Di Balik Narasi Gap Generasi

Di balik narasi gap generasi

Kaum muslim harus menyadari bahwa fenomena gap generasi ini bukanlah fenomena alamiah semata, melainkan rekayasa sistem kapitalisme.

Oleh. Susi Rahma S.Pd
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-Alhamdulilah Kajian Majelis Ta'lim Lentera Quran kembali diadakan tiap Ahad pertama, yakni 4 Januari di tahun 2026 ini. Bersama pemateri Ustazah Hj. Finita Nutricia S.S selaku pengamat generasi. Kajian kali ini mengangkat tema di balik narasi gap generasi.

Diawali dengan tadabbur QS. Al-'Ashr ayat 1-3. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”

Surah yang sangat singkat ini oleh para ulama disebut sebagai ringkasan ajaran Islam. Bahkan Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, seandainya manusia merenungi surah ini saja, niscaya ia telah mencukupi sebagai pedoman hidup. Dalam konteks umat hari ini, QS. Al-‘Ashr memberikan kacamata yang sangat jernih untuk membaca realitas generasi dan berbagai narasi yang menyelimutinya, termasuk narasi gap generasi.

Waktu dan Kerugian Manusia

Dalam tafsir Jalalain, ayat pertama “Wal ‘Ashr” dimaknai sebagai sumpah Allah dengan waktu. Waktu bisa bermakna waktu Asar, bisa pula bermakna zaman secara umum. Sumpah ini menunjukkan bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dan menentukan. Setiap fase zaman memiliki tantangan, peluang, serta ujian yang berbeda, termasuk dalam urusan generasi.

Ayat kedua menegaskan bahwa manusia secara umum berada dalam kerugian. Baik itu di dunia maupun di akhirat, akibat mengikuti hawa nafsu dan menjauh dari petunjuk Allah. Kerugian ini tidak memandang usia. Tua maupun muda sama-sama berpotensi merugi jika hidupnya jauh dari iman dan amal saleh. Artinya, krisis yang menimpa generasi muda hari ini sejatinya bukan sekadar masalah usia, tetapi masalah arah hidup dan sistem nilai.

Generasi Muslim: Modal Peradaban

Dalam Islam, generasi muda merupakan modal utama keberlangsungan umat dan masa depan peradaban. Di pundak merekalah perubahan digerakkan. Sejarah Islam mencatat bagaimana pemuda-pemuda seperti Ali bin Abi Thalib, Mus’ab bin Umair, Zaid bin Tsabit, hingga Usamah bin Zaid memegang peran strategis dalam dakwah dan kepemimpinan.

Namun, fakta hari ini menunjukkan kondisi yang tidak baik-baik saja. Generasi muda dihadapkan pada berbagai persoalan serius: perundungan, krisis kesehatan mental, jeratan judi online, pinjaman online, narkoba, serta pergaulan bebas. Di sisi lain, mereka sering diberi cap negatif sebagai generasi FOMO, rebahan, instan, kecanduan teknologi, dan antisosial. Label-label ini kerap dijadikan pembenaran untuk menyalahkan pemuda, tanpa menyentuh akar persoalan yang sesungguhnya.

Narasi Gap Generasi: Rekayasa Kapitalisme

Salah satu narasi yang kuat membentuk cara pandang umat hari ini adalah konsep generation gap. Barat, khususnya Amerika Serikat sebagai kampiun ideologi kapitalisme, memopulerkan klasifikasi generasi seperti baby boomers, Gen X, Gen Y, Gen Z, Gen Alpha, dan seterusnya. Sekilas tampak ilmiah dan netral, tetapi sejatinya sarat kepentingan ideologis.

Menurut Investopedia, generation gap adalah jurang perbedaan keyakinan, perilaku, pemikiran, tindakan, dan selera antara generasi tua dan muda. Narasi ini secara halus membingkai perbedaan sebagai keniscayaan konflik. Akibatnya, generasi tua dipersepsikan kolot dan tidak relevan, sementara generasi muda dianggap liar, tidak beradab, dan sulit diatur.

Kaum muslim harus menyadari bahwa fenomena gap generasi ini bukanlah fenomena alamiah semata, melainkan rekayasa sistem kapitalisme. Tujuannya adalah mencegah bersatunya dua kekuatan besar umat: kebijaksanaan generasi tua dan energi perubahan generasi muda. Jika keduanya bersatu, kapitalisme akan menghadapi ancaman serius.

Baca juga: Generasi Kuat, Negara Bermartabat

Bahaya Generasi Gap bagi Umat

Narasi gap generasi membawa bahaya besar bagi umat Islam. Pertama, muncul krisis identitas dan kekosongan makna hidup pada pemuda muslim. Mereka tercerabut dari akar akidah dan sejarah perjuangan umatnya.

Kedua, jurang antargenerasi semakin lebar, memutus rantai pewarisan dakwah Islam dan keteladanan. Nilai-nilai perjuangan tidak lagi diwariskan, bahkan dianggap usang.

Ketiga, generasi muda direduksi menjadi target pasar empuk bagi produk kapitalisme melalui gaya hidup, hiburan, teknologi, dan ide-ide liberal.

Keempat, pergerakan pemuda dibajak dan diarahkan menjauh dari kebangkitan Islam, meski mereka tampak kritis dan vokal.

Potensi Besar Generasi Muda

Padahal, generasi muda hari ini hidup di tengah berbagai krisis global. Karakter mereka yang kritis, realistis, dan berani menyuarakan kebenaran memiliki potensi besar untuk perubahan. Sejarah mutakhir menunjukkan bagaimana gerakan pemuda berperan penting dalam perubahan di berbagai negara seperti Indonesia, Nepal, Bangladesh, Sri Lanka, Filipina, hingga Madagaskar. Masalahnya bukan pada pemudanya, tetapi pada arah perjuangannya. Tanpa bimbingan akidah dan pemikiran Islam yang lurus, potensi ini mudah diselewengkan.

Islam: Generasi sebagai Rangkaian

Islam tidak mengenal konsep gap generasi. Dalam Islam, generasi adalah rangkaian estafet dakwah. QS. Al-‘Ashr ayat 3 menegaskan pentingnya tawâshau bil-haqq wa tawâshau bish-shabr, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ini meniscayakan hubungan erat antargenerasi, bukan keterputusan.

Rasulullah ﷺ berhasil membangun kutlah dakwah yang solid lintas usia. Beliau menyatukan generasi tua dan muda dengan akidah Islam, sehingga memiliki pandangan hidup, solusi, dan tujuan yang sama. Dalam dakwah dan perjuangan, Rasulullah ﷺ melibatkan semua spektrum usia, memberdayakan mereka sesuai potensi dan kapasitasnya untuk membangun peradaban Islam di Madinah.

Kunci Peleburan Antargenerasi

Metode perubahan Rasulullah ﷺ bertumpu pada pembinaan pemikiran. Kunci untuk meleburkan antargenerasi bukan sekadar pendekatan emosional, tetapi pembinaan dengan Islam ideologis. Dengan pemikiran Islam yang sahih, generasi muda dan tua dapat bersinergi dalam dakwah, saling melengkapi, dan bergerak bersama untuk menegakkan Islam secara kafah.

QS. Al-‘Ashr mengingatkan kita bahwa waktu terus berjalan. Kerugian akan menimpa siapa saja yang menyia-nyiakannya. Hanya dengan iman, amal saleh, dakwah kebenaran, dan kesabaran lintas generasi, umat Islam dapat keluar dari kerugian dan kembali memimpin peradaban. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Susi Rahma
Susi Rahma Kontributor NarasiLiterasi.Id
Previous
Taat Tanpa Tapi, Tanpa Nanti
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram