Kapitalisme Gagal Entaskan Stunting

Kapitalisme gagal entaskan stunting 1

Kasus stunting banyak terjadi pada masyarakat kelas bawah. Maka menyelesaikannya tidak akan cukup jika dilakukan oleh lembaga atau sebagian orang

Oleh. Gina Ummu Azhari
(Kontributor Narasiliterasi.id)


Narasiliterasi.id-Stunting adalah kondisi gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu yang panjang. Angka stunting di Indonesia cukup tinggi yaitu 21,5% pada tahun 2023. Untuk itu pemerintah melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan permasalahan ini.


Salah satu lembaga masyarakat IKWI (Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia) ingin turut serta mengatasi stunting ini. Mereka bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Bandung mengadakan acara Rembug Stunting di Pendopo Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. Acara ini merupakan bagian dari perayaan Kemerdekaan ke-79 Republik Indonesia. Pemerintah mengundang 100 orang ibu menyusui dan balita yang berpotensi stunting. (ayobandung.com, 30-8-24)


Solusi Stunting dalam Kapitalisme


Balita dan anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Kelak merekalah yang akan meneruskan pembangunan negara. Permasalahan stunting ini sejatinya sangat membahayakan masa depan bangsa jika terus dibiarkan. Karena generasi muda yang sehat dan kuat adalah aset utama kemajuan bangsa.


Pemerintah sendiri telah melakukan berbagai macam upaya untuk mengatasi stunting termasuk bekerja sama dengan organisasi masyarakat. Namun, cara-cara tersebut nyatanya tak juga berhasil mencegah terjadinya stunting yang setiap tahun kasusnya terus bertambah. Itu karena cara menyelesaikan permasalahannya tidak sampai pada akarnya.


Solusi yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi stunting baru sampai pada tataran berikut. Pertama, melakukan fokus percepatan penurunan stunting pada 10 provinsi, di antaranya Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Aceh, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah.


Kedua, akses pelayanan kesehatan bagi anak dan ibu hamil melalui puskesmas dan posyandu. Pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil juga suplemen, pemberian vitamin A bagi ibu menyusui, dan makanan pendamping ASI bagi bayi dan balita.


Ketiga, aspek promotif yakni edukasi kepada ibu hamil dan keluarga mengenai langkah-langkah pencegahan stunting.
Keempat, peningkatan program perlindungan sosial untuk menjangkau keluarga yang tidak mampu. (Stunting.go.id, 05-8-2020)


Namun, semua langkah tersebut tidak kunjung menunjukkan hasil. Dilihat dari penyebab stunting, yaitu akibat kekurangan gizi, maka yang seharusnya dilakukan adalah dengan memenuhi gizi setiap anak Indonesia. Di mana tentu kita mengenal 4 sehat 5 sempurna. Oleh karena itu, pemenuhan gizi ini wajib dilakukan jika pemerintah serius ingin menyelesaikan stunting. Tidaklah cukup dengan pembagian sembako atau pembagian susu ala kadarnya dalam jangka waktu yang tidak berkelanjutan.


Dengan demikian, untuk memenuhi gizi setiap anak berarti menciptakan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena kasus stunting ini banyak terjadi pada masyarakat kelas bawah. Maka menyelesaikannya tidak akan cukup jika hanya dilakukan oleh lembaga atau sebagian orang. Namun, permasalahan stunting haruslah diatasi oleh negara.


Penerapan Sistem Kapitalisme Sekuler Sumber Masalah

Perlu diketahui, saat ini negara kita menerapkan sistem sekuler kapitalisme. Sistem sekuler memisahkan aturan agama dari kehidupan, sedangkan pengaturan ekonominya menggunakan sistem kapitalisme. Kapitalisme yang menjadikan materi sebagai dasar melakukan perbuatan, menjadikan negara hanya sebagai regulator atau pembuat aturan saja. Dan aturan yang dibuat sering kali pesanan para kapitalis. Sehingga kondisi kesulitan yang dihadapi rakyat kecil acapkali terabaikan. Kesejahteraan sulit terwujud dalam sistem ini.


Jangankan untuk hidup sejahtera, untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa ini sangatlah sulit. Harga kebutuhan pokok yang makin tidak terjangkau, biaya hidup makin tinggi, pungutan pajak terus bertambah baik dari jumlah yang harus dibayar maupun jenisnya. Sedangkan lapangan kerja makin terbatas karena banyak pemutusan kerja atau PHK akhir-akhir ini. Orang yang memiliki pekerjaan pun masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup, apalagi yang tidak bekerja.


Cara Islam Menyelesaikan Stunting


Berbeda dengan sistem Islam yang bersumber dari aturan sahih yakni syariat Islam. Syariat menentukan bahwa pemimpin adalah pengurus urusan rakyat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang berbunyi:
"Imam adalah raa'in (gembala) dan ia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya."
(HR. Bukhari)


Islam pun mengamanatkan bahwasanya negara wajib memenuhi kebutuhan pokok seluruh masyarakat. Maka pemenuhan pangan yang bergizi untuk anak, wajib dilakukan. Begitu juga kebutuhan dasar yang lain, seperti ketersediaan air, listrik, dan bahan bakar akan dengan mudah diperoleh rakyat dengan harga yang terjangkau.


Hal ini sangat mungkin dilakukan oleh negara dalam sistem Islam. Karena sistem ekonomi Islam yang berbasis baitulmal memiliki banyak pos pemasukan seperti ganimah, rikaz, fai, kharaj, termasuk hasil pengelolaan sumber daya alam.


Islam mewajibkan sumber daya alam dikelola mandiri oleh negara agar hasilnya dapat dirasakan oleh rakyat. Alhasil sudah tentu banyak sekali dana yang dimiliki oleh negara agar mampu memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya. Sehingga negara tidak akan melakukan pungutan lagi dalam bentuk pajak kepada rakyat. Kalaupun terpaksa dilakukan, penarikan pajak hanya ditujukan bagi laki-laki balig yang mampu. Itu pun hanya sekali itu saja, tidak dilakukan pungutan pajak rutin seperti saat ini.


Sungguh telah tampak jelas sistem kapitalisme ini gagal mengentaskan stunting akibat tidak mampunya menyejahterakan rakyat. Hanya penerapan sistem Islam kafah yang mampu menyelesaikan seluruh permasalahan umat. Keberadaan Islam akan mendatangkan keberkahan dari langit dan bumi. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS Al-A'Raf ayat 96 yang berbunyi:
"Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa maka akan kami turunkan rahmat dari langit dan bumi …."
Wallahualam bissawab.[]

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Gina Ummu Azhari Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
Polemik Fufufafa, Bukti Kebobrokan Demokrasi
Next
Denting Nasihat Kehidupan
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram