat kesulitan yang tinggi terutama di lahan gambut. Masih banyak kisah lainnya yang wira wiri di media sosial tentang penderitaan yang dialami warga setempat yang cukup membuat hati turut merasakan kepedihan mereka.

Sistem Kapitalis Rawan Bencana

Bencana alam niscaya rawan terjadi dalam sistem kapitalis sekuler yang diterapkan saat ini. Hal ini karena kapitalisme mengagungkan kebebasan dalam bentuk apapun, termasuk kebebasan kepemilikan sumber daya alam. Alhasil, sumber daya alam bebas dimiliki oleh orang per orang dan kekayaan alam bebas diperjualbelikan oleh negara. Dengan kebebasan pengelolaan sumber daya alam inilah potensi kerusakan menjadi jauh lebih besar. Sistem kapitalis juga menjadikan penguasa negara hanya bertindak sebagai regulator bagi para pemilik modal. SDA pengelolaannya diserahkan pada pihak swasta dan asing atas nama investasi. Dengan menyerahkan SDA pada pihak lain, maka negara akan memperoleh keuntungan dan manfaat bagi kekuasaannya.

Sistem kapitalis tidak menjadikan negara berpihak pada rakyat, melainkan negara bekerja untuk kepentingan pemilik modal. Dampaknya, alam bebas dieksploitasi, hutan ditebang habis, tambang digali secara ugal-ugalan, lahan resapan dialihkan menjadi proyek demi keuntungan segelintir orang dan mengabaikan kebutuhan rakyat. Maka, wajar jika bencana banyak terjadi tatkala negara menerapkan sistem kapitalis. Kebijakan negara hanya berpijak pada keuntungan pribadi dan para oligarki tanpa mempedulikan akibat yang akan ditanggung semua orang. Ketika bencana terjadi akibat ulah mereka, maka penguasa seakan lepas tangan. Bahkan, kebijakan yang diambil hanyalah warga bantu warga. Lagi-lagi rakyatlah yang harus menanggung akibatnya.

Murahnya Harga Nyawa dalam Kapitalisme

Dalam sistem kapitalis, rakyat hanyalah angka. Rakyat hanya dihitung berdasarkan data, itupun kerapkali dimanipulasi sesuai kepentingan penguasa. Data rakyat hanya digunakan saat penghitungan suara dan penghitungan pajak, tetapi diabaikan saat terjadi bencana. Nyawa manusia seakan dihargai sangat murah oleh negara. Bagaimana tidak, saat terjadi banjir bandang di Aceh dan Sumatra tahun lalu, negara tidak berperan sepenuhnya bahkan cenderung mengabaikan. Ribuan nyawa melayang saat itu, termasuk ribuan hewan ternak dan satwa liar penghuni hutan. Lalu, bencana gempa NTT bulan lalu, tercatat 75 orang meninggal dan ratusan yang terluka (cnnindonesia.com, 21-8-2026).

Dan kini kebakaran hutan di Kalimantan, memakan korban. Seorang dewasa dan dua anak balita dilaporkan meninggal dunia. Sedangkan 66 ribu orang dikabarkan terkena gangguan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas). Data ini hanyalah sebagian kecil dari banyaknya korban akibat bencana alam dari awal tahun hingga saat ini.

Fakta itu menunjukkan bahwa rakyat hanyalah angka dalam sistem kapitalis, sedangkan nyawa manusia dianggap tidak berharga. Kebutuhan rakyat tidak benar-benar dipenuhi, jerit rakyat tidak didengar, nyawa rakyat pun tidak dilindungi. Kapitalisme menghalalkan segala cara asal cuan mengalir deras ke kantong pribadi. Ketika hutan terbakar atau sengaja dibakar untuk membuka lahan, maka rakyat yang terkena dampak utama.

Di bumi Kalimantan sana ada ibu hamil yang terpaksa menghirup karbon dioksida dan anak-anak yang bertarung melawan asap saat bersekolah. Para pekerja yang tak hanya berjuang mencari nafkah, tetapi juga bertaruh nyawa melintasi pekatnya asap. Begitu pula dengan para petugas pemadam yang berjuang memadamkan api di hutan yang penuh gambut. Mereka tak hanya memadamkan api, tetapi juga menyelamatkan satwa yang meronta, bertarung siang dan malam tanpa kenal lelah, menukar nyawa mereka dengan nyawa ribuan warga Kalimantan.

Baca juga: Kebijakan Pengelolaan Hutan Demi Kemaslahatan Umat

Islam Menjaga Nyawa dan Alam

Tak Seperti kapitalisme yang menilai murah nyawa manusia, Islam sangat memuliakan dan menjaga manusia. Dalam Islam, pengurusan negara wajib menggunakan syariat Islam sebagai landasan kepengurusan. Hanya syariat Islam yang diterapkan dalam bingkai negara/Khilafah yang mampu memberikan kesejahteraan. Hal ini karena syariat Islam berfungsi untuk menjaga akidah, nyawa, akal, harta dan nasab. Setiap nyawa sangat berarti dalam Islam, baik muslim maupun non muslim, bahkan nyawa hewan sekalipun.

Islam tidak memandang rakyat hanya sebatas angka, melainkan sebagai sebuah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu Khilafah sebagai sebuah negara wajib untuk memberikan kebijakan yang tidak menzalimi rakyatnya apalagi hingga menyebabkan penderitaan berkepanjangan dan kehilangan nyawa.

Dalam Islam bencana bukan sekadar fenomena alam, melainkan juga ada campur tangan manusia di dalamnya. Jadi, bencana yang terjadi berulang adalah disebabkan karena adanya kesalahan pengelolaan alam akibat kebijakaan zalim.

Dalam Islam, kekayan alam wajib dikelola oleh negara secara mandiri dan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan rakyatnya. Negara tidak diperkenankan mengambil keuntungan dalam pengelolaan SDA, sebab SDA adalah kepemilikan umum. Umat Islam berserikat dalam tiga hal, yaitu padang rumput, air dan api (HR Dawud dan Ahmad).

Oleh sebab itu khalifah sebagai penguasa wajib untuk memberikan kebijakan dalam pengelolaan SDA dengan tidak diserahkan pada pihak swasta maupun asing. Penggunaan SDA juga harus dalam batas aman, tidak sampai merusak ekosistem, membunuh satwa, maupun merugikan rakyat. Dengan demikian potensi timbulnya bencana akibat kerusakan alam dapat diminimalisir. Rakyat pun dapat mengambil manfaat dan terpenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak.

Khatimah

Hanya dengan naungan Islam dalam bingkai Khilafah takkan ada lagi drama hutan terbakar yang terus berulang bahkan hingga di beberapa titik sekaligus. Dalam Islam, hutan adalah aset vital yang merupakan kepemilikan umum. Maka, hutan yang berfungsi sebagai paru-paru dunia sekaligus sebagai habitat beberapa satwa liar, akan dikelola dengan sangat serius oleh Khilafah.

Oleh sebab itu solusi tuntas atas permasalahan bencana yang terus berulang adalah dengan menerapkan syariat Islam di kehidupan dalam bingkai Khilafah. Hanya dengan Khilafah nyawa manusia terjaga, alam kembali sehat, satwa tak lagi kehilangan rumah, dan keberkahan Allah Swt. akan selalu menaungi. Wallahualam bissawab. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Arda Sya'roni
Arda Sya'roni Kontributor NarasiLiterasi.id
Previous
Sengkarut Moralitas Pemuda di Era Sekularisme
Next
Satu Juta Sarjana Menganggur, Buah Kapitalisme
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram