Isra' Mi'raj, Momentum Membumikan Hukum Allah

Isra' Mi'raj momentum membumikan hukum Allah

Selayaknya kita jadikan peringatan Isra' Mi'raj dan bulan Rajab ini sebagai awal mula kembalinya kepemimpinan ideologis.

Oleh. Zaesa Salsabila
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-Peringatan Isra' Mi'raj pada tahun 2026 M kali ini bertepatan dengan datangnya bulan Rajab, bulan yang penuh kemuliaan. Peringatan Isra' Mi'raj jangan dimaknai sebagai seremonial perayaan tahunan yang hanya sekadar menceritakan ulang perjalan Rasulullah saw., dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, hingga menuju Sidratul Muntaha dan menerima perintah salat. Penyelenggaraan Isra' Mi'raj hendaknya memiliki tujuan agar umat manusia bisa mengambil hikmah dan pelajaran berharga untuk menghadapi kehidupan modern dan spritual. (Liputan6.com, 10-1-26)

Isra' Mi'raj, Membumikan Hukum Allah

Perjalanan Isra' Mi'raj Rasulullah Muhammad saw., selama ini hanya dikenang sebagai turunnya perintah salat langsung dari Allah Swt. untuk umat manusia. Namun sayang, umat lupa bahwa ada peristiwa penting yang dilakukan Rasulullah setelah menerima perintah salat tersebut.

Beliau saw., melakukan baiat Aqabah II yang mana peristiwa ini merupakan gerbang awal menuju perubahan politik secara ideologis. Baiat Aqabah II merupakan landasan berdirinya negara Islam di Madinah. Sejak saat itu perubahan besar dimulai. Manusia hidup dalam naungan kepemimpinan yang menerapkan hukum Allah yakni syariat Islam dalam segala lini kehidupan.

Oleh sebab itu, selayaknya kita jadikan peringatan Isra' Mi'raj dan bulan Rajab ini sebagai awal mula kembalinya kepemimpinan ideologis. Kepemimpinan yang akan menerapkan hukum langit dan membumikannya hingga ke seluruh penjuru dunia dalam naungan Khilafah. Ini merupakan kewajiban kita sebagai umat nabi Muhammad saw., untuk menjalankan apa-apa yang dahulu beliau lakukan.

Sekular Demokrasi Bertentangan Hukum Allah

Muhammad saw., bukan hanya sekadar nabi yang membawa kitab suci Al-Qur'an. Beliau adalah tauladan untuk setiap perbuatan, dari bangun tidur hingga bangun negara. Beliau juga telah memberikan warisan atau contoh dalam membangun sebuah negara yang sahih, yakni dengan menjalankan syariat Islam, hukum Allah di atas muka bumi.

Sebaliknya, menerapkan sekular demokrasi sebagai aturan untuk mengatur umat manusia adalah hal yang bertentangan dengan hukum Allah Swt. dan merupakan sebuah kesalahan fatal.

Allah adalah Tuhan yang Maha Mengetahui atas setiap yang diciptakan, maka suatu hal yang pasti apabila hanya Allah yang tahu mana yang benar dan salah, baik atau buruk bagi setiap makhluk. Sementara manusia itu lemah, serba kurang, ia tidak mengetahui yang terbaik dan dibutuhkan terhadap sesama. Maka tak heran jika aturan buatan manusia yang diterapkan akan menimbulkan perselisihan dan kerusakan semata.

Meninggalkan Syariat Membawa Bencana

Al-Qur'an bukan sekadar kitab suci melainkan sebuah petunjuk hidup, penerang bagi setiap kegelapan. Allah berfirman:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى ۝١٢٤

"Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. At-Thaha 124)

Saat ini peringatan Allah itu sangat terasa pedih, umat manusia ditimpa dengan berbagai bencana. Bukan hanya bencana alam dan kemanusiaan, saat ini manusia terbelenggu oleh bencana politik dan bencana struktural yang mengacaukan tatanan kehidupan manusia.

Hal ini adalah akibat dari meninggalkan syariat Allah dan menggantinya dengan syariat buatan manusia. Maka benar firman Allah, kerusakan yang terjadi akibat ulah tangan manusia itu sendiri (Ar-rum 41).

Lihatlah bagaimana sistem kapitalis yang melahirkan para pemimpin rakus dan hanya mementingkan diri sendiri. Mereka dengan tega justru berpihak dan menopang kepentingan para korporasi dibanding dengan kepentingan rakyatnya sendiri.

Di negeri yang amat kaya, kekayaan alam melimpah ruah baik di darat maupun di laut. Namun, rakyatnya justru hidup di bawah garis kemiskinan, stunting tinggi, hingga gizi buruk.

Rakyat kesulitan mendapatkan pekerjaan, penghasilan kecil, biaya pendidikan dan kesehatan yang mahal, serta bahan pokok tinggi masih terus menjadi problematik yang terkadang menjadi bencana dalam keharmonisan rumah tangga.

Belum lagi kecanggihan teknologi dan media yang tak terbatas dibiarkan menyerang dan merusak pola pikir generasi. Semua ini adalah bencana yang terjadi akibat meninggalkan syariat Allah. Alhasil manusia merasa memiliki kekuasaan untuk mengatur manusia lain.

Baca juga: ‎Rajab dan Isra Mikraj: Momentum Membentuk Kesadaran Umat‎

Urgensi Penegakkan Syariat Islam

105 tahun setelah ketiadaan Khilafah, penderitaan umat tiada habisnya. Umat Islam terpaksa hidup dengan sistem demokrasi sekular kapitalis dan terus dijauhkan dari syariat Allah. Umat Islam pun harus rela hidup terpecah dan menderita di bawah kepemimpinan kapitalisme global yang acap kali mengkriminalisasi ajaran islam dengan memberi label radikal. Kekayaan alamnya dikeruk habis, dan umat Islam di musnahkan massal.

Maka jelas umat Islam harus kembali pada aturan yang Allah berikan dengan menerapkan syariat Islam kafah. Membiarkan kapitalisme Global menguasai dunia adalah sebuah kesalahan dan bencana yang tak terbendung, maka menegakkan kepemimpinan Islam dan penegakkan syariat Islam merupakan hal urgen yang harus kita segerakan.

Jadikan moment Rajab dan Isra' mi'raj tahun ini sebagai awal perubahan dalam penegakkan dan membumikan hukum Allah. Berjuang menegakkan Khilafah sebagai satu-satunya institusi negara sama artinya dengan menolong agama Allah.


"Dan barang siapa yang menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolongnya"(QS. Muhammad 7). Wallahualam bissawab. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Logo NaLi website-
Zaesa Salsabila Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
Persatuan Umat untuk Melawan Kejahatan Israel
Next
‎Rajab dan Isra Mikraj: Momentum Membentuk Kesadaran Umat‎
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram