Sritex Riwayatmu Kini

Sritex riwayatmu kini

Sritex kewalahan membayar utang plus bunganya. Kondisinya pun semakin tak tertolong kala produk impor membanjiri pasar negeri dengan harga yang jauh lebih murah.

Oleh. Ummu Rahmat
(Kontributor Narasiliterasi.Id)

NarasiLiterasi.Id-Tak ada yang selamat. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana nasib perusahaan atau pabrik besar di tanah air. Sebagaimana yang dialami PT Sri Rezeki Isman (Sritex) belum lama ini. Pabrik yang berdiri di atas tanah 70 hektar itu harus gulung tikar dan merumahkan seluruh karyawannya yang sudah bekerja bertahun-tahun lamanya. Perusahaan yang hasil karyanya sudah mendunia itu harus mengakhiri karir dan dedikasinya. Mengapa bisa terjadi?

Terjerat Utang

Sritex tutup, itu cukup membuat publik bingung. Kok bisa! Mengingat Sritex bukanlah perusahaan ecek-ecek yang mensuplai produk rumahan, misalnya. Akan tetapi, Sritex yang gulung tikar itu adalah sebuah perusahaan besar yang karyawannya mencapai puluhan ribu. Dan karyanya melalang buana hingga ke mancanegara. Penulis pribadi baru tahu jika seragam tentara NATO itu dibuatnya di Indonesia dan itu bertempat di PT Sri Rezeki Isman (Sritex). Ini berarti bahwa, hasil tangan para karyawan Sritex telah diakui oleh dunia.

Di samping itu, Sritex merupakan perusahaan tekstil real pribumi yang sejak tahun 1958 berkhidmat untuk negeri. Memberi devisa dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Lalu, kenapa sampai bisa colaps? Bukankah Sritex ini aset penting negara yang harusnya dijaga dan dirawat baik-baik. Sungguh, negara ini sudah membiarkan aset pentingnya raib. Belum lagi ketika kita berbicara lebih jauh, ke mana para pekerja yang di PHK ini mencari lapangan pekerjaan baru? Tidakkah ini makin menambah panjang problem pengangguran di negeri ini?

Tentu akan menambah isu pengangguran di tanah air. Namun, apalah hendak dikata. Nasi sudah jadi bubur. Sritex sudah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri Niaga Kota Semarang akibat outstanding kredit sebesar Rp14,64 triliun. Di mana Rp14,42 triliun utang ke 27 bank dan Rp220 miliar utang ke perusahaan pembiayaan. (bbc.com, 26-12-2024).

Banjir Produk Impor

Sungguh, ini bukan nominal yang kecil. Sritex yang berdiri di atas kaki sendiri itu kewalahan membayar utang plus bunganya. Kondisinya pun semakin tak tertolong kala produk impor membanjiri pasar negeri dengan harga yang jauh lebih murah. Ini menjadi pukulan tersendiri bagi Sritex. Diketahui bahwa akibat tingginya utang ini, Sritex ternyata sudah mulai merumahkan karyawannya sejak bulan Oktober lalu. Ibarat, orang yang sudah tenggelam. Sritex masih berusaha agar bisa muncul kembali ke permukaan. Namun sayang, namanya utang yang sudah berbunga tak akan pernah bisa menyelamatkan sang tuan. Ujung dari riba adalah kehancuran. Maka, tepat 1 maret 2025 lalu, perusahaan yang sudah bekerja setengah abad itu resmi merumahkan 10.000 karyawannya. Dan menutup pabrik untuk selama-lamanya (cncbindonesia.com, 2-3-2025).

Ya, apalah daya sebuah pabrik bila tak hadirnya peran negara di dalamnya. Mungkin tak bisa membantu dalam ranah biaya. Namun, negaralah yang punya kewenangan untuk menciptakan iklim pasar yang sehat agar produk dalam negeri tetap berjaya di pasar lokal. Bukan malah membuka kran impor dengan membebaskan produk asing masuk dan mewarnai pasar pribumi. Sehingga pada akhirnya membunuh pabrik dalam negeri sendiri. Bila kondisi ini tak segera diperbaiki, tak hanya PT Sri Rezeki Isman (Sritex) pabrik lain pun akan menyusul jejak sang perusahaan besar ini untuk mendulang nasib yang sama.

Buah Tata Kelola Sistem Kapitalisme

Negara sejatinya harus menjadi pelaku utama dalam upaya pemenuhan hajat hidup warga negaranya. Termaksud dalam ranah pengelolaan potensi dan sumber daya negaranya. Sumber dari keserampangan kebijakan itu adalah akibat dari konsep liberalisasi ekonomi yang memosisikan negara hanya sebagai regulator yang sibuk menyiapkan jalan bagi para kapitalis untuk berburu kesempatan dalam mengelola potensi dan sumber daya suatu negara.

Alhasil, negara jadi tidak berdaya. Mereka disetir oleh para pemilik modal bahkan aset penting negaranya tak bisa diselamatkan saking tidak adanya power dalam genggamannya. Inilah chaos-nya tata ekonomi sebuah negara dalam cengkraman sistem sekuler kapitalisme. Negara dijauhkan dari urusan hajat hidup warganya. Pintu investor dibuka lebar. Mereka bebas berkarya sesuka hati. Di tangan para investor inilah hajat hidup publik dipertaruhkan. Padahal, para kapitalis tak punya mental meriayah dan mengayomi rakyat. Mereka hanya sibuk mengejar laba sebagai tujuan utamanya.

Belum lagi ketika praktik ribawi dalam sistim ekonomi kapitalisme ini dihalalkan. Sungguh, ini semakin menjauhkannya nilai keberkahan dari setiap usaha. Padahal Allah Swt. sudah mengingatkan bahwa tak ada keberuntungan dalam transaksi ribawi yang ada justru kehancuran. Sebagaimana yang tergambar dalam Surat Al-Baqarah ayat 275 bahwa mereka yang mengambil dan memakan riba tak akan bisa berdiri layaknya manusia yang berdiri tegak. Namun, mereka akan berdiri seperti orang yang tengah kemasukan setan. Ayat ini mengingat kita bahwa kehancuranlah yang menanti tatkala praktik ribawi telah dinormalisasi. Begitulah yang terjadi dalam sistem sekuler kapitalisme seperti saat ini.

Baca juga: PHK Sritex Korban Negara Salah Arah

Khatimah

Sebagai seorang muslim, Allah Swt. telah turunkan seperangkat aturan sebagai pedoman umat manusia agar selamat di dunia dan juga akhirat. Itulah dia Al-Qur'an. Sebetulnya, tak ada satupun dalam hidup ini yang dilewatkan di dalam Islam. Semua sisi dalam kehidupan diatur olehnya. Termaksud tata kelola sebuah pabrik atau perusahaan. Berkaitan dengan hal itu, maka negara di dalam Islam tampil sebagai pelaku utama dalam upaya pemenuhan hajat hidup publik.

Apalagi dalam urusan keberadaan suatu pabrik atau perusahaan. Negara Islam akan memosisikan dirinya agar punya nilai tawar di depan bangsa-bangsa lain di dunia agar ia tak dipandang sebelah mata tentunya. Karena ia mempunyai misi untuk menyebarkan dakwah dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Negara akan memiliki pabrik yang memasok seluruh kebutuhan rumah tangga negerinya sehingga ia tak menggantungkan hidupnya pada negara lain. Baik itu pabrik amunisi, tekstil, farmasi, makanan, dan lain sebagainya.

Negara yang mandiri ini tidak mudah dikendalikan oleh bangsa lain di dunia. Bahkan ia menjadi pemasok untuk dunia. Ya, sebab Islam memiliki misi menjadi mercusuar peradaban maka ia harus digdaya dalam segalah hal. Maka tentu ia tak akan berlepas tangan dalam melakukan periayahan pada umatnya. Apalagi membiarkan asing mengelola potensi negaranya. Sungguh, ini tak akan pernah terjadi saat aturan Islam diterapkan dalam sebuah negara. Wallahualam bissawab. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Logo NaLi website-
Ummu Rahmat Kontributor Narasiliterasi.Id
Previous
PHK Sritex Korban Negara Salah Arah
Next
Siklon Alfred Menghantam Australia
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram