Pendidikan Sempit dan Rumit di Negara Kapitalis

Pendidikan Sempit dan Rumit di Negara Kapitalis

Hanya Islam yang mampu memberikan layanan pendidikan berkualitas dan gratis pada semua warga negaranya, muslim maupun nonmuslim sampai pendidikan tinggi.

Oleh. Mardiyah
(Kontributor Narasiliterasi.id)

Narasiliterasi.id-Tunjangan kinerja alias (tukin) yang selama ini merupakan salah satu sumber pendapatan tambahan bagi para pendidik atau dosen dipastikan tidak akan cair pada tahun 2025. Hal ini disampaikan oleh pelaksana tugas (plt) Togar Mangihut Simatupang, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam sebuah taklimat media yang digelar di Kemendikti Saintek. (klikpendidikan.id, 6-1-2025)

Togar menjelaskan, adanya perubahan nomenklatur yang terjadi secara berulang kali di kementerian terkait alasan utama batalnya tukin dosen. Menghadapi kenyataan ini para dosen ASN yang tergabung dalam Aliansi Dosen ASN Kemendikti Saintek (ADAKSI) melakukan unjuk rasa dengan cara mengirimkan karangan bunga ke Kantor Kemendikti Saintek pada Senin (6-1-2024).

Sistem Pendidikan Kapitalis

Negara masih hitung-hitungan untuk menghargai jasa dosen. Hal ini mengindikasi bahwa negara memang diatur dengan aturan yang tidak ramah rakyat yaitu aturan kapitalis. Kondisi ini juga menegaskan bahwa negara bukan pelindung serta pelayan rakyat. Negara merasa tidak berdosa mengkhianati para dosen yang sudah dijanjikan tukin akan cair pada Januari 2025. Padahal dosen adalah orang yang berperan penting dalam proses pencerdasan bangsa juga pembangun peradaban. Mereka sudah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam pendidikan.

Masalah pendidikan yang tak kalah pentingnya untuk diperhatikan adalah pergaulan bebas di kalangan remaja, maraknya permintaan dispensasi nikah karena hamil duluan, bullying, remaja kurang beradab terhadap pendidik, narkoba, bunuh diri, dan seterusnya merupakan masalah pendidikan buah dari sistem pendidikan kapitalis

Pendidik termasuk dosen adalah orang yang diamanahi untuk membentuk syakhsiyah islamiah pada murid atau mahasiswanya. Mereka adalah sosok penting dalam menyiapkan generasi dan pembangun peradaban. Sudah selayaknya mereka mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah. Jasa-jasa mereka tidak bisa diabaikan. Pendidikan adalah tiang utama peradaban

Baca juga: Pendidikan Tinggi Gratis, Jangan Setengah Hati!

Kesemrawutan KIP-K

Selain dosen, mahasiswa juga mengalami kesulitan dalam membayar biaya kuliah. Khususnya mahasiswa miskin. Memang ada beasiswa dan tunjangan untuk mahasiswa miskin. Namun, untuk mendapatkan beasiswa tersebut mahasiswa terkendala dengan syarat-syarat yang sangat menyulitkan. Apalagi dengan kondisi ekonomi masyarakat yang belum pulih sejak Covid-19.

Ada beberapa catatan pada seleksi penerimaan beasiswa KIP-K bagi mahasiswa kurang mampu di antaranya:

Pertama, aplikasi KIP-K tidak bisa dibuka.

Kedua, salah sasaran penerima KIP-K.

Ketiga, seleksi dilakukan di kampus secara internal dan tertutup.

Keempat, tidak akuntabel. Pihak RT atau RW mudah memberikan SKTM (surat keterangan tidak mampu) dengan sogokan dari pendaftar.

Kelima, kurangnya riset yang mendalam tentang ekonomi calon penerima.

Pernah viral penerima KIP-K salah sasaran pada seorang mahasiswi influencer. Dia kerap membagikan gaya hidup mewah di akun media sosialnya. Ketika ada yang protes dengan gaya hidup mewahnya, mahasiswi tersebut mengundurkan diri dari program KIP-K.

Penerima KIP-K salah sasaran mengakibatkan banyak mahasiswa yang membutuhkan tidak mendapatkan haknya. Mereka jumlahnya banyak. Dari 1 juta pemohon KIP-K yang lolos hanya 161.000. Itu semua bagian dari kesemrawutan program KIP-K.

Solusi Islam

Islam memberikan jaminan kehidupan yang baik kepada seluruh rakyatnya termasuk para pendidik dan anggarannya masuk dalam pembiayaan pendidikan. Dari mana sumber dananya? Jawabannya adalah dari harta kepemilikan umum.

Sumber daya alam yang jumlahnya sangat banyak termasuk harta kepemilikan umum. Islam mengelolanya untuk kepentingan rakyat, misalnya untuk pembangunan jalan, kesehatan dan pendidikan. Haram hukumnya harta kepemilikan umum diserahkan kepada swasta, oligarki, maupun perorangan.

Mekanisme inilah yang tidak dimiliki oleh negara yang berideologi kapitalis sekuler. Dengan demikian harta milik Islam melimpah ruah. Islam mampu memberikan gaji yang sangat besar, bahkan fantastis sebagai bentuk penghargaan atas besarnya tanggung jawab para pendidik termasuk dosen.

Seperti Khalifah Umar bin Khattab menggaji pendidik yang mengajar anak-anak membaca dan menulis di Madinah sebesar 15 dinar (sekitar Rp95.625.000). Sungguh besaran yang sangat fantastis sehingga menjadikan pendidik sejahtera.

Allah berfirman, "Sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa kepada Allah maka Allah bukakan keberkahan rezeki dari langit dan bumi .…" (QS. Al Araf 96)

Dengan jaminan kesejahteraan yang diberikan Islam, para pendidik akan fokus dalam mengemban amanahnya. Selain itu, mereka akan bersungguh-sungguh mengembangkan keilmuannya. Islam mampu memberikan layanan pendidikan berkualitas dan gratis pada semua warga negaranya, muslim maupun nonmuslim sampai pendidikan tinggi.

Penguasa dalam Islam berperan sebagai raa'in, penanggung jawab atau pelayan rakyat. Islam mau dan mampu menyediakan layanan pendidikan gratis karena memiliki sumber pemasukan yang beragam dan sangat berlimpah.

Hal itu sudah dibuktikan selama berabad-abad. Islam mampu menjadi mercusuar peradaban dunia karena tunduk dan patuh pada syariah Allah, Tuhan Pencipta alam semesta. Saatnya kaum muslimin kembali pada ajaran Islam yang kaffah dan menyejahterakan. Wallahuallam bissawab.[]

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor Narasiliterasi.id
Mardiyah Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
Raih Amal Saleh, Wujudkan Kemuliaan Umat
Next
Membangun Kesadaran Umat di Bulan Rajab
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram