Kejahatan Berkedok Tren Mengintai Generasi Muda

Kejahatan berkedok tren mengintai generasi muda

Tidak boleh ada bisnis yang membahayakan umat. Islam mengutamakan kemaslahatan bagi seluruh rakyatnya, sebab rakyat adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Oleh. Agus Susanti
(Kontributor NarasiLiterasi.Id dan Aktivis Serdang Bedagai)

NarasiLiterasi.Id-Dunia semakin berkembang, kejahatan pun turut mengikuti jaman. Dahulu merokok dianggap berbahaya, lalu kemudian menjadi sebuah kebiasaan di masyarakat tak terlepas para generasi. Seiring berjalan waktu hadirlah vape sebagai solusi dari orang-orang yang tidak mau mendapatkan efek buruk dari kandungan rokok.

Dengan menjanjikan hidup sehat tetapi tetap bisa merasakan sensasi seperti menghisap rokok, jadilah para generasi beralih ke benda tersebut. Namun, nyatanya generasi muda justru terancam, sebab kini muncul vape narkoba. Vape berisi etomidate (obat bius golongan II) yang sangat berbahaya untuk kesehatan dan akal.

Modus baru dari peredaran narkoba. Berbeda dari narkoba konvensional, yang berbentuk pil atau serbuk. Kini hadir narkoba dalam bentuk cairan bening yang sangat mirip dengan liquid rokok elektrik biasa. Terlihat biasa tetapi mengandung zat berbahaya dan masuk kategori narkotika. Dengan penampilan yang berbeda peredaran narkoba jenis ini menjadi lebih sulit dikenali dan berpotensi untuk jangkauan korban yang lebih luas.
(Pusiknas.polri.gi.id, 20-2-26)

Sekulerisme Mencabut Benteng Generasi

Setiap manusia harus memiliki fondasi dalam hidup. Dari fondasi itulah manusia akan terbentuk menjadi seseorang yang punya kepribadian. Saat ini manusia hidup dalam tatanan negara yang menerapkan sekularisme sebagai landasan perbuatan. Sekularisme adalah sebuah pemahaman yang memisahkan urusan dunia dengan akhirat.

Dengan kata lain sekularisme membentuk agar manusia ketika melakukan perbuatan di dunia tidak mengaitkannya dengan akhirat. Padahal kehidupan dunia ini berkaitan dengan akhirat sebagai tempat berpulang manusia yang abadi.

Sekularisme mengajak manusia untuk tidak mengaitkan perbuatan dengan perintah dan larangan Allah. Manusia tidak lagi berpegang pada hal yang halal dan haram. Manusia dibiarkan mengikuti hawa nafsu, mengikuti hal-hal yang viral dan dianggap keren, tak peduli apakah hal tersebut baik atau buruk untuk diri dan tubuhnya.

Dengan alasan menghilangkan stress atau melepas lelah banyak orang yang memilih untuk mengkonsumsi khamr ataupun narkoba. Tak dimungkiri kehidupan saat ini sangatlah keras, oleh karena itu penting bagi seseorang memiliki benteng yang akan melindungi diri. Satu-satunya benteng terbaik adalah akidah Islam. Namun, lagi-lagi sayang sekularisme telah mencabut benteng generasi. Generasi pun akhirnya kehilangan arah dan tujuan yang pasti. Hidupnya perlahan hancur, jiwanya terganggu dan fisiknya sakit.

Jika generasi rusak, lantas siapa yang akan melanjutkan peradaban dunia menuju kegemilangan?

Kapitalisme Membuka Lebar Ruang Industri

Generasi terancam oleh kejahatan yang berkedok tren. Sementara di sisi lain, negara justru membuka ruang industri selebar-lebarnya. Ideologi kapitalisme memang memastikan untuk negara mencari keuntungan materi sebanyak-banyaknya tak peduli apakah keuntungan tersebut berdampak buruk pada generasi maupun rakyatnya secara keseluruhan.

Selama menguntungkan, ada pasar, dan peminat, maka negara memberi ruang untuk Industri. Seperti bisnis vape narkoba yang sangat jelas berbahaya bagi akal dan kesehatan. Ini adalah ancaman, kejahatan yang harusnya dicegah bukan sebaliknya malah diberi ruang.

Alih-alih mencegah dan menghentikan Industri vape narkoba, pemerintah hanya menyiapkan usulan untuk mengeluarkan RUU yang mengatur penggunaan dan penyebaran vape di masyarakat. Sementara vape tersebut terus tersebar mengintai generasi di segala penjuru.

Negara Kehilangan Peran Sebagai Junnah bagi Generasi

Negara adalah salah satu pilar yang bertugas menjaga generasi dari berbagai ancaman. Dengan membiarkan vape narkoba terus menyebar tanpa tindakan nyata, ini membuktikan bahwa negara saat ini tidak hadir sebagai junnah dan raa'in yang mengawasi dan melindungi rakyatnya.

Inilah wajah buruk kapitalisme, rakyat hanya dianggap sebagai konsumen. Masa depan generasi siap digadaikan asal mendapatkan banyak keuntungan materi.

Hal ini bertolak belakang dengan penerapan sistem Islam. Dalam Islam membangun akidah sebagai benteng generasi. Dengan keimanan yang kokoh dan ketundukan kepada Allah sebagai pelindung dari segala perkara yang diharamkan dan merusak.

Islam mewajibkan untuk menjaga akal, maka segala hal yang merusak seperti khamr, narkoba, dan sejenisnya haram hukumnya secara mutlak.
Sebagaimana hadis Rasulullah: "Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap yang memabukkan adalah haram." (HR.Muslim dan Abu Daud)

Tidak boleh ada bisnis yang membahayakan umat. Islam mengutamakan kemaslahatan bagi seluruh rakyatnya, sebab rakyat adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Negara Khilafah menerapkan Islam secara sempurna melalui sistem pendidikan. Generasi dibentuk menjadi seseorang yang berkepribadian Islam, yakni berfikir dan bertindak sesuai syariat Islam.

Khilafah akan memberantas semua bisnis narkoba, menjauhkan media dari iklan-iklan narkoba dan menerapkan sanksi tegas bagi produsen, pengedar, hingga pemakai vape narkoba. Tidak ada ruang untuk bisnis rusak dan haram dalam sistem Islam.

Baca juga: Generasi Kuat, Negara Bermartabat

Khatimah

Maka dari itu agar negara ini bisa benar-benar terlepas dari belenggu narkoba, dan segala ancaman yang membahayakan umat, tidak ada jalan lain selain mengganti sistem kufur yang diterapkan saat ini dengan sistem Islam warisan Rasulullah, yang bersumber langsung dari Allah melalui wahyu. Dengan panduan Al-Qur'an dan hadis, bukan undang-undang buatan manusia yang berdasarkan hawa nafsu. Wallahualam bissawab. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor Narasiliterasi.id
Agus Susanti Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
Komersialisasi Hukum: Privilese di Balik Jeruji
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram