Perempuan Minim Peran dalam AI  

Perempuan Minim Peran dalam AI

Ketika perempuan menjalankan kewajibannya dengan baik, maka akan lahir generasi gemilang yang memimpin negara.

Oleh. Siska Juliana
(Kontributor Narasiliterasi.id)

Narasiliterasi.id-Pada akhir Oktober lalu, UNESCO dan platform Women for Ethical AI melaporkan bahwa keterlibatan perempuan dalam pengembangan dan kepemimpinan Artificial Intelligence (AI) belum meningkat secara signifikan. Di sisi lain, pengaruh AI telah dirasakan oleh berbagai kalangan dan aspek kehidupan seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

UNESCO menyatakan bahwa jumlah peneliti perempuan di dunia yang berkecimpung di bidang AI hanya sebanyak 12% dan 30% profesional. Dalam hal kepemimpinan, kesenjangan gender pun sangat terasa.

UNESCO juga menyebutkan bahwa dominasi laki-laki dalam bidang teknologi menyebabkan adanya praktik patriarki yang membuat perempuan merasa tidak aman, nyaman, dan tidak diterima. Misalnya di Amerika, perempuan yang meninggalkan sektor teknologi dua kali lipat lebih banyak daripada laki-laki. (voaindonesia.com, 24-12-2024)

Keterlibatan Perempuan dalam AI

Menurut Bernadetta, seorang teknisi AI dan ahli Robotic Process Automation (RPA) menyebutkan bahwa wanita mampu memberikan sudut pandang yang berbeda sehingga menciptakan teknologi yang lebih inklusif. Dalam pengembangan desain sistem AI, mereka dapat menciptakan solusi yang lebih adil dan tidak bias.

Dilansir dari Forbes, penelitian menyatakan bahwa 44% sistem AI menghasilkan output yang bias gender. Jika diibaratkan, AI seperti anak kecil yang belajar dari lingkungan. Ketika lingkungan sosial dipenuhi stereotip, maka AI pun akan mempelajarinya.

Misalnya, dalam perekrutan kerja lebih sering memilih kandidat laki-laki sebab data pelamar sebelumnya didominasi oleh laki-laki. Alih-alih menjadi solusi, teknologi ini malah berpotensi menambah masalah yang baru.

Baca juga: Digital Overload pada Perempuan dan Solusinya

Meningkatkan Representasi Perempuan

Ada beberapa upaya yang dilakukan untuk meningkatkan peran perempuan dalam sektor digital, khususnya AI yaitu:

Pertama, mendukung pendidikan Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM).

Kedua, menampilkan pelopor AI perempuan. Adanya ilmuwan perempuan dan pemimpin AI yang menonjol dalam bisnis akan mampu menumbuhkan kepercayaan bahwa peluang bagi perempuan di bidang ini terbuka lebar.

Ketiga, mendampingi perempuan untuk peran kepemimpinan. Program bimbingan sangat penting bagi para wanita yang akhirnya berhasil berkarier di bidang AI.

Keempat, menciptakan kesempatan yang sama. Adanya bias implisit dalam proses perekrutan, membuat hambatan tersendiri bagi perempuan dalam memasuki dunia kerja di bidang AI. Oleh karena itu, diperlukan rekrut dan promosi setidaknya 50% posisi AI untuk memperbaiki algoritmanya.

Kelima, memastikan sistem penghargaan yang setara. Gaji yang sama untuk pekerjaan yang sama merupakan cara untuk merekrut dan mempertahankan perempuan.

Alat Kapitalisme

Kapitalisme menjadikan segala sesuatu sebagai komoditas ekonomi. Hal ini tentu tidak asing lagi. Perempuan dan teknologi digital sama-sama menjadi alat penjajahan ekonomi kapitalisme. Kebijakan apa pun yang diambil akan mengacu pada cara meningkatkan perekonomian. Atas dasar inilah perempuan harus mampu melihat fakta di balik fakta.

Ide kesetaraan gender yang selama ini digaungkan merupakan kamuflase agar perempuan tidak dianggap “makhluk kedua” di dunia ini. Akhirnya, kapitalisme mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam kemajuan dan ekonomi. Apalagi di tengah perekonomian yang sulit seperti sekarang, perempuan menjadi sasaran empuk dalam menggerakkan roda perekonomian dunia.

Jika diamati, laki-laki maupun perempuan merupakan korban sistem. Bukan ketimpangan gender yang menyebabkan perempuan ada di posisi inferior, melainkan kapitalismelah yang menciptakan ketimpangan dan ketidakadilan.

Mereka juga diiming-imingi slogan kebebasan menentukan hak sendiri agar fokusnya teralihkan dari kritik atas kerusakan kapitalisme. Dengan adanya isu ini, perempuan berbondong-bondong menjadi pekerja dan menanggung beban ekonomi keluarga. Alhasil, fitrah sebagai ibu dan istri tercerabut.

Islam dan Teknologi

Islam selaku akidah akliah yang diturunkan oleh Allah Swt. mempunyai seperangkat aturan yang berfungsi sebagai problem solver. Teknologi dalam pandangan Islam boleh diadopsi bagi kehidupan. Maka dari itu, Islam tidak antiteknologi. Bahkan, dasar-dasar teknologi mutakhir yang ada saat ini hampir semuanya bersumber dari para ulama dan ilmuwan Islam.

Sebut saja Mariam al-Astrulabiyya yang bernama asli Al-‘Ijliyyah. Ia berhasil menyempurnakan alat melacak benda-benda langit dari ayahnya. Alat tersebut sangat krusial dalam membantu capaian ilmu astronomis pada masa lalu. Atas sumbangannya bagi ilmu astronomi, salah satu asteroid yang beredar pada orbit antara Mars dan Jupiter diberi nama Al-‘Ijliya pada tahun 2016.

Namun, Islam memberikan tuntunan agar penggunaan teknologi berlandaskan keimanan. Islam juga tampil sebagai ideologi yang mengatur teknologi digital. Teknologi digunakan sebagai sarana yang mendukung aktivitas kehidupan. Hal ini tidak terlepas dari peran manusia sebagai khalifatu fil ardh.

Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surah Al-Baqarah ayat 30, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui'.”

Di sisi lain, Khilafah menjamin pemenuhan hak-hak perempuan, termasuk dalam pendidikan dan kesempatan yang sama dalam berkarya. Mereka memahami bahwa hakikat bekerja bagi perempuan adalah mubah (boleh) sehingga tidak akan melupakan kewajiban utamanya sebagai ummun wa rabbatul bait (ibu dan pengurus rumah tangga suaminya).

Ketika mereka menjalankan kewajibannya dengan baik, maka akan lahir generasi gemilang yang memimpin negara. Khilafah juga menerapkan sistem ekonomi Islam yang mampu menyejahterakan seluruh masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan, muslim maupun nonmuslim.

Khatimah

Islam sungguh menghormati dan memuliakan kaum hawa dengan tidak mewajibkannya mencari nafkah. Kewajiban itu diberikan pada suami dan walinya. Allah Swt. memberikan kewajiban ini sesuai kemampuan dan tanggung jawabnya. Hanya dengan penerapan Islam secara kaffah, wanita mampu menyadari fitrahnya. Wallahualam bissawab.[]

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Siska Juliana
Siska Juliana Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
Kanzu Al-Maal
Next
PPN Naik Buah Kebijakan Sekuler
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram