
Membaca Al-Qur'an adalah aktivitas yang dianjurkan oleh Allah Swt., apalagi jika yang dibaca dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan.
Oleh. Dewi Jafar Sidik
(Kontributor Narasiliterasi.id)
Narasiliterasi.id-Rasulullah saw. bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya.” (HR. Imam Al-Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya adalah dua amalan yang akan membuat seorang muslim menjadi yang paling baik di antara saudaranya sesama muslim lainnya.
Dilansir dari TRIBUNNEWS.COM (19-1-2025) Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Partai Golkar mengungkapkan apresiasinya terhadap tradisi membaca ayat suci Al-Qur'an di Partai Golkar. Bahlil pun mengatakan bahwa tradisi ini bagus dan diharapkan terus dilakukan supaya mendorong para kader insaf. Bahkan ia mengusulkan agar tradisi tersebut juga dapat diterapkan dalam kegiatan-kegiatan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Apresiasi Bahlil Lahadalia terhadap tradisi membaca Al-Qur'an di Partai Golkar patut diberikan penghargaan dan tradisi mulia tersebut harus terus dipertahankan. Namun, jangan hanya dicukupkan dengan membacanya saja yang menjadi tradisi, memahaminya hingga mengamalkannya pun harus menjadi kerutinan yang dilakukan oleh seluruh umat muslim.
Membaca Al-Qur'an Perintah Allah Swt.
Membaca Al-Qur'an adalah aktivitas yang dianjurkan oleh Allah Swt., apalagi jika yang dibaca dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Rasullulah saw. adalah role model bagi umatnya karena akhlak beliau sesuai dengan apa yang ada dalam isi Al-Qur'an. Bahkan, beliau dijuluki sebagai Al-Qur'an berjalan.
Sebagai seorang muslim tentu kita ingin berakhlak seperti akhlak Nabi saw.. Namun, tampaknya saat ini sudah sulit ditemukan dalam diri umat muslim yang berakhlak seperti Nabi saw.. Maka, jika ingin memiliki akhlak terpuji seperti Nabi, tentu saja harus mengikuti apa yang dilakukan oleh Nabi saw. Beliau selalu menjaga dirinya dari perbuatan yang dilarang Allah Swt.
Baca juga: Merindukan Sosok Pemimpin sesuai Al-Qur'an
Membaca Al-Qur'an, Lanjut Pahami dan Diamalkan!
Kaum muslim saat ini masih banyak yang rajin melakukan aktivitas ibadah mahdhah, seperti salat, zakat, puasa, dan haji. Akan tetapi, dalam aspek kehidupan sehari-hari sering kali enggan diatur oleh aturan Allah Swt. Bisa jadi kitab sucinya dilantunkan korupsinya dilakukan, salatnya dijalankan auratnya diperlihatkan, dan seterusnya. Padahal jika Al-Qur'an hanya dibaca saja, kemungkinan besar tidak akan berpengaruh terhadap perilaku yang membacanya.
Tidak sedikit para pejabat yang bisa membaca Al-Qur'an, tetapi tidak sedikit pula yang tersandung kasus hukum. Hal ini mungkin karena yang menjadi rutinitas hanya membaca Al-Qur'an saja, sementara memahami dan mengamalkannya ditinggalkan. Maka jika membacanya saja yang menjadi tradisi, bisa dipastikan akan sulit menjadikan individu insaf apalagi taat. Kondisi seperti ini menjadi suatu keniscayaan dalam kehidupan yang dilandasi oleh sistem kehidupan sekuler.
Sekularisme adalah paham yang memisahkan agama dengan kehidupan dan menjadikan individu dalam menjalani kehidupannya tidak mau diatur, maunya hanya mengatur dengan kehendaknya sendiri. Baik dan buruk tidak berdasarkan hukum syarak, melainkan sesuai dengan standar penilaian manusia. Padahal syaraklah yang harus menjadi tolok ukur perbuatan manusia.
Sumber Hukum Islam
Al-Qur'an adalah kalamullah dan mukzijat Nabi Muhammad saw. sekaligus sebagai pedoman bagi kehidupan umatnya. Maka dari itu Al-Qur'an tidak hanya untuk dibaca, melainkan isinya harus dipahami, diamalkan, dan diterapkan dalam kehidupan, dari level individu, keluarga, masyarakat, hingga negara.
Kitab suci Al-Qur'an sebagai sumber hukum Islam yang pertama dan utama. Al-Qur'an juga harus menjadi rujukan dalam pembentukan hukum Islam dan penyelesaian masalah-masalah hukum dalam kehidupan umat Islam. Dalil tentang Al-Qur'an sebagai sumber hukum dijelaskan dalam firman Allah Swt. QS. An-Nisa ayat 59, yang artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
Membentuk Insan yang Takwa
Ketika Al-Qur'an diterapkan dalam pengaturan kehidupan masyarakat, akan didapati kehidupan yang penuh dengan ketaatan dan ketakwaan. Al-Qur'an sebagai pembeda antara yang hak dan batil, petunjuk jalan kehidupan yang lurus, dan sebagai bukti kekuasaan Allah Swt.
Saat individu memahami isi Al-Qur'an, dirinya akan bisa membedakan mana perbuatan yang baik dan buruk. Maka, akan tercipta kehidupan yang islami, individu, masyarakat, pejabat, dan negara yang bertakwa. Mereka pun akan senantiasa takut untuk berbuat maksiat seraya akan menjaga isi dari Al-Qur'an sebaik-baiknya.
Apalagi bila negara yang menerapkan isi Al-Qur'an, maka penguasanya akan selalu memperhatikan rakyatnya. Rakyat akan senantiasa dijaga dari perilaku yang melanggar perintah Allah Swt. dan diwujudkan suasana keimanan ketaatan dalam kehidupan umat. Negara pun akan memutuskan semua perkara urusan kehidupan berdasarkan Al-Qur'an.
Negara yang menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber hukum telah diterapkan pada masa kenabian Muhammad saw., khulafaurasyidin, dan kekhilafahan. Pada masa itu Al-Qur'an dijadikan aturan untuk mengatur kehidupan umat. Al-Qur'an dapat memberi efek pada perilaku dan pemikiran penguasa saat itu.
Dalam hal ini sebagai contoh adalah sosok Khalifah Umar bin Khattab. Beliau adalah pemimpin (khalifah) yang menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber hukum dalam mengatur dan menyelesaikan permasalahan umat. Ia pemimpin yang tegas, pemberani, ramah, dan jujur. Dengan ketegasannya, ia menolak terhadap praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Khatimah
Demikinlah, jika umat Islam mencintai Al-Qur'an dan jadikan sebagai pedoman dalam kehidupan, menjalani kehidupannya akan sesuai dengan perintah Allah Swt. Membaca Al-Qur'an akan dikerjakan di setiap kesempatan Tidak berhenti sampai di sana, Al-Qur'an pun akan dipahami lalu diamalkan. Hal ini dilakukan agar terhindar dari perilaku-perilaku yang melanggar perintah Allah Swt. hidup pun akan aman, tenteram, sejahtera, dan berkah dunia akhirat. Wallahualam bissawab.[]
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

[…] Baca juga: Tradisi Membaca Al-Qur'an: Pejabat Bakal Insaf? […]
[…] Baca juga: Tradisi Membaca Al-Qur'an: Pejabat Bakal Insaf? […]