
Minimnya pemahaman agama pada generasi saat ini membuat sebagian dari mereka memilih jalan yang keliru. Kondisi ini diperparah oleh sistem kapitalisme yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.
Oleh. Sri Yana, S.Pd.I
(Kontributor NarasiLiterasi.Id)
NarasiLiterasi.Id-Kasus anak mengakhiri hidup akibat impitan ekonomi kembali terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa generasi bangsa tidaklah baik-baik saja. Padahal, Indonesia adalah negara yang kaya akan barang tambang dan terkenal dengan wilayahnya yang subur. Namun, mengapa di negeri yang kaya justru rakyatnya hidup dalam kemiskinan?
Sebagaimana telah dituliskan dalam sepucuk surat yang menjadi saksi bisu kepergian anak berinisial YRB (10), siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, NTT, yang mengakhiri hidupnya. Kejadian ini diduga karena YRB tidak mampu membeli buku dan pena. Merespons tragedi ini, KPAI menggelar case conference bersama Kemendikdasmen pada 4 Februari 2026 untuk mendalami faktor ekonomi, pola asuh, hingga dugaan perundungan di lingkungan sekolah. (tirto.id, 04-02-2026).
Terbelenggu Sistem Rusak
Dilihat dari kasus di atas, anak tersebut mengalami keputusasaan dalam menghadapi kondisi ekonomi yang sangat sulit. Ia tidak mampu membeli buku dan pena. Selain itu juga terbebani tagihan sekolah sebesar Rp1,2 juta. Sedangkan ia harus dititipkan kepada neneknya, Kondisi ini menyebabkan tekanan psikologis yang berat. Belum lagi faktor lingkungan yang turut memperparah keadaan. Akhirnya, anak tersebut tidak kuat menahan beban hidup dan memilih mengakhiri hidupnya.
Beginilah kondisi sistem saat ini yang melahirkan generasi berpikir pendek dan rapuh, ditambah dengan lemahnya iman. Padahal, bunuh diri merupakan perbuatan yang sangat dibenci Allah Swt. Allah mengancam pelakunya dengan siksa neraka sebagaimana firman Allah Swt.,
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu. Barang siapa berbuat demikian dengan melampaui batas dan berbuat zalim, kelak Kami masukkan dia ke dalam neraka. Yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa [4]: 29–30)
Miris memang, seorang anak mengakhiri hidup hanya karena tidak dibelikan buku tulis, padahal persoalan hidup tersebut sejatinya masih dapat diselesaikan. Allah Swt. telah menjamin rezeki bagi setiap hamba-Nya sebagaimana firman-Nya, "Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Oleh karena itu, sebagai hamba yang beriman dan bertakwa, sudah sepatutnya kita selalu berprasangka baik kepada Allah Swt. Sungguh Allah Swt. akan mencukupkan rezeki bagi hamba-Nya yang yakin kepada-Nya. Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa minimnya pemahaman agama pada generasi saat ini membuat sebagian dari mereka memilih jalan yang keliru. Kondisi ini diperparah oleh sistem kapitalisme yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.
Generasi Rentan Akibat Hilang Jati Diri
Generasi kini seolah kehilangan jati dirinya. Mereka lelah dengan tekanan hidup yang menjepit, sehingga sedikit kesulitan saja dapat memicu stres dan keputusasaan. Hal ini berbeda dengan generasi terdahulu. Anak-anak dahulu menempuh perjalanan sekolah berkilo-kilometer dengan berjalan kaki, bahkan menyeberangi sungai. Namun, mereka tetap memiliki semangat dan daya juang yang tinggi. Pada masa itu, kekurangan buku dan alat tulis tidak membuat mereka mengeluh, apalagi putus asa. Mereka berusaha mencari solusi sendiri dengan bekerja atau cara lain yang halal. Mereka tidak menyalahkan kondisi ekonomi keluarga, karena sejatinya setiap orang tua menyayangi anak-anaknya.
Tanpa disadari, generasi saat ini menjadi generasi yang rentan dalam menghadapi kehidupan. Generasi yang serba instan, seiring teknologi yang memudahkan banyak aspek kehidupan. Akibatnya, ketika menghadapi kesulitan kecil, sebagian dari mereka mudah merasa putus asa.
Sejatinya, umat terutama generasi muda, harus dikembalikan kepada aturan Islam yang bersumber dari Allah Swt. Dengan penerapan Islam secara menyeluruh, kesejahteraan akan dirasakan oleh umat. Tidak akan ada anak yang kesulitan membayar sekolah atau membeli perlengkapan pendidikan karena semua telah difasilitasi dan dijamin oleh negara.
Baca juga: Strategi Pendidikan Khilafah
Kembalikan Anak dalam Pelukan Islam
Islam adalah agama yang paripurna dalam mengurus umatnya, termasuk dalam meminimalkan kemiskinan. Sebagaimana kisah seorang janda miskin yang memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya agar tertidur sambil menunggu makanan. Khalifah Umar bin Khattab yang sedang berpatroli mengetahui hal tersebut, lalu memikul sendiri sekarung gandum dari baitulmal untuk diberikan kepada janda tersebut. Inilah gambaran besarnya tanggung jawab seorang pemimpin yang takut dan taat kepada Allah Swt.
Khalifah Umar menangis ketika diangkat menjadi pemimpin karena khawatir tidak mampu menjalankan amanah dengan baik. Bahkan diriwayatkan bahwa ia merasa bertanggung jawab atas seekor keledai yang terperosok ke dalam jurang. Lantas, bagaimana dengan pemimpin hari ini yang menyaksikan anak mengakhiri hidup akibat kelalaian negara? Peristiwa ini menjadi bukti gagalnya negara dalam menjalankan perannya sebagai pelayan rakyat.
Dalam Islam, sandang, pangan, dan papan merupakan tanggung jawab negara. Negara wajib mengurus umat yang tidak mampu dan memastikan tidak ada rakyat yang kelaparan. Khalifah Umar Ra. bahkan menolak bantuan pengawalnya, Aslam, untuk memikul gandum seraya berkata, “Apakah engkau akan memikul dosaku di hari kiamat?”
Sungguh besar pengorbanan pemimpin dalam Islam yang mendedikasikan dirinya untuk kesejahteraan umat. Pemimpin yang menjadi teladan dan pelindung rakyatnya. Tidakkah kita merindukan pemimpin seperti itu, yakni seorang pemimpin yang mampu menjadi pengurus dan perisai bagi rakyatnya? Wallahualam bissawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com


















