Refleksi Bencana dan Sistem Hidup

Refleksi bencana dan sistem hidup

Jika terjadi kerusakan alam akibat alih fungsi lahan, pertambangan ataupun lainnya, negara seolah tutup mata dan memandang ini semua hanya salah satu resiko pembangunan.

Oleh. Riska Kencana
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia.... " (QS. Ar Rum: 41)

Menjelang akhir tahun, berita mengenai bencana alam menjadi salah satu topik terpopuler. Mulai dari angin kencang, banjir bandang, hingga tanah longsor. Seolah menjadi agenda tahunan yang tak kunjung selesai. Parahnya lagi makin tahun area bencana makin tak terprediksi. Sebagaimana bencana yang terjadi akhir-akhir ini di sebagian wilayah Sumatra. Banjir bandang dahsyat yang melumpuhkan segalanya.

Bukan sekadar takdir, sebagaimana yang Allah telah firmankan di dalam Al-Qur'an bahwa kerusakan di muka bumi ini pasti karena ulah tangan manusia. Pemanasan global yang menyebabkan iklim tak menentu, alih fungsi hutan untuk perkebunan, industri dan pemukiman, hingga emisi gas karbon yang semakin besar.

Manusia Serakah Bertemu Sistem Kapitalisme

Salah satu paradigma kapitalisme adalah pandangan mereka terhadap kepemilikan. Individu atau korporasi bolah memiliki apa saja selama mereka memiliki modal, termasuk memiliki segala jenis sumber daya alam.

Para kapitalis ini juga memandang sumber daya alam sebagai komoditas dagang, bukan sebagai sebuah amanah. Layaknya barang dagangan, mereka berusaha untuk mencari keuntungan maksimal, tidak peduli apakah itu akan merusak ekosistem ataupun mengancam kehidupan makhluk hidup lain. Karena orientasi utama mereka adalah laba, bukan kemaslahatan umat.

Negara dengan sistem kapitalis hanya berperan meregulasi para investor. Investor/pemodal dianggap sebagai penggerak roda perekonomian, maka wajar jika banyak perijinan dilonggarkan. Jika terjadi kerusakan alam akibat alih fungsi lahan, pertambangan ataupun lainnya, negara seolah tutup mata dan memandang ini semua hanya salah satu resiko pembangunan.

Dan ketika manusia serakah bertemu dengan sistem kapitalis, kerusakan alam hanya tinggal menunggu waktu saja. Kasus terbaru terkait bencana banjir bandang di wilayah Sumatra, menurut pengamat lingkungan hidup, hutan di sana sudah dalam tahap krisis. DAS pun rusak.

Sebelumnya hutan di sana mampu menahan air hujan karena struktur daun dan akar yang heterogen. Sekarang hutan heterogen ini berganti dengan perkebunan sawit yang homogen, hingga tak lagi mampu untuk menahan air hujan.

Atas nama pembangunan dan ekonomi, negara memberi ijin hutan "nganggur" beralih fungsi menjadi sumber cuan baru. Keuntungannya untuk siapa? Sebagian besar untuk pengusaha, sebagian kecilnya untuk negara dan tak lupa kantong-kantong pejabat korup. Sungguh keuntungan ini tak seberapa dibanding dengan kerusakan yang dibuatnya.

Baca juga: Relevansi Islam dalam Mitigasi Bencana

Islam Mengatur Kepemilikan

Islam sebagai agama yang sempurna memiliki aturan terkait dengan kepemilikan. Ada tiga jenis kepemilikan, kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara.

Yang termasuk kepemilikan individu adalah apa saja yang diusahakan baik dari jual beli, hibah, waris, kerja dan hal-hal yang diperbolehkan syariat untuk dimiliki.

Kepemilikan umum adalah kepemilikan umat yang dikelola oleh negara. Tidak boleh negara mengeksploitasi untuk kepentingan pribadi atau memberikan ijin kepemilikan kepada swasta. Dalilnya adalah riwayat Abu Dawud, "Manusia berserikat dalam tiga perkara: air, api, dan padang rumput."

Maknanya kepemilikan umum ini meliputi sumber daya alam yang vital dan jumlahnya melimpah seperti laut, tambang, hutan, dan sejenisnya. Kepemilikan semacam ini haram untuk dimiliki individu atau kelompok.

Terakhir, kepemilikan negara. Kepemilikan negara berkaitan dengan harta yang diterima negara dari jizyah, ghanimah, fa'i, harta tanpa waris, kharaj dan sejenisnya yang dikelola baitulmal.

Mekanisme Alih Fungsi Hutan dalam Islam

Dengan meningkatnya populasi manusia, kebutuhan akan pemukiman pun semakin bertambah. Tak hanya pemukiman, permintaan akan pangan dan bahan bakar pun semakin besar. Ini yang menjadi alasan klise para kapitalis melegalkan alih fungsi hutan.

Memang benar, dengan bertambahnya populasi manusia, kebutuhan primer dan sekunder pun akan naik. Namun, dalam Islam pemenuhan kebutuhan ini akan diatur agar tidak ada kezaliman di dalamnya. Baik itu menzalimi sesama maupun makhluk hidup lainnya.

Pertama, negara dengan tegas akan menolak segala jenis privatisasi kepemilikan umum. Sehingga padang rumput, api dan air (SDA) tidak bisa diprivatisasi dan diperjualbelikan.

Kedua, negara akan menarik tanah yang tidak digunakan selama 3 tahun. Rakyat akan ditanya apakah mau digarap atau tidak. Negara akan mengembalikan tanah yang mereka sanggup tanami, yang tidak sanggup akan dikembalikan ke negara dan diberikan kepada orang lain yang membutuhkan.

Ketiga, jika negara membutuhkan perkebunan sawit, kopi dan sejenisnya, maka negara tidak boleh membuka hutan sembarangan. Namun negara akan mencari wilayah yang cocok ditanami dan tidak menimbulkan madarat bagi masyarakat sekitar maupun hewan di dalamnya.

Keempat, negara akan melakukan kajian terhadap tanah, resapan air, tata ruang kota dan lainnya ketika akan membangun pemukiman. Jika tanah tersebut subur, maka negara akan melarang masyarakat membangun pemukiman padat di sana.

Tanah subur peruntukannya untuk pertanian. Sebaliknya, tanah yang kurang subur peruntukannya untuk pemukiman, industri, fasilitas umum, infrastruktur. Dengan kata lain, negara akan mengkaji dengan seksama sebelum melakukan pembangunan.

Karena kasus banjir yang sering terjadi di pemukiman padat penduduk adalah akibat dari tidak adanya tata ruang yang baik dan benar. Masyarakat bahkan negara membangun bangunan dan jalanan tanpa memikirkan aliran air akan dialihkan ke mana.

Khatimah

Demikianlah Islam mengatur urusan alih lahan. Karena dalam sistem islam, kekuasaan adalan amanah yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya. Maka, para pemimpin negara akan berusaha untuk mengatur urusan umat dengan sebaik-baiknya karena takut kepada Allah. Tidak menyusahkan rakyatnya, tidak memperkaya diri sendiri, tidak pula menimbulkan kerusakan bagi makhluk lainnya.

Pada akhirnya, hanya Islamlah sebagai agama yang sempurna yang mampu menjadi solusi atas problematika umat saat ini. Wallahu'alam.

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Riska Kencana Kontributor NarasiLiterasi.Id
Previous
Game Online Kekerasan dalam Jerat Kapitalisme Digital
Next
Taat Tanpa Tapi, Tanpa Nanti
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga: Refleksi Bencana dan Sistem Hidup […]

bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram