
Keberadaan generasi muda di dunia digital sering kali menggiring mereka untuk mengikuti algoritma media sosial yang menjadikan mereka kerap ingin mencoba sesuatu yang baru.
Oleh. Riani Andriyantih, A.Md.
Kontributor NarasiLiterasi.Id
NarasiLiterasi.Id-Aktivitas bermedia sosial menjadi sesuatu yang lekat dengan kehidupan, tak terkecuali Gen Z. Ya, Gen Z tumbuh dengan kemudahan dan perkembangan teknologi yang begitu pesat. Data menyebutkan bahwa pada semester pertama tahun 2025, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat rekor baru pengguna internet Indonesia sebanyak 229.428.417 jiwa. Jumlah ini didominasi oleh Gen Z sebesar 25,54 persen, Milenial sebesar 25,17 persen, dan Gen Alpha 23,19 persen (cloudcomputing.id, 12-08-2025)
Tidak mengherankan jika media sosial menjadi tempat ternyaman bagi generasi muda dibandingkan dunia nyata. Keberadaan media sosial nyata memberikan kemudahan dalam mengakses berbagai informasi dan komunikasi. Menyambung silaturahmi dengan sanak saudara yang terhalang jarak pun tak lagi susah. Kini, media sosial justru menjadi ruang yang luas untuk mengekspresikan diri. Ini sekaligus menjadi sarana hiburan dan kesenangan bagi sebagian masyarakat, terutama generasi muda.
Melalui berbagai platform jejaring sosial yang tersedia, seperti Facebook, Instagram, X, YouTube, TikTok, dan jejaring lainnya, masyarakat sering kali menghabiskan waktu mereka untuk berselancar di dunia maya. Menurut survei perusahaan riset dan analisis global, YouGov, setidaknya 81 persen masyarakat Indonesia menggunakan media sosial. Gen Z (lahir 1997–2012) merupakan super dominasi dengan durasi penggunaan setidaknya 1–5 jam menggunakan media sosial melalui berbagai platform (kompas.id, 01-09-2026).
Tentu saja segala bentuk kemudahan yang disuguhkan oleh media sosial tak boleh dibiarkan liar begitu saja. Sebab, tidak dimungkiri, di balik berbagai kemudahan tersebut ada bahaya dan dampak buruk yang mengintai.
Dampak Media Sosial
Generasi muda terbiasa hadir dengan semangat yang menggebu, ekspresif, penuh ide kreatif, dan cemerlang. Namun, keberadaan generasi muda di dalam dunia digital sering kali menggiring mereka untuk mengikuti algoritma media sosial yang menjadikan mereka kerap ingin mencoba sesuatu yang baru, bahkan tak jarang mengalahkan nalar dan logika.
Dalam proses pencarian jati diri, generasi muda terperangkap dalam standar sosial. Hali ini menjadikan tolok ukur kebahagiaan hanya dinilai dari banyaknya validasi manusia, jumlah penggemar, pengikut, dan materi. Sehingga, gerakan atau aksi yang dibuat bersifat pragmatis. Hal ini memunculkan aksi dan reaksi FOMO (fear of missing out) karena bersandar pada algoritma media sosial.
Cepat dan beragamnya informasi yang ada memunculkan konten-konten yang disuguhkan bak bola liar. Informasi yang keliru, hoaks, serta konten negatif tanpa filter dan pemetaan standar sosial masyarakat tak jarang merusak pemahaman. Alhasil, hal ini menimbulkan krisis identitas di kalangan generasi muda hingga merusak mental.
Ketergantungan terhadap digital menjadi sebab generasi muda lebih menyukai cara instan dalam mencapai tujuan tanpa mau berlelah-lelah menikmati proses demi proses pencapaiannya.
Potensi Generasi Muda
Generasi muda hari ini adalah harapan di masa mendatang. Baik dan buruknya suatu peradaban dinilai dari seberapa baik generasi mudanya hari ini. Namun, sungguh disayangkan, sering kali potensi besar yang dimiliki generasi muda dibajak. Mereka menjadi generasi yang hanya mengikuti hawa nafsu, generasi pembebek yang tidak dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Selain itu, mereka sibuk memoles penampilan fisik dengan mengesampingkan nilai intelektual, moral, akhlak, dan keimanan.
Tidak heran jika promosi-promosi nilai keburukan tak kalah laris dikonsumsi para generasi muda. Padahal, keberadaan mereka sangat dibutuhkan untuk melakukan perubahan revolusioner yang menyentuh akar permasalahan. Mereka yang seharusnya dapat menjadi agent of change. Dengan segala potensi yang dimilikinya memungkinkan mereka untuk menginisiasi perubahan melalui media sosial.
Cara Islam Mencetak Generasi Terbaik
Perlu menjadi perhatian bahwa media sosial adalah ruang yang tidak netral, yang tidak jelas antara hal baik dan hal buruk. Semuanya tampak samar. Maka diperlukan pengaturan yang jelas untuk mengarahkan potensi besar yang dimiliki generasi muda. Pengaturan yang tidak hanya berasal dari manusia, tetapi juga dibutuhkan pengaturan dari Sang Pencipta, Allah Swt.
Pengaturan ini menumbuhkan kesadaran bagi setiap individu bahwa posisinya sebagai hamba Allah Swt. yang sadar bahwa setiap aktivitas yang dilakukannya haruslah sesuai dengan perintah dan larangan-Nya. Dengan demikian, energi dan potensi yang dimilikinya akan terarah kepada hal-hal yang mendatangkan keridaan Allah Swt. Semua atas dasar kesadaran bahwa dirinya bukanlah milik mutlak dirinya sendiri, melainkan sebuah amanah dari Sang Pencipta, Allah Al-Khalik yang senantiasa mengawasi setiap tindak dan tanduk yang diperbuat.
Baca juga: Brain Rot Mengintai Generasi
Keberadaan generasi muda menjadi harapan baru akan sebuah perubahan besar menuju kebangkitan umat dengan pemikirannya yang saleh, dilandasi iman dan takwa, serta aksinya yang terarah dengan visi menjadi khairu ummah yang memberi cahaya dan petunjuk. Mencerdaskan umat dengan karya dan kebermanfaatan di tengah-tengah umat. Maka generasi muda dapat menjadi agen perubahan yang revolusioner dengan potensi yang dimilikinya.
Sesungguhnya keberadaan media sosial hari ini laksana dua sisi mata pisau. Jika tidak kita yang mengendalikan maka kitalah yang akan dikendalikan sebagaimana ungkapan:
الحق بلا نظام يغلبه الباطل بنظام
"Kebenaran yang tidak terorganisasi akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi."
Khatimah
Saatnya generasi muda berada di garda terdepan dalam mencerdaskan umat melalui medan juang bernama media sosial agar pemahaman umat bangkit menjadi umat yang cerdas karena paham akan perkara yang hak, serta mampu mengalahkan kebatilan yang dibungkus rapi. Dengan demikian, cahaya Islam dapat hadir menerangi setiap jiwa dengan iman dan takwa. Rahmat dan keberkahan akan hadir ketika Islam dapat diterapkan secara kaffah melalui dakwah pemikiran. Wallahualam bissawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com


















