
Malikku ditolak oleh semua orang. Teman-teman di sekolah tidak ada yang mau dekat dengannya karena hampir semua anak pernah menjadi korbannya Malik.
Oleh. Wiwik Hayaali
(Kontributor Narasiliterasi.id)
Narasiliterasi.id-Tubuhku bergetar hebat. Rasa bangga menyeruak memenuhi rongga dada. Bibir ini terus menggumam syukur tak terhingga. Cairan bening pun ikut berlomba, mengalir tanpa permisi. Lihatlah! Anak yang sedang duduk di depan sana begitu lancar ujian tasmi' dua juz sekali duduk. Dua tahun yang lalu, anak itu masih menjadi gunjingan karena segala polahnya yang spesial.
Dahulu, setiap hari aku menerima laporan tentang hasil kreativitas anakku yang membuat orang lain terluka, marah, dan dirugikan.
“Bu, Malik memukul temannya sampai berdarah.”
“Malik membanting kursi dan meja, Bu. Teman-temannya ketakutan.”
“Bu, semen yang akan dipakai untuk membuat pagar dibuka dan diacak-acak Malik. Total ada lima belas karung semen.”
“Bu, tangan Azam bengkak gara-gara terjepit meja yang di dorong Malik.”
“Malik masih belum mau mengaji, Bu. Maunya main terus.”
“Bu, Malik belum mau belajar, dia masih semaunya sendiri.”
Malikku Ditolak Semua Orang
“Teman-teman di kelas tidak ada yang mau main sama Malik. Mereka bilang Malik nakal, takut main sama Malik.”
“Bu, mengaji dan hafalan Malik tertinggal jauh dari teman-temannya.”
Berbagai macam cara dan metode diupayakan untuk menangani Malik, akan tetapi belum juga ada hasilnya. Reward dan punishment yang bisa diterapkan ke anak-anak nyatanya tidak berlaku untuk Malik. Sebagai ibu saya juga belum bisa menemukan cara menangani Malik. Saya pun bingung harus melakukan apa lagi agar Malik menunjukkan sisi baiknya. Setiap merenung, saya selalu bertanya-tanya pada diri sendiri, dosa apa yang pernah saya lakukan hingga membuat Malikku seperti ini? Apa yang salah pada diri saya?
Laporan-laporan tidak enak itu masih saja kudengar. Mereka memberikan label pada Malik sebagai anak yang nakal, pengacau, bodoh, pengganggu. Ibu mana yang rela anaknya mendapatkan julukan seperti itu? Ibu mana yang tidak bersedih bila setiap harinya orang lain membawa kabar yang mengusik jiwa tentang anaknya? Siapa yang bisa tenang ketika semua orang di sekitarnya membenci anaknya? Meskipun begitu, Malik adalah anakku. Anak yang kusayangi segenap jiwa. Anak yang dahulu kunantikan kehadirannya. Dia yang setiap hari kusebut namanya dalam sujud panjangku.
Malikku ditolak oleh semua orang. Teman-teman di sekolah tidak ada yang mau dekat dengannya karena hampir semua anak pernah menjadi korbannya Malik. Malikku juga ditolak oleh para wali murid. Mereka menuntut sekolah agar mau mengeluarkan Malik karena tidak mau anak mereka jadi korban lagi. Allah. Anakku yang baru berusia sembilan tahun itu dibenci oleh semua orang, ibu mana yang tidak terluka?
Memperbaiki Diri
Setelah semalaman terjaga dan mengadu pada Sang Pemilik Hidup, paginya kuputuskan untuk menemui kepala sekolah.
“Ustaz, saya tahu anak saya banyak melakukan kesalahan. Bukan, bukan anak saya yang salah, tetapi sayalah yang belum bisa mendidiknya dengan baik. Tolong beri saya kesempatan, Ustaz. Tolong jangan keluarkan anak saya dari sekolah, Ustaz.”
“Ibu, Malik adalah anak kami juga di sini. Kami pun menyayangi dan ingin yang terbaik untuknya. Kami tidak bisa sendiri mendidiknya di sini, Bu.”
“Saya paham itu Ustaz, tetapi jujur saya bingung harus bagaimana lagi? Mungkin saya punya dosa yang sangat besar hingga anak saya seperti ini.”
“Saya didik anak saya penuh kasih sayang. Saya tegur bila dia melakukan kesalahan. Iya, anak saya aktif, Ustaz. Anak lain takut bermain dengan anak saya. Para orang tua juga ingin anak saya dikeluarkan dari sini. Akan tetapi, di mana lagi saya bisa menyekolahkan anak saya selain di sini. Tolong jangan keluarkan anak saya.”
“Ibu, bolehkah saya memberi saran?”
“Apa itu, Ustaz? Insyaallah akan saya lakukan.”
“Ibu, mintalah pada Allah. Doa seorang ibu untuk anaknya tidak akan tertolak. Berikan rida ibu untuk Malik, insyaallah, Allah pun akan rida pada Malik. Rutinlah datang ke sekolah untuk mengikuti kegiatan parenting dan kelas mengaji orang tua. Mari kita berjuang sama-sama, Bu!”
Setelah pertemuan dengan kepala sekolah hari itu, banyak hal pada diri saya berubah. Saya ingin anak saya berubah makin baik, bahagia dan nyaman belajar di kelas, mau ikut mengaji dan hafalan. Saya ingin Malik bisa bermain dengan teman-temannya dengan kondusif. Semoga label buruk pada diri anak saya berubah menjadi kata-kata positif.
Baca: dalam-kubangan-cahaya-temaram/
Doa-doa untuk Malikku
Sejak pertemuan itu saya benar-benar berserah diri pada Allah. Salat malam tidak pernah saya tinggalkan. Setelah qobliyah subuh saya baca surah Al-Fatihah empat puluh satu kali, kemudian saya kirim doa khusus untuk Malik. Selepas salat subuh saya baca surah Al-fatihah lagi sebanyak seratus kali, lalu berdoa khusus untuk Malik. Ketika selesai salat fardu, saya juga kirimkan Al-Fatihah khusus untuk Malik. Setiap hari saya lantunkan selawat Jibril minimal sepuluh ribu kali. Zikir itu terus saya lakukan (Al-Ahzab ayat 41) yang artinya: “Hai orang-orang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.”
Allah juga berfirman dalam Al-Qur’an surah Ghafir ayat 60, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.”
Alhamdulillah, sekitar enam bulan saya konsisten meminta pada Allah, atas izin Allah, Malik menunjukkan perubahan. Malikku menjadi sosok ceria yang nyaman belajar di kelas. Malikku tidak mengganggu dan menyakiti temannya lagi. Awalnya, teman-teman Malik dan para orang tua tidak percaya pada perubahan Malik. Bahkan ada teman Malik yang sengaja mengganggu dan memukulnya, tetapi Malik tidak marah ataupun membalas, dia hanya diam. Bahkan pengajar di kelas pun takjub dengan perubahan Malik yang pesat.
Enam bulan berlalu, Malik khataman untuk pertama kalinya. Saya merasa menjadi ibu yang paling bahagia saat itu. Saya buatkan makanan sederhana, lalu saya bagikan ke teman-teman di sekolah. Semua orang ikut bahagia dengan pencapaian Malik. Hari ini, Malikku berhasil tasmi’ Al-Qur’an dua juz sekali duduk. Allah, Engkau Maha Baik. Begitu banyak kejutan dan nikmat yang Kau berikan untuk kami.[]
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Betul, bu. Allah menolong di saat kita sudah benar-benar pasrah untuk menyadarkan bahwa manusia itu lemah.
MaasyaAllah
Perjuangan doa ibu menembus langit.
Naskahnya keren
Barakallahu fiik Bu
Iya benar, Allah mengabulkan doa setiap hamba-Nya
Ibu yg luar biasa. Menyerahkan urusan hanya kepada Allah dan berujung kabar gembira dg keberhasilan sang anak.
[…] Baca: malikku-tersayang/ […]