
Dengan tontonan yang diatur sesuai syariat Islam, maka tontonan itu layak untuk menjadi tuntunan yang akan mengubah pola pikir dan pola sikap umat.
Oleh. Arda Sya'roni
Kontributor NarasiLiterasi.Id
NarasiLiterasi.Id-Gawai telah menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi manusia saat ini. Hidup tanpa gawai laksana makan sayur tanpa garam, hambar, apalagi bagi gen Z dan gen Alpha. Gawai dan teknologi bagaikan sebilah pedang dengan dua sisi. Salah satu sisinya berdampak positif di mana dengan perkembangan teknologi dan gawai sebagai sarananya, dapat memudahkan komunikasi, memberi wawasan, informasi dan ilmu pengetahuan dari seluruh pelosok negeri. Dengan gawai proses belajar mengajar jauh lebih mudah dan tidak terbatas jarak. Namun, sisi lainnya menjadikan pengaruh negatif yang merusak dan membahayakan. Kala gawai digunakan untuk flexing, bullying, membuka aib, ataupun tontonan yang penuh maksiat dan aneka challenge yang membahayakan.
Aneka challenge kerap digelar di berbagai media sosial. Beragam tontonan yang melanggar norma dan tak layak tonton pun kerap dijadikan tuntunan. Seperti halnya yang dikutip dari detikNews, 07-05-2026, pelajar Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Desa Lenek Baru, Kecamatan Lenek, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), tewas akibat melakukan freestyle ala gim Free Fire (FF) yang sedang viral di media sosial (medsos). Korban sempat dilarikan ke rumah sakit karena mengalami patah leher.
Hamad Izan Wadi, pelajar kelas 1 di SDN 3 Lenek Baru yang tewas akibat melakukan gerakan freestyle ini bukanlah satu-satunya korban akibat tren freestyle. Ada pula seorang anak TK yang menjadi korban, bahkan juga menimpa pelajar SMK yang mencoba melakukan freestyle di atas motor, serta masih ada beberapa korban lagi yang mengalami cedera serius.
Kapitalisme Meniscayakan Tren Tak Layak
Perkembangan teknologi menjadikan gawai bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan. Gawai saat ini tak hanya dimiliki dan digandrungi orang dewasa, bahkan anak-anak pun telah piawai dalam menggunakannya. Kapitalisme yang berpijak pada materi dan manfaat, tentulah mendukung perkembangan teknologi ini. Berbagai aplikasi yang disertai fitur-fitur memanjakan makin membuat generasi muda betah berlama-lama memegang gawai.
Kapitalisme meniscayakan tren-tren di kalangan anak muda. Hal ini merupakan salah satu cara barat untuk melemahkan potensi generasi muda, yaitu dengan 4F, fun, fashion, food dan film. Tren freestyle yang berasal dari gim Free Fire ini bukanlah tren pertama yang membawa korban. Telah banyak tren di media sosial yang merusak generasi, menjadikan generasi hanya mengejar validasi manusia dan menunjukkan eksistensi diri. Harga diri kerap diabaikan demi sebuah validasi dan eksistensi, demi meraup cuan, dan demi hal-hal sepele lainnya. Akhirat yang merupakan perkara besar justru tak pernah menjadi bahan pertimbangan saat berkelana di dunia maya.
Kapitalisme Melahirkan Generasi Lemah
Kapitalisme sekularisme yang menjauhkan agama dari kehidupan dimana agama hanya diberi ruang sebatas pelaksaan ibadah ritual, sedangkan dalam kehidupan sehari-hari agama ataupun Tuhan tidak diperkenankan mengatur. Akibatnya, hukum manusia yang bersumber dari pemikiran manusia yang dijadikan pijakan urusan kehidupan. Padahal, manusia sebagai makhluk bersifat terbatas, lemah dan bergantung pada yang lain. Selain itu, manusia juga didominasi oleh perasaan, hawa nafsu serta naluri-naluri yang ada pada dirinya. Sifat manusia yang lemah, twrbatas dan bergantung pada yang lain meniscayakan manusia untuk saling mengikuti dan meniru pada yang lain.
Potensi untuk meniru dan mengikuti pada seseorang yang dinilai 'lebih' inilah yang didukung oleh kapitalisme. Teknologi yang makin beraneka ragam di tangan kapitalisme dijadikan sebagai sarana meraup cuan sebanyak mungkin dengan monetisasi. Alhasil, bermunculanlah pengisi konten dengan konten-konten yang niradab, tidak bermanfaat bahkan memicu munculnya banyak kemaksiatan. Ketika algoritma bekerja, maka apapun tontonan yang kita nikmati akan terus lewat di beranda, hingga akhirnya tontonan itu merasuki pemikiran dan pada akhirnya menjafi tuntunan hidup.
Begitulah kapitalisme bekerja melemahkan potensi generasi muda. Melalui tontonan yang lambat laun menjadi tuntunan dalam memaknai hakekat kehidupan. Apabila tontonan telah menjadi tuntunan, sementara tontonan yang disajikan jauh dari ketaatan pada Allah, maka timbullah generasi yang semakin tak tentu arah. Hal ini karena tontonan yang banyak beredar bukanlah tontonan yang layak menjadi tuntunan, melainkan hanya sekadar mencari banyaknya pengikut.
Kebangkitan Umat dengan Islam
Kebangkitan umat hanya akan diraih dengan Islam. Islam menjadikan umat mampu berpikir cemerlang dan kritis. Hal ini karena Islam mengatur segala sesuatu yang diunggah melalui media, baik media elektronik maupun cetak serta unggahan di dunia maya. Dengan tontonan yang diatur sesuai syariat Islam, maka tontonan itu layak untuk menjadi tuntunan yang akan mengubah pola pikir dan pola sikap umat. Islam senantiasa mengajak umat untuk menjauhi hal yang sia-sia karena hanya akan membuang waktu dan tidak memberi manfaat apapun bagi kehidupan akhirat.
"Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna." (QS. Al-Mu'minun: 3)
Islam bukan hanya sekadar agama yang mengatur ibadah ritual, melainkan sebuah mabda atau ideologi yang menjadi landasan aturan kehidupan. Syariat Islam merupakan hukum mutlak dalam pelaksanaan seluruh aktivitas kehidupan, termasuk dalam pengurusan suatu negara. Dengan demikian, syariat Islam menjadi landasan dalam aturan kepemerintahan, termasuk di dalamnya aturan dalam hal penyiaran dan tontonan yang layak dikonsumsi umat.
Tak hanya itu penerapan syariat pada sistem pendidikan, pergaulan, kesehatan, ekonomi, bahkan politik akan menjadi penjaga alami bagi umat. Alhasil, berbagai adegan berbahaya, ajakan pada keburukan dan melanggar syariat takkan ada lagi. Umat dan generasi muda akan berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketaatan, tak lagi berlomba mencari sensasi, eksistensi, dan validasi sana sini.
Baca juga: ‎Harga Mahal di Balik Tren Freestyle
Khatimah
Tayangan konten di berbagai media serta tayangan acara di berbagai stasiun televisi sangat mungkin untuk menjadi tontonan yang menjadi tuntunan pada perilaku yang tak baik. Hal ini karena kapitalisme hanya mengacu pada nilai keuntungan yang akan diraih. Oleh sebab itu tayangan televisi didasarkan pada rating dan konten di media sosial hanya didasarkan pada jumlah pengikut atau algoritma. Makin banyak penonton maka makin banyak tayangan dan konten serupa yang dibuat. Tak peduli konten tersebut melanggar norma masyarakat ataupun syariat. Selama menghasilkan banyak cuan akan terus berlanjut hingga akhirnya menjadi tuntunan bagi umat untuk turut melakukannya.
Tontonan yang memberikan tuntunan kebaikan hanya ada dalam sistem Islam. Dalam Islam, syariat Islam menjadi landasan aturan dalam kehidupan. Dengan demikian sistem penyiaran dalam negara Islam akan memberi aturan tegas pada setiap konten yang diunggah ataupun tayangan acara di televisi. Dengan penerapan syariat Islam secara kaffah tersebut, maka apapun konten yang diunggah sudah pasti mengandung kebaikan dan sesuai syariat sehingga dapat dipastikan tontonan tersebut bisa dijadikan sebuah tuntunan yang layak.
Untuk itu penerapan syariat Islam kaffah merupakan sebuab keharusan yang patut disegerakan agar tak ada lagi tayangan dan konten-konten menyesatkan, membahayakan dan merusak umat. Wallahualam bissawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

















