Gen Z dalam Ancaman Dunia Digital

Gen Z dalam ancaman dunia digital

Islam dengan penerapan peraturan melalui negara melindungi warganya dari hegemoni digital dengan membentuk kedaulatan digital.

Oleh. Marlina
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-Miris satu kata menggambarkan kondisi remaja dalam pengunaan media sosial. Tak hanya di Indonesia tetapi juga negara lainnya, dampak buruk dunia digital mengakibatkan remaja mengalami gangguan kesehatan mental.

Maka dari itu pemerintah berencana membatasi penggunaan media sosial untuk anak usia 13 hingga 16 tahun. Tergantung risiko masing-masing platform. Regulasi pengaturan itu adalah PP 17 Tahun 2025 tentang tata kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).

Upaya menekan dampak negatif dari penggunaan media sosial yang berpengaruh pada perkembangan psikologis dan emosi remaja, telah disampaikan seorang Psikolog Vera Itabiliana. Menurutnya batasan akses media sosial dalam penggunaan gawai belum mampu melindungi generasi remaja dari pengaruh negatif dunia digital terutama media sosial. Vera juga mengatakan bahwa remaja butuh pendampingan sosial saat menggunakan media sosial agar emosi mereka terkendali. (Antaranews.com)

Tahun 2025 data kesehatan mental di Indonesia menunjukkan prevalensi tinggi, karena dari 3 remaja salah satunya (34,9%) mengalami kesehatan mental. Gangguan mental di antaranya, kecemasan dan depresi akibat tekanan akademik dan media sosial. Dari prevalensi itu sekitar 15,5 juta mengalami kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.

Usia remaja atau di era teknologi dengan sebutan gen Z hidup di tengah gempuran media sosial. Hidup mereka termanjakan dengan fasilitas teknologi digital, apapun yang mereka inginkan teknologi digital mampu memenuhinya. Mulai dari kebutuhan materi belajar, ilmu kesehatan, makanan dan lain-lain dengan mudah bisa diakses. Namun kondisi demikian seringkali menjebak mereka ke arah negatif. Tidak sedikit remaja depresi bahkan bunuh diri akibat konten media sosial. Kemudahan tersebut dimanfaatkan juga dalam melakukan kriminalitas berupa penipuan melalui media sosial. Ekploitasi anak dengan dalih kreatifitas yang memicu para predator anak mudah mencari target.

Kapitaliasme Akar Hegemoni Digital

Upaya pemerintah dalam membatasi penggunaan akses media sosial hanya bersifat administratif. Anak-anak dan remaja dengan potensi mereka mampu mengulik berbagai cara. Biasanya semakin dilarang mereka akan semakin pintar mencari cara. Bisa saja mereka mengakses dengan akun orang lain sehingga mereka masih bisa bermain game online. Game yang dinyatakan WHO sebagai penyebab kecanduan.

Seluruh dunia mengakui jika kapitalisme dengan modalnya mampu menciptakan bisnis digital untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Mereka tidak memedulikan akibat buruk yang berdampak pada masyarakat. Bukan hanya anak-anak Indonesia tapi anak-anak generasi di luar negeri mengalami dampak yang sama. Jika hanya batasan saja tanpa ada tindakan tegas dari negara untuk menutup bahkan menolak akses dari hegemoni kapitalis maka aksi penyelamatan generasi tidak pernah berhasil.

Kapitalisme dengan jantungnya sekularisme, yakni memisahkan agama dari kehidupan telah memberikan ruang kebebasan sebebas-bebasnya dalam berekspresi. Platform dengan ciri khas masing-masing seolah memberi peluang kreatifitas dengan penghargaan melalui monetisasi menjadikan pelaku digital betah bermedia sosial. Dengan kata lain masyarakat seolah membutuhkan karena bisa bekerja lewat media sosial.

Sayangnya platform memberikan kesempatan hanya pada aktivitas yang menurutnya sesuai dengan kebijakan mereka. Konten agama yang mengajak berpikir dengan mudah dinonaktifkan. Ini artinya kebijakan tegas dunia digital harus dilawan dengan kekuatan digital.

Baca juga: Generasi Kuat, Negara Bermartabat

Aturan Islam Melindungi Generasi

Remaja adalah generasi harapan untuk masa depan, di tangan mereka kehidupan akan dipegang karena mereka yang akan mengisi peradaban selanjutnya. Mengkhawatirkan jika mereka teracuni pemikirannya dengan dunia sekularisme yang menjadikan mereka hidup tanpa mau diatur. Dengan itu Islam sebagai agama sempurna tidak hanya mengatur urusan ibadah ritual saja melainkan semua aspek kehidupan. Salah satunya perlindungan dan penjagaan kesehatan mental.

Aturan Islam tidak akan membiarkan warganya hilang akal, maka dari itu penyebab yang menghilangkan akal akan diselesaikan. Termasuk menghentikan teknologi digital yang bisa merusak generasi. Islam dengan penerapan peraturan melalui negara melindungi warganya dari hegemoni digital dengan membentuk kedaulatan digital.

Negara juga akan mendorong individu dan masyarakat untuk berperan penting dalam menjaga kondisi dari hal-hal membahayakan akal. Orang tua akan didorong untuk mengawasi anak-anak dari pengaruh buruk media sosial jika ada kelalaian maka akan dikenakan sanksi begitupun masyarakat didorong untuk saling mengingatkan satu sama lain.

Negara tentu sebagai pintu utama, tidak akan membiarkan konten digital dari negara asing masuk dengan mudah. Melalui kementerian informasi negara akan rutin mengontrol dunia digitalisasi agar tidak masuk pemikiran asing melalui dunia digital. Negara akan menjamin setiap warga untuk hidup tenang dari hal- hal merusak mental.

Rasulullah saw. bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ

Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah dari mukmin yang lemah. Pada setiap hal terdapat kebaikan. Peliharalah dari sesuatu yang mendatangkan manfaat padamu.” (HR. Muslim)

Wallahualam bissawab. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Marlina Kontributor NarasiLiterasi.Id
Previous
Sistem Kapitalis Ciptakan Generasi Sadis
Next
Gen Z Jangan Sampai Kehilangan Arah
2 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Bunda udh
Bunda udh
10 days ago

Barakallah Teh Marlina

bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram