
Gen Z paling cemas dalam sejarah. Namun, di balik kegelapan ini, muncul gelombang resistensi yang bisa jadi titik balik.
Oleh. Hanny N
Kontributor NarasiLiterasi.Id
NarasiLiterasi.Id-Bayangkan, Anda membuka ponsel setiap pagi, dan yang pertama muncul di layar bukan ucapan selamat pagi, melainkan berita tentang perang, krisis ekonomi, dan masa depan yang suram. Anda scroll Instagram, teman-teman Anda tampak sempurna. Traveling, sukses, bahagia. Sementara Anda? Masih bingung mau kuliah di mana, kerja apa, atau bahkan apakah dunia ini masih layak dihuni. Selamat datang di dunia Gen Z.
Data dari Survei I-NAMHS 2022 mencatat angka yang mengguncang: 34,8% remaja Indonesia, atau setara dengan 15,5 juta jiwa, mengalami masalah kesehatan mental. Dari angka itu, 5,5% di antaranya memenuhi kriteria gangguan mental klinis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memprediksi satu dari tujuh remaja global (14,3%) mengalami gangguan kesehatan mental, dengan depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku sebagai penyebab utama penyakit dan kecacatan di kalangan remaja. (kompas.id, 18-06-2026)
Yang lebih mengerikan, upaya mengakhiri hidup menjadi penyebab kematian ketiga terbesar di kalangan usia 15-29 tahun. Ini bukan sekadar angka. Ini adalah sinyal bahaya bahwa sesuatu yang fundamental sedang salah dalam cara kita membesarkan generasi.
Krisis Multidimensi
Gen Z tidak tiba-tiba menjadi cemas. Mereka cemas karena dunia yang mereka warisi sedang runtuh di depan mata.
Pertama, krisis multidimensi melanda dunia. Perang di berbagai belahan bumi, krisis ekonomi global, perubahan iklim yang mengancam eksistensi, dan ketidakpastian karir yang membuat gelar sarjana tidak lagi menjamin masa depan. Gen Z adalah generasi pertama yang tumbuh dengan menyadari bahwa planet ini mungkin tidak akan bertahan lama, dan masa depan mereka mungkin lebih buruk dari orang tua mereka.
Kedua, peradaban sekuleristik-kapitalistik telah merusak jati diri mereka. Media sosial bukan sekadar platform, itu adalah mesin perbandingan yang bekerja 24 jam sehari. Setiap like, setiap komentar, setiap tampilan "kehidupan sempurna" orang lain menjadi tolok ukur yang mustahil dicapai. Gen Z dibesarkan dalam budaya yang mengajarkan, "Kamu harus sukses, harus terkenal, harus kaya, atau kamu gagal." Namun, sistem yang sama tidak memberikan mereka alat untuk mencapai itu.
Ketiga, dan yang paling menyakitkan, negara dan generasi sebelumnya justru men-stigmatisasi mereka. Alih-alih dirangkul, Gen Z sering disebut "generasi lemah", "manja", "tidak tahu bersyukur". Ketika mereka mengeluh tentang kecemasan, jawabannya adalah "Dulu kami lebih susah, tapi kami tidak depresi." Padahal, dulu tidak ada media sosial yang membandingkan hidup Anda dengan 1.000 orang lain setiap hari. Dulu tidak ada informasi global yang membuat Anda menyadari betapa kecilnya peluang Anda.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji baru-baru ini menekankan bahwa kebutuhan mutu kaum muda saat ini bukan hanya kecerdasan intelektual, kreativitas, dan inovasi, tetapi juga ketangguhan mental. Siapa yang membentuk ketangguhan itu?
Gen Z di Seluruh Dunia Merasakan Hal yang Sama
Ini bukan masalah Indonesia saja. Di Amerika Serikat, studi menunjukkan Gen Z adalah generasi paling cemas dan depresi dalam sejarah. Di Inggris, kasus kecemasan remaja meningkat tajam. Sedangkan di Jepang, fenomena hikikomori, remaja yang menarik diri dari masyarakat selama bertahun-tahun, semakin merajalela.
Gen Z di seluruh dunia lebih skeptis terhadap institusi, lebih kritis terhadap kapitalisme, dan lebih tidak percaya pada janji "kerja keras = sukses". Mereka melihat orang tuanya bekerja keras seumur hidup, lalu kehilangan tabungan di krisis finansial. Mereka melihat politikus berjanji, lalu melanggar. Dan mereka melihat perusahaan besar mengklaim peduli, lalu memecat ribuan karyawan.
Namun, di balik skeptisisme ini, ada sesuatu yang menarik, sebuah gelombang resistensi. Gen Z bukan generasi yang pasrah. Mereka adalah generasi yang bertanya, yang menolak, yang mencari alternatif. Dan di sinilah letak peluang emas.
Kekuatan Pemuda dalam Islam
Mari kita melihat sejarah. Siapa yang memikul risalah pertama kali? Pemuda.
Usman bin Affan ra., khalifah ketiga, masuk Islam di usia muda dan menjadi salah satu pembela terbesar. Ali bin Abi Thalib ra., yang Rasulullah saw. beri gelar "Asadullah" (Singa Allah), memegang bendera perang di usia belia. Khalid bin Walid ra., sang Pedang Allah, memimpin pasukan dalam usia muda.
Namun, yang paling menginspirasi adalah kisah Usamah bin Zaid ra. ketika Rasulullah saw. menunjuknya sebagai panglima perang pada usia yang sangat muda, para sahabat senior sempat meragukan. Namun, Rasulullah saw. mempertahankan keputusannya. Usamah kemudian memimpin pasukan dengan gemilang, membuktikan bahwa usia bukan ukuran, iman dan kemampuanlah yang menentukan.
Atau kisah Nusaybah binti Ka'ab ra., wanita yang membela Rasulullah saw. dalam Perang Uhud. Ketika para sahabat laki-laki terpencar, Nusaybah, yang awalnya datang hanya untuk memberi air, langsung mengambil pedang dan bertempur. Dia bukan prajurit terlatih. Dia adalah ibu rumah tangga yang dipicu oleh cinta dan keyakinan.
Dan jangan lupakan sejarah kejayaan Islam yang dibangun oleh pemuda. Bani Abbasiyah yang mendirikan Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) dan menjadikan Baghdad pusat ilmu pengetahuan dunia, dipimpin oleh khalifah-khalifah yang mulai memerintah di usia muda. Ilmuwan-ilmuwan Muslim seperti Al-Khawarizmi (penemu aljabar), Ibn Sina (Bapak Kedokteran Modern), dan Al-Biruni menulis karya monumental di usia produktif mereka.
Karakter Generasi Gemilang
Karateristik generasi masa kejayaan Islam berkepribadian Islam yang kuat, cakap dalam berbagai bidang keilmuan, dan memiliki visi yang jelas tentang tujuan hidup. Mereka tidak bingung tentang "siapa saya" atau "apa tujuan hidup saya" karena Islam memberikan jawaban yang jelas, "Aku adalah hamba Allah, dan tujuanku adalah mengabdi kepada-Nya dengan sebaik-baiknya."
Rasulullah saw. bersabda, "Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari & Muslim)
Hadis ini bukan sekadar nasihat moral. Ini adalah blueprint untuk membangun generasi yang kuat. Ketika seorang pemuda mencintai saudaranya, ia tidak akan merasa sendiri. Ketika ia memiliki komunitas yang solid, depresi dan kecemasan tidak akan mudah merusaknya.
Islam: Solusi yang Dicari Gen Z
Di sinilah letak ironi yang indah, Gen Z sedang mencari makna, dan Islam punya jawaban paling lengkap. Gen Z cemas karena mereka tidak tahu tujuan hidup mereka. Islam mengatakan, "Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh kepada Tuhanmu, maka niscaya kamu akan menemui-Nya." (QS. Al-Inshiqaq: 6)
Gen Z merasa tidak berharga karena mereka tidak bisa "bersaing" dalam standar kapitalisme. Islam mengatakan: setiap manusia punya nilai intrinsik sebagai makhluk Allah, tidak tergantung pada berapa banyak uang atau follower yang mereka miliki.
Gen Z merasa sendirian karena individualisme modern memisahkan mereka. Islam mengatakan, "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara." (QS. Al-Hujurat: 10)
Allah Swt. berfirman, "Ketahuilah, sesungguhnya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Ayat ini bukan sekadar janji spiritual. Ini adalah preskripsi psikologis yang telah teruji selama 14 abad. Ketika Gen Z merasa cemas, solusi yang ditawarkan dunia modern adalah meditasi mindfulness, terapi kognitif, atau obat-obatan. Semua itu bermanfaat, tapi tidak menyentuh akar masalah, ketiadaan koneksi dengan Sang Pencipta.
Islam menawarkan Rahmatan lil Alamin, rahmat bagi seluruh alam. Bukan rahmat hanya bagi Muslim, tapi bagi semua manusia. Sistem Islam yang diterapkan dengan benar membawa ketenangan dan keselamatan hidup, karena setiap aspek kehidupan diatur oleh petunjuk Ilahi yang adil dan berkeadilan.
Negara sebagai Pelindung
Gen Z merasa ditinggalkan karena negara modern gagal menjadi pelindung dan pelayan umat. Dalam sistem kapitalisme, negara seringkali menjadi alat untuk melindungi kepentingan elit dan korporasi. Pemuda bukan prioritas, mereka adalah "sumber daya manusia" yang bisa dieksploitasi.
Namun, dalam sejarah Islam, negara (Khilafah) adalah pelindung dan pelayan umat. Khalifah Umar bin Khattab RA pernah berkata, "Jika seekor kambing mati kelaparan di tepi Sungai Tigris, aku takut Umar akan dimintai pertanggungjawabkan oleh Allah."
Bayangkan seorang pemimpin yang merasa bertanggung jawab atas seekor kambing, apalagi atas 15,5 juta remaja yang depresi!
Dalam sistem Islam, negara menjamin Pemenuhan kebutuhan dasar secara adil (tidak ada yang kelaparan sementara yang lain berlebihan). Pendidikan yang membangun karakter, bukan hanya skill untuk pasar kerja. Kesehatan mental yang dipelihara melalui komunitas, ibadah, dan keadilan sosial, juga Keamanan dari eksploitasi media sosial dan budaya konsumtif.
Rasulullah saw. bersabda, "Setiap dari kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari & Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Islam adalah tanggung jawab, bukan hak istimewa. Negara yang benar adalah negara yang melayani, bukan menindas.
Gen Z Menuju Resistensi: Kecemasan menjadi Kekuatan
Di sinilah letak peluang emas. Gen Z memiliki sikap kritis yang kuat. Mereka tidak mudah percaya pada propaganda. Mereka menuntut transparansi dan menolak ketidakadilan.
Sikap ini, jika diarahkan dengan benar, bisa menjadi bahan bakar untuk perubahan besar. Bayangkan jika 15,5 juta remaja Indonesia yang cemas itu tidak lagi menghabiskan waktu untuk scroll media sosial yang merusak, melainkan untuk mempelajari Islam, membangun komunitas, dan berkontribusi untuk umat.
Bayangkan jika mereka menyadari bahwa kecemasan mereka bukan kelemahan, melainkan sinyal bahwa sistem yang ada sedang salah. Dan bahwa solusi bukanlah menyesuaikan diri dengan sistem yang rusak, melainkan membangun alternatif yang lebih baik.
Allah Swt. berfirman, "Hai orang-orang muda yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)
Ayat ini diturunkan dalam konteks perjuangan, tapi maknanya luas, ketika pemuda memutuskan untuk berdiri untuk kebenaran, Allah akan memberikan kekuatan dan kestabilan.
Baca juga: Generasi Kuat, Negara Bermartabat
Masa Depan Emas Bukan Angan-angan
Saudaraku Gen Z, jika Anda merasa cemas, depresi, atau bingung, ketahuilah bahwa Anda tidak sendiri. Dan lebih penting lagi, Anda tidak lemah. Anda adalah generasi yang dipilih untuk hidup di zaman paling menantang, dan Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Namun, Anda harus membuat pilihan. Anda bisa terus berputar dalam lingkaran kecemasan yang diciptakan oleh sistem yang rusak. Atau Anda bisa mengambil solusi Islam. Solusi yang telah teruji selama ribuan tahun, yang membawa kejayaan bagi umat Islam di masa lalu, dan yang bisa membawa kejayaan lagi di masa depan.
Masa depan emas bukan lagi sebatas angan-angan. Itu adalah janji Allah bagi siapa yang mau berjuang. Perjuangan itu dimulai dari diri sendiri: memperkuat iman, membangun karakter Islam, dan peduli terhadap kondisi umat.
Rasulullah saw. bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." (HR. Ahmad, Thabrani, dan Ad-Daruquthni)
Jadilah pemuda yang tidak hanya peduli pada dirinya sendiri, tapi pada umatnya. Jadilah generasi yang mengubah kecemasan menjadi aksi, skeptisisme menjadi kritis yang konstruktif, dan depresi menjadi tekad untuk membangun yang lebih baik. Karena sesungguhnya, kemenangan itu dekat, bagi siapa yang mau berjuang.
Wallahualam bissawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

















