Palestina Masih Terjajah

Palestina masih terjajah

Umat harus meyakini bahwa tidak ada solusi yang akan menyelamatkan Palestina dari penderitaan, kecuali dengan adanya Khilafah.

Oleh. Ummu Aidzul
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-Palestina sempat dikabarkan telah merdeka. Amerika menjanjikan gencatan senjata dengan syarat Hamas melepaskan tahanan Israel. Namun faktanya kini kita telah berganti tahun, janji perdamaian itu tak pernah kunjung jadi nyata.

Israel Melanggar Perjanjian Gencatan Senjata

Kantor Media Pemerintah (GMO) melaporkan kecurangan yang dilakukan Israel terhadap perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza sebanyak 969 kali. Gencatan senjata yang seharusnya berlaku sejak 10 Oktober 2025, namun tercatat sebanyak 418 orang tewas dan 1.141 orang terluka akibat serangan pasukan Israel.

Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan militer zionis yakni berupa penembakan langsung terhadap warga sipil, serangan militer ke wilayah pemukiman, pengeboman rumah, penghancuran skala besar, dan penangkapan ilegal. Selain itu, dari sebanyak 48.000 truk bantuan yang sedang mengantri hanya 19.764 truk yang bisa masuk. Truk pengangkut bahan bakar hanya masuk sebanyak 425 truk dari 4.000 truk yang sebenarnya tersedia. Kondisi ini menyebabkan fasilitas air, rumah sakit, dan toko roti hampir lumpuh.

Kondisi para pengungsi juga sangat memprihatinkan karena buruknya tempat tinggal. Israel tidak mengizinkan tenda serta rumah mobil masuk ke Gaza. Padahal tenda pengungsian sudah rusak akibat badai dan menewaskan warga serta anak-anak yang mati membeku.
(MinaNews.net)

Kesewenang-wenangan Israel makin terlihat dengan pelarangan 37 organisasi kemanusiaan internasional untuk bertempat dan beroperasi di Gaza. Alasannya adalah organisasi-organisasi ini mendukung akses kesehatan untuk pengungsi Gaza.

Mereka pun terus menguasai wilayah Palestina. Terlihat sebanyak 750 ribu orang pemukim di Yerusalem Timur dan Tepi Barat. Hal ini mempersulit evakuasi warga Palestina karena wilayah yang dikuasai oleh Israel.

Mereka secara terang-terangan melakukan pelanggaran gencatan senjata dengan terus melakukan pembunuhan, menghalangi bantuan, dan pengambil alihan lahan secara paksa.

Janji Palsu Perdamaian oleh Amerika

Langkah Israel mengusir paksa rakyat Palestina dan menguasai lahan akan terus dilakukan untuk mencegah berdirinya kembali negara Palestina. Walaupun dunia tidak mengakui mereka, tetapi tetap eksis untuk memperluas wilayah dan menjajah Palestina.

Tujuan dari negara tersebut adalah untuk mewujudkan cita-cita menguasai wilayah sepanjang sungai Nil (Mesir) hingga Eufrat (Suriah dan Irak). Selain itu, melalui dorongan sahabat karibnya negeri liberty. Mereka terus merangkul negara-negara di dunia agar mau bekerja sama salah satunya dari segi politik.

Mereka ingin menghapus opini penjajahan Israel terhadap Palestina. Mengaburkan fakta, agar dunia membiarkan kondisi seakan merekalah pihak yang benar. Bahkan membayar AI dan Chat GPT dengan nominal jutaan dolar untuk melancarkan propaganda. Secara ekonomi pun terus melakukan diplomasi agar diterima dan melakukan kerja sama. Selama Israel ada, Palestina akan tetap menderita.

Kesombongan Israel yang tidak memedulikan kecaman dari berbagai pihak atas kejahatannya kepada Palestina bersumber dari dukungan penuh Amerika. Dukungan senjata maupun materi diberikan. Bahkan selayaknya ibu, dia yang memfasilitasi pengesahan pembentukan negara zionis. Sehingga skenario solusi dua negara, gencatan senjata yang ditawarkan untuk Palestina tidak semata-mata dibuat untuk perdamaian. Melainkan skenario melanggengkan penjajahan mereka.

Karena dukungan negara adidaya pengusung kapitalisme itulah para pemimpin negara muslim berdiam diri dan hanya mengecam kebiadaban perilaku Zionis. Berbeda dengan rakyat di negara-negara muslim yang telah melakukan berbagai upaya untuk menolong Palestina. Melakukan boikot produk, mengumpulkan dana untuk sumbangan, mengecam, bahkan mengumpulkan massa hingga perbatasan Rafah. Namun, semua upaya itu masih nihil.

Baca juga: Jangan Biarkan Palestina Terlupakan

Persatuan Umat di Bawah Satu Komando

Penderitaan Palestina menimbulkan gelombang protes di berbagai tempat. Baik dari orang muslim maupun non muslim. Muncul gerakan boikot produk yang berafiliasi dengan Israel untuk. Tidak terhitung jumlah bantuan yang telah dikumpulkan dari berbagai negara, yang justru tertahan dan hanya sebagian kecil yang mampu memasuki perbatasan. Muncul gerakan Long March to Gaza yang diikuti oleh banyak negara. Namun justru berakhir dengan deportasi oleh pemerintah Mesir terhadap aktivisnya.

Pengkhianatan para pemimpin di negara muslim contohnya negara Mesir ini yang justru mengikuti arahan Israel untuk menutup pintu perbatasan. Puluhan ribu truk tertahan, lautan manusia yang ingin menyelamatkan rakyat Gaza justru di deportasi bahkan ditahan dan beberapa diperlakukan layaknya penjahat oleh otoritas setempat. Ini menunjukkan keberpihakan mereka terhadap musuh Palestina. Musuh umat Islam.

Yang perlu kita sadari bahwa yang terjadi di Palestina adalah sebuah peperangan. Peperangan yang tidak seimbang, di mana tentara Israel memiliki senjata yang lengkap, sementara rakyat Palestina tidak memiliki apapun kecuali pertolongan Allah.

Perang harus dilawan dengan perang juga. Musuh kita bukan hanya Zionis namun juga Amerika dan negara-negara sekutunya. Maka untuk melawan mereka dibutuhkan satu negara adidaya. Negara besar yang akan mengalahkan kezaliman Amerika. Dan negara itu adalah Khilafah. Sistem pemerintahan Islam yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Karena seorang khalifah adalah tameng.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw.
"Sesungguhnya al-imam (khalifah) adalah perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakang nya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan kekuasaannya."
(HR Bukhari dan Muslim)

Khatimah

Karena itu umat harus meyakini bahwa tidak ada solusi yang akan menyelamatkan Palestina dari penderitaan, kecuali dengan adanya Khilafah. Persatuan umat di seluruh dunia, di bawah komando khilafah ini yang akan mampu mengalahkan Amerika dan pendukungnya.

Kalau kita mengingat sejarah bahwa Palestina ditaklukkan dua kali. Penaklukan pertama di masa Khalifah Umar bin Khattab dari Romawi. Kemudian di masa Shalahuddin Al-Ayyubi dari umat Nasrani. TanahPalestina adalah tanah kharajiyah. Tanah yang diperoleh dari perjuangan umat Islam. Dan kewajiban seluruh umat Islam untuk menjaga nya agar tidak jatuh kepada penguasaan orang kafir.
Wallahualam bissawab. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Ummu Aidzul Kontributor Narasi literasi.Id
Previous
‎Rajab dan Isra Mikraj: Momentum Membentuk Kesadaran Umat‎
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram