
Berapa banyak bencana di negara kita. Namun, tak membuat negara takut kehilangan nyawa rakyatnya. Justru mereka lebih takut kehilangan harta, jabatan, dan kerjasama politik bersama oligarki.
Oleh. Ermawati
(Kontributor NarasiLiterasi.Id)
NarasiLiterasi.Id-Apakah negara tidak siap dalam menghadapi becanda alam, sehingga menyebabkan kematian para korban gempa. Sedangkan yang selamat justru harus kehilangan nyawa di tempat pengungsian.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan klarifikasi atas pernyataan 94 korban gempa Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal di pengungsian. Pernyataan itu dinilai bukan berarti para korban tersebut meninggal dunia karena tidak mendapatkan penanganan pascagempa berkekuatan M 7,7 pada Sabtu (newsrepublika.co.id, 15-8-2026).
Sungguh miris apa yang telah menimpa 94 korban bencana gempa bumi Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) mereka selamat dari bencana gempa bumi. Namun, mereka tidak selamat di tempat pengungsian. Berharap dapat bantuan justru mereka harus kehilangan nyawa karena lambannya negara dalam memberikan bantuan yang dibutuhkan seperti logistik, obat-obatan, dan pakaian. Seharusnya kejadian seperti ini tidak akan terjadi jika negara benar-benar menghargai sebuah nyawa. Negara harus memikirkan dengan serius kondisi rakyatnya serta memberikan bantuan secara cepat dan tepat sasaran pada korban bencana alam.
Tanggung Jawab Negara Terhadap Korban Bencana
Negara harus meriayah dengan baik sebagai bentuk tanggung jawab kepada rakyat. Negara wajib bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan rakyat, memberikan bantuan baik berupa makanan, obat-obatan serta prasarana lain yang dibutuhkan. Selain itu dibutuhkan pula bantuan di tempat pengungsian seperti menyediakan alat-alat berat yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah di lapangan. Misalnya, mengangkat pohon-pohon tumbang yang menghalangi jalan sehingga mempersulit tim dalam mengevakuasi korban bencana alam. Selain itu alat-alat berat ini dibutuhkan untuk mengangkat batu-batu besar yang terbawa arus dan membersihkan jalan dari lumpur. Lumpur-lumpur ini memperlambat jalannya akses bantuan karena jalan menjadi licin. Alat berat juga dibutuhkan untuk menyambung jembatan yang rusak karena bencana.
Negara juga harus dapat menyediakan tempat pengungsian yang layak bagi korban bencana sehingga mereka merasa diperhatikan dan dipedulikan oleh negara. Bencana gempa bumi bukanlah yang pertama kali terjadi di negara serta banyaknya korban yang selamat dari bencana yang kemudian mati di tempat pengungsian menjadi peringatan serius.
Hal ini seakan-akan menunjukkan bahwa negara lepas tangan dengan masalah yang dihadapi oleh rakyat. Negara tidak memikirkan berapa banyak nyawa yang hilang akibat lambannya negara dalam mengulurkan bantuan. Negara harus bisa belajar dari bencana alam sebelumnya dan menjadi pelindung bagi rakyatnya jangan sampai negara dekat dengan rakyat pada saat ada maunya.
Kapitalisme Meniscayakannya Abainya Negara
Demi kemaslahatan dan kesejahteraan rakyat maka keselamatan hidup rakyat harus menjadi hal paling penting bagi negara bukan hanya sekadar pencitraan di depan kamera saja. Sudah semakin terlihat jelas rusak dan bobroknya negara dalam sistem kapitalis menganggap rendah sebuah nyawa manusia, tak peduli rakyatnya hidup atau mati padahal bencana alam ini ada juga akibat ulah mereka. Negara harus tegas dan adil dalam menyelesaikan masalah dan tidak mempersulit hidup rakyat.
Sistem kapitalis adalah hukum yang memisahkan agama dari kehidupan, hukum buatan manusia. Namun, sayangnya mengapa masih saja banyak orang yang percaya dan menggunakan sampai saat ini. Padahal sistem kapitalis hanya membawa kerusakan di semua aspek kehidupan.
Sistem kapitalis banyak melahirkan pemimpin yang tamak yang rela menukar nyawa rakyat demi kepentingan pribadi. Berapa banyak bencana di negara kita. Namun, tak membuat negara takut kehilangan nyawa rakyatnya. Justru mereka lebih takut kehilangan harta, jabatan, dan kerjasama politik bersama oligarki. Mereka berkerja bukan demi rakyat tetapi untuk tujuan dan kepentingan pribadi.
Baca juga: Refleksi Bencana dan Sistem Hidup
Bencana dalam Paradigma Islam
Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada Abu Dzar ra.:
إِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا
Sesungguhnya jabatan itu adalah amanah. Sesungguhnya pada Hari Kiamat ia merupakan kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambil amanah itu dengan haq dan menunaikan kewajiban yang ada padanya. (HR Muslim).l
Dalam sistem IsIam sumber daya alam itu tidak hanya mencukupi untuk semua kebutuhan rakyat saja tetapi negara telah membuat dan membagi ke pos-pos sesuai kebutuhannya dan diatur sedemikian rapi sehingga tidak tercampur. Jadi bila sewaktu-waktu ada bencana alam negara sudah siap siaga untuk memberikan pertolongan dan dapat langsung ditangani dengan cepat dan tepat sasaran langsung pada korban bencana. Perlengkapan medis sudah disediakan. Negara benar-benar hadir demi keselamatan rakyat karena setiap jiwa begitu beharga dan uluran tangan negara begitu berarti untuk rakyat.
Kemaslahatan dan kesejahteraan hidup semua umat manusia dapat terwujud hanya dengan menjalankan dan menegakkan kembali hukum Islam di dalam kehidupan sehari-hari hidup damai di bawah naungan Khilafah. Pemimpin adalah rain, maka satu nyawa sangat berharga. Tidak ada yang lebih sempurna dan adil selain aturan Allah Swt. Seandainya aturan-aturan Allah Swt. diterapkan dalam sistem Khilafah yang dijalankan oleh para pemimpin dan aparatnya yang bertakwa, niscaya harta, kehormatan, dan jiwa manusia akan terpelihara. Wallahualam bissawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

















