Bullying, Kezaliman yang Lahir dari Krisis Akidah

Bullying, kezaliman yang lahir dari krisis akidah

Bullying bukan candaan, ia adalah bibit kezaliman yang jika dibiarkan akan melahirkan koruptor, penindas, dan pemimpin zalim di masa depan.

Oleh. Misriyatik
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-Viral video seorang siswa SMP yang dibully teman sekelasnya, ditertawakan, dijambak, dan direkam. Yang menyedihkan, teman-teman lain hanya menonton sambil tertawa. Di kolom komentar, banyak yang menulis "Ah, namanya juga anak-anak, bercanda doang."

Di sinilah masalahnya, kita sudah menganggap bullying sebagai kenakalan biasa, padahal ia adalah kezaliman.

Data PISA 2025 layak menjadi alarm. Sebanyak 24 persen siswa Indonesia melaporkan mengalami setidaknya satu bentuk bullying beberapa kali dalam sebulan atau lebih, lebih tinggi daripada rata-rata negara OECD sebesar 20 persen. Untuk cyberbullying, angkanya mencapai 7 persen, sementara rata-rata OECD hanya 3 persen. (Arrahmah.id, 27-9-2026)

Perilaku Agresif

Bullying atau perundungan adalah perilaku agresif yang dilakukan secara berulang dan ada ketimpangan kuasa. Bukan sekali ejek lalu selesai. Pelaku merasa lebih kuat, lebih senior, lebih populer, dan korban diposisikan lemah. Bentuknya pun bervariasi bisa berupa fisik, bisa dengan memukul, mendorong, merusak barang.
Adapun secara verbal, dengan mengejek nama orang tua, body shaming, memberi julukan buruk. Secara sosial, seperti mengucilkan, menyebar gosip agar dijauhi.

Cyberbullying yang paling masif hari ini, dengan menyebar aib di grup whatsApp, membuat stiker wajah teman, menghina di kolom komentar tiktok dan media sosial lainnya. Pelakunya bisa siapa saja, siswa senior, teman se-geng, bahkan kakak di rumah. Dan yang paling berbahaya adalah penonton yang diam, sebab diamnya mereka adalah persetujuan.

Jangan berpikir luka hanya memar, bullying meninggalkan luka yang tak terlihat seumur hidup. Secara psikis, korban menjadi tidak percaya diri, cemas, takut ke sekolah, dan merasa dirinya tidak berharga. Banyak kasus depresi dan keinginan mengakhiri hidup pada remaja bermula dari ejekan verbal bertahun-tahun. Secara fisik, stres itu menjelma menjadi sakit kepala dan hilang nafsu makan. Secara akademik, nilainya menurun signifikan dan ia memilih mengurung diri.

Menjatuhkan kehormatan teman dengan satu ejekan, haramnya sama seperti melukai fisiknya. Dalam Islam, kehormatan seorang muslim itu sangat mahal. Rasulullah saw. bersabda saat Haji Wada' yang artinya "Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian haram atas kalian."(HR. Bukhari)

Penyebab Bullying

Bullying subur akarnya bukan hanya pada anak nakal. Namun, pada sistem yang melahirkan anak tersebut.
Pertama, pola asuh yang salah. Anak yang di rumah terbiasa dihina atau tidak mendapat kasih sayang, akan melampiaskannya di sekolah.
Kedua, budaya haus validasi. Pelaku ingin dianggap jagoan dan ditakuti. Like dan tawa teman dianggap kebahagiaan.
Ketiga, dan ini yang paling fundamental: krisis akidah. Anak tidak merasa diawasi Allah, tidak yakin perbuatannya akan dihisab. Maka wajar jika hukuman sekolah berupa skors tiga hari atau surat permintaan maaf tidak membuatnya jera.

Islam tidak hanya menghukum setelah kejadian, akan tetapi membangun sistem pencegahan berlapis. Lapis Individu: Menanamkan akidah muraqabatullah, sebagai solusi jangka panjang dengan penanaman akidah sejak dini. Seperti yang disampaikan Allah dalam firman-Nya dalam Qur'an surah Al-Hujurat ayat 11. Ayat ini secara tegas melarang body shaming dan julukan buruk. Anak yang paham bahwa Allah Maha Melihat, tidak akan berani mem-bully meski tidak ada guru. Ia tahu satu stiker penghinaan di media sosial akan ditimbang di hari kiamat.

Bullying subur karena penonton diam. Rasulullah saw. bersabda yang artinya: "Barangsiapa melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu dengan lisannya..."(HR.Muslim).

Sekolah dan keluarga harus membangun budaya amar ma'ruf nahi munkar dan saling melindungi, bukan budaya senioritas. Melihat teman dibully, wajib membela dan melapor, bukan malah merekam dan menertawakan.

Sanksi Tegas yang Menjadi Jawabir dan Jawazir

Dalam Islam, sebuah negara wajib menjalankan sanksi yang berfungsi sebagai jawabir (penebus dosa pelaku di akhirat) dan jawazir (pencegah dan menjerakan bagi masyarakat).

Jika bullying fisik melukai, berlaku qishash atau diyat. Jika bullying verbal, sosial, dan cyberbullying, masuk kategori takzir yang hukumannya diputuskan hakim secara menjerakan dapat berupa dicambuk di depan umum, dipenjara, disita alatnya, dan diumumkan kesalahannya agar malu. Dalilnya dalam Al-Qur'an surah An-Nur ayat 2. Hukuman harus disaksikan orang banyak agar menimbulkan efek jera. Karena hukum dari Allah dan ditegakkan tanpa pandang bulu, anak pejabat atau anak rakyat sama, maka semua orang akan takut berbuat zalim.

Baca juga: Saat Tontonan Menjadi Tuntunan

Khatimah

Bullying bukan candaan, ia adalah bibit kezaliman yang jika dibiarkan akan melahirkan koruptor, penindas, dan pemimpin zalim di masa depan. Selama kita masih memakai sistem sekuler yang hanya memberi hukuman ringan dan melupakan akidah, maka kasus seperti ini akan terus berulang.

Saatnya kita kembali pada sistem Islam yang mendidik dengan akidah, menjaga dengan masyarakat yang peduli, dan melindungi dengan sanksi yang tegas dan menjerakan. Wallahualam bissawab. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Zawajir dan Jawabir Solusi Problematika Hukum Umat
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram