
Adanya SKB Kesehatan Jiwa Anak menunjukkan krisis nilai yang melanda masyarakat modern. Persoalan kesehatan mental anak merupakan isu serius yang memerlukan kerja sama lintas sektor.
Oleh. Jannatu Naflah
(Kontributor NarasiLiterasi.Id)
NarasiLiterasi.Id-Pemerintah Indonesia menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang penguatan penanganan kesehatan jiwa anak yang melibatkan sembilan kementerian dan lembaga. SKB ini lahir sebagai respons terhadap maraknya kasus anak mengakhiri hidup yang terjadi akhir-akhir ini.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental anak merupakan isu serius yang memerlukan kerja sama lintas sektor. Di tengah meningkatnya kasus gangguan mental hingga kecenderungan anak mengakhiri hidup, langkah koordinatif pemerintah ini patut dicatat sebagai bentuk respons terhadap persoalan mental generasi muda yang makin nyata di masyarakat.
SKB Kesehatan Jiwa Anak, Solusikah?
SKB tersebut diteken oleh sejumlah menteri, yaitu Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti,; Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi; Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji; Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian; Menteri Agama, Nasaruddin Umar; Menteri Sosial, Saifullah Yusuf; Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid; serta Kepala Kepolisian RI Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. (kompas.com, 7 Maret 2026). Kolaborasi ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan jiwa anak melingkupi berbagai sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga keamanan sosial.
Data Kementerian Kesehatan melalui platform healing119.id serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan gambaran kesehatan jiwa anak yang cukup mengkhawatirkan. Data tersebut menyebutkan ada empat faktor utama yang memicu kecenderungan anak untuk mengakhiri hidup.
Faktor terbesar berasal dari konflik keluarga yang mencapai 24–46 persen, sedangkan masalah psikologis menempati posisi kedua dengan persentase 8–26 persen. Selain itu, perundungan menjadi faktor pemicu pada kisaran 14–18 persen kasus. Tekanan akademik juga tidak dapat diabaikan karena menyumbang sekitar 7–16 persen. Data ini menunjukkan bahwa anak-anak menghadapi tekanan dari berbagai arah sekaligus, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga kondisi psikologis pribadi.
Fenomena ini sejatinya tidak dapat dilepaskan dari krisis nilai yang melanda masyarakat modern. Sistem kehidupan yang sekuler dan liberal telah mendorong perubahan cara pandang manusia terhadap makna hidup, tujuan pendidikan, serta relasi sosial. Ketika agama makin dipinggirkan dari ruang publik dan kehidupan sosial, manusia pun kehilangan rujukan nilai yang kokoh dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.
Sekularisme Biang Kerok Gangguan Jiwa Anak
Di tengah arus globalisasi dan hegemoni media kapitalisme global, nilai-nilai sekuler liberal makin kuat mempengaruhi cara berpikir masyarakat. Media massa dan media sosial seringkali menampilkan standar hidup yang materialistik dan individualistik. Generasi muda pun tumbuh dalam lingkungan budaya yang mengukur kebahagiaan dari pencapaian materi, popularitas, dan pengakuan sosial semata.
Akibatnya, paradigma hidup masyarakat berubah secara signifikan. Kesuksesan sering kali dimaknai hanya sebatas keberhasilan akademik, karier, atau kekayaan materi. Ketika anak gagal memenuhi standar tersebut, mereka merasa tidak berharga dan kehilangan arah. Dalam kondisi seperti ini, tekanan mental menjadi semakin berat karena tidak ada fondasi nilai yang kuat untuk menghadapi kegagalan dan kesulitan hidup.
Krisis nilai ini juga tercermin dalam sistem pendidikan dan pola pengasuhan keluarga. Pendidikan sering kali lebih menekankan aspek kompetisi dan prestasi akademik daripada pembentukan kepribadian yang kokoh. Sementara itu, keluarga sebagai lingkungan pertama pendidikan anak tidak selalu memiliki panduan nilai yang jelas dalam membentuk karakter dan mental anak.
Padahal dalam pandangan Islam, kehidupan manusia memiliki tujuan yang jelas, yaitu beribadah kepada Allah dan menjalankan peran sebagai khalifah di bumi. Islam juga memberikan panduan komprehensif mengenai pendidikan, keluarga, serta pembentukan kepribadian manusia. Nilai-nilai ini membangun ketahanan mental karena manusia diajarkan untuk memahami makna ujian, kesabaran, serta harapan dalam kehidupan.
Baca juga: Generasi Kuat, Negara Bermartabat
Sistem Islam adalah Solusi Tuntas
Jelas, problem kesehatan jiwa anak tidak cukup diselesaikan dengan kebijakan teknis atau program sektoral semata. Akar persoalan terletak pada sistem kehidupan yang membentuk cara pandang masyarakat. Selama sistem sekuler liberal kapitalistik tetap menjadi dasar pengaturan kehidupan maka berbagai problem sosial, termasuk krisis kesehatan mental, akan terus muncul dalam berbagai bentuk.
Dalam hal ini, sistem sekuler liberal kapitalistik perlu dipandang sebagai persoalan mendasar yang harus dikritisi bersama. Oleh karena itu, penting menyadarkan masyarakat bahwa akar persoalan yang mendera generasi muda adalah penerapan sistem kehidupan yang sekuler liberal kapitalistik.
Kesadaran ini jelas tidak dapat diraih tanpa adanya dakwah untuk menyadarkan masyarakat. Alhasil, perjuangan dakwah tidak berhenti pada perbaikan individu semata, tetapi juga diarahkan pada perubahan sistem kehidupan agar selaras dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, masyarakat memiliki fondasi nilai yang kokoh dalam membangun kehidupan yang sehat secara spiritual, sosial, dan psikologis.
Pada saat yang sama, negara memiliki tanggung jawab besar sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi rakyatnya. Negara seharusnya memastikan bahwa kebijakan yang diambil mampu melindungi anak dan keluarga dari kerusakan nilai yang merusak kehidupan. Perlindungan ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menyentuh aspek ideologis dan moral masyarakat.
Akhirnya, paradigma politik dalam sistem pendidikan, kesehatan, dan ekonomi perlu terintegrasi dalam satu kerangka nilai yang jelas. Dalam pandangan Islam, seluruh sistem kehidupan diatur berdasarkan syariat untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta manusia. Dengan penerapan sistem Islam secara komprehensif dalam seluruh aspek kehidupan, diharapkan generasi muda dapat tumbuh dalam lingkungan yang sehat secara mental, kuat secara spiritual, dan kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Wallahualam bissawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com
















