Derita Anak Gaza: Butuh Solusi Hakiki

Derita Anak Gaza, Butuh Solusi Hakiki

Penargetan yang secara konsisten menyasar anak-anak Gaza dan warga sipil ini bukan merupakan sebuah kebetulan. Melainkan, bagian dari desain terencana demi mewujudkan agenda politik ekspansionis.

Oleh. Tinie Andriyani
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-Konflik berkepanjangan yang melanda Jalur Gaza telah mencapai titik yang sangat memprihatinkan, di mana hukum humaniter internasional seolah tidak lagi memiliki taji. Di tengah berkecamuknya serangan, kelompok yang paling rentan, yakni anak-anak, justru menjadi korban paling terdampak. Kondisi ini bukan lagi sekadar dampak lanjutan dari sebuah peperangan, melainkan sebuah tragedi kemanusiaan sistematis yang mengancam eksistensi generasi masa depan Palestina.

Nestapa Generasi yang Hilang di Gaza

Berdasarkan data dan laporan resmi dari berbagai lembaga internasional, situasi anak-anak di Gaza berada dalam kondisi yang sangat kritis. Laporan dari UNICEF menyatakan bahwa lebih dari seribu anak telah syahid akibat serangan sejak Oktober 2023. Bahkan, di tengah periode gencatan senjata sekalipun, kekerasan tidak sepenuhnya berhenti. Data yang menunjukkan rata-rata satu anak Gaza terbunuh setiap harinya. (cnnindonesia.com, 20-6-2026)

Selain kehilangan nyawa, ribuan anak lainnya harus bertahan hidup dengan luka fisik yang parah, disabilitas permanen, serta trauma psikologis mendalam. Hal ini akibat kehilangan keluarga dan tempat tinggal. Kerusakan infrastruktur pendidikan, kesehatan, dan sanitasi membuat anak-anak Gaza dijuluki sebagai generasi yang hilang. Masa depan mereka terancam secara total akibat tindakan yang mengarah pada genosida.

Kegagalan Global dan Sekat Nasionalisme

Apabila dianalisis secara mendalam, penargetan yang secara konsisten menyasar anak-anak gaza dan warga sipil ini bukan merupakan sebuah kebetulan. Ini semua adalah bagian dari desain terencana demi mewujudkan agenda politik ekspansionis. Dalam logika peperangan konvensional, anak-anak dan instalasi medis adalah wilayah steril yang wajib dilindungi. Namun, rezim yang melakukan agresi ini justru menjadikannya sebagai target prioritas guna memutus mata rantai generasi masa depan. Sebuah karakteristik utama dari tindakan genosida yang bertujuan melumatkan suatu bangsa dari akarnya. Mereka tidak memedulikan desakan gencatan senjata sekecil apa pun dan terus bersikap bebal terhadap kecaman internasional. Semuanya demi meluaskan hegemoni dan menguasai seluruh wilayah Palestina secara mutlak.

Krisis akut ini sekaligus menyingkap kelemahan mendasar dari tata dunia modern yang bertumpu pada institusi global seperti PBB. Puluhan resolusi yang dikeluarkan terbukti mandul. Semua hanya berakhir bagai tumpukan kertas tanpa realisasi penegakan hukum yang konkret. Kenyataan ini membuktikan bahwa dunia tidak bisa lagi menggantungkan harapan pada pergantian rezim atau pergeseran politik internal para agresor, karena akar permasalahannya bersifat sistemik.

Lebih tragis lagi, negeri-negeri Muslim yang secara geografis berada dekat dengan wilayah konflik justru mengalami kelumpuhan politis. Tersekat oleh paham nasionalisme sempit dan tersandera oleh ketergantungan ekonomi dalam konstelasi kapitalisme global. Para penguasa di dunia Islam cenderung merapat pada poros kekuatan barat. Akibatnya, respons mereka tidak pernah melampaui retorika diplomasi atau sekadar mengirimkan bantuan logistik, sementara pembantaian terus berjalan tanpa ada tindakan nyata untuk menghentikan mesin perang agresi.

Khilafah sebagai Perisai dan Pelindung Hakiki

Melihat kegagalan sistemik dunia internasional, Islam menawarkan konstruksi solusi yang fundamental dan praktis. Dalam pandangan Islam, perlindungan terhadap darah, kehormatan, dan hak hidup manusia, terutama mereka yang lemah seperti anak-anak dan wanita adalah kewajiban agung yang tidak boleh ditawar. Islam menolak keras segala bentuk kezaliman struktural. Islam menetapkan bahwa urusan pembebasan wilayah kaum muslim yang dijajah merupakan urusan vital atau qadhiyah masiriyah bagi seluruh umat.

Solusi hakiki ini hanya dapat terealisasi melalui tegaknya institusi politik tunggal umat Islam, yaitu Khilafah. Institusi inilah yang memiliki legitimasi penuh untuk menyatukan potensi militer dan kekuatan politik kaum muslim di seluruh dunia. emi menghentikan kezaliman secara total melalui tindakan defensif yang legal.

Fungsi krusial seorang pemimpin sebagai pelindung mutlak ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah saw.:

"Sesungguhnya Al-Imam atau pemimpin itu merupakan perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya. (HR Bukhari dan Muslim)

Melalui institusi ini, komando militer resmi akan digerakkan. Bukan untuk memicu perang tanpa arah, melainkan untuk menegakkan keadilan dan mengusir penjajahan di tanah Palestina. Lebih jauh lagi, sistem Khilafah mengonstruksikan perlindungan anak secara komprehensif. Jadi, tidak hanya berfokus pada keselamatan fisik di masa perang, melainkan pada pemulihan total seluruh sendi kehidupan mereka. Negara bertanggung jawab penuh untuk menyediakan pelayanan medis secara gratis guna memulihkan cacat fisik dan merehabilitasi trauma psikologis mendalam yang dialami anak-anak korban perang.

Pun dengan infrastruktur pendidikan yang hancur, akan dibangun kembali dengan kurikulum berbasis akidah Islam l. Hal ini akan guna melahirkan generasi yang kuat secara intelektual dan mental. Tidak hanya itu, kesejahteraan ekonomi keluarga mereka dijamin secara sistemik melalui pengelolaan baitulmal. Sehingga, tidak ada anak yang kehilangan hak tumbuh kembangnya.

Baca juga: Gaza: Matinya Hukum Internasional

Khatimah

Kewajiban agung untuk menjaga agar generasi penerus tidak tumbuh dalam kondisi lemah dan tertindas ini diperintahkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatirkan terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar" (TQS An Nisa ayat 9)

Maka dari itu, perjuangan untuk mengembalikan institusi pelindung ini merupakan agenda utama yang harus diemban oleh umat Islam secara kolektif. Hanya dengan meruntuhkan sekat-sekat nasionalisme yang selama ini membelenggu kekuatan dunia Islam, perlindungan hakiki bagi anak-anak di Gaza dapat diwujudkan. Kedamaian yang penuh keadilan di tanah Syam akan kembali tegak secara nyata. Wallahualam bissawab. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Saat Tontonan Menjadi Tuntunan
Next
Menjamurnya Kaki Lima, Potret Rapuhnya Ekonomi
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram