
Maraknya pedagang kaki lima berbasis tepung menjadi sinyal kuat bahwa negara ini tidak mampu memberikan jaminan pekerjaan yang berkelanjutan serta kehidupan yang layak.
Oleh. Tari Ummu Hamzah
Kontributor NarasiLiterasi.Id
NarasiLiterasi.Id-Para pedagang kaki lima yang menjajakan cilok, gorengan, makaroni, seblak, menjadi bagian yang tak terpisahkan kehidupan kota. Mereka biasa mangkal di depan sekolah, perempatan, hingga menjajakan langsung ke pemukiman warga. Selama ini masyarakat mengira jika para abang-abang penjaja makanan kaki lima itu bukti ketangguhan ekonomi kita. Namun, di balik sikap tangguh itu tersimpan realitas yang jauh lebih kompleks.
Fenomena maraknya gerobak dagang pinggir jalan, mencerminkan banyak hal. Yaitu, pelarian atas kondisi pasca PHK. Mereka harus mencari cara agar dapur rumah mereka tetap mengebul. Maka mau tidak mau mereka beralih profesi menjadi pedagang.
Mereka masuk kategori pedagang yang muncul dengan basis demi bertahan hidup (survival mode). Bukan muncul karena memiliki intelektual dalam menciptakan inovasi, kreativitas, serta memandang peluang bisnis yang menjanjikan. (Tribunaceh6.com, 5-06-2026)
Mirisnya lagi, perputaran uang para pedagang kecil ini hanya di kalangan mereka saja. Karena, mereka adalah masyarakat yang berpenghasilan rendah. Mereka tidak mampu membeli kebutuhan di atas pemasukannya. Tempat yang pas untuk membelanjakan uang mereka ya sesama pedagang kecil. Siklus perekonomian seperti ini bisa sangat rentan. Karena jika satu saja rantai perputaran ekonomi ini terputus, maka efek dominonya sangat cepat.
Terjebak dalam Dilema
Saat harga-harga melambung tinggi, para pelaku usaha mikro terjebak dalam kondisi yang sulit. Mereka dihadapkan pada pilihan menaikkan harga jual atau mengurangi porsi dagang. Dua-duanya bukan hal yang mudah, sebab kekhawatiran pelanggan lari dan tipisnya margin keuntungan harus dirasakan bersamaan.
Kondisi ini menyebabkan mereka harus bekerja lebih keras dengan keuntungan yang makin kecil. Sementara biaya hidup terus meningkat. Sedangkan bahan baku tepung yang mereka harus bergantung dengan impor.
Di sisi lain mereka juga tak punya jalan keluar untuk mendapatkan pemasukan. Meskipun berpenghasilan rendah, ini adalah jalan untuk mereka bertahan hidup di tengah sulitnya ekonomi. Sudahlah daya beli menurun, mereka pun harus berdarah-darah menjajakan dagangan. Karena, setiap seratus meter dari tempat mereka mangkal, bisa jadi ada pedagang yang menjajakan makanan yang sama.
Lautan bisnis yang mereka geluti sudah sangat berdarah-darah tetapi, apalah daya. Cuma ini usaha mereka, karena mereka sudah tersingkir dari pasar kerja formal. Bahkan para fresh graduate pun yang harusnya mendapatkan pekerjaan sesuai keahliannya terpaksa turun ke jalan. Mereka menjajakan jajanan berbasis tepung, demi membantu keluarga dan menyambung hidup.
Sistem Ekonomi yang Rapuh
Maraknya pedagang mikro berbasis tepung mejadi sinyal kuat bahwa negara ini tidak mampu memberikan jaminan pekerjaan yang berkelanjutan serta kehidupan yang layak. Jaminan kestabilan ekonomi pun nihil. Yang ada masyarakat harus menelan pil pahit soal kenaikan harga disemua lini kebutuhan. Sehingga jika terjadi guncangan ekonomi, maka masyarakat ini rentan untuk terjun bebas dalam kondisi kemiskinan ekstrem.
Ini bukti bahwa sistem ekonomi kapitalis menciptakan kemiskinan struktural. Sistem ekonomi ini tidak didesign untuk berpihak pada rakyat kecil. Bahkan, keberadaan sistem ini dirancang untuk menggagalkan rakyat untuk naik kelas ekonominya. Baru saja ekonominya naik mereka harus pusing dikejar pajak, harga-harga makin naik, pendidikan mahal, dll. Mau tidak mau masyarakatnya harus mengalami stagnasi ekonomi.
Ditambah lagi kebijakan pemerintah lebih banyak berfokus pada proyek-proyek hilirisasi yang padat modal. Sementara, untuk industri padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja, pemerintah justru tidak tampak berminat untuk memberikan insentif yang memadai. Alhasil, penyerapan tenaga kerja sangat menurun. Mau tidak mau masyarakat harus memikirkan nasibnya sendiri.
Miris! Penguasa kita hanya sibuk dengan proyek-proyek strategis ala mereka. Sedangkan rakyat yang sejatinya ada di dalam pertanggungjawaban mereka, tidak diriayah dengan semestinya. Padahal sumber dari pengadaan proyek dan belanja negara itu berasal dari pajak rakyat. Namun, rakyat tidak diberikan jaminan rasa aman yang berkelanjutan.
Baca juga: Kapitalisme dan Kesenjangan Ekonomi
Solusi dalam Islam
Jika kapitalisme menciptakan kemiskinan yang struktural, maka Islam melakukan hal yang berkebalikan. Yaitu menciptakan kesejahteraan secara struktural. Karena kepemimpinan dalam Islam itu mengutamakan kebutuhan rakyat.
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Al-Syakhshiyah al-Islamiyah (Juz II) hlm.161, menjelaskan bahwa Allah Ta'ala memerintahkan penguasa untuk memperhatikan rakyat dengan nasihat, melarang menyentuh harta milik umum, dan wajib memerintah hanya dengan Islam. Allah Swt. mengharamkan surga bagi penguasa yang menipu rakyat dan abai terhadap mereka. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak seorang hamba pun yang diberi kekuasaan oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia tidak memperhatikan mereka dengan nasihat, kecuali ia tidak akan mencium bau surga.” (HR Bukhari).
Jika kapitalisme menempatkan rakyat sebagai alat peras, maka Islam menjadikan rakyat sebagai prioritas. Karena tugas utama dari pemimpin adalah mengurusi urusan rakyat. Menyediakan kesehatan, pendidikan, bahan pokok, dengan kualitas yang terbaik dan harga yang terjangkau. Negara juga wajib mengelola SDA secara mandiri, tidak bergantung kepada asing, agar hasil sumber daya alam bisa dinikmati oleh seluruh rakyat. Sehingga fasilitas umum seperti transportasi, energi, air dan ketersediaan lahan bisa didistribusikan secara merata.
Negara juga akan melakukan aktivitas ekonomi secara rill. Agar setiap investasi akan membuka lapangan pekerjaan sehingga memberi kesempatan bagi banyak orang untuk mendapatkan penghasilan demi memenuhi kebutuhan keluarga. Negara juga proaktif melakukan industrialisasi dengan misi menjadi negara besar yang terdepan dalam teknologi untuk menyokong kewajiban jihad. Akhirnya, terbukalah lapangan kerja dalam jumlah besar.
Seperti itulah gambaran jika diterapkan syariat Islam. Namun, gambaran ini harus kita wujudkan dengan langkah yang nyata. Yaitu dengan melepaskan ideologis kapitalisme secara kaffah, dan menerima ideologi Islam secara kaffah pula. Wallahualam bissawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

















