
Semalam aku bermimpi bertemu dengan suamiku yang tersenyum sambil memanggilku. Ah, Mas, aku rindu. Lihat anak-anakmu sudah besar. Tatapan yang tak biasa seolah enggan beranjak dari memandangi mereka.
Oleh. Devy Rikasari
(Kontributor Narasiliterasi.id)
Narasiliterasi-Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Aku segera beranjak membuka pintu. "Siapa gerangan yang bertamu jam segini?" pikirku.
"Assalamualaikum. Bu Ratna, maaf saya mengganggu," sapa Bu Abidin saat kubuka pintu. Malam-malam begini sungguh aneh Bu Abidin berkunjung ke rumahku.
"Waalaikumussalam. Iya, nggak apa-apa, Bu. Silakan masuk dulu." Aku persilakan ia masuk dan duduk di lantai beralaskan karpet. Rumahku yang sangat sederhana ini tak memiliki sofa. Di ruang tamu hanya ada 1 lembar karpet tipis. Bahkan, tak ada meja dan lemari di ruangan ini. Hanya ada satu kamar tidur dan 1 kamar mandi kecil. Di kamar pun, tak ada dipan. Hanya sebuah kasur lantai yang menemani malam-malamku tidur. Kemiskinan yang menghinggapi kehidupanku seolah tak mau pergi.
Sejak kepergian suamiku dua tahun lalu, aku harus berjibaku menghidupi diriku dan kedua anakku. Mereka, Adit dan Angga, buah cintaku dengan Mas Bagas. Usia mereka baru 5 dan 3 tahun. Apa saja kulakukan untuk menafkahi mereka. Berjualan makanan, menjadi buruh cuci, hingga saat ini menjadi driver ojek online.
Alhamdulillah, hasil tabunganku berjualan dan menjadi buruh cuci bisa menjadi DP membeli sepeda motor bekas dari tetanggaku. Lumayan, motornya bisa digunakan untuk berusaha lebih giat karena saat ini penggunaan ojek online sedang marak sekali. Kadang, aku juga mengantarkan orang atau barang tanpa menggunakan aplikasi. Biasanya yang meminta jasa dengan cara seperti ini adalah tetangga-tetanggaku, warga kampung yang tidak memiliki gadget canggih untuk instal aplikasi pemesanan ojol.
Tatapan Penuh Cinta
"Bu Ratna …." Panggilan Bu Abidin kembali membuyarkan lamunanku. Ya, sejak kemarin aku terus melamun karena Adit. Anak sulungku itu terus-terusan bertanya kapan ia akan dikhitan. Kata teman-temanku, kalau anak sudah bertanya kapan dikhitan, itu artinya anak sudah siap dan memang sudah waktunya dikhitan.
Namun, uang dari mana? Untuk membayar kontrakan ini saja aku masih menunggak dua bulan. Penghasilanku sebagai driver ojol saat ini hanya cukup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Saat itu hanya tatapan hangat dan belaian penuh cinta saja yang sanggup aku berikan sebagai jawaban dari keinginannya.
"Iya, Bu Abidin. Maaf, ada apa malam-malam datang ke sini?" tanyaku pada Bu Abidin.
"Begini, Bu. Besok saya ada pesanan katering ke kampung sebelah, tetapi si Bapak nggak bisa nganterin. Apa Bu Ratna bisa tolong anterin? Nanti bayarnya sesuai tarif ojol aja," jelas Bu Abidin.
"Jam berapa diantarnya, Bu?" Kupastikan dulu waktu pengantaran, supaya bisa mengatur waktu kapan akan mengaktifkan aplikasi ojolku.
"Jam 7 pagi insyaallah sudah siap, Bu. Jangan telat ya, Bu karena pesanannya untuk acara khitanan jam 8," terang Bu Abidin lagi.
"Baik bu, insyaallah jam 7 saya sudah di rumah Bu Abidin," jawabku lagi.
"Ya sudah, kalau begitu saya pamit dulu, ya." Bu Abidin pamit dan seketika menghilang dari balik pintu rumahku.
Tatapan Hangat
Alhamdulillah, di saat aku sedang butuh dana lumayan besar, aku dapat pesanan pagi-pagi sekali. Lewat aplikasi ojol biasanya aku hanya dapat 5—7 pelanggan setiap harinya. Tetapi, besok pagi-pagi aku sudah bisa mengantongi rupiah dari pesanan Bu Abidin. Kuputuskan segera istirahat, bergabung bersama kedua putraku yang sudah terlelap sejak tadi setelah sebelumnya tatapan hangat kuedarkan ke setiap wajah malaikat-malaikat kecilku ini.
Keesokan harinya, aku terbangun oleh suara petir yang menggelegar. Rupanya dini hari tadi hujan mengguyur kotaku. Kulihat di depan jalan banyak pohon tumbang. Untungnya rumahku aman dari robohan pohon, tetapi aku bingung bagaimana mengantar pesanan Bu Abidin. Kalau cuaca masih hujan, akan sulit bagiku mengendarai motorku karena jalanan pasti licin. Belum lagi kalau banyak pohon tumbang yang menghalangi jalan. Namun, ah, aku sudah janji dengan Bu Abidin. Pantang bagiku melanggar janji, apalagi ini juga demi buah hatiku.
Pukul 06.30, setelah aku mengurusi anak-anakku, memandikan, dan memberi mereka makan, aku berpesan kepada mereka, "Adit, Angga, pagi ini Ibu mau anter pesanan dulu ya. Kalian baik-baik di rumah ya, jangan main di luar dulu karena habis hujan. Nanti selesai nganterin pesenan, Ibu pulang. Kalian nonton TV aja di rumah, ya."
"Iya, Bu," jawab mereka kompak. Kuciumi kepala anakku satu per satu. Entah mengapa langkah kakiku pagi ini terasa berat sekali, apalagi semalam aku bermimpi bertemu dengan suamiku yang tersenyum sambil memanggilku. Ah, Mas, aku rindu. Lihat anak-anakmu sudah besar. Tatapan yang tak biasa seolah enggan beranjak dari memandangi mereka. Segera kuseka air mata yang tak sengaja menetes di pipiku.
Bu Abidin
Kunyalakan motor dan segera melaju ke rumah Bu Abidin. Pukul tujuh kurang lima belas menit aku sudah sampai di rumah Bu Abidin. Hujan masih menetes kecil. Semoga tidak membesar lagi.
"Eh, Bu Ratna sudah datang. Saya kira nggak jadi datang karena hujan," sapa Bu Abidin.
"Ya nggak, Bu. Saya kan sudah janji. Insyaallah saya akan usahakan untuk menepati," jawabku lagi.
"Oiya, ini ada 2 kardus, ya, Bu Ratna. Isinya kue-kue semua. Lumayan berat. Mungkin sebaiknya yang satu disimpan di depan, satu lagi diikat di jok belakang, ya," ungkapnya lagi.
Aku mengangguk sambil menerima bungkusan kardus kue dari Bu Abidin. Segera kubereskan kedua kardus tadi agar tidak berceceran isinya. Kardus yang dipakai cukup kokoh, tetapi harus dilapisi plastik agar tidak tembus oleh tetesan hujan.
"Nah, ini upahnya, ya, Bu. Terimakasih, ya, Bu Ratna," ucap Bu Abidin melepas kepergianku.
Setelah mengucapkan terima kasih, kutancap gas menuju alamat yang diberikan Bu Abidin.
Petir Kilat Bersahutan
Perjalananku ke tempat tujuan sekitar satu jam dengan kecepatan normal. Kupacu motorku lambat saat melewati jalanan licin dan robohan pohon. Hujan semalam hanya sebentar, tetapi cukup memorakporandakan kotaku.
Wajar saja, curah hujan yang besar tidak ditopang oleh sistem drainase yang baik. Aku pernah dengar ini di salah satu siaran televisi. Menurut seorang pakar, kotaku sudah terlalu padat penduduk. Perumahan terus dibangun, hutan digunduli demi proyek-proyek bernilai miliaran rupiah.
Ah, ke mana pula angka miliaran itu. Sebagai warga asli kota ini, kesejahteraan rasanya masih jadi barang langka bagiku. Perumahan-perumahan mewah menjulang, gedung-gedung pencakar langit berdiri dengan pongahnya, sementara rakyat kecil tetap susah. Sudah kepala jadi kaki, kaki jadi kepala pun tetap sulit meraih sejahtera.
Baca juga: Mengentaskan Kemiskinan dengan Sistem Kapitalisme, Utopis
Di tengah lamunanku, tiba-tiba langit mengeluarkan suara menggelegar. Petir dan kilat bersahutan membuatku bergidik. Siapa pun yang melihat fenomena ini pasti akan langsung ingat kepada penciptanya. Kulafazkan Al-Qur'an surah Ar-Ra'du ayat 13,
وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيبُ بِهَا مَنْ يَشَاءُ وَهُمْ يُجَادِلُونَ فِي اللَّهِ وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ
Melantunkannya, benakku dipenuhi dengan suasana tenang. Sambil melafazkannya, kubayangkan arti dari ayat tersebut yang telah aku hapal sebelumnya, "Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki,"
Tak berapa lama, hujan deras kembali turun. Waduh, bagaimana pesananku, pikirku. Kalau aku masih memacu kendaraan dengan lambat, pesananku akan habis kebasahan. Jas hujanku tidak cukup besar untuk menutupi dua kardus besar berisi kue. Akhirnya kuputuskan agak mengencangkan laju motorku. Aku harus sampai tepat waktu dan selamat.
Namun, malang tak dapat ditolak, tiba-tiba motorku tergelincir di belokan jalan dekat gorong-gorong. Kardus yang kubawa berjatuhan isinya. Hatiku campur aduk. Bagaimana ini? Aku berusaha bangkit, tetapi badanku tak terasa terus terdorong hingga masuk ke gorong-gorong. Pegangan tanganku lepas dari stang motor.
Aku megap-megap berusaha untuk keluar dari gorong-gorong. Namun apa daya, arus air gorong-gorong sangat deras hingga terus menyeretku. Makin lama tubuhku makin lelah. Dadaku terasa sesak. Mataku tiba-tiba gelap. Namun, apa itu? Di depanku ada cahaya putih. Tatapan mataku tertuju pada titik itu. Ada Mas Bagas di sana mengulurkan tangannya padaku. Mas Bagas, benarkah ia kembali untuk menolongku? Kusambut uluran tangannya. Seketika cahaya putih itu pun redup. End.
—Cerita ini terinspirasi dari kisah Bu Asih, seorang driver ojol yang meninggal saat terpeleset jatuh ke gorong-gorong. Ia terseret arus dan baru ditemukan beberapa hari kemudian. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Desember 2021.—[]
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com
