
Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu. Akhirat adalah tujuan yang harus diprioritaskan karena di sanalah kita akan kekal.
Oleh. Dais Farida
(Kontributor Narasiliterasi.id)
Narasiliterasi.id-“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi alaa diinik.”
(Wahai (Allah) Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).
Dia bukanlah alumni anak pondok yang begitu mendalami agamanya, selama ini dia hanyalah lulusan sekolah formal. Namun, perjalanan hidup membawanya pada sebuah kesadaran bahwa ilmu agama adalah fondasi terpenting dari kehidupan yang menjadi penentu nasibnya di akhirat kelak. Mungkin sejauh ini dirinya terlambat atau jauh tertinggal, berbeda dengan mereka atau orang lain yang dari awal sekolah bahkan sejak dini sudah masuk pesantren mempelajari agama.
Bolehkah dia merasa iri dengan orang lain yang begitu paham mengenai agama, sedangkan dirinya masih awam betul bahkan masih tertatih untuk belajar dan memahami. Kadang kala, ada rasa takut jika orang lain menganggapnya alim hanya menilai dari pakaian syar'i yang dipakainya setiap saat, padahal itu pun dia masih belajar membiasakan diri. Dia bukannya ingin dipandang buruk, hanya saja terlalu malu jika dianggap paham agama padahal nyatanya belum begitu.
Terbesit penyesalan di hatinya, kenapa tidak dari dulu dia sadar betapa pentingnya belajar agama atau mungkin sejak awal bisa masuk pesantren agar lebih mudah terarah dan banyak teman yang memang sama-sama berjuang. Bahkan untuk sekadar memakai kaos kaki saja dia baru tahu jika kaki itu termasuk auratnya perempuan. “Ya Allah, ampunilah segala dosa dan kekhilafan yang sudah dirinya lakukan sebab ketidaktahuannya akan ilmu agama.” Betapa berdosa dirinya selama ini.
Alhamdulillah, atas rahmat dan karunia-Nya sekarang dia mulai belajar membiasakan diri untuk memakai kaos kaki setiap keluar rumah, dan ternyata setelah terbiasa seperti ada rasa berdosa jika lupa memakai kaos kaki. Begitu baiknya Islam yang memuliakan perempuan untuk selalu terjaga. Islam bukan mengekang, tapi itu bentuk cinta dan kasih sayang yang Allah berikan bagi hamba-Nya.
Dalam satu tahun terakhir ini banyak orang dia temui, menambah relasi pertemanan dan kegiatan yang lebih produktif baginya. Dia juga mulai suka mengikuti kajian entah offline ataupun online karena dari sanalah dia mendapatkan teman baru dan ilmu yang begitu berharga. Ternyata lingkungan seberpengaruh itu, masa lalu yang membawanya untuk lebih belajar memaknai hidup dan kesadaran bahwa manusia tidak selamanya hidup di dunia. Dunia hanyalah tempat singgah menuju kehidupan selanjutnya yaitu kampung akhirat yang kekal.
Kecewa
Berharap kepada manusia adalah patah hati yang paling disengaja, makin menaruh harapan tinggi kepada manusia, makin besar pula kecewa yang akan didapatkan jika harapan tersebut tidak sesuai kenyataan. Kita terkadang lupa bahwa manusia itu terbatas, gampang berubah, dan penuh dengan kekurangan. Maka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita harus menggantungkan harapan yang tidak akan pernah mengecewakan, Allah Maha Kuasa dan Maha Bijaksana.
Setiap dari kita pernah dikecewakan oleh manusia,
“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.” — Ali bin Abi Thalib
Kekecewaan tersebutlah yang membawanya kembali dekat dengan-Nya, doa yang dilangitkan ketika berserah diri seolah tidak ada sekat. Allah memberikan jalan terbaik di antara kesusahan hati pada ketenangan jiwa yang selama ini dicari. Sedih dan bahagia selalu berjalan beriringan, seperti roda kehidupan tidak selamanya akan sedih terus, ada masanya besok ataupun nanti akan bahagia begitu seterusnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
" …. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd 13: 28)
Tak Ada Kata Terlambat
Pada ketidaktahuan dia ingin terus belajar di sisa umur hidupnya. Dia mungkin menyesal karena dulu begitu jauh dari agama, tapi dia tidak ingin menyesal kembali karena menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Allah berikan karena menyesal di dunia masih bisa diperbaiki sedangkan menyesal di akhirat tidak bisa.
Dulu hidupnya tidak terarah dengan tujuan yang tidak pasti. Sekarang ketika cahaya keimanan menelusup pada jiwanya yang gelap, dia segera meraih kesempatan itu untuk mencari kebahagiaan yang abadi bukan sesaat. Dia ingin merasakan manisnya iman, sebuah kenikmatan yang Allah berikan kepada setiap hamba-Nya yang bertakwa atas rida-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (QS. Al-Qhashas 28: 56)
Batu Loncatan Menuju Akhirat
Ujian dan cobaan selalu berjalan berdampingan dengan hidup kita, ia tidak akan pernah lepas selama kita hidup di dunia. Namun, ingatlah Allah menyiapkan pahala kebaikan bagi siapa saja yang bersabar dan ikhlas atas tiap ujian yang datang kepadanya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,"
(QS. Al-Baqarah 2:155)
Bekal Akhirat
Ada sebuah nasihat dari Imam Syafi’i, “Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu.”
Akhirat adalah tujuan yang harus diprioritaskan karena di sanalah kita akan kekal. Dunia hanyalah sarana atau alat untuk kita mengumpulkan bekal amal kebaikan bukan untuk tinggal selamanya, tempat persinggahan menuju kehidupan selanjutnya. Kematian begitu dekat, bisa datang kapan dan di mana saja. Tidak mengenal tua atau muda, ia bisa datang tiba-tiba tanpa mau tau kita siap atau tidak.
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian)." (HR. Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah)
Baca juga: Kematian, Sudahkah Kita Menyiapkannya?
Dia pun mulai percaya bahwa Allah tidak mungkin menetapkan sesuatu tanpa alasan di balik itu semua. Hal tersebut termasuk pada mengimani rukum iman ke-6 yaitu beriman kepada qada dan qadar. Meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala ketetapan sudah Allah tuliskan sejak zaman azali yang telah tertulis di Lauhul Mahfuz.
Selagi kesempatan itu masih ada pergunakan dengan sebaik-baiknya, karena banyak orang di alam kubur ingin kembali ke dunia bukan untuk bersenang-senang ataupun foya-foya. Namun, mereka ingin memperbaiki hidupnya untuk menyiapkan bekal terbaik di akhirat agar terhindar dari siksa api neraka. Sekarang dunia terlihat nyata, akhirat seperti cerita dongeng belaka, tetapi nanti dunia tinggallah cerita dan akhirat menjadi sesuatu yang nyata.
Imam Ibnu Rajab رحمه الله berkata :
"Angan-angan terbesar orang-orang yang mati di alam kubur mereka adalah hidup sesaat untuk tobat dan beramal saleh yang telah luput dari mereka, sedangkan orang-orang yang masih hidup di dunia ini justru menyia-nyiakan hidup mereka sehingga umur mereka habis percuma dalam kelalaian, bahkan sebagian dari mereka ada yang menghabiskannya untuk bermaksiat" (Lathaa-iful Ma’aarif hal 339)
Khatimah
Semoga kita dijauhkan dari sifat menyia-nyiakan waktu karena setiap waktu yang Allah berikan akan dimintai pertanggungjawaban, untuk apa waktu kita dihabiskan apakah untuk kebaikan atau kemaksiatan?
Perjalanannya masihlah sangat jauh, iman sering kali naik turun oleh godaan kenikmatan dunia yang sesaat. Namun, Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan ingin kembali kepada-Nya. Maka, jangan lelah bertobat untuk memperbaiki diri meski masih mengulang kesalahan yang sama. Setiap usaha yang dilakukan bernilai kebaikan di sisi-Nya. Allah lebih menyukai pelaku maksiat yang bertobat daripada orang saleh yang merasa dirinya selalu benar tidak ingin salah.
Wallahu a'lam bis-sawab.[]
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com


















