
Kesadaran umat ini diharapkan dapat terkonsep dengan baik dalam satu kesamaan persepsi bahwa perubahan besar yang menyeluruh (revolusioner) hanya dapat diraih jika kembali pada Al-Qur'an dan As-Sunah.
Oleh. Riani Andriyantih, A.Md.
Kontributor Narasi literasi.Id
NarasiLiterasi.Id-Setelah Daulah Islam runtuh, dunia hampa dirundung nestapa, malapetaka menimpa semesta. Seratus lima tahun sudah umat kehilangan penjaga dan pelindung. Kerusakan dan penindasan begitu nyata. Air mata bahkan nyawa terasa tak berharga. Kini, umat Islam terpecah belah dan tercerai-berai. Banyak, tetapi bagaikan buih di lautan.
Peristiwa di Bulan Rajab
Rajab, salah satu bulan haram yang disebutkan oleh Allah, merupakan bulan yang memiliki banyak kemuliaan dan peristiwa besar terjadi. Di bulan Rajab ini pula umat Islam memperingati peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad saw.
Serangkaian acara demi acara sering kali dibuat secara meriah. Namun, ada yang luput dari perayaan tersebut, yaitu esensi perjalanan Isra Mikraj Nabi saw. yang bukan sekadar perjalanan tanpa makna. Bukan pula sekadar proses diturunkannya perintah salat lima waktu yang sering kali menjadi topik utama dalam rangkaian acara.
Di bulan Rajab terdapat pula sebuah peristiwa bersejarah, yakni Baiat Aqabah Kedua. Pada baiat ini, kaum Anshar di Madinah mempercayakan Rasulullah saw. untuk memegang kekuasaan, tidak hanya menjadi nabi dan rasul, tetapi juga menjadi seorang kepala negara. Beliau saw. menjadi pemimpin bagi umat Islam yang bertugas menyampaikan dan menerapkan risalah Islam dalam kehidupan.
Dominasi Sistem Kapitalis Global
Saat ini, sistem kapitalisme global mendominasi perekonomian dunia. Sistem ini mengeksploitasi kekayaan alam secara ugal-ugalan. Akibatnya, terjadi ketimpangan antara yang kaya dan miskin, serta kerusakan alam dan lingkungannya.
Di sisi lain, pemisahan agama dari kehidupan mendatangkan berbagai masalah dan kerusakan di segala lini. Berbagai aturan yang dibuat manusia hanya menimbulkan bencana demi bencana yang tak pernah ada habisnya.
Penjajahan demi penjajahan menimpa umat Muslim di berbagai negeri seperti yang menimpa umat Muslim di Palestina, negeri para anbiya. Tanah suci yang menjadi saksi peristiwa perjalanan Isra Mikraj Rasulullah saw. kini jatuh ke tangan entitas Yahudi. Maka menjadi kewajiban kaum Muslimin untuk merebut kembali.
Begitu pula dengan penjajahan yang terjadi atas kaum Muslim Rohingya, Uighur, India, Rusia, Filipina Selatan, penjajahan dan kezaliman atas mereka harus dihentikan. Hal ini menjadi bukti lemahnya umat Islam karena sekat nasionalisme.
Umat mulai kehilangan kepercayaan pada sistem rusak ini. Slogan kemanusiaan dan ribuan janji berakhir pada kekecewaan yang berulang. Semua derita dan nestapa tidak pernah ada habisnya.
Munculnya Kesadaran Umat
Kesadaran umat akan kerusakan yang terjadi ini mengakibatkan pergolakan pemikiran di tengah-tengah umat. Menumbuhkan ghirah (semangat) menuju kebangkitan dan perubahan. Kesadaran ini diharapkan dapat terkonsep dengan baik dalam satu kesamaan persepsi bahwa perubahan besar yang menyeluruh (revolusioner) hanya dapat diraih jika kembali pada Al-Qur'an dan As-Sunah. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Muhammad saw. dalam menyampaikan ajaran Islam, menjaga akidah, hingga menjaga kemuliaan umat.
Petunjuk Allah dan Keteladanan Rasulullah saw.
Islam adalah pemikiran (al-fikrah) dan metode (ath-thariqah). Pemikiran dan metode semuanya bersumber dari Allah Swt. Syariat-Nya dibuat secara sempurna. Aturan ini bukanlah dibuat untuk mengekang, melainkan untuk memuliakan. Oleh karena itu, tidak ada hak bagi kita manusia yang lemah dan terbatas untuk membuat hukum dan memisahkan agama dari kehidupan.
Syariat Islam bukanlah seperti prasmanan yang diambil jika disukai dan cocok. Namun, jika dirasa tidak cocok, berat, dan kurang pas maka ditinggalkan begitu saja. Tidak layak bagi seorang Muslim bersikap demikian. Sebab, Allah Swt. menurunkan syariat agar kita mengikuti setiap perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya secara menyeluruh sebagai bukti keimanan secara total kepada Allah Swt. Jika Allah Swt. menyeru maka selayaknya kita mendengar dan taat. Begitulah sikap totalitas yang harus diambil.
Sikap totalitas ini juga ditunjukkan dalam mengemban misi mulia sebagai seorang pengemban dakwah. Dalam hal ini, Rasulullah saw. telah memberi teladan bagaimana mengemban dakwah Islam untuk meraih perubahan yang menyeluruh. Mahabenar Allah dengan firman-Nya, "Telah ada pada diri Rasulullah itu sebuah suri teladan yang baik." (TQS Al-Ahzab: 21)
Tharikah Dakwah Rasul
Untuk itu, Al-'Allamah Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjadikan thariqah dakwah Rasul saw. sebagai patokan keberhasilan dakwah. Hal ini beliau ungkapkan dalam salah satu kitabnya At-Takattul al-Hizbiy, hlm. 50. Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa partai ideologis akan menempuh tiga tahapan sampai dia dapat menerapkan ideologinya di tengah-tengah masyarakat.
Pembinaan dan Pengkaderan
Tahapan pertama, yakni pembinaan dan pengkaderan, dimulai sejak beliau diutus sebagai rasul dan diperintahkan untuk menyampaikan dakwah Islam. Saat Islam baru diajarkan, rumah sahabat Al-Arqam bin Abil Arqam menjadi tempat pembinaan pertama kelompok dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah saw.
Rasulullah saw. melakukan pembinaan secara intensif kepada orang-orang yang telah memeluk Islam dengan membentuk cara berpikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) mereka menjadi kepribadian islami (syakhsiyah Islamiyyah) yang kuat dan kokoh. Para sahabat yang memiliki kepribadian islami inilah yang menjadi kader-kader dakwah Rasulullah saw. di Mekah.
At-tafa'ul ma'al ummah
Tahapan kedua, yakni at-tafa'ul ma'al ummah (interaksi dengan umat). Interaksi dengan umat ini merupakan bentuk dari turunnya wahyu Allah Swt. kepada Rasulullah saw. untuk berdakwah secara terang-terangan.
Saat itu, Rasulullah saw. telah berhasil mengikat para sahabat dengan ikatan akidah (ideologis) sehingga menjadi sebuah jemaah (kutlah) yang kokoh dan siap. Allah Swt. pun menurunkan Surah Al-Hijr ayat 94, "Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik."
Pada tahap kedua dalam marhalah ini, Allah Swt. banyak menurunkan hujah untuk Rasulullah saw. dalam berbagai bidang kehidupan, yakni akidah, sosial, ekonomi, adat istiadat, dan lain sebagainya untuk mengkritik dan menyerang kebiasaan orang-orang jahiliah.
Tahap berinteraksi dengan umat ini akan mengalami pergolakan yang hebat karena membongkar kerusakan, mengkritik kebiasaan keliru masyarakat, dan mengingatkan kebijakan serta kezaliman yang terjadi.
Interaksi inilah yang menyadarkan umat agar turut serta memikul kewajiban dakwah Islam sehingga umat menjadikan Islam sebagai panduan utama dalam hidupnya serta berusaha untuk menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Adapun cara (uslub) yang dipakai dapat beragam sesuai dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan, dan teknologi, selama tidak melanggar hukum syarak.
Thalabun Nushrah
Tahapan ketiga, yakni thalabun nushrah (menerima kekuasaan penuh dengan mendapat dukungan dari umat). Tahapan ketiga ini ditandai sejak baiat Aqabah Kedua, yaitu baiat nushrah sekaligus istilam al-hukm (menerima kekuasaan). Baiat ini telah mengukuhkan Rasulullah saw. sebagai pemimpin negara Islam (Daulah Islamiyyah) yang berpusat di Madinah.
Faktor keberhasilan tahapan ketiga ini ditentukan dari tahapan kedua. Sebab pada tahapan kedua, umat dengan kesadaran penuh akan memberikan dukungan dan kepercayaan untuk beralih dari sistem kehidupan yang salah menuju sistem yang hak, yaitu sistem Islam.
Dalam hal ini, Syekh Ahmad Athiyyah mengemukakan dalam kitabnya bahwa untuk mengubah suatu keadaan diperlukan setidaknya dua hal. Pertama, kesadaran tentang fakta kehidupan yang rusak yang mana kita berada dalam kehidupan tersebut. Kedua, kesadaran tentang fakta solusi yang bakal menggantikan fakta yang rusak (Syekh Ahmad Athiyyah, At-Taghyir, hlm. 21–22).
Ketiga marhalah dakwah yang Rasulullah saw. lakukan tersebut merupakan sebuah hukum syarak yang wajib diikuti. Sebab tujuan dakwah adalah menyebarluaskan Islam dan meninggikan agama Allah Swt. agar umat manusia meninggalkan kehidupan yang rusak dan bergegas menuju sistem Islam.
Baca juga: Dari Ibadah Haji Menuju Persatuan Hakiki
Khatimah
Maka tegaknya sistem pemerintahan Islam dalam bingkai Khilafah merupakan kebutuhan yang mendesak saat ini. Umat Islam adalah umat yang satu dan umat terbaik yang pasti mampu mengembalikan kemuliaan Islam dan kemuliaan umat Islam. Alhasil, saatnya berjuang mendakwahkan Islam dan kembali kepada sistem Islam. Islam dan umatnya akan kembali menguasai dunia, seperti janji Allah Swt. dan bisyarah Nabi Muhammad saw.
Satu keniscayaan ketika umat Islam bersatu di bawah satu komando seorang khalifah, akan kembali menjadi umat yang kuat, berdaya, mulia, dan sejahtera. Nestapa umat Islam akan berakhir. Umat Islam seluruh dunia pun berada dalam kesatuan perasaan, pemikiran, dan peraturan yang sama.
Inilah sumber keberkahan yang Allah Swt. janjikan.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan." (QS Al-A'raf: 96)
Untuk itu, penting bagi kita mengenal dan memahami setiap risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw., menjadikan beliau saw. sebagai teladan, serta meyakini akan adanya Khilafah Rasyidah kedua dengan mengikuti manhaj kenabian yang beliau saw. kabarkan. Menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan agar umat makin sadar dan pertolongan Allah Swt. makin dekat. Sambutlah janji Allah Swt. karena pasti benar adanya. Wallahu'alam bissawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com


















