
Dalam sistem Islam, fenomena krisis murid tidak akan mungkin terjadi baik di sekolah negeri maupun swasta.
Oleh. Setyorini
(Kontributor Narasiliterasi.id & Komunitas Ibu Peduli Negeri)
NarasiLiterasi.Id-Sejumlah sekolah negeri di Indonesia dikabarkan mengalami krisis murid memasuki masa awal tahun ajaran baru 2026/2027.
Hal ini sebagaimana mana terjadi pada SDN 1 Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung yang hanya menerima dua murid saja. Begitu juga yang terjadi di SDN Purwoyoso 01, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Bahkan ada juga sekolah negeri yang tidak mendapatkan satu murid pun. Fenomena ini hampir merata di setiap daerah. (cnnindonesia.com, 15-07-2026)
Di antara sebab sedikitnya peserta didik baru di SDN adalah jumlah usia sekolah makin sedikit di wilayah sekitar sekolah berada. Hal ini terjadi karena ada beberapa alasan di antaranya pertumbuhan penduduk menurun dan urbanisasi.
Namun, penyebab utama yang sebenarnya adalah adanya pergeseran orientasi pendidikan masyarakat yang lebih memilih sekolah swasta. Orang tua cenderung memilih sekolah yang lebih banyak pendidikan agamanya. Sekolah seperti ini dipandang lebih baik terutama yang berbasis pesantren menjadi primadona baru bagi orang tua zaman sekarang.
Maraknya kasus pada anak didik, baik kerusakan moral hingga kenakalan remaja, memunculkan kekhawatiran tersendiri pada orang tua. Keselamatan anak menjadi pertimbangan dalam memilih sekolah.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah khususnya lembaga terkait akan melakukan uji ulang dalam berbagai kebijakan yang telah dijalankan selama ini. Misalnya, memperpanjang masa pendaftaran hingga regrouping beberapa sekolah negeri baik SD atau SMP. Meski hal ini juga akan memunculkan kesulitan baru yakni jarak sekolah yang harus ditempuh makin jauh.
Sumber Masalah
Perubahan struktur demografi yang menjadikan jumlah kelahiran menurun tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pemerintah sendiri. Kegagalan kebijakan ekonomi yang diterapkan membuat biaya hidup menjadi tinggi. Sehingga, untuk mendapatkan kesejahteraan teramat sulit bagi pasangan muda. Mereka lebih memilih menunda kehamilan atau membatasi jumlah anak (2 anak cukup) dengan melakukan KB.
Begitu pula fenomena urbanisasi sangat marak. Derasnya informasi yang tanpa batas tentang kemudahan mendapatkan penghasilan di kota menjadi iming-iming menjebak bagi sebagian rakyat desa. Kesenjangan dalam memperoleh pendapatan mendorong mereka nekat meninggalkan kampung halaman meskipun kadang tanpa bekal pendidikan dan skill yang memadai.
Sikap orang tua dengan lebih memilih sekolah swasta yang mengajarkan agama dalam porsi yang lebih banyak adalah bentuk tanggung jawab besar sebagai orang tua kepada anak-anaknya. Hal ini muncul karena kekhawatiran mereka atas kerusakan generasi saat ini. Generasi yang tidak lagi mengindahkan norma, kehidupan, apalagi agama.
Tindak kriminal di kalangan remaja, seperti tawuran, penganiayaan, bullying, pergaulan bebas, penggunaan narkoba dll. hampir setiap hari mereka dengar dan dapat disaksikan secara langsung atau tidak langsung terjadi di tengah kehidupan.
Tindak kriminal ini begitu banyak terjadi, baik di daerah pelosok desa hingga daerah perkotaan. Makin hari makin beragam aksinya, tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Seakan fakta kerusakan generasi ini tidak bisa dihentikan.
Strategi Pemerintah
Strategi pemerintah dengan perubahan kurikulum berulang pun telah dilakukan sebagai bentuk evaluasi kebijakan. Hampir di setiap ganti rezim dan menteri pendidikan selalu ada perubahan kurikulum. Namun perubahan terbukti tidak bisa membendung kerusakan yang ditimbulkan oleh kerusakan sistem sekuler.
Sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan di negeri ini sejatinya tak akan mampu memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya berupa kemudahan mendapatkan sandang, pangan, papan yang merupakan kebutuhan setiap individu. Tak hanya itu, dengan diterapkannya siatem ini, mereka juga kesulitan dalam mendapatkan jaminan pendidikan, kesehatan dan keamanan.
Pandangan Islam atas Pendidikan
Pendidikan dalam Islam diposisikan sebagai kebutuhan pokok setiap individu masyarakat tanpa adanya perbedaan baik kaya dan miskin, semua berhak mendapatkan jaminan dari negara.
Pendidikan merupakan pilar penting peradaban. Generasi yang berkualitas dan juga berkepribadian Islam menjadi tujuan utama pendidikan dalam Islam. Pendidikan yang akan menancapkan tujuan dari penciptaannya sebagai hamba yakni untuk beribadah kepada Allah Swt.
Untuk itu, sudah menjadi kewajiban dan juga tanggung jawab negara menjamin ketersediaan dan pemerataan pendidikan berkualitas dan juga gratis bagi seluruh rakyat.
Sistem pendidikan Islam dalam negara Khilafah menggunakan kurikulum berbasis akidah Islam. Kurikulum ini bertujuan untuk mewujudkan output pendidikan yang berkepribadian Islam artinya mereka mempunyai pola pikir dan pola sikap berlandaskan Islam semata dan bisa memproduksi para ahli yang andal dibidangnya masing-masing.
Pemimpin yang Amanah
Negara Islam dipimpin oleh seorang khalifah yang taat pada Allah Swt., serta mengikuti petunjuk rasulNya. Dalam melaksanakan amanah, ia memiliki wewenang dan bertanggungjawab penuh dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya.
Dalam kitab Nidzom al-Hukmi fil islam disebutkan bahwa terpilihnya seorang khalifah adalah untuk menerapkan Islam dan mengurusi segala urusan rakyatnya. Oleh karena itu, untuk mewujudkan hal tersebut khalifah diberi wewenang penuh untuk mengelola baitul mal. Baik pos pendapatan hingga pengeluaran negara.
Dengan kewenangan yang dimiliki ini, ia bisa menyediakan SDM pendidik yang berkualitas beserta gaji yang sepadan. Selain itu, ia akan memenuhi kebutuhan akan infrastruktur, sarana dan prasarana pendukung pendidikan berkualitas lainnya.
Sistem Ekonomi Islam
Sistem ekonomi Islam tidak mengenal kebebasan kepemilikan. Namun, membaginya menjadi tiga kepemilikan yaitu kepemilikan individu, umum, dan negara.
Dengan pembatasan yang jelas dalam memperoleh harta dan siapa pelaksananya. Sehingga harta tidak berputar-putar pada segelintir orang saja. Kesejahteraan akan dirasakan dan keadilan pun akan didapatkan.
Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran dalam Islam terutama tsaqofah Islam tidak dibatasi selama tidak mengarah pada pelanggaran hukum syarak. Hal ini karena syariat Islam bagian dari ilmu terapan. Sedangkan untuk Iptek dibutuhkan ilmu dan sarana penunjang karena sifatnya yang dinamis sehingga umat tidak akan tertinggal atau ketinggalan zaman. Begitulah Islam mengajarkan umatnya untuk mencintai ilmu.
Kesadaran ini harus terus dibangun untuk meningkatkan taraf berpikir masyarakat. Sehingga mereka mampu memiliki pola pikir dan pola sikap Islami yang mencerminkan kepribadian Islami.
Khatimah
Tiga komponen penting dalam misi menyelamatkan generasi sebagai penerus estafet peradaban harus bersinergi. Memberi kontribusi terbaik bukan hanya untuk bangsa, tetapi juga untuk kembalinya kemuliaan Islam.
Begitu pula kehadiran dakwah politik harus ada di tengah-tengah masyarakat. Kesempurnaan Islam dalam menyelesaikan segala urusan umat ini harus disampaikan. Islam bukan hanya agama ritual yang mengatur hubungan dirinya dengan Penciptanya saja. Namun, juga mengatur tentang dirinya sendiri (makanan, pakaian, akhlak) dan hubungan dengan sesamanya (muamalah dan uqubat).
Memahami Islam dengan proses belajar yang benar menguatkan iman, juga menumbuhkan kesadaran. Kesadaran inilah yang menggerakkan masyarakat untuk mengubah sistem sekuler liberal jahiliah menuju sistem Islam yang penuh rahmat dan berkah.
Alhasil, fenomena krisis murid tidak akan mungkin terjadi baik sekolah negeri maupun swasta. Dorongan iman yang tersuasanakan dalam masyarakat akan banyak melahirkan generasi yang andal di bidangnya. Juga diiringi dengan sikap tawadu terhadap semua karunia Allah Swt. Wallahualam bissawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

















