
Pemuda tidak cukup hanya dibekali keterampilan dan kecerdasan intelektual, tetapi juga pembinaan akidah dan pemahaman Islam yang mendalam.
Oleh. Santi Ummu fariz
Kontributor NarasiLiterasi.Id
NarasiLiterasi.Id-adalah generasi yang penuh energi. Semangatnya menggelora, jiwanya aktif, keberaniannya menyala, dan kepeduliannya menjadi kekuatan untuk mendorong perubahan. Tak heran jika Soekarno pernah melontarkan ungkapan, "Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia." Ungkapan tersebut menggambarkan betapa besarnya potensi dan kekuatan yang tersimpan dalam diri pemuda.
Kini, ketika negeri dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari tekanan ekonomi, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belum tuntas, hingga bencana yang terjadi di berbagai daerah, harapan akan perubahan pun semakin besar. Terlebih, ketika persoalan korupsi dan lemahnya tata kelola terus menjadi sorotan. Kami, para orang tua, tentu berharap lahirnya perubahan melalui keberanian dan kepedulian generasi muda.
Pemuda dan Harapan akan Perubahan
Pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda, mahasiswa bersama elemen masyarakat sipil turun ke jalan menyuarakan berbagai tuntutan. Mereka mengangkat persoalan lingkungan, pendidikan, ekonomi, pemberantasan korupsi, hingga kebebasan berpendapat. Namun, perjalanan aksi tidak sepenuhnya berjalan mulus. Massa sempat tertahan oleh barikade aparat kepolisian. (Katadata, 28 Oktober 2026). Di tengah situasi tersebut, kepedulian masyarakat pun terlihat. Sejumlah emak-emak yang tergabung dalam Aliansi Ibu Indonesia turut hadir memberikan dukungan kepada para mahasiswa dengan menyediakan makanan dan minuman bagi peserta aksi. (Kontan TV, 28 Oktober 2026)
Namun, jika dicermati, berbagai tuntutan yang disuarakan mahasiswa hari ini sesungguhnya bukan persoalan baru. Tuntutan tentang ekonomi, pendidikan, korupsi, lingkungan, dan keadilan terus berulang dari waktu ke waktu. Persoalan bangsa seolah berjalan dalam lingkaran yang sama, tanpa penyelesaian yang menyentuh akar masalah.
Tidak jarang, setelah mahasiswa menyampaikan aspirasi, berbagai janji perbaikan pun mengemuka. Namun, masyarakat kembali dihadapkan pada persoalan serupa. Kondisi ini tentu menjadi bahan perenungan bersama. Bukan untuk mengecilkan semangat dan keberanian para pemuda yang telah menyuarakan kegelisahan masyarakat, melainkan untuk mengajak kita melihat lebih jauh: apakah perubahan yang selama ini diperjuangkan telah menyentuh akar persoalan?
Sebab, persoalannya bukan terletak pada keberanian pemuda untuk bersuara. Keberanian itu justru patut diapresiasi. Namun, ada hal yang jauh lebih mendasar untuk dipikirkan, yakni ke mana arah perjuangan tersebut hendak dibawa? Bagaimana perubahan yang diperjuangkan mampu menyelesaikan persoalan bangsa secara menyeluruh, bukan sekadar mengganti kebijakan atau memperbaiki persoalan yang muncul di permukaan?
Menelusuri Akar Persoalan Bangsa
Jika persoalan terus berulang, maka sudah seharusnya dilakukan evaluasi terhadap akar penyebabnya, termasuk sistem ekonomi dan tata kelola yang melahirkannya. Sebab, persoalan bangsa tidak selalu berdiri sendiri, tetapi sering kali berkaitan dengan kebijakan, kepentingan ekonomi, dan pengelolaan sumber daya alam.
Ambil contoh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus menjadi persoalan di Indonesia. Kebakaran ini tidak semata-mata disebabkan oleh faktor alam, seperti cuaca panas dan musim kemarau. Aktivitas manusia, pembukaan lahan untuk kepentingan ekonomi, serta persoalan tata kelola sumber daya alam juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Pada Agustus 2026, persoalan ini kembali menjadi perhatian setelah pemerintah melakukan pemeriksaan terhadap 42 perusahaan yang diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan. Di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, ditemukan pula areal terbakar sekitar 1.500 hektare di salah satu lokasi perusahaan yang kemudian disegel untuk kepentingan pemeriksaan (KLH/BPLH, 27 Agustus 2026).
Fakta ini memperlihatkan bahwa karhutla bukan sekadar persoalan tahunan yang selesai ketika musim hujan tiba. Ada persoalan yang lebih mendasar, mulai dari pembukaan lahan, kepentingan usaha, pengawasan, hingga tanggung jawab dalam menjaga lingkungan. Ketika keuntungan ekonomi lebih diutamakan daripada kelestarian alam dan keselamatan masyarakat, rakyatlah yang akhirnya menanggung dampaknya.
Pemuda Kritis Terhadap Sistem
Oleh sebab itu, pemuda jangan hanya berhenti pada tuntutan pemadaman karhutla atau pergantian rezim. Lebih jauh, mereka perlu bersikap kritis terhadap sistem yang melahirkan berbagai kebijakan dan aturan dalam pengelolaan sumber daya alam. Sebab, jika akar persoalannya terletak pada sistem dan tata kelola yang memberi ruang bagi eksploitasi serta mengabaikan kepentingan rakyat, maka perubahan tidak cukup dilakukan dengan mengganti orang atau pejabat yang berkuasa. Perlu ada evaluasi mendasar terhadap sistem yang mendasari lahirnya kebijakan tersebut.
Dengan demikian, perjuangan pemuda tidak hanya merespons persoalan yang muncul, tetapi juga berupaya memahami dan mengurai penyebabnya. Di sinilah pentingnya arah perjuangan pemuda. Keberanian dan semangat saja tidak cukup. Pemuda juga membutuhkan landasan pemikiran yang kuat agar mampu melihat persoalan secara menyeluruh dan memahami perubahan seperti apa yang harus diperjuangkan.
Islam sebagai Landasan Perubahan
Sebagai seorang Muslim, sudah semestinya kita menjadikan Islam sebagai landasan dalam memandang dan menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. Islam memiliki landasan mendasar dalam membangun perubahan, yaitu akidah. Akidah yang kuat akan membentuk kepribadian seorang pemuda, memberikan kejelasan tentang tujuan hidup, serta menjadi pedoman dalam menentukan sikap dan langkah perjuangannya.
Pemuda yang memiliki akidah Islam yang kokoh tidak akan mudah terbawa arus atau sekadar mengikuti semangat perubahan tanpa memahami arah dan tujuannya. Ia akan menyadari bahwa kehidupan bukan hanya tentang meraih kepentingan dunia, tetapi juga tentang menjalankan amanah sebagai hamba Allah. Karena itu, kepedulian terhadap persoalan umat harus tumbuh dari keimanan dan diwujudkan melalui pemikiran serta tindakan yang berlandaskan syariat Islam.
Pemuda Pelopor Perubahan
Kita bisa melihat bagaimana Islam membentuk generasi muda pada masa Rasulullah saw. Salah satunya adalah Umar bin Khattab. Sebelum memeluk Islam, Umar dikenal sebagai sosok yang keras dan berani, bahkan termasuk orang yang menentang dakwah Rasulullah saw. Namun, setelah Allah memberikan hidayah kepadanya untuk memeluk Islam, keberanian dan kekuatannya memiliki arah yang berbeda. Ia menjadi salah satu pembela Islam yang teguh dan tidak gentar dalam memperjuangkan agama Allah.
Perubahan serupa juga terlihat pada para pemuda Quraisy lainnya yang menerima Islam. Mereka tidak lagi menjadikan kedudukan, harta, maupun pengakuan manusia sebagai tujuan utama. Keimanan kepada Allah mengubah cara pandang mereka terhadap kehidupan. Keberanian mereka tidak lagi digunakan untuk membela kepentingan golongan atau mempertahankan tradisi jahiliah, tetapi diarahkan untuk membela kebenaran dan menyebarkan risalah Islam.
Kita juga mengenal sosok Mus'ab bin Umair, pemuda Quraisy yang berasal dari keluarga terpandang dan hidup berkecukupan. Setelah memeluk Islam, ia rela meninggalkan kenyamanan hidupnya demi mempertahankan keimanan dan menjalankan tugas dakwah. Rasulullah saw. bahkan mengutusnya ke Madinah untuk mengajarkan Islam kepada penduduk di sana.
Kisah para sahabat muda tersebut menunjukkan bahwa akidah Islam mampu membentuk pemuda dengan kepribadian, keberanian, dan tujuan hidup yang jelas. Mereka bukan sekadar generasi yang berani melakukan perubahan, tetapi juga memiliki landasan yang kuat tentang perubahan seperti apa yang harus diperjuangkan.
Metode Rasulullah saw. dalam Membina Pemuda
Lantas, bagaimana Rasulullah saw. membentuk generasi muda yang memiliki keimanan kuat, keberanian, dan kepedulian terhadap umat?
Pertama, Rasulullah saw. menanamkan akidah Islam secara mendalam. Beliau mengajarkan kepada para sahabat tentang hakikat kehidupan: dari mana manusia berasal, untuk apa manusia hidup, dan ke mana manusia akan kembali setelah kematian. Mereka memahami bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat untuk beribadah dan menjalankan ketaatan kepada Allah Swt.
