Hikmah di Balik Peristiwa

Hikmah di Balik Peristiwa

Aku mengatakan padanya untuk jangan menghubungi aku lagi. Jika dia serius padaku maka aku memintanya untuk segera datang ke rumah bertemu dengan orang tuaku. Kuungkapkan juga padanya bahwa pasti ada hikmah dengan semua yang pernah kami lewati bersama.

Oleh. Agus Susanti
(Kontributor Narasiliterasi.id)

Narasiliterasi.id-Siang itu kami disibukkan dengan berbagai persiapan menuju hari besar untuk keluarga. Bulan Agustus tahun 2024 adalah momen bersejarah yang akan jadi kenangan karena saat itu adik kami, Tri akan mengikuti kegiatan wisuda di sebuah kampus negeri di wilayah Banda Aceh.

Kami berasal dari keluarga sederhana, dengan ayah yang hanya seorang kuli bangunan dan job yang tak pasti. Tri sendiri berhasil masuk dan mengikuti perkuliahan dengan usahanya mendapatkan berbagai beasiswa dan bantuan lainnya.

Kisah Sarat Hikmah Hadir di Pelupuk Mata

Rapat kecil yang kami adakan di dapur miniku diiringi dengan senda gurau bersama Ria, kakakku dan Tya, sahabat yang sudah seperti saudara kandung. Tak lupa ditemani dengan sepiring bronis buatanku. Di sela perbincangan tiba-tiba muncul kembali pertanyaan yang sudah bertahun-tahun tidak kami temui jawaban.

"Teringat sesuatu, ya? Apa cerita si Zaedan itu, Kak?" tanya Tya penasaran.

Deg... Jantungku seketika tersentak mendengar pertanyaan itu. Kisah masa lalu yang telah lama terkubur dan dipenuhi banyak hikmah kini seolah hadir di pelupuk mata. Dengan menarik napas panjang, aku mencoba menjawab.

"Entahlah, aku juga 'gak tahu. Apakah dia masih hidup atau sudah kembali pada Allah! Dia, kan kemarin sakit, Kak. Kanker otak sudah stadium 4, sih saat kami berhubungan."

"Alasan sakit itu pula yang dipake buat kami waktu itu emosi, sampai penasaran kali. Siapa, sih ni orang yang udah mempermainkan adikku sampai sebegitunya," cetus Ria menunjukkan kekesalan.

Perbincangan yang akhirnya memancing rasa penasaran dan emosi kakak dan sahabatku. Wajar, sih jika mereka bertanya-tanya siapa sosok Zaedan yang pernah ada di masa laluku. Seorang lelaki yang berhubungan jarak jauh (LDR) sampai hampir 5 tahun, tetapi tak pernah bertatap muka secara langsung maupun video call. Maklumlah aku yang dahulu hanya memiliki HP Nokia tulit-tulit. Dengan perlahan aku pun mencoba menjelaskan semuanya.

Terungkapnya Masa Lalu

Jujur aku juga sebenarnya penasaran dengan sosok Zaedan. Selama kami berhubungan, aku memang belum pernah bertemu atau video call. Aku cuma punya beberapa foto dia yang sendiri, satu foto bersama sepupunya dan foto Cilla, salah satu sahabat dari 4 temannya yang ikut pertukaran pelajar dari kampusnya.

"Mungkin itu rekayasa dari Ozi saja. Pasti itu kawan-kawannya juga," seru Tya

"Siapa pun itu, aku 'gak tahu. Sebenarnya aku juga pengin tanya ke Ozi, apakah dia tahu siapa sebenarnya Zaedan ini! Karena semua bermula dari dia. Kalau Allah mengizinkan pertemuan itu, aku cuma mau bilang terima kasih. Itu kalau memang Zaedan masih hidup dan Ozi tahu siapa orangnya," jawabku.

Aku tidak marah dan menyalahkan siapa pun jika berpikir negatif atau apa pun terhadap Zaedan. Aku sangat berterima kasih padanya karena pernah hadir dalam hidupku. Dia adalah jawaban atas doaku yang saat itu benar-benar sudah putus asa sampai menyakiti diriku seperti orang yang mau bunuh diri. Rasa sakit yang kurasakan tidak bisa aku ungkapkan kepada siapa pun. Aku hanya terus menangis, teriak-teriak histeris sambil terus menggoreskan kaleng anti nyamuk ke pergelangan tanganku.

Malam itu tepat saat kalian pergi ke acara ulang tahun Rina, berjam-jam aku menangis dan berdoa semoga Allah menghadirkan seseorang yang akan mengalihkan rasa cintaku dari Ozi. Terserah siapa pun itu, yang penting aku bisa move on. Rasa sakit yang luar biasa, bukan karena cintaku yang bertepuk sebelah tangan, tetapi karena dia adalah senior yang pernah berkata bahwa kita semua adalah keluarga di organisasi itu.

Mencari Tahu Sosok Misterius

Aku dan Ozi dulu pernah backstreet. Hampir 3 bulan aku harus menahan perasaan. Pacaran tetapi tidak boleh ada orang yang tahu, bahkan kontakku di-save Ozi sebagai sepupu. Bukan karena cinta kami tidak direstui, melainkan alasan lain yang tidak dia katakan secara jujur. Aku si gadis bodoh yang sudah terlalu bucin langsung setuju tanpa berpikir negatif. Dia ada di dekatku, bermanja-manja menggoda wanita lain. Aku hanya bisa diam, menahan cemburu, dan itu terjadi selalu. Bahkan, dia seolah sengaja menunjukkan itu padaku. Aku baru menyadari saat hubungan kami berakhir.

Aku yang menjalani sudah pasti aku yang tahu. Apa ada orang bodoh yang mau disuruh pura-pura sampai sebegitunya? Memang banyak yang berpikiran sama seperti itu, bahkan para senior lainnya yang dekat sama Ozi. Salah satu senior sempat bilang kalau Zaedan itu adalah senior rekan Ozi juga dan dia kalau bicara/telponan menggunakan sapu tangan untuk menyamarkan suara. Kalaulah memang iya, siapa coba orang yang kurang kerjaan sanggup telponan pake menyamarkan suara gitu?

Kami telponan bukan 5—10 menit, tapi sanggup berjam-jam. Dari habis magrib sampai mau tidur, dari berangkat kerja di angkutan umum sampai di pabrik. Kalau bukan teleponan, kami pasti chat-an sepanjang jalan dari aku keluar pabrik sampai rumah. Lantas aku izin sebentar untuk mandi dan makan, salat magrib, terus lanjut lagi sampai mau tidur. Itu semua hampir setiap hari! Kalau benar Zaedan pakai sapu tangan, bayangkan repotnya bagaimana ketika ia itu posisi di keramaian.

Saat mereka pertukaran pelajar di Jakarta, kami teleponan. Saat mereka sedang kumpul dan makan di rumah makan, bisa terdengar olehku ejekan Cilla menggoda Zaedan yang sibuk dengan pacar yang tak pernah ditemui ini. Sesekali bahkan Cilla teriak mengadu karena Zaedan tidak mau bantu dia mengerjakan presentasi. Juga saat Cilla teriak memanggil tukang satai yang lewat depan rumah dan Zaedan yang menyambar berkata 'mau'.

Betapa Dibuat Gilanya Aku

Apakah ada orang yang kurang kerjaan mau melakukan itu cuma-cuma? Kalau dia diupah, sanggup berapa Ozi bayar dia untuk pura-pura begitu. Aku dan Zaedan memang tidak bertemu, tetapi dia berhasil membuatku tidak merasa kesepian. Saat menghadiri pernikahan Diah teman SMA, sepanjang waktu Zaedan setia menemaniku sambil chat-an. Saat berada di asrama adik angkatan, aku dengan pede teleponan sendiri duduk di bawah pohon dekat lapangan voli. Para senior dan lainnya pasti melihat betapa dibuat gilanya aku oleh sosok lelaki yang bernama Zaedan itu, hehe.

Bukan cuma Kak Ria yang marah, Bapak juga sampai marah, "Ngapain, lah sampai menangisi orang yang 'gak tau siapa." Itulah ucapan bapak waktu itu. Wajar, sih, secara aku menangis-nangis di kamar mandi yang letaknya bersebelahan dengan kamar bapak. Bagaimana enggak menangis, coba?! Saat tahu pacar yang kita sayang ternyata beberapa waktu menghilang karena harus dirawat dan menjalani kemoterapi, rambutnya pun terus berguguran. Namun, dia tetap menyembunyikan dan terus menunjukkan sikap manjanya. 'Apa hikmah di balik ini semua?' Aku pun kerap berpikir seperti ini.

Pernah saat keempat temannya pergi, Zaedan tiba-tiba enggak respon chat lagi. Aku terus telepon, tetapi tidak diangkat. Betapa terkejutnya aku saat yang balas chat-ku beberapa jam kemudian adalah Rio, pacar Cilla dan memberitahu bahwa tadi Zaedan ditemukan pingsan saat mereka pulang.

Sinetron Penuh Hikmah dalam Kehidupan Nyata

Pasti banyak yang tidak percaya dengan cerita ini, tetapi itulah yang sebenarnya terjadi. Meskipun jauh, tetapi kami seintens itu komunikasinya. Itulah kenapa aku enggak merasa kesepian walaupun pacarku tidak pernah datang!

