Diusir Terencana, Gaza Memanggil Umat Islam

Diusir terencana Gaza Memanggil Umat Islam

Gaza butuh dibela. Dan pembelaan itu hanya akan datang ketika umat ini bersatu lagi di bawah satu komando.

Oleh. Misriyatik
(Kontributor NarasiLiterasi.Id)

NarasiLiterasi.Id-Berita itu datang lagi. Bukan peluru, bukan bom, akan tetapi kertas dan rencana. Kart, Menteri Pertahanan Israel menyatakan pemerintah Israel telah mempersiapkan "berbagai cara" untuk mengeluarkan warga Palestina dari Gaza. Baik itu lewat laut, udara, atau dengan berbagai cara. Mereka hanya menunggu kabar dari Amerika Serikat menemukan negara mana yang bersedia menerima warga Palestina.(detikNews.com, 3-9-2026)

Sementara itu, Menteri sekaligus pemimpin partai sayap kanan Jewish Power, Itamar Ben-Gvir, mengungkapkan rencana pembersihan etnis: mengusir 1,86 juta warga Palestina dari Gaza dalam waktu 7 tahun dengan dalih "migrasi sukarela" dipaparkan olehnya dalam konferensi pers 3-9-2026 sebagai bagian dari kampanye pemilunya. (Metrotv, 4-9-2026)

Targetnya jelas dan bertahap. 250.000 orang di tahun pertama, 1,11 juta orang di tahun ketiga, dan 1,86 juta orang dalam tujuh tahun. Untuk itu Israel menyiapkan dana awal 3,3 Miliar USD, plus kerjasama pembiayaan hingga 16,6 Miliar USD tergantung keterlibatan negara lain.

Saat ini di Gaza masih ada sekitar 2,13 juta warga Palestina. 70% wilayahnya sudah dikuasai. Sejak Oktober 2023, lebih dari 73.000 jiwa telah syahid dan 174.000 lainnya luka-luka.

Ini Bukan Bencana tapi Kebijakan

Kita sering menyebut apa yang terjadi di Gaza sebagai "bencana kemanusiaan". Padahal tidak. Bencana itu banjir, gempa, tsunami. Datangnya tiba-tiba.

Yang terjadi di Gaza adalah kebijakan. Direncanakan. Dianggarkan. Dijadwalkan. Ada menterinya, ada dananya, ada target tahunannya. Ini bukan bencana. Ini kejahatan perang yang dibungkus rapi.

Dan yang lebih menyakitkan, Israel masih menunggu AS menentukan negara mana yang bersedia menerima warga Palestina. Seolah-olah manusia bisa diperjualbelikan, dipindahkan seperti kargo.

Tembok yang Membuat Lumpuh

Mengapa rencana sebesar ini bisa diumumkan terang-terangan? Karena ada 3 tembok yang memisahkan kita.
Pertama, tembok nasionalisme.
Gaza dianggap urusan Palestina. Bukan urusan Indonesia, Mesir, Yordania, atau Saudi. Padahal dalam Islam, Palestina bukan milik satu bangsa. Ia adalah tanah wakaf umat. Masjidil Aqsha adalah kiblat pertama. Lukanya adalah luka kita semua.

Kedua, tembok sekularisme.
Masalah Palestina dipisahkan dari akidah, diseret ke meja konflik politik, dan pelanggaran HAM. Padahal ini jelas: penjajahan tanah umat Islam oleh entitas Zionis. Jikalau akarnya dipotong, solusinya pasti salah.

Ketiga, tembok ketiadaan pemimpin.
Dulu ketika satu wilayah umat diserang, Khalifah menggerakkan tentara. Hari ini yang ada hanya kutukan keras dan seruan gencatan senjata, tidak ada satu komando yang bisa melindungi 2,13 juta jiwa di Gaza.

Dahulu Islam Menyatukan, Sekarang Kita Terpecah

Ingat bagaimana dahulu Shalahuddin Al Ayyubi membebaskan Baitul Maqdis? Yang maju bukan hanya orang Palestina, ada Mesir, Syam, Irak. Mereka bergerak karena merasa satu tubuh, tidak seperti saat ini, terpisah dan terpecah.

Dulu ada baitulmal yang menjamin kebutuhan. Ada satu mata uang Dinar, ada satu hukum Al-Qur'an, dan ada satu pemimpin.

Sekarang? Kita punya 57 negara, 57 presiden, 57 kebijakan. Saat Gaza dibom, kita kirim donasi. Ketika Gaza hendak dikosongkan, kita kirim pernyataan.

Donasi Bukan Solusi

Tentu donasi penting, demo penting, boikot penting. Namun, itu hanyalah penahan sakit. Bukan obat. Obatnya adalah kembali kepada sistem yang pernah menyatukan kita yaitu dengan satu akidah, satu hukum. Mengembalikan Al-Qur'an dan sunah sebagai rujukan politik dalam dan luar negeri. Satu Kepemimpinan yang berfungsi sebagai raa'in pelindung dan pengurus umat.

Satu ekonomi, baitulmal, dan mata uang yang mandiri, tidak bisa disandera, tidak bergantung pada dunia. Serta satu pendidikan yang melahirkan akidah yang kuat kepada generasi, sehingga mampu menganggap Masjidil Aqsha sebagai urusan pribadi mereka.

Allah Swt. berfirman yang artinya "Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu." (QS. Al-Anfal: 25)

Jika kita diam dan hanya menonton rencana pengusiran 1,86 juta saudara kita ini, maka azabnya bisa menimpa kita semua. Gaza tidak butuh dikasihani. Gaza butuh dibela. Dan pembelaan itu hanya akan datang ketika umat ini bersatu lagi di bawah satu komando.

Berbagai upaya telah dilakukan, tulisan opini untuk mengajak pada pembahasan Palestina setiap hari terbit. Namun, tidak juga terlihat titik terang bagi pembebas Palestina. Bukan karena kurangnya usaha kita, akan tetapi karena kita tidak bergerak dengan menyadari kunci dari pembebasan itu sendiri.

Semua mengganggap pendapat atau caranya paling benar untuk membela atau membebaskan Palestina. Akhirnya kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh pihak Zionis. Di saat umat Islam sibuk dengan perdebatan cara siapa yang paling bener, disaat itu pula para Zionis Israel dengan leluasa menyakiti saudara kita di Palestina. Mereka tidak merasa takut sebab mereka sadar umat Islam masih terbuai dalam mimpi.

Baca juga: Aneksasi Tepi Barat dan Bisnis New Gaza

Penutup

Keadaan umat Islam hari ini persis yang dikabarkan oleh baginda rasul sejak berabad-abad lamanya, kita seperti buih di lautan. Jumlah kita banyak tetapi tidak memiliki kekuatan apapun bahkan untuk menolong saudara kita yang dizalimi bertahun-tahun lamanya. Kembalikan kekuatan itu dengan persatuan umat. Wahai umat Islam dunia, sudah waktunya untuk kita bersatu dalam naungan Khilafah Islamiyyah seperti yang dikabarkan Rasulullah.

Hanya dengan persatuan umat kita menjadi kuat dan mampu mengalahkan musuh-musuh kita. Wahai Ibu-ibu di dunia, tidakkah kita merasakan sakitnya derita Ibu-ibu Palestina? Jika sakit itu juga kita rasakan, maka ayo bersama kita satukan pemikiran, satukan perasaan, dan satukan peraturan. Ayo, berjuang untuk persatuan umat Islam dunia menuju pembebasan Palestina. Wallahualam bissawab. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Korban Karhutla Bertambah, Bukti Negara Abai
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram