
Dengan penerapan sistem Islam, pengelolaan energi (BBM) tidak hanya berorientasi pada stabilitas jangka pendek, tetapi juga pada kedaulatan dan kesejahteraan umat secara berkelanjutan.
Oleh. A. Mutoharo, S.M
(Kontributor NarasiLiterasi.Id)
NarasiLiterasi.Id-Gejolak global kembali berdampak pada sektor energi nasional. Gangguan distribusi minyak dunia, khususnya di Selat Hormuz, memicu lonjakan harga BBM nonsubsidi di dalam negeri. Di sisi lain, pemerintah memastikan bahwa BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan harga. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan situasi yang tidak sepenuhnya stabil.
Di berbagai daerah, masyarakat harus menghadapi antrean panjang hingga berjam-jam demi mendapatkan BBM. Bahkan, tidak sedikit yang terpaksa membeli BBM secara eceran dengan harga tinggi. Situasi ini diperparah oleh terganggunya distribusi akibat kapal tanker milik Pertamina yang masih tertahan di jalur strategis global. (Kompas.id, 2026)
Dalam merespons kondisi tersebut, pemerintah mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menambal subsidi BBM agar harga tetap terjangkau. Namun, kebijakan ini bukan tanpa batas. Ketika harga minyak dunia terus meningkat, kemampuan APBN untuk menopang subsidi diperkirakan hanya mampu bertahan dalam waktu terbatas, bahkan hanya beberapa minggu. (Sumber: Setkab.go.id, 2026)
Selain itu, pemerintah juga mulai melakukan langkah-langkah penghematan, seperti penerapan work from home (WFH), pembatasan pembelian BBM untuk kendaraan roda empat, serta pengurangan aktivitas tertentu. Kebijakan ini menjadi indikasi bahwa tekanan terhadap sektor energi nasional semakin nyata. (Sumber: Antara News, 2026)
Ketergantungan Pasokan BBM
Kondisi ini menempatkan pemerintah dalam posisi dilematis. Jika harga BBM dinaikkan, maka inflasi berpotensi meningkat dan memicu gejolak sosial. Bahkan, dalam kondisi saat ini saja, ketika harga BBM bersubsidi belum naik, antrean panjang sudah terjadi di berbagai daerah. Namun, jika harga tetap dipertahankan, maka beban subsidi akan semakin membebani APBN dan berisiko memperlebar defisit anggaran negara.
Lebih jauh, situasi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih berada dalam posisi rentan sebagai negara net importir minyak. Ketergantungan pada pasokan BBM dari luar negeri membuat stabilitas energi dalam negeri sangat dipengaruhi oleh dinamika global.
Ketika terjadi gangguan distribusi atau kenaikan harga di pasar internasional, dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat. Akibatnya, gonjang-ganjing harga minyak tidak hanya menyulitkan masyarakat dalam mendapatkan BBM, tetapi juga mempersempit akses terhadap harga yang terjangkau. Dalam jangka yang lebih luas, kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
Situasi ini menjadi gambaran nyata dari sebuah negeri yang masih bergantung pada impor komoditas strategis. Ketika ketergantungan tersebut tidak diselesaikan, maka gejolak global akan terus berulang dan mengguncang stabilitas ekonomi maupun politik dalam negeri.
Baca juga: Gejolak BBM di Tengah Perseteruan Global
Kemandirian dalam Islam
Dalam perspektif Islam, kemandirian energi merupakan sesuatu yang niscaya dan dapat diwujudkan. Hal ini akan tercapai ketika negeri-negeri muslim terintegrasi dalam satu kepemimpinan, yakni Khilafah. Dengan sistem ini, sumber daya minyak yang melimpah di kawasan Timur Tengah, termasuk di negara seperti Iran, dapat didistribusikan secara merata ke seluruh wilayah. Dengan kemandirian tersebut, negara tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar, sehingga mampu berdiri sebagai negara yang independen, bahkan berpotensi menjadi kekuatan adidaya. Stabilitas ekonomi dan politik pun tidak mudah terguncang oleh sentimen global.
Di sisi lain, Islam juga mengatur penggunaan energi secara bertanggung jawab. Pemanfaatan BBM dilakukan sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan, tanpa mengorbankan pelayanan publik maupun kewajiban negara. Selain itu, negara juga tetap mengembangkan sumber energi alternatif, seperti energi nuklir dan sumber lainnya, guna memastikan keberlanjutan pasokan energi.
Karena itu, gonjang-ganjing BBM yang terjadi saat ini bukan sekadar persoalan kenaikan harga atau antrean panjang. Ini adalah cerminan dari rapuhnya sistem energi yang masih bergantung pada pihak luar. Selama ketergantungan ini tidak diatasi, maka krisis serupa akan terus berulang.
Khatimah
Solusi mendasar terletak pada perubahan sistem yang mampu mewujudkan kemandirian energi secara menyeluruh. Dengan penerapan sistem Islam, pengelolaan energi (BBM) tidak hanya berorientasi pada stabilitas jangka pendek, tetapi juga pada kedaulatan dan kesejahteraan umat secara berkelanjutan.
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com
