Penanaman akidah ini melahirkan keyakinan yang kokoh dalam diri para sahabat. Mereka menyadari bahwa kehidupan memiliki pertanggungjawaban di hadapan Allah dan setiap amal akan mendapatkan balasan. Surga dengan segala kenikmatannya menjadi harapan tertinggi bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Ali Imran ayat 133, bahwa surga yang luasnya seluas langit dan bumi disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.
Keyakinan inilah yang membuat para sahabat memiliki keteguhan dalam mempertahankan keimanan, keberanian dalam menyampaikan kebenaran, serta kesediaan berkorban demi Islam. Mereka tidak mudah gentar menghadapi tekanan karena tujuan hidup mereka tidak lagi sebatas memperoleh kesenangan dunia, melainkan meraih rida Allah Swt.
Kedua, Rasulullah saw. mengajarkan Al-Qur'an kepada para sahabat. Bukan sekadar membacanya, tetapi juga memahami kandungannya, menghayati pesan-pesannya, dan mengamalkannya dalam kehidupan. Al-Qur'an menjadi pedoman dalam berpikir, bersikap, dan menentukan perbuatan. Dengan demikian, para sahabat tidak hanya memiliki keimanan yang kuat, tetapi juga menjadikan wahyu Allah sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan.
Ketiga, Rasulullah saw. membina mereka hingga memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyah) yang khas. Pembinaan ini mencakup pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan akidah Islam. Mereka belajar membedakan yang benar dan salah berdasarkan tuntunan Allah, serta membiasakan diri untuk mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Generasi Pembelajar
Melalui proses pembinaan tersebut, lahirlah generasi yang tidak hanya kuat dalam keyakinan, tetapi juga memiliki pemahaman Islam dan perilaku yang mencerminkan keimanannya. Para sahabat tidak hanya dikenal karena kemuliaan akhlak dan keteguhan imannya, tetapi juga karena keluasan ilmu dan keahlian yang mereka miliki. Mereka tumbuh menjadi generasi pembelajar yang menguasai berbagai bidang pengetahuan dan mengabdikan kemampuan mereka untuk kepentingan umat.
Kita mengenal Zaid bin Tsabit yang memiliki kecerdasan dan kemampuan dalam bidang bahasa serta dipercaya Rasulullah saw. untuk mempelajari bahasa Suryani. Ada pula Ibnu Abbas yang dikenal sebagai ulama besar dan ahli tafsir Al-Qur'an. Sementara itu, para sahabat lainnya memiliki keahlian dalam berbagai bidang yang dibutuhkan masyarakat.
Baca juga: Generasi Kuat, Negara Bermartabat
Membangun Generasi dengan Arah Perjuangan Islam
Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak memisahkan keimanan, akhlak, dan penguasaan ilmu. Justru, ilmu menjadi sarana untuk memberikan manfaat, menyelesaikan persoalan kehidupan, dan membangun kemaslahatan umat. Inilah gambaran generasi muda yang tidak hanya saleh secara pribadi, tetapi juga memiliki kapasitas keilmuan dan kepedulian sosial.
Lantas, bagaimana dengan generasi muda hari ini? Tantangan zaman memang berbeda, tetapi kebutuhan akan generasi yang beriman, berilmu, dan memiliki arah perjuangan yang jelas tetap sama. Pemuda tidak cukup hanya dibekali keterampilan dan kecerdasan intelektual, tetapi juga membutuhkan pembinaan akidah dan pemahaman Islam yang mendalam. Mereka harus mampu membaca persoalan umat dengan sudut pandang Islam, memiliki kepedulian terhadap sesama, serta menggunakan ilmu dan kemampuannya untuk memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Karena itu, membangun generasi muda bukan sekadar tugas keluarga atau lembaga pendidikan, melainkan membutuhkan lingkungan masyarakat yang mendukung serta sistem pendidikan dan kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Dengan pembinaan yang menyeluruh, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi mampu mengambil peran dalam menghadirkan perubahan yang mendasar.
Kami, para orang tua, tentu tidak hanya berharap anak-anak muda berani menyuarakan perubahan. Lebih dari itu, kami berharap lahir generasi yang memahami persoalan umat, memiliki ilmu untuk memberikan solusi, serta menjadikan Islam sebagai landasan dalam setiap langkah perjuangannya. Sebab, pemuda bukan sekadar harapan masa depan, tetapi juga bagian dari penentu arah kehidupan umat hari ini. Wallahualam bissawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

