Pernah saat itu Zaedan drop dan harus dirawat di rumah sakit, pascakemoterapi nafsu makannya hilang. Orang tuanya cemas dan Cilla langsung minta aku membujuk Zaedan. Seperti membujuk anak kecil, akhirnya Zaedan mau makan. Selama beberapa hari dirawat kondisinya kian buruk, bahkan sempat tak sadarkan diri selama 2 hari. Seperti orang gila, lewat telepon Cilla minta aku bicara di telinga Zaedan sambil memanggilnya, berharap dengan itu alam bawah sadarnya membawa Zaedan untuk bangun.

Mengetahui keadaan Zaedan yang semakin drop, aku pun tak bisa konsentrasi di tempat kerja. Ketika air mataku tak terbendung, aku lari ke tempat yang tidak ada orang untuk menangis. "Udah macam sinetron yah!!" sahut Ria dan Tya kompak saat itu.

"Iya, inilah sinetron di dunia nyata, kan, Kak. Kalau aku enggak jalani sendiri, pasti aku juga enggak percaya, sama seperti kalian. Dulu, semua tidak ada yang mempercayai aku. Hanya Linalah satu-satunya orang yang yakin bahwa Zaedan itu nyata. Karena saat kami pulang kerja dan satu angkot, dia di sebelahku dan ikut nimbrung bicara pada Zaedan ketika aku teleponan menggunakan headset. Lina bahkan sempat mengejeknya dengan memanggil 'pesek', karena sebelumnya dia pernah aku tunjukkan foto Zaedan." Sambil menarik nafas aku mencoba mengakhiri ceritaku.

Apa pun itu, ya sudahlah, semua sudah berlalu. Aku tetap bersyukur sebab bagiku dia adalah jawaban atas doaku pada Allah. Selalu ada hikmah di balik sebuah peristiwa. Terbukti semua perlakukan Zaedan padaku mampu membuatku benar-benar move on dari Ozi. Bahkan dulu aku sempat menyimpan rasa marah/dendam pada perlakuan Ozi. Namun setelah yang aku jalani bersama Zaedan membuat rasa marahku hilang, bahkan di lubuk hatiku aku merasa berterima kasih karena ia perantara hadirnya Zaedan dalam hidupku.

Islam Membawaku Memahami Hikmah

Setelah bertahun-tahun kami menjalin hubungan, alhamdulillah di sela dia menghilang, aku diperertemukan dengan kajian Islam kaffah yang dibawa oleh aktivis dakwah. Aku menghabiskan waktu untuk belajar dan bergabung dengan mereka. Meskipun aku masih berstatus pacaran, tetapi aku mulai tahu bahwa Islam tidak mengenal kata 'pacaran' sebelum pernikahan. Artinya selama ini aku tanpa sadar telah berbuat dosa karena pacaran sama dengan mendekatkan diri pada zina. Padahal Allah sudah mengingatkan dalam Al-Qur'an surah Al-Isra ayat 32,

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

Artinya: "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk."

Benar saja, saat dia kembali menghubungiku aku langsung memintanya dengan tegas untuk memilih 'halalkan atau kita berakhir sampai di sini'. Aku mengatakan padanya untuk jangan menghubungi aku lagi. Jika dia serius padaku maka aku memintanya untuk segera datang ke rumah bertemu dengan orang tuaku. Kuungkapkan juga padanya bahwa pasti ada hikmah dengan semua yang pernah kami lewati bersama.

Sejak saat itu kami tidak pernah lagi berkomunikasi sama sekali. Namun dalam doa aku selalu menyebut namanya, bahkan hal ini aku jadikan sebagai contoh nyata saat aku menyampaikan materi tentang haramnya pacaran pada remaja yang mengikuti kajian.

Baca juga: Keep Halal, Bestie

Intinya pasti ada hikmah dari semua kejadian ini. Salah satunya bahwa Andi Sanjaya, suamikulah jawaban terbaik yang Allah berikan untuk menjadi pendamping hidupku. Karena yang kita anggap baik belum tentu baik menurut Allah!

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Artinya, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal dia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)

Khatimah

Islam memberikan berbagai aturan untuk menyelamatkan manusia dari kejahatan di dunia dan siksa di akhirat. Berpegang pada Islam adalah sebuah hal yang sulit di zaman sekarang, tetapi jauh dari Islam justru membuat hidup kita semakin sulit. Kebaikan yang kita anggap baik bisa jadi justru sebuah keburukan yang tidak disadari. Islam tidak mengenal kata 'pacaran' sebelum adanya ikatan pernikahan. Seseorang yang benar sayang tidak akan pernah menyakiti pasanganya. Kuingin menjadi sosok insan yang bisa mengambil hikmah dari sederet kejadian dalam kehidupanku. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor Narasiliterasi.id
Agus Susanti Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
Perbudakan Modern di Pabrik BYD
Next
Kanzu Al-Maal
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram