
PHK massal telah mengakibatkan banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan sehingga mereka tidak memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Oleh : Ni’matul Afiah Umu Fatiya
(Kontributor Narasiliterasi.id)
Narasiliterasi.id-Maraknya PHK akhir-akhir ini cukup meresahkan masyarakat. Pasalnya hal ini terjadi menjelang Ramadan dan hari raya. Sudah menjadi tradisi, menjelang Ramadan dan hari raya harga-harga kebutuhan pokok akan melambung tinggi. Maka, adanya PHK akan berimbas kepada menurunnya daya beli masyarakat.
Kondisi ini menjadi sorotan masyarakat, bahkan media sosial belakangan ini ramai dengan tagar ‘kabur aja dulu’, ‘oke gas’, sampai yang terbaru ‘Indonesia gelap’. Semua itu menggambarkan situasi dan kondisi sosial Indonesia yang memang sedang tidak baik-baik saja.
Terbaru adalah terjadinya PHK secara massal di dua perusahaan besar di Jawa Barat, yakni PT Sanken Indonesia di Cikarang dan PT Danbi Internasional di Garut. Sebelumnya, pada Januari 2025 kemarin juga terjadi PHK besar-besaran karyawan PT Cingluh di Tangerang. Setidaknya, 5000 karyawan bahkan puluhan ribu kalau ditotal secara keseluruhan, harus kehilangan pekerjaan dan penghasilan menjelang Ramadan dan hari raya tahun ini.
PHK, Momok Menakutkan
PHK selalu menjadi momok yang menakutkan bagi para pekerja. Bagaimana tidak, dalam sistem kapitalis saat ini, mencari pekerjaan sangatlah sulit. Apalagi bagi mereka yang tidak memiliki skill khusus atau ijazah rendah, ditambah lagi masih banyaknya kasus KKN di negeri ini.
Baca juga: Pekerjaan Sulit, Jadi PMI Ilegal Pilihan Rumit
Hal itu seperti yang diungkapkan oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) Ristadi. Ia mengatakan kalau mereka (korban PHK) beruntung, bisa saja bekerja di tempat lain atau membuka usaha sendiri. Namun, bagi mereka yang tidak memiliki keahlian khusus atau terbentur usia, ujung-ujungnya paling banter jadi sopir ojol.
“Paling mereka jadi sopir ojol, seperti korban-korban PHK lain. Daftar kerja di tempat lain terkendala faktor usia,juga keahliannya beda,” ucapnya (CNBCIndonesia.com, 20-2-2025).
Maraknya PHK
Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan, sepanjang Januari—Desember 2024 angka PHK mencapai 80.000 orang. Sinyal PHK yang makin menguat belakangan ini merupakan salah satu dampak dari kebijakan efisiensi yang diterapkan Presiden Prabowo. Beberapa kementrian dan lembaga pemerintahan pusat dan daerah bahkan terpaksa harus mengakhiri kontrak dengan tenaga honorer.
Selain itu, ada beberapa faktor yang menyebabkan gelombang PHK ini terus menerpa, seperti perusahaan yang tutup atau pindah lokasi. Ada juga yang tutup karena pailit, seperti PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex. Selain itu, fenomena tutupnya pabrik-pabrik juga karena Prabowo menargetkan pertumbuhan ekonomi 8 persen.
PT Sanken misalnya, perusahaan hasil dari penanaman modal asing (PMA) ini akan tutup karena tingkat produksinya menurun. Pabrik ini memproduksi transformator (trafo), UPS (Uninteruptible Power Supply) dan power supply. Jadi berbeda dengan pabrik Sanken yang berada di wilayah Tangerang yang memproduksi berbagai peralatan rumah tangga elektronik, seperti kipas angin, mesin cuci, magic com, dll.
PHK, Sebuah keniscayaan
PHK massal telah mengakibatkan banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan sehingga mereka tidak memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal, mencari pekerjaan pada saat ini bukanlah hal yang mudah. Selain lapangan kerja yang sempit, juga banyaknya kriteria yang menyulitkan, bahkan kadang tidak masuk akal sampai seseorang bisa diterima dalam suatu pekerjaan, termasuk juga adanya batasan usia.
Memang saat ini sudah ada jaminan pemberian 60 persen gaji selama enam bulan melalui program jaminan kehilangan pekerjaan (JKP) dengan batas atas upah Rp5 juta. Namun hal itu tidak akan mampu menyelesaikan masalah. Ya, masyarakat butuh makan tidak hanya selama 6 bulan, bukan? Selain itu tidak semua yang terkena PHK bisa mendapatkan JKP tersebut karena ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi untuk bisa mendapatkan JKP itu.
Dalam sistem kapitalisme, pekerja atau buruh dianggap sebagai faktor produksi. Maka, ketika sebuah perusahaan mengalami pailit atau bangkrut, mereka tak segan untuk melakukan PHK terhadap karyawannya demi menyelamatkan perusahaan.
Islam Pengurus Rakyat
Islam sangat berbeda dengan sistem kapitalis yang menjadikan karyawan sebagai bagian dari faktor produksi. Dalam hal ini, Islam memandang karyawan adalah individu masyarakat yang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Mereka memiliki hak pelayanan dari negara dalam memenuhi hajat hidupnya. Maka, Islam menjadikan negara sebagai raa’in (yang mengurus urusan rakyat), termasuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya.
Khalifah bertanggung jawab atas kebutuhan pokok warga negaranya. Maka, khalifah harus memastikan bahwa semua warganya bisa mengakses kebutuhannya dengan mudah sehingga mereka hidup sejahtera. Semua itu dilakukan karena jabatan khalifah akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat.
Sistem ekonomi Islam mengatur masalah kepemilikan sehingga menghalangi adanya penguasaan atas harta milik umum oleh segelintir orang. Harta yang menjadi milik umum akan dikelola oleh negara. Harta tersebut tidak diserahkan kepada individu atau kelompok tertentu apalagi asing sehingga warga negara memiliki peluang untuk mendapatkan pekerjaan.
Negara dalam sistem Islam juga memiliki baitulmal atau kas negara yang memiliki pos pemasukan tetap dan tidak tetap. Sebaliknya, baitulmal juga memiliki pos pengeluaran tetap dan tidak tetap. Dengan mekanisme seperti ini, maka jika ada warga negara yang tidak memiliki pekerjaan atau penghasilan, negara akan memberikan solusi. Bisa berupa bantuan modal serta pendampingan sampai orang tersebut mampu mandiri.
Hal ini seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. ketika ada seorang sahabat yang meminta-minta di pasar. Rasulullah lalu menyuruh sahabat itu untuk menjual barang apa saja yang ia miliki. Kemudian Rasul pun menyuruhnya menjadikan uangnya digunakan untuk membeli kapak dan tali, sisanya untuk nafkah keluarganya. Sahabat tersebut mengikuti anjuran Rasulullah. Ia pergi ke hutan dan mencari kayu bakar kemudian menjualnya. Sejak saat itu ia tidak pernah lagi menjadi pengemis. Wallahualam bissawab.[]
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

[…] Baca juga: PHK Marak, Nasib Rakyat Kian Terkoyak […]
[…] Baca juga: PHK Marak, Nasib Rakyat Kian Terkoyak […]