Melukat dan Kebebasan Berakidah

melukat dan kebebasan berakidah

Melukat merupakan ritual agama Hindu. Oleh karena itu, seorang muslim tidak seharusnya melakukan ritual ini. Untuk menenangkan jiwanya, ia dapat berzikir, membaca Al-Qur'an, atau salat sunah.

Oleh. Mariyah Zawawi
(Kontributor Narasiliterasi.id)

Narasiliterasi.id-Sejak berakhirnya pandemi, banyak turis dari Barat yang datang ke Bali untuk mengikuti ritual melukat. Mereka terdorong untuk melakukan ritual kuno ini setelah menonton unggahan para wisatawan yang mengikuti tradisi ini. Para wisatawan itu mengunggah aktivitas mereka di aplikasi TikTok. (bbc.com, 19-01-2025)

Apa sebenarnya melukat itu? Mengapa banyak wisatawan yang tertarik untuk mengikutinya? Bagaimana pula pandangan Islam tentang hal ini?

Apa Melukat Itu?

Melukat merupakan salah satu ritual dalam agama Hindu. Menurut Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali I Nyoman Kenak, melukat berasal dari kata sulukat. Kata ini terdiri dari dua suku kata, yaitu su dan lukat. Su bermakna baik, sedangkan lukat bermakna pembersihan atau penyucian. (antaranews.com, 25-04-2024)

Melukat berarti pembersihan sekala (jasmani) dan niskala (rohani), yakni jiwa dan pikiran manusia sebagai alam terkecil (bhuwana alit) dan alam semesta (bhuwana agung) dengan sarana air. Air yang digunakan adalah mata air yang disakralkan atau air yang didoakan. Ritual ini dilakukan sebagai upaya untuk memanjatkan doa ke surga.

Ritual ini biasanya dilakukan pada hari-hari baik, seperti saat bulan purnama, bulan baru, atau ulang tahun seseorang berdasarkan kalender Bali. Berdasarkan kalender ini, ulang tahun ini akan dilaksanakan setiap 210 hari. Ritual ini dapat dilakukan di kuil keluarga, pura, sungai, atau pantai.

Ritual ini dapat dilakukan secara mandiri maupun dipimpin oleh seorang sulinggih (pendeta atau pemuka agama Hindu). Melukat secara mandiri biasanya dilakukan di pura atau tempat-tempat pemujaan yang memiliki sumber mata air alami yang disakralkan. Salah satunya adalah Pura Tirta Empul yang terletak di Kabupaten Gianyar. Sementara itu, melukat yang dipimpin oleh seorang sulinggih akan dilaksanakan di gria (kediaman) sulinggih.

Beberapa Ketentuan Ritual Melukat

Ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan sebelum melakukan melukat. Pertama, perempuan yang sedang menstruasi tidak boleh melakukan melukat. Kedua, menggunakan busana adat Bali. Laki-laki menggunakan kain, ikat kepala (udeng), dan selendang, sedangkan perempuan mengenakan kain, kebaya, serta selendang yang diikat di pinggang. Selain itu, mereka harus membawa canang atau rangkaian bunga dan janur sebagai sarana melukat.

Upacara melukat secara mandiri dilakukan dengan menyampaikan harapan, kemudian mengguyurkan air ke seluruh tubuh, mulai dari kepala. Sementara itu, upacara yang dipimpin oleh sulinggih akan dilakukan dengan mengguyurkan air yang didoakan serta air kelapa gading. Air dipercaya dapat menghapuskan papa klesa (kotoran) atau energi negatif yang ada dalam jiwa dan pikiran manusia.

Kapitalisme dan Kebebasan Berakidah

Ritual agama Hindu ini ternyata banyak diminati oleh wisatawan asing, terutama dari Eropa. Namun, tak sedikit wisatawan domestik yang ikut melakukan ritual ini. Beberapa pesohor Indonesia pun melakukannya, meskipun mereka adalah pemeluk agama Islam, seperti Nikita Willy, dan Pevita Pearce. (sindonews.com, 11-05-2022)

Mereka yang usai melakukan ritual ini mengaku mendapatkan energi positif atau ketenangan jiwa. Seperti pengakuan seorang wisatawan dari Texas yang baru dipecat dari pekerjaannya. Ia yang merasa bingung ke arah mana hidupnya merasa terbebas setelah melakukan ritual ini.

Seorang psikolog klinis dari Inggris, Dr. Marianne Trent menilai ritual melukat dapat melepaskan emosi dalam diri seseorang. Ritual seperti ini tidak terdapat dalam budaya Barat. Menurutnya, hal ini sangat penting bagi seseorang yang tengah menghadapi masa sulit.

Karena efeknya yang dapat memunculkan ketenangan inilah yang menyebabkan banyak wisatawan dari Barat yang melakukan ritual melukat ini. Sistem kapitalisme yang diterapkan di sana merupakan sistem hidup yang hanya mementingkan materi. Akibatnya, jiwa manusia menjadi hampa. Setiap saat yang mereka pikirkan hanya materi dan materi.

Baca juga: Tradisi Membaca Al-Qur'an: Pejabat Bakal Insaf?

Mereka mungkin memiliki banyak harta, tetapi tidak mendapatkan ketenangan jiwa. Itulah sebabnya, mereka berupaya mendapatkan ketenangan itu. Salah satunya dengan mengikuti ritual melukat, meskipun mereka bukan pemeluk Hindu.

Pencampuradukan Ajaran Agama

Mereka yang meyakini ideologi kapitalisme memang dibebaskan untuk beribadah karena ideologi ini memberikan kebebasan beragama kepada penganutnya. Oleh karena itu, mereka bebas memilih agama atau tidak beragama. Mereka juga bebas beribadah sesuai dengan keyakinan mereka, bahkan sekalipun hal itu tidak diajarkan agama yang mereka peluk. Prinsip ini membuat terjadinya pencampuradukan ajaran agama satu dengan yang lain.

Jika prinsip ini juga dianut oleh seorang muslim, tentu akan membahayakan akidahnya. Ia akan membuat aturan ibadah sendiri, seperti yang dilakukan oleh Panji Gumilang bersama jemaahnya. Salah satu aturan ibadah mereka tidak memisahkan saf jemaah laki-laki dan perempuan.

Itulah sebabnya, prinsip kebebasan beragama ini tidak boleh diikuti oleh kaum muslim. Memang, mereka tidak dipaksa untuk masuk Islam. Namun, saat mereka telah memeluk Islam, mereka harus mengikuti aturan-aturannya, termasuk dalam masalah ibadah. Mereka tidak boleh mengikuti ibadah agama lain, seperti melukat karena dapat merusak keimanan mereka. Allah Swt. telah menyatakan hal ini dalam QS. Al-Kafirun [109]: 1–2.

قُلْ يآ أيُّهَا الْكَافِرُوْنَ • لَا أعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَ

Artinya: “Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang engkau sembah.”

Oleh karena itu, seorang muslim tidak seharusnya melakukan ritual agama lain seperti melukat karena hal ini dilarang oleh Allah Swt.

Beragama dalam Islam

Melukat yang dilakukan oleh para wisatawan ini sebenarnya merupakan perwujudan dari naluri beragama yang ada dalam setiap diri manusia. Naluri yang membuatnya ingin mengagungkan atau menyembah sesuatu. Naluri yang membuatnya merasa lemah dan bergantung pada zat yang dianggap memiliki kekuatan dan keagungan.

Inilah perwujudan dari naluri beragama atau gharizah tadayyun. Naluri ini ada pada setiap orang. Naluri ini tidak akan muncul jika tidak ada rangsangan dari luar. Jika tidak dipenuhi, ia akan menyebabkan kegelisahan tetapi tidak mengantarkan pada kematian.

Naluri ini pula yang mendorong Nabi Ibrahim as. mencari Tuhan. Awalnya Nabi Ibrahim menganggap bintang dan bulan sebagai Tuhan. Namun, ketika kedua benda langit itu tenggelam, ia pun meyakini bahwa keduanya bukan Tuhan. Kemudian, ia menganggap matahari sebagai Tuhan. Namun, Nabi Ibrahim as. pun meyakini bahwa matahari bukan Tuhan karena ia tenggelam. Hal ini diabadikan dalam QS. Al-An'am [6]: 78.

فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَا اَكْبَرُ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ إنِّيْ بَرِيْىٌٔ مِمَّا تُشْرِكُوْنَ

Artinya: “Ketika ia melihat matahari terbit, ia berkata, ‘Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.’ Namun, ketika matahari terbenam, ia berkata, ‘Hai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang engkau persekutukan.”

Kisah Nabi Ibrahim as. ini mengajarkan kepada kita bahwa untuk mencapai keimanan dilakukan dengan memperhatikan alam serta apa yang ada di dalamnya. Ada peran akal di dalamnya. Keimanan itu tidak hanya dihasilkan dari perasaan untuk mengagungkan sesuatu.

Jika perasaan ini dibiarkan, ia akan mendorong manusia menyembah sesuatu yang tidak seharusnya. Ia akan menyembah patung, pohon yang besar, atau benda-benda yang dianggap keramat. Ia juga akan menyembah matahari, api, atau sesuatu yang dianggap hebat. Itulah sebabnya, perasaan untuk mengagungkan sesuatu ini harus dibarengi dengan akal.

Khatimah

Dari sini dapat dipahami bahwa melukat merupakan bagian dari ritual agama Hindu. Oleh karena itu, seorang muslim tidak seharusnya melakukan ritual ini. Jika ia merasa gelisah, yang harus dilakukannya adalah mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan membaca Al-Qur'an, berzikir, atau menjalankan salat sunah karena inilah yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. kepada kita.

Wallaahu a'lam bi ash-shawaab.[]

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor Narasiliterasi.id
Mariyah Zawawi Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
Pagar Laut, Kedaulatan Negara yang Tergadaikan
Next
Kenakalan Remaja Berujung Malapetaka
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram