
Sikap AS dalam menjembatani perdamaian antara Ukraina dan Rusia terkesan mulia, tetapi terdapat indikasi adanya kepentingan bisnis mineral.
Oleh. Siska Juliana
(Kontributor Narasiliterasi)
Narasiliterasi.id--Ukraina telah menyetujui gencatan senjata selama 30 hari yang diajukan Amerika Serikat. Kesepakatan ini diambil dalam pertemuan di Jeddah, Arab Saudi, pada Selasa (11—3) antara Ukraina dan Amerika Serikat.
Pertemuan ini menjadi yang pertama sejak insiden Volodymyr Zelenskyy diusir dari Gedung Putih. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan bahwa AS kembali memberikan bantuan militer untuk Kyiv. Sebagai balasannya, kesepakatan mineral Ukraina dilakukan secepat mungkin.
AS segera bernegosiasi dengan Rusia untuk mencapai perdamaian. Sementara itu, Ukraina berharap kelanjutan bantuan militer AS, pembagian informasi intelijen, dan akses ke citra satelit yang sempat diputus AS. (cnnindonesia.com, 12-03-2025)
Jaminan Keamanan AS terhadap Ukraina
Menurut Kepala Kantor Kepresidenan Ukraina Andriy Yermak jaminan keamanan dari AS sangat penting untuk memastikan Rusia tidak mengulangi agresinya. Sejarah menunjukkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin kerap mengingkari kesepakatan yang tidak mencantumkan jaminan keamanan.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menekankan pentingnya mengisi kekurangan pasokan militer Ukraina serta memberikan jaminan keamanan yang kuat. Di sisi lain, Trump telah berulang kali menyarankan Ukraina untuk melepaskan sebagian wilayahnya. Akan tetapi, Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda menerima saran tersebut.
Saat ini, hampir 20% wilayah Ukraina dikuasai oleh pasukan Rusia, meningkat sekitar 7% sebelum invasi skala penuh yang dimulai pada Februari 2022. Terdapat sekitar 6 juta warga Ukraina hidup di bawah pendudukan Rusia. Berdasarkan data Institute for the Study of War, lembaga pemantau konflik yang berbasis di AS, Rusia menguasai sekitar 99% wilayah Luhansk, 70% Donetsk, serta sekitar 75% wilayah Kherson dan Zaporizhzhia. (mediaindonesia.com, 12-03-2025)
Di Balik Sikap AS pada Ukraina
Jika dilihat sekilas, sikap AS dalam menjembatani perdamaian antara Ukraina dan Rusia terkesan mulia. Akan tetapi, terdapat indikasi bahwa kepentingan bisnis mineral menjadi salah satu pendorong utamanya. Perjanjian kontrak mineral akan memberikan akses pada AS untuk mendapatkan mineral-mineral penting di Ukraina, antara lain litium dan nikel yang krusial bagi industri teknologi dan pertahanan.
Baca juga: Trump, Zelenskyy, dan Konstelasi Politik Internasional
Awalnya, kontrak tersebut akan ditandatangani saat Zelenskyy bertemu Trump di Gedung Putih. Namun, hal itu batal dilakukan akibat Trump dan Zelenskyy terlibat adu mulut yang dipicu perbedaan visi soal kelanjutan perang Rusia-Ukraina. Trump ingin mengakhiri perang lewat jalur diplomasi, sedangkan Zelenskyy meragukan komitmen diplomasi dengan Rusia.
Trump menanggapi protes Zelenskyy dengan menyebutnya tidak menghormati AS. Beberapa hari kemudian, Trump langsung menyetop bantuan militer ke Ukraina. Sejak perang pecah pada 2022, AS merupakan pendukung utama Ukraina dan pasokan senjatanya juga mencapai 20% dari seluruh persenjataan Ukraina. Akibat kebijakan ini, sistem pertahanan udara dan kemampuan menyerangnya melemah.
Tindakan ini memunculkan spekulasi bahwa Trump sengaja menekan Ukraina agar terdesak dan menyetujui kontrak mineral. Kesepakatan itu mengatur dana investasi yang dikumpulkan kedua negara untuk membangun kembali Ukraina. Ukraina akan menyumbang 50% dari hasil penjualan mineral, minyak, dan gas. Sementara itu, AS akan memberi dukungan keuangan jangka panjang untuk Ukraina.
Timbal Balik dari Ukraina
Kontrak mineral disinyalir menjadi upaya Trump untuk mengembalikan dana yang sudah dikeluarkan Paman Sam untuk Ukraina. Trump sesumbar jika AS telah memberi bantuan sampai $350 miliar. Namun, lembaga riset dari Jerman, Kiel Institute memperkirakan AS hanya mengirim sekitar $119 miliar.
Meski negosiasi damai diusulkan untuk mengakhiri konflik, di baliknya terdapat dinamika geopolitik yang kompleks. Uni Eropa menentang langkah tersebut karena tidak dilibatkan dalam negosiasi. Trump berkomunikasi dengan Putin tanpa berkonsultasi dengan sekutu Barat sehingga memecah front persatuan yang telah mengisolasi pemimpin Rusia itu selama tiga tahun.
Uni Eropa merasa khawatir jika Rusia mendapatkan konsesi strategis seperti wilayah atau keuntungan ekonomi yang justru melemahkan posisi Ukraina dan mengganggu keamanan di Eropa. Selain itu, tekanan untuk menyudahi konflik dalam waktu singkat termasuk mengikis solidaritas aliansi keamanan yang dibangun oleh negara-negara Eropa.
Kebijakan Trump
Kaja Kallas Perwakilan Tinggi Uni Eropa menyatakan kesepakatan akan berhasil jika melibatkan Eropa. Eropa merupakan pemasok bantuan terbesar bagi Ukraina, yakni sebesar €132 miliar, sedangkan Amerika sebesar €114 miliar.
Lantas, mengapa Trump seakan-akan memusuhi Eropa dan sekutu lamanya? Terlebih adanya kecenderungan AS mendekat dan lebih lunak ke Rusia.
Dalam periode kedua ini, Trump seperti ingin mengubah arah kebijakan luar negerinya. Hal ini berhubungan dengan kebijakan America First yang digagasnya. Artinya, ia akan berfokus pada kepentingan domestik dan ekonomi.
Tatsiana Kulakevich Associate Professor di University of South Florida mengatakan bahwa ini upaya AS untuk mengurangi keterlibatannya dalam konflik berkepanjangan yang menguras sumber daya. Intinya, AS tidak mau terus-menerus membiayai perang yang tidak menghasilkan keuntungan untuknya.
Penderitaan Dunia
Seperti itulah perilaku negara adidaya. Mereka terus berkonflik untuk merebut posisi negara pertama dan mengambil alih kekayaan alam di negeri-negeri lainnya. Ideologi kapitalisme membuat mereka melakukan segala cara meskipun harus menciptakan perang yang memunculkan penderitaan bagi orang yang tidak berdosa.
Krisis Ukraina bukanlah yang pertama. Konflik yang terjadi di Timur Tengah, Afrika, Asia Tengah, dan Asia Tenggara dari masa ke masa selalu saja melibatkan mereka, meskipun aktor utamanya berubah-ubah tergantung kuat lemahnya posisi politik mereka di kancah internasional.
Setelah Perang Dunia Kedua, Amerika berhasil menggeser kedudukan Inggris dan negara-negara Eropa. Amerika dan Uni Soviet tampil menjadi dua blok yang saling bertentangan dan mengendalikan dunia, serta menciptakan ketakutan secara global.
Akan tetapi, sejak Uni Soviet runtuh, Amerika tampil sebagai penguasa tunggal. Adapun Rusia, tetap berusaha membangun kekuasaannya di negara-negara bekas jajahan Uni Soviet dan bersekutu dengan negara yang bisa diajak kerja sama.
Mereka berusaha memengaruhi dunia dengan berbagai cara. Misalnya, mengikat dengan berbagai perjanjian dan undang-undang internasional. Tujuannya, menjadikan negara lain sebagai budak jajahan yang mengabdi pada kepentingan politik ekonomi mereka. Selain itu, mereka juga sengaja menciptakan perang dan meneror dunia dengan ketakutan.
Dunia Butuh Khilafah
Hal ini jelas berbeda dengan kepemimpinan Islam. Dalam Islam, tugas pemimpin adalah menegakkan kewibawaan Islam dengan menjadikan ideologi Islam dalam mengatur seluruh urusan rakyatnya. Negara Islam (Khilafah) berfungsi untuk mengurus dan melindungi rakyatnya. Khilafah akan memiliki kekuatan dalam menghadapi setiap tantangan dan menjadi problem solver yang mampu mencegah kezaliman yang dilakukan oleh negara-negara besar.
Jika menyelisik sejarah, Khilafah berhasil membebaskan Palestina dari kezaliman Romawi, serta membebaskan Andalusia dari penguasa Visigoth. Di setiap tempat yang terjadi kezaliman, tentara Khilafah selalu dinantikan. Dunia sejahtera di bawah naungan Khilafah Islam.
Khilafah berhasil membangun angkatan bersenjata yang kuat dan pasukan terlatih. Militer menjadi salah satu penyebab yang mengantarkan pada kemenangan. Rasulullah saw. sangat memperhatikan persenjataan, strategi perang, dan kekuatan pasukan. Oleh karena itu, para khalifah setelahnya meneladani hal tersebut. Kesiapan militer diperlukan untuk menyebarkan Islam ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad.
Khatimah
Dunia selalu jatuh dalam penderitaan sejak Khilafah diruntuhkan. Kembalinya Khilafah seharusnya menjadi cita-cita seluruh umat Islam. Terlebih hal tersebut merupakan suatu kewajiban bagi kaum yang beriman. Memperjuangkannya merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi.
Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh perkara agama ini akan sampai ke seluruh dunia sebagaimana sampainya malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun baik di tengah penduduk kota atau di tengah penduduk kampung, kecuali Allah akan memasukkan agama ini ke dalamnya dengan kemuliaan yang dimuliakan dan kehinaan yang dihinakan, kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan Islam dan kehinaan yang dengannya Allah menghinakan kekufuran.” (HR. Ahmad)
Wallahualam bissawab.[]
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com
