Di Balik Euforia Merti Desa

Di balik euforia Merti desa

Di balik euforia Merti Desa ada sekularisasi tersistematis yang dampaknya sangat destruktif. Sistem ini pun memanfaatkan masyarakat yang sangat permisif terhadap apa-apa yang datang, termasuk budaya yang sengaja diadakan.

Oleh. Erdiya Indrarini
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-Aneka macam budaya baru, terus bermunculan bak air bah yang tumpah di negeri ini. Rakyat pun sibuk dengan hiruk pikuk acara demi acara, dan berusaha untuk diadakan secara berkala. Mereka euforia hingga tak terasa sudah banyak waktu, tenaga, dan biaya yang telah mereka dermakan. Semua untuk rentetan panjang acara yang bernama Merti Desa.

Sebagaimana Merti Desa yang diadakan di Desa Larangankulon, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, Minggu (13-9-2026). Acara diawali hari Minggu (6/9), dengan tradisi nyadran dan pengambilan air dari enam sumber mata air. Pada Rabu (9/9), warga melakukan Topo Bisu, yaitu mengelilingi desa dengan suasana hening.

Selanjutnya, mereka berdoa bersama dan melakukan atraksi Suluh Nyawiji dengan menyatukan obor-obor yang ada. Atraksi ini adalah simbol dan harapan agar walaupun berbeda dusun tetapi tetap dalam satu persatuan, yaitu desa Larangankulon.

Rentetan agenda masih dilanjutkan di hari yang lain dengan Haul Massal, pengajian, tahlil, serta Khotmil Quran. Hari ke7, tepatnya pada Minggu (13/9) merupakan puncak perhelatan, yaitu diisi dengan kirab budaya dan ritual Birat Sengkala. Dalam ritual tersebut, Kades Khamim menyiramkan air dari tujuh mata air itu ke empat penjuru mata angin sebagai simbol tolak bala dari segala bencana dan kesialan.

Sujarwanto alias Ardi selaku sekretaris desa Larangankulon mengatakan bahwa Merti desa ini merupakan perhelatan kedua setelah sukses di gelaran pertama tahun 2023. Demikianlah agenda tiga tahunan yang digagas oleh Khamim, Kepala Desa Larangankulon. (joglojateng.com, 15-9-2026)

Inikah bentuk syukur, persatuan, dan cara menolak bala yang dijalankan di momen Maulid Nabi Muhammad saw.? Bagaimana harusnya sikap seorang muslim terhadap budaya atau tradisi yang ada saat inii?

Menyoal Merti Desa

Merti Desa atau sebagian orang menyebut   Merdi Desa, merupakan budaya yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa. Acara tersebut sebagai bentuk syukuran atau mengharap keselamatan untuk desa. Dalam sepekan Merti desa, biasanya dipenuhi dengan aneka kegiatan yang sifatnya hiburan atau pertunjukan.

Momen Merdi Desa juga acap kali diadakan di bulan Rabiul Awal, dan disandingkan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.. Untuk perhelatan besar tersebut, biasanya warga di pungut iuran yang tidak sedikit jumlahnya, bahkan biasanya masih dibebani agar membuat nasi kotak untuk para pengunjung.

Merti Desa Sarana Sekularisasi

Sesungguhnya sangat miris, saat ini umat Islam negeri ini bukannya menguri-uri budaya Islam sebagai agamanya sendiri, dan berusaha menegakkan syariat Islam. Akan tetapi, umat malah mengagendakan budaya yang tidak diajarkan Islam, bahkan bertentangan dengan syariat. Dampaknya, umat Islam semakin tidak paham terhadap budaya Islam yang hakiki, dan kian meninggalkannya tanpa mereka sadari.

Alhasil, kaum muslim perlahan terperosok pada sekularisme (jauhnya syariat Islam dari kehidupan umat), dan terjerembap pada liberalisme (ide kebebasan). Umat juga akan terjerumus pada sinkretisme, yaitu paduan berbagai agama dan budaya.

Mereka menganggap syukuran itu bebas, bagaimana pun caranya. Akhirnya, mengambil air dari tujuh sumber kemudian disiramkan ke empat arah penjuru angin untuk menolak balak, juga menyatukan obor sebagai lambang persatuan. Semua itu menjadi sesuatu yang wajar.

Selain itu, fenomena ikhlitat (campur baur laki-laki dan perempuan) pun menjadi biasa. Padahal, ikhtilat termasuk pelanggaran syariat yang harus dihindari. Seperti di antaranya, terjadi interaksi yang tidak mendesak, mengobrol santai, bersentuhan, atau berdesak-desakan tanpa udzur syari.

Dalam momen itu, saling bersikap tabaruj pun tentu tak bisa dihindari. Tak hanya itu, saling menari berpasangan laki-laki dan perempuan juga sering mereka lakukan atas nama menguri-uri budaya. Mirisnya, semua itu pun telah dipandang lumrah.

Umat tidak menyadari bahwa maraknya budaya yang ada saat ini, telah dijadikan sarana sekularisasi pada umat muslim. Umat disibukkan dengan kegiatan-kegiatan dengan atas nama menguri-uri budaya.

Saat itulah umat dikaburkan dari syariat, lalu dijauhkan hingga lupa atau tidak peduli akan budaya Islam yang hakiki, dan aturan agamanya sendiri. Umat menjadi buta, mana yang boleh dan tidak boleh, juga yang haram dan halal. Padahal, kemunduran dan kehancuran umat muslim, terjadi karena meninggalkan syariat.

Dampak Destruktif Budaya

Adapun paparan budaya sekuler dan liberal jelas akan berdampak pada rusaknya moralitas, dan akidah umat Islam, juga tatanan generasi muslim. Di antaranya adalah,

Pertama, munculnya generasi yang berkepribadian terbelah, yaitu ketika di keseharian terlihat religius dan rajin beribadah. Akan tetapi, di sisi lain mereka berpola pikir, berinteraksi, dan gemar mengonsumsi apa-apa bertumpu pada sekularisme.

Kepribadian seperti ini akan membuat seseorang goyah, tidak yakin, ragu, dan mudah menanyakan aturan dan norma-norma agamanya sendiri. Keimanan mereka menjadi sangat rapuh.

Kedua, terjadi degradasi moral pada generasi. Merosotnya moral pada anak-anak dan remaja, serta umat seluruhnya, semakin melaju karena tidak ada proteksi dari negara. Budaya dan berbagai event terus dijejalkan pada masyarakat, dan negara justru mendukung sepenuh hati.

Akibatnya, masalah-masalah sosial baru  marak bermunculan. Di antaranya, pergaulan bebas, perilaku hedonis, penyimpangan seksual, bullying, maraknya pornografi, judi dan pinjaman online, narkoba, penyakit HIV, dan lain-lain. Inilah akibat masyarakat terlalu permisif terhadap budaya yang terus bermunculan, moral dan keimanan mereka semakin tergerus.

Ketiga, atas nama toleransi, hak asasi manusia (HAM), dan keberagaman, kemaksiatan dianggap normal. Umat seolah dipaksa untuk menerima budaya-budaya yang ada. Umat dibiarkan untuk menikmati kemaksiatan atau memilih pergi meninggalkan. Padahal, umumnya manusia memilih untuk menikmati kesenangan. Akhirnya, terjadi kemunduran generasi baik dalam pola pikir, moralitas, juga akidahnya.

Keempat, memudarnya rasa bangga umat muslim terhadap ajaran agamanya sendiri. Inilah hasil dari serangan pemikiran melalui aneka budaya yang diulang-ulang secara berkala termasuk melalui event yang bernama Merti Desa alias Merdi Desa. Generasi muslim perlahan namun pasti, menjadi kehilangan identitas Islamnya. Lebih dari itu, generasi muslim bahkan menjadi suka menentang hukum-hukum Islam.

Penyebab mendasar dari semua fenomena itu adalah karena negara yang mengaku berideologi Pancasila ini menerapkan sistem kapitalisme demokrasi. Senganaistem ini, negara menjadi abai dan tidak peduli terhadap keselamatan akidah, moral, juga harta dan jiwa rakyatnya. Negara hanya peduli dengan sesuatu yang bernilai kapital atau materi. Inilah wajah asli dan dampak sistem kapitalisme demokrasi yang diterapkan di negeri ini.

Baca juga: Sendiri di Keramaian

Perspektif Islam

Sejak awal, Islam datang untuk mengubah budaya-budaya yang ada, agar disesuaikan dengan syariat yang Rasulullah bawa. Budaya atau adat dalam pandangan Islam, sejatinya tidak dilarang selama tidak bertentangan dengan syariat. Namun, ketika ada unsur yang melanggar syariat, maka umat muslim wajib meninggalkan.

Jadi, budaya yang ada harus disesuaikan dengan syariat Islam, bukan malah Islam yang harus menyesuaikan pada budaya. Islam juga melarang mencampuradukkan syariat dengan budaya atau adat kebiasaan. Allah Swt. berfirman,

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

"Janganlah kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (jangan pula) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya." (TQS. Al-Baqarah : 42)

Oleh karena itu, menolak segala bala, dan untuk menciptakan persatuan, tentu bukan dengan budaya. Akan tetapi, dengan mendekatkan diri pada Allah Swt., dan menerapkan seluruh aturan-Nya.

Selain itu, di tengah banyaknya event budaya yang sarat dengan kemaksiatan dan terus diselenggarakan ini, umat muslim harus melakukan langkah-langkah sebagai benteng akidah. Hal ini karena budaya yang tidak sesuai syariat akan merusak akidah seorang muslim, bahkan mempengaruhi di mana kelak seseorang bermuara, yaitu di surga atau di neraka.

Pertama, umat muslim harus menjadikan syariat Islam sebagai landasan dalam berpikir maupun bersikap. Dengan demikian, tampak jati dirinya sebagai seorang muslim, bukan sekadar mengaku muslim. Semua itu agar tidak mudah terseret arus, bisa membedakan mana aktivitas budaya yang boleh diikuti, mana yang wajib dihindari karena tidak selaras dengan syariat.

Kedua, umat muslim mesti belajar Islam secara kafah. Umat Islam tidak boleh hanya belajar pengetahuan Islam secara parsial, juga tidak belajar tentang fikih ibadah-ibadah mahdah saja.

Akan tetapi, umat muslim harus mengaji Islam sampai menyadari bahwa Islam tidak sekadar agama, tetapi juga sebuah ideologi yang di dalamnya juga ada budaya dan hukum-hukum yang harus diterapkan dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat maupun bernegara.

Yang demikian itu karena jika umat Islam meninggalkan ideologi Islam, maka akan dipaksa menjalankan ideologi asing dari orang-orang kafir. Perlu umat sadari juga, bahwa jika umat Islam bertakwa hingga menerapkan ideologinya, maka akan hidup bahagia dan sejahtera, serta selamat didunia dan akhirat. Namun, ketika umat Islam tidak peduli dengan ideologinya, maka umat seluruhnya akan mundur, dan jauh dari kata makmur. Allah Swt. berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

"Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (TQS. Al-A'raaf: 96)

Ketiga, umat Islam harus terus mengasah akalnya untuk bisa berpikir benar. Yang demikian itu karena tingginya arus globalisasi budaya, informasi, dan teknologi sekarang ini, sangat mempengaruhi sikap dan perilaku generasi saat ini.

Generasi termasuk anak-anak kecil, kini dengan mudah menerima informasi yang salah tentang budaya, atau kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang sejatinya melang dalam kebenaran.

Khatimah

Demikianlah, di balik euforia Merti Desa ada sekularisasi tersistematis yang dampaknya sangat destruktif. Sistem ini pun memanfaatkan masyarakat yang sangat permisif terhadap apa-apa yang datang, termasuk budaya yang sengaja diadakan.

Oleh karena itu umat muslim harus melakukan langkah-langkah syar'i sebagai benteng akidah. Yang harus umat sadari, bahwa budaya harus menyesuaikan syariat Islam, bukan sebaliknya.

Adapun persatuan umat Islam yang hakiki hanya bisa diikat oleh akidah, yaitu Lailahaillallah Muhammadar rasulullah. Meskipun berbeda desa, suku, bahasa, warna kulit, juga berbeda bangsa, tetapi tetap satu akidah Islam. Persatuan dengan aturan syariat Islam, bukan dengan budaya, nasionalisme, atau yang lain.

Selain itu, keselamatan umat hanya dengan mendekatkan diri pada Allah Swt., meneladani Rasulullah saw., dan menjalankan segala syariat-Nya, bukan dengan cara-cara atau ritual yang tidak ada dasarnya. Wallahualam bissawab. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor Narasiliterasi.id
Erdiya Indrarini Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
BBM, LPG Langka, Negara Abai Riayah
Next
Komersialisasi Hukum: Privilese di Balik Jeruji
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram